Cerita PULAU PERAK oleh Cio Prihandhika

Heyho, it's me again.

Mengingat kuota internet tidak terlalu banyak, jadi gue gak bisa berlama-lama.
Maklum, koneksi hanya mengandalkan tethering dari samsung galaxy note andalan. haha.

Gue mau cerita soal PULAU PERAK.
Ada yang udah pernah denger? Atau justru udah pernah kesana?
Singkat cerita aja soal pulau perak dan keindahannya.
Cerita paling banyak mengenai keindahannya akan gue share lewat gambar.
Biarkan gambar yang berbicara.
Gue cerita tentang beberapa kejadian yang terjadi menuju dan balik dari sana.
Here we go.

Bersama dengan 12 kawan lainnya yang tergabung dalam kelompok gang matahari, hihi dan beberapa personil tambahan, pagi itu tanggal 16 Februari 2013 kita kumpul di rumah masbro Seandy, dengan men-charter angkot menuju ke Kali Adem, Muara Angke. Pelabuhan baru gitu deh, jalan menuju kesana kayak jalan menuju sorga bray. Sebelum akhirnya sampai di pelabuhan yang gak wangi tapi at least gak bau juga, perjalanan kesana naujubile. Layaknya snorkeling, selalu ingat bernapas dengan mulut ya.

Sampai disana sekitar 5, karena kita mulai start jalan jam 4. Ternyata sudah ada beberapa juga yang mau bertamasya. Setelah ditunggu-tunggu, jam 7 ada pengumuman langsung dari kepala Dishub situ yang menyatakan kalau kapal tidak bisa diberangkatkan karenca cuaca buruk. Nangis? Enggak, kita justru ngotot tetep mau ke perak. Iyalah, padahal tadinya kalau gagal mungkin kita akan berakhir di Seaworld Ancol.

Akhirnya kita memutuskan untuk gambling ke pelabuhan lama karena ternyata memang di pelabuhan lama semua kapal tetap diberangkatkan. Ini gak terlepas dari jasa tour guide kita. Namanya Bro Ilham. Dan jasa Kiki Tour and travel. haha. Kapalnya namanya 'Cinta Alam'. Gue pikir 'Penantang Maut' secara kapal kapal ini lebih tradisional dengan peralatan seadanya dan tetep jalan meski cuaca memang agak berangin dan cukup mendung.

Lama perjalanan hampir kayak bolak balik jakarta bandung. 3,5 jam. Ditambah dengan badai yang ya ampun deh, antimo yang gue tenggak kayak gak mempan bikin gue tidur sementara Iqbal akhirnya jackpot. Sampailah kita di pulau Harapan dan bertemu dengan Bro Ilham.

Sampai disana kita makan siang dulu, sebelum akhirnya menuju salah satu pulau untuk snorkeling. Kita sangat puas dengan Pak Ilham, orangnya asik, dan yang paling penting, sekarang dia udah resmi jadi Ketua RT disana. Cheers, Bro!

Gue kebetulan memutuskan untuk gak join snorkeling, karena lagi dapet. Bodoh banget emang, setelah itu malah baru tau kalau ada cara cara untuk menunda haid. Jadi pasrah aja dapet hari pertama saat tamasya.
Snorkeling disini jangan banyak berharap. Ini bukan Bunaken, bray. Terumbu karangnya gak seindah yang kita harapkan, tapi untuk snorkeling, not bad lah. Buat seru-seruan lah. Sama buat cerita bagi yang belum pernah snorkeling. Kebetulan gue juga pernah snorkeling dan diving di Nusa Dua Bali. Dan gue trauma. haha. Trauma di grepe grepe sama Bli Bali nya. Haha.

Setelah itu kita melipir ke Pulau Papateo. Tempatnya nice, tapi di pesisirnya banyak tumbuh semacam lumut gitu kali ya. Pulau kosong juga, tapi gue liat ada bangunan gitu.

Waktu itu kita jalan ke dua pulau termasuk yang buat snorkeling itu, karena udah sekitar jam 3an, kita memutuskan untuk meluncur ke pulau yang kita tunggu-tunggu. PERAK ISLAND tercinta. Muter muter dari pulau ke pulau naik kapal nelayan tradisional itu asik banget. Gue nikmatin banget pemandangannya. Such a cool.

Finally, sampai juga di Perak. Tempatnya keren, pasirnya putih, dan ini pulau tidak berpenghuni, ada sih satu keluarga yang tinggal disitu, tapi kenapa kita pilih pulau ini karena kita mau ngerasain atmosfer 'private island' nya. Setelah sampai kita cari spot untuk bangun tenda. Temanya memang camping. Dan ini pertama kalinya gue camping, jadi gue semangat banget. Tapi agak terganggu karena hari pertama haid, jadi gue putuskan untuk nenggak Feminax.

