Legenda Monyet Putih





Pulau Untung Jawa - Dahulu kala saat penjajahan Kolonial Belanda merebut Nusantara, tersebutlah sebuah pulau dari gugusan pulau-pulau kecil di pesisir Batavia tepatnya di sebelah utara Pelabuhan Sunda Kelapa. Pulau Amiterdam namanya sebelum berganti nama menjadi Pulau Untung Jawa. Pulau ini oleh Bangsa Belanda dijadikan sebagai salah satu pulau tempat penyimpanan barang-barang, seperti : bekas tank baja, kayu-kayu balok hasil olahan dan produksi dari Pulau Kapal (Pulau Onrust) dan lain-lain.

Namun ketika Pemerintahan Belanda telah berakhir dan beralih pada Pemerintahan Nippon-Jepang, pulau Amiterdam sudah tidak berpenghuni lagi dan kegiatan bagi manusia sudah tidak terlihat lagi. Yang tersisa hanya bekas rel lori pengangkut barang serta barang-barang rongsokan bekas bangunan berserakan di sana-sini.
Tidak disangka, rupanya pulau kosong peninggalan Belanda tersebut sudah berganti penghuni yaitu berkumpulnya sekelompok kera sebangsa monyet berbuntut panjang. Entah dari mana datangnya monyet-monyet tersebut.

Cukup lama bangsa monyet itu bersemayam di Pulau Amiterdam. Hingga pada saat detik-detik kemerdekaan pun masih berkeliaran. Dari sekian banyak monyet-monyet di pulau itu ada satu monyet yang lain tingkah dan perilakunya. Warna bulunya putih bersih mengkilat, sorot matanya tajam berwarna merah dan di kepalanya terikat sehelai kain berwarna biru laut tak ubahnya seperti seorang pendekar. Konon katanya monyet putih itu adalah pemimpin dari sekelompok monyet-monyet yang berada di pulau tersebut.

Menurut berbagai sumber dari orang-orang terdahulu, selama kurang lebih 2,5 tahun Pulau Amiterdam dikuasai oleh sebuah kerajaan monyet yang dipimpin oleh seekor monyet putih. Sehingga selama berkuasanya monyet putih, tak seorangpun yang berani datang ke sana. Sehingga Raja Bajak Laut pun yang bernama Bajul Kerok beserta puluhan pengikutnya yang paling ditakuti masyarakat pulau di pesisir Batavia mati di pulau itu.

Anehnya sekitar tahun 46-an, monyet putih sudah tidak ada hanya tinggal monyet-monyet biasa yang masih ada. Sehingga orang-orang dari Tanah Jawa mulai berani untuk menetap di sana. Banyak masyarakat yang mempertanyakan keberadaan monyet putih. Sudah matikah…? Namun kira-kira mayatnya kemana…? Pindah tempatkah…? Tapi, bisakah menyeberangi lautan…?

Sungguh keanehan yang tak habis terpikir oleh akal manusia. Awal keberadaannya tidak tahu berasal dari mana. Perginya pun tidak ketahuan bekas-bekasnya. Mayatnya monyet putih tidak ada yang mengetahui, hilangnya para pengikut monyet putih pun tidak ketahuan mati atau perginya. Entah kemana…?