Cinta Sejati Karam di Karang Pengantin



Kalau kita sedang berada di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu Utara, ada sebuah karang yang unik dan terletak tidak jauh dari kedua pulau ini. Karang ini sangat diminati oleh penyelam yang sering menyelam di Kepulauan Seribu karena berbentuk menyerupai "dua orang yang sedang berpelukan".

Karang yang disebut sebagai karang Pengantin atau karang Langka-langka ini, berbentuk dua orang yang sedang berpelukan karena memiliki legenda atau cerita tersendiri yang masih beredar dari mulut ke mulut di warga Pulau Panggang dan tersimpan sampai saat ini.
Asal muasal karang ini terbentuk, seperti kisah yang beredar di warga Pulau Panggang, berawal ketika seorang Pemuda Pulau Panggang, katakanlah Amsar, menikahi Pemudi yang merupakan putri Tokoh Masyarakat Pulau Panggang. Katakanlah si Pemudi bernama Fatimah.


Waktu itu, dan hingga sampai saat ini masih dipegang teguh, ada sebuah pantangan yang melarang pengantin yang baru menikah untuk menyebrang laut dalam kurun waktu sepekan bahkan walau hanya menyebrang ke Pulau Pramuka yang letaknya berdekatan dengan Pulau Panggang.

Larangan itu ternyata dilanggar oleh dua dua insan yang dimabuk cinta ini. Sehari usai menikah, mereka berdua menyebrang ke Pulau Pramuka dengan menggunakan perahu kecil. Karena berniat mengambil air, mereka membawa sebuah tempayan.

Usai mengambil air di Pulau Pramuka, mereka kembali ke Pulau Panggang. Dalam perjalanan kembali ke Pulau Panggang, tiba-tiba kondisi cuaca di laut mulai berubah. Angin mulai berhembus kencang.

Perahu yang dikayuh Amsar, terus bergerak. Istrinya memegang erat tempayan berisi air yang dibawanya. Tiba di atas karang langka-langka, angin yang berhembus semakin kencang. Perahu yang ditumpangi oleh pasangan pengantin yang baru menikah ini, mulai dihempaskan oleh ombak besar seiring datangnya angin kencang.

Lama kelamaan perahu pun terbalik. Fatimah langsung terjatuh ke dasar laut  bersama dengan tempayan yang dibawanya. Sang suami yang mengetahui istrinya tenggelam ke dasar laut, langsung menceburkan dirinya untuk menolong istrinya.

Karena ombak besar, dia berusaha menyelam. Namun, ketika sampai ke dasar laut, Amsar menemukan istrinya sudah tidak bernyawa lagi dengan posisi memeluk tempayan. Karena cintanya yang begitu mendalam terhadap istrinya, Amsar tak kenal lelah berusaha menarik jasad istrinya.

Anehnya, semakin kuat usaha Amsar menarik jasad istrinya, semakin kuat juga tempayan menindih jasad Fatimah. Amsar semakin dibutakan oleh cinta terhadap istrinya. Dia pun bertekad ingin mati bersama istrinya.

Air laut yang semakin bergelombang, semakin menguatkan niat Amsar untuk mati bersama dengan sang kekasih hati dan belahan jiwanya. Diapun memeluk jasad istrinya. Seusai Amsar kehilangan nyawanya, kondisi laut kembali tenang.

Pantangan yang dilanggar oleh Amsar dan Fatimah ini, memberikan bukti. Karena terbukti, warga Pulau Panggang semakin teguh memegang tradisi. Karang Penganting atau Langka-langka ini pun berbentuk dua orang manusia yang sedang berpelukan.

Beberapa penyelam pun melihat secara langsung bentuk batu karang yang menyerupai dua orang yang tengah berpelukan ini. Sampai saat ini, cerita Amsar dan Fatimah (keduanya nama rekaan), masih beredar dari mulut ke mulut dan menjadi salah satu cerita legenda Pulau Panggang.( kang lintas)