Jumat, 11 Oktober 2013

Sekali Berwisata, Dua-Tiga Pulau Terlampaui


Melarikan diri dari bisingnya kehidupan Kota Jakarta, bisa jadi merupakan hal yang selalu hinggap di benak setiap warga Jakarta ketika akhir pekan tiba. Tapi, pelarian diri tidak bisa terlalu lama karena Senin sudah menunggu di depan sana. Lantas, harus ke mana?

Kamis (3/10/2013), pukul 08.30 saya dan rombongan lainnya sudah berkumpul di Dermaga 17, Marina, Ancol untuk bersiap-siap menikmati liburan singkat di Pulau Bidadari. Pulau yang termasuk ke dalam gugusan Kepulauan Seribu, yang berarti masih masuk dalam Provinsi DKI Jakarta, berjarak hanya 20 menit dari Pantai Ancol dengan menggunakan speedboat. Tempat yang tepat untuk merealisasikan pelarian diri dari kejamnya Ibu Kota, bukan?

Mesin speedboat pun dinyalakan, saatnya berlayar di laut Kota Jakarta. Waktu baru menunjukkan pukul 09.00 ketika badan perahu mulai membelah ombak. Sesekali air memercik di wajah yang sengaja saya tampakkan di jendela perahu yang terbuka. Tercium bau air laut dan embusan angin itu baru namanya hidup. Tapi, namanya hidup pasti ada saja cobaan, seperti sampah-sampah yang terombang-ambing dipermainkan ombak. Ya, sayangnya begitulah keadaan laut Jakarta, kotor.

Tak terasa, kapal pun sudah menyandarkan badannya di dermaga Pulau Bidadari. Wah, semua tampak berbeda. Air yang lebih jernih dengan hamparan pasir putih memanjakan mata yang selama sepekan ini perih oleh polusi.


KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI Pulau Bidadari, merupakan salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Seribu. Pulau Bidadari merupakan pulau terdekat dengan Jakarta yang bisa dicapai hanya dalam waktu 20 menit menggunakan speedboat.
Kedatangan kami ke Pulau Bidadari sebenarnya bukan untuk berlibur. Tapi, lebih kepada pengenalan Bidadari Eco Resort yang baru saja dicanangkan. Sambil menyelam minum air, anggap saja liburan instan.

Setelah menikmati welcome drink yang disediakan dan beristirahat sejenak, kami langsung diajak untuk berkeliling pulau. Sesuai dengan konsep baru, Bidadari Eco Resort, Pulau Bidadari tidak hanya menyediakan wisata bahari tapi juga menyediakan wisata edukasi. Anda bisa berlibur sambil menambah ilmu pengetahuan, sesuai dengan tagline Pulau Bidadari, "Eco Resort, Learn and Enjoy From Nature & History".

Wisata Bahari

Pulau memang identik dengan wisata bahari. Sebagai destinasi wisata pulau terdekat dengan Jakarta, Pulau Bidadari menyediakan berbagai alternatif kegiatan.

Salah satunya adalah watersport. Saat ini ada tiga olahraga air yang menjadi andalan Pulau Bidadari. Anda bisa bermain water sofa, banana boat, bahkan single maupun double canoe. Pengelola juga akan menambahkan jetski sebagai salah satu olahraga air yang bisa dinikmati pengunjung. Anda juga bisa berenang atau memancing.

Puas berurusan dengan air, aktivitas lain yang tidak kalah seru adalah bersepeda. Mengayuh sepeda berkeliling pulau sambil sesekali beristirahat di pendopo dekat pantai sambil menikmati embusan angin sepoi-sepoi khas pantai, bisa menjadi pilihan yang tak kalah seru.

Untuk menunjang semua kegiatan, pulau ini juga memiliki cottage. Ada 54 cottage dengan tipe dan ukuran beragam yang bisa Anda pilih jika ingin menghabiskan malam di pulau ini. Jika Anda ingin menikmati suasana berbeda, Anda bisa memilih menginap di floating cottage. Sensasi deburan ombak pun akan menemani tidur Anda.

KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI Salah satu pohon langka yang ada di Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu. Pohon ini diberi nama Pohon Jodoh. Konon katanya, pasangan yang berfoto di bawah pohon ini hubungannya akan langgeng.
Resort wisata Pulau Bidadari juga mempunyai taman-taman dengan pohon-pohon yang rindang. Ada pun fasilitas penunjang yang berupa billiard hall, lapangan basket, mini futsal, volley, tenia meja, mushola, dan jogging track.