Hari pertama kita disibukkan dengan bikin mie, bikin kopi, bikin espresso KW, dan lain-lain. Laper banget ternyata sumpah. Cewe-cewenya cuma gue sama Yeni, kita berdua aja akhirnya ngegadoin mie saking gak sabar nunggu para chef masak mie. Yang gak akan pernah gue lupakan disana adalah KAMAR MANDI UMUM nya yang ada di tengah hutan. Gosh, gue anaknya agak reciet emang soal gituan. Tempatnya apa adanya banget. Jangan berharap banyak yaaaaa bagi cewe cewe. Gue mandi sama Yeni, dan kita kemeng (pegel) cuy. Karena selama mandi kita harus bungkuk atau jongkok. Tingginya hanya satu meter dan hanya ditutup kain gtu sekitar 60 cm. Dan sebelum mandi, kita harus nimba air dulu dari sumber air tawar yang katanya gak pernah kering ini. WAW.

Hari mulai malam dan lebih mengerikan dari apa yang gue bayangkan. Tapi seru banget karena kita semua masak-masak. Bakar ikan dan bikin cumi asam manis yang tak lain dan tak bukan karena kita lupa bawa garam. ZONK. Semakin malam semakin kenceng anginnya, dan air laut mulai pasang. Tenda yang kita bangun ada 4, salah satunya kita buat tenda dapur. Karena kalau masak mie atau spagetti, gak bisa diluar. Anginnya kenceng banget. Oia, gue dan Yeni sempet kebayang bayang gitu sama omongannya Bro Ilham. Katanya sepanjang malam, api unggun itu gak boleh mati. Jadi tetep ada cahaya dan ada asap. Ini untuk menunjukkan kalau disitu ada kita, karena gak ada pencahayaannya sama sekali, jadi bakal gelap banget. Terus kalau mau ke kamar mandi di malam hari, minimal harus ditemenin sama dua orang, dan salah satunya harus ngerokok dan jangan lupa bawa senter. Dan ini yang ternyata bikin gue sama Yeni susah tidur karena sekitar jam 12, api unggun kita mati. Sementara gak ada yang jagain, karena kita semua tepar.

Yang bikin gue sumpek adalah, di dalem tenda itu panas banget. Dan tambah panas karena gue tidur pake sleeping bag. Sampe mandi keringet malam itu. Akhirnya pagi pun datang dan jam 12 kita udah harus balik. Jadi rundownnya adalah mengelilingi pulau, masak buat sarapan, mandi, dan packing buat balik. Gue cuma bisa bilang, sesibuk apapun elu, sempetin explore pulau!

Jalan setapaknya udah ada koq, dan pemandangan kanan kiri dipenuhi dengan pohon-pohonan gitu. Dan ada beberapa spot yang oke banget. Seperti yang diatas, ada batang pohon yang tumbuh kesamping gitu.
Kita juga nemuin tanaman bakau ini, cakep deh, tapi kita gak berani deket. Gue sih yang gak berani. Karena gue parno takut ada uler. Iya gak sih uler suka deket-deket tanaman bakau? *jedukin pala ke karang*
Dan pohon ambruk ini jadi next spot kita untuk foto-foto. Semua foto diambil sama pacar gue yang emang hobi moto dan phobia di poto. Aneh.
Pohon ini juga jadi spot asik kita buat poto, dan congratulation Yeni, cuma poto elu doang yang paling oke. Haha.
Sebelum balik, kita sempet mengabadikan momen di pulau perak. Thanks for being our home for a nite.

Sebelum bener bener balik ke pulau harapan, kita diajak Bro Ilham ke Pulau Gosong. Lucu nih pulau. Sesuai dengan namanya, emang bikin gosong. karena pulau ini kecil banget dan gak ada tumbuhannya.
Dan pulau terakhir yang kita datengin adalah pulau Kayu Putih. Kalau gak salah sih kayu putih. Dan spot nya asiiiiiiiiik banget buat poto.
Segitu aja sharingnya kali ini, next trip pengennya ke Karimun Jawa. Terus Raja Ampat. Terus Maldives. Yakali Maldives dijadiin ajang buat backpacker-an. Ya kesana bawa gemblokan, bayarnya tetep aja mesti gesek dulu.
Sekian dan salam dari Gang Matahari. Salam bulu babi.

(Cio Prihandhika)


Sumber : http://www.pulauperak.com/2013/04/cerita-pulau-perak-oleh-cio-prihandhika.html