Pulau Kelapa, si Kembar dan Keunikannya

Pulau Kelapa - Entah bagaimana awal ceritanya diberi nama Pulau Kelapa, padahal saat ini pulau yang berada di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara ini minim pohon kelapa atau apapun yang identik dengan buah kelapa. Dari pada pusing, baiknya kita tinggalkan dulu mencari tahu asal nama pulau terpadat di Kepulauan Seribu ini, dan mengulas hal-hal yang menarik di pulau yang memiliki lima RW dan sekitar 6 ribu jiwa penduduknya ini.

Menurut sejumlah warga yang masih menyimpan kisah unik di pulau ini menyebutkan, ihwal Pulau Kelapa tersebutlah dua saudara kembar berasal dari Mandar, Sulawesi Selatan yang terdampar di perairan Kepulauan Seribu. Dua saudara ini terpisah yang satu terdampar di gugusan pulau sebelah utara dan satunya lagi di sebelah selatan. Tahun berganti tahun, keduanya menikahi penduduk setempat dan beranak pinak hingga sekarang.

"Kita hanya mendapat cerita seperti itu, kenapa namanya Pulau Kelapa kisahnya telah putus dan tak ada satupun warga di sini yang mengetahuinya," ujar Bahram warga Pulau Kelapa. Dikatakannya, cerita si kembar yang diketahuinya hanya dari mulut ke mulut dan tidak ada bukti atau keturunan yang mengaku dari si kembar itu. "Konon katanya, kembar itu terpisah satu terdampar di pulau ini dan satunya di Pulau Tidung," kata Bahram lagi.

Menurut penuturan Bahram yang juga sorang tenaga pendidik ini, satu yang unik di sekitar Pulau Kelapa adalah Pulau Pamagaran yang saat ini masuk wilayah Kelurahan Pulau Harapan. Dia mengisahkan, nama pamagaran disandangkan di pulau milik anak penguasa orde baru itu berasal dari kata pagar. "Entah tahun berapa, sekelompok bajak laut akan merampok Pulau Kelapa, namun bajak laut itu tidak dapat sampai ke pantai lantaran seakan-akan di perahunya terbentur pagar di sekitar perairan pulau itu," katanya
Lalu hal yang unik lagi di pulau ini adalah tumbuhnya sebatang Pohon Kresek yang besar hingga berdiameter sekitar tiga meter di tempat pemakaman. Pohon itu dipercaya warga memiliki nuansa mistis hingga sampai saat ini berdiri kokoh. "Sebagian warga ada yang percaya kalau pohon itu ditunggui makhlus halus, karena disekitarnya terdapat makam zaman dulu," terangnya.

Sementara Madi M Dail, Wakil Lurah Pulau Kelapa yang juga kelahiran pulau tersebut menambahkan, keunikan di pulau ini adalah terdaptnya sejumlah sumur yang memiliki perbedaan dengan sumur-sumur lainnya. Misalnya, dia menyebutkan sumur yang dibuat oleh mahasiswa Universitas saat melakukan Kuliah Kerja Nyata sekita tahun 1991 lalu. Sumur itu tak pernah kering dan rasanya tetap tawar dan segar meski selalu diambil airnya. "Bahkan musim kemarau sumur yang lain kering, sumur itu tidak," ujarnya.

Lalu, sambung dia, sumur yang unik juga terdapat di rumah seorang warga di RW 03 Pulau Kelapa. Sumur itu juga tak pernah kering maupun berubah rasa padahal sumur tetangganya sudah berasa asin. "Allahu Alam, apa sebabnya sumur milik warga itu tetap tidak berubah padahal bentuknya sama dengan sumur milik tetangganya. Menurut kabar, dulunya sekitar rumah warga itu terdapat banyak pohon besar yang tumbuh, mungkin itu sebabnya air dari sumur itu tetap tawar," jelasnya.

Sesungguhnya masih banyak keunikan dan hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal manusia di Pulau Kelapa, namun lemahnya sumber informasi sehingga penulis menemui kebuntuan untuk menggali lebih jauh kekayaan cerita dan kisah pulau dimana penulis dilahirkan ini. Tapi yang pasti dibalik keunikan yang ada, kondisi Pulau Kelapa kini tak pantas lagi dirayu seperti pada syair lagu "Rayuan Pulau kelapa" milik Ismail Marzuki.

Menurut hemat penulis, pulau ini telah mengalami degradasi yang akut. Lingkungan yang tak lagi tertata, kepadatan penduduk yang telah diambang batas, dan kesemerautan kehidupan masyarakatnya. Puluahan becak dan ratusan sepeda motor hilir mudik tak terkendali diatas jalan yang sempit dan rusak. Perlu kerja keras untuk mengembalikan keasrian Pulau Kelapa agar kembali dapat dirayu dan merayu. (bps/puser)

Sumber : PulauSeribu.co