Wisata Edukasi

Pulau Bidadari mempunyai keistimewaan yang lebih dibanding dengan pulau lainnya di gugusan Kepulauan Seribu. Lebih dari 60 persen wilayah pulau terdiri atas tanaman-tanaman langka seperti pohon perdamaian (baringtonia exelsa), pohon kepuh, pohon sentigi (pempis acidula), pohon kayu hitam (diospyros maritama), pohon glodokan, beberapa tanaman buah, dan hutan mangrove. Anda bisa mengetahui bentuk-bentuk pohon langka tersebut karena mereka sudah dilengkapi dengan label nama, jadi tidak perlu bingung.

Berbicara tentang pohon, saat kami berkeliling pulau, ada dua pohon besar yang menjadi fokus tur kami. Pohon rezeki dan pohon jodoh. Sebenarnya pohon-pohon itu hanya pohon biasa, namun mitos yang melekat padanta menjadikan kedua pohon itu menjadi tempat wajib berfoto para wisatawan.

Pohon rezeki sebenarnya merupakan pohon kepuh. Umurnya sekitar 400 tahun. Barang siapa memegang atau berfoto di bawah pohon ini, niscaya rezekinya akan lancar. Setidaknya itulah yang saya dengar dari pemandu wisata kami. Begitupun dengan pohon jodoh. Katanya, pasangan yang berfoto di bawah pohon ini, hubungannya akan langgeng.

Mengenal flora tanpa bertemu fauna, rasanya belumlah lengkap. Pulau Bidadari juga menyediakan beberapa edukasi tentang fauna. Ada touch pool, fun with dolphin, sampai pada habitat liar.

Touch pool merupakan sebuah kolam yang berisi hewan avertebrata (tanpa tulang belakang). Kolam ini dibuat agar pengunjung terutama anak-anak mengenal habitat laut avertebrata seperti teripang, bintang laut, dan bulu babi. Anda bisa menyentuh hewan avertebrata ini secara langsung, kecuali bulu babi karena jika salah sentuh kulit Anda bisa gatal.

KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI Salah satu lumba-lumba yang ada di Pulau Bidadari yang masuk dalam agenda Fun With Dolphin.
Ada juga fun with dolphin yang tergolong fasilitas baru di Pulau Bidadari. Ada dua lumba-lumba di sini. Yang paling besar bernama Marcel, sedangkan yang kecil bernama Unggul. Dengan lincah Marcel dan Unggul mengikuti arahan pelatihnya. Sesekali mereka diberi ikan sebagai hadiah karena telah melakukan tugas dengan baik. Mereka menyelam, melompat, berdiri di atas air, sampai bergaya ketika ingin di foto.

Di Pulau Bidadari ini Anda juga bisa menemukan habitat liar biawak dan elang bondol. Ada sekitar 100 ekor biawak yang ada di pulau ini, namun jangan khawatir katanya biawak-biawak itu terbiasa dengan manusia.

Benar saja, sedang asyik mengabadikan keindahan laut, salah satu teman menemukan biawak di dekat mangrove. Biawak itu terlihat sedang menelan sesuatu. Kata seorang teman, biawak itu menelan anaknya karena buntut hewan yang dimangsa sama dengan buntut biawak tersebut. Setelah mengabadikan beberapa gambar biawak itu, kami pun pergi, takut biawak yang lebih besar tiba-tiba muncul dari sela-sela mangrove.

Wisata Sejarah

Siapa sangka ternyata Kepulauan Seribu menyimpan nilai historis yang tinggi. Salah satunya ada di Pulau Bidadari. Di pulau ini terdapat situs sejarah sisa-sisa Benteng Martello dan beberapa prasasti peninggalan zaman penjajahan Belanda.

KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI Sisa reruntuhan Benteng Martello akibat gelombang tidal letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, merupakan salah satu situs sejarah di Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu.
Benteng ini dibangun VOC pada abad ke-17. Dibangun dengan bata merah, bangunan benteng ini berbentuk lingkaran dengan tujuan agar senjata bisa bermanuver 360 derajat. Pemerintah Belanda menggunakan Benteng Martello sebagai alat pertahanan untuk meredam serangan musuh yang ingin menyerang Batavia.

Kini, kemegahan benteng itu tidak lagi utuh. Terjangan gelombang tidal akibat letusan Gunung Krakatau menghancurkan benteng dan menjadikannya seperti sekarang. Hanya beberapa bagian saja yang tersisa dengan bata merah yang sudah berubah kehitaman akibat dimakan usia.

Sebelum mengakhiri liburan nan singkat ini, kami menyusuri tiga pulau lainnya di sekitar Pulau Bidadari. Perjalanan ini termasuk dalam paket wisata Bidadari Eco Resort jika nantinya Anda akan berlibur ke sana. Namanya Three Cruiser Island. Kami akan mengunjungi Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Kahyangan yang memiliki nilai sejarah yang sama dengan Pulau Bidadari.

KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI Kecantikan Pulau Kelor. Kombinasi warna langit yang biru, daun yang hijau, laut yang jernih, pasir yang putih dengan warna merah bata Benteng Martello menjadikan sebuah pemandangan yang menakjubkan.
Keempat pulau ini dulunya merupakan pusat pemerintahan Belanda di Kepulauan Seribu. Tak heran keempat pulau ini akhirnya memiliki nilai historis yang lebih tinggi dibanding pulau lainnya.

Sayangnya, kami tidak sempat menyambangi pulau tersebut satu persatu karena sore sudah tidak sabar menggantikan siang yang terus-menerus memancarkan terik. Kami pun hanya menyaksikan keindahan sejarah itu dari jauh sambil mendengar penjesalan yang terlontar dari mulut pemandu tur dia atas perahu.

Pulau pertama yang kami lihat adalah Pulau Kelor. Jaraknya tak terlalu jauh dengan Pulau Bidadari. Pulau yang pernah menjadi saksi janji suci Atikah Hasiholan dan Rio Dewanto ini juga memiliki Benteng Martello. Hampir sama dengan yang di Pulau Bidadari, tapi Martello di Pulau Kelor masih utuh dan terlihat lebih indah karena merah batanya masih cerah menyala. Tak heran Atikah dan Rio memilih pulau ini menjadi saksi, dilihat dari jauh saja pulau ini cantik sekali.

KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI Di Pulau Onrust terdapat Taman Arkeologi Onrust yang memuat sisa runtuhan karantina haji tahun 1911, makam keramat Kartosoewiryo, dan Benda Cagar Budaya lainnya.
Meninggalkan keindahan Pulau Kelor, perahu kami segera mendekat ke Pulau Onrust. Di Pulau Onrust terdapat peninggalan Portugis berupa galangan kapal dan Benteng Martello yang akhirnya direbut VOC untuk menguasai Batavia.

Di pulau ini juga terdapat Taman Arkeologi Onrust yang memuat sisa runtuhan karantina haji tahun 1911, makam keramat Kartosoewiryo, dan Benda Cagar Budaya lainnya. Pada 1930, Pulau Onrust juga pernah dijadikan asrama haji sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi.

The last but not least, Pulau Cipir. Nama Cipir diganti menjadi Kahyangan karena dinilai tidak menarik dan tidak memiliki nilai jual. Peninggalan sejarah di pulau ini pun tak kalah penting. Dulu, di Pulau Kahyangan terdapat sebuah rumah sakit untuk haji yang kini hanya tertinggal sisa bangunannya. Selain itu terdapat reruntuhan bangunan yang dibangun VOC dan meriam kuno yang umurnya sudah berabad-abad.

KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI Sisa Reruntuhan bangunan yang dibangun VOC pada masa penjajahan Belanda di Pulau Cipir atau yang lebih dikenal dengan nama Pulau Kahyangan di Kepulauan Seribu.
Sambil menyelam, dua-tiga pulau terlampaui. Rasanya peribahasa itu cocok dengan perjalanan liburan singkat di Pulau Bidadari. Selain bisa berwisata, pengetahuan alam dan sejarah pun jelas bisa didapatkan. Belum lagi pengalaman menyambangi tiga pulau lainnya. Andai saja kami pulang lebih sore kala itu, semburat senja pasti akan menjadi penutupan perjalanan yang manis.

Sumber : http://travel.kompas.com/

Label: ,