Makanan Kuliner Kepulauan Seribu

Masyarakat Kepulauan Seribu memiliki ragam jenis makanan yang juga berfungsi secara beragam pula. Secara umum, makanan yang ada di Pulau Seribu terbagi menjadi 4 (empat) macam, yaitu a). makanan yang dikonsumsi untuk keseharian, b). makanan untuk dikonsumsi pada waktu hajatan, c). makanan yang disajikan untuk perayaan hari raya, d). makanan pada ritual khusus, dan makanan yang disajikan pada saat terdapat orang yang meninggal dunia. 

Makanan Harian
Makanan harian yang biasa dikonsumsi, selain makanan pokok seperti nasi dan lauk-pauk, terdapat makanan lain seperti makanan ringan dan kue-kue yang dibuat untuk sajian harian. Apa yang dimaksud dengan sajian harian di sini adalah bahwa makanan tersebut memang dibuat tidak untuk disajikan pada acara-acara khusus, melainkan untuk camilan atausuguhan sehari-hari. Kue harian ini, selain bisa dibuat sendiri, juga bisa dibeli dari para penjual keliling yang setiap hari menjajakannya. Sayangnya, tidak banyak penduduk yang bisa menceritakan apa makna dibalik nama dan jenis makanan yang beragam ini.  Terdapat banyak nama dan jenis untuk makanan harian ini, di antaranya:

a. Janda Mengandang

Menurut sebagian orang, kue ini dibuat ketika sebagai bekal untuk para suami yang pergi kelaut dan belum bisa dipastikan apakah mereka akan kembali pulang ke rumah atau tidak. Kue ini seperti metafora yang ingin mengatakan bahwa para istri pelaut ibarat janda-janda yang ditinggal para suaminya.
Kue ini dibuat dari tepung beras, sagu, dan ampas kelapa. Adonan antara tepung beras, sagu, dan ampas kelapa tersebut lalu dikusus. Setelah matang, lalu ia dimakan dengan cara dicocol dalam air gula jawa (gula merah).

b. Janda Kecemplung

Kue ini terbuat dari tepung terigu dan gula yang dibuat dalam bentuk bulat, lalu dikukus. Setelah matang, ia dicelupkan dalam cairan air gula jawa lalu dicampur dengan ampas kelapa.

c. Putri Mandri

Hampir mirip dengan Janda Kecemplung, kue yang satu ini dibuat dari bahan utama ubi yang direbus, lalu dihaluskan dan dicampur dengan sagu, dikukus dan diiris-iris berbentuk memanjang dan dimakan bersama dengan air gula merah.

d. Semar Mesem

Kue ini dibuat dari ketan yang diisi oleh adonan ikan berbumbu dapur. Setelah matang, lalu ketan yang berisi adonan ikan berbumbu tersebut digoreng. Kue ini biasa disajikan pada waktu pagi diiringi dengan minum kopi atau teh sebagai pengganti sarapan.

e. Putu Manyang

Kue ini tampaknya tidak murni khas Pulau Panggang, karena kue ini juga terdapat di tempat-tempat lain. Kue ini ini dibuat dari tepung terigu, lalu didalamnya diisi dengan gula merah dan dikukus. Ketika matang, ia dicampur dengan ampas kelapa.

f. Kue Adas

Kue ini terbuat dari tepung terigu yang diadonin dengan air kelapa lalu diisi dengan gula jawa, lalu dimasak dengan cara dipanggang (oven).

g. Kue Podeng

Mirip dengan kue adas. Bedanya hanya pada jenis gula. Jika kue adas memakai gula jawa (gula merah), maka kue podeng memakai gula pasir (gula putih).

h. Ongol-ongol

Kue ini berbahan sagu yang dicampur dengan gula jawa dan santan lalu diolah dengan cara diaduk diatas pemanggangan api. Pembuatan kue ini mirip dengan pembuatan dodol.

i. Alia Begenteh

Kue ini terbuat dari kerak nasi yang dioseng, setelah itu ditumbuk dan dicampur dengan ampas kelapa dan gula jawa.

j. Santri Ngutil

Bahan yang dipakai untuk membuat kue ini adalah tepung beras, sagu, dan gula pasir yang dimasak dengan cara dikukus di atas loyang. Setelah matang, ia dicampur dengan ampas kelapa lalu disajikan.

j. Kue Intil

Kue ini berbahan singkong yang ditumbuk bersamaan dengan gula jawa lalu dikukus, setelah matang ditaburi dengan ampas kelapa.

k. Kue Selingkuh

Entah apa makna dibalik nama kue ini, yang jelas kue ini tetap sering dibuat oleh masyarakat masa kini. Kue ini terbuat dari beras yang diaroni dengan santan kelapa, lalu dibungkus dengan daun pisang dan diisi dengan tumbukan ikan yang berbumbu dapur. Kue ini dimasak dengan cara dikukus.

 l. Laksa

Makanan ini mirip dengan lontong sayur, tetapi ia dibuat dari tepung beras dan sagu yang dicampur dengan kuah santan bercampur kacang hijau. Kuah santan sendiri diberi bumbu dapur seperti kemiri, cabe, kunyit, garam, dan bawang putih. Makanan ini tergolong makanan berat karena bisa menggantikan sajian makanan pokok.

m. Bom Atom

Kue ini terbuat dari tepung terigu, telur, dan mentega. Adonan dari bahan tersebut dicetak dalam bentuk bulan lalu digoreng dengan mentega, setelah matang ditaburi gula putih halus. Sekilas, kue ini mirip dengan kue donat.

n. Roket

Kue ini sangat mirip dengan kue combro, hanya saja isinya diganti dengan ikan yang dibumbui dengan bumbu dapur.

o. Kue Kolong

Pembuatan kue ini dari ubi yang direbus, lalu ditumbuk halus dan dicampur dengan sagu. Setelah itu digoreng dan dimakan dengan cara dicelupkan kedalam air gula jawa.

p. Abon Ikan

Makanan ini merupakan campuran bagi makanan pokok yang bisa bertahan lama. Ia terbuat dari ikan yang direbus, setelah itu ditumbuk dengan dicampuri bumbu dapur, lalu dioseng dengan sedikit minyak goreng. Masyarakat Pulau suka membuat makanan ini karena selain bahannya mudah didapat, ia juga bisa dibuat dalam volume yang banyak untuk dikonsumsi hingga berhari-hari.

q. Puk Cue

Makanan ini dibuat dari bahan sagu dan ikan yang ditumbuk dengan sedikit bumbu dapur. Cara memasaknya dengan dikukus lalu dimakan dengan dicampur bumbu kacang. Di tempat lain, makanan ini sangat mirip dengan siomay.

r. Kerupuk Cue

Cara pembuatannya sangat mirip dengan Puk Cue. Hanya saja, setelah dikukus, puk Cue tersebut diiris-iris lali dijemus hingga kering lalu digoreng. Selain disebut dengan Kerupuk Cue, makanan ini uga biasa disebut dengan nama Kerupuk Ikan.

s. Kue Jepa (Emplek-emplek)

Kue ini sangat sederhana, baik dari segi bahan maupun cara pembuatannya. Ia terbuat dari sagu yang dicampur dengan ampas lalu digoreng. Setelah masak, ia bisa juga dimakan dengan dicelupkan terlebih dahulu pada air gula jawa.

t. Kue Seselit

Kue ini sangat mirip dengan Kue Jepa, hanya saja ia tidak berbahan sagu, melainkan dari tepung beras. Cara pembuatan dan penyajiannyapun sama dengan Kue Jepa.

u. Peler Berdebu

Nama makanan ini memang aneh dan terkesan porno. Sayangnya, sulit untuk mendapatkan informasi mengapa kue ini dinamai demikian. Kue ini sendiri dibuat dari ubi yang ditumbuk dengan sagu, ia diisi dengan gula merah, lalu dikukus. Di tempat lain, ia mirik dengan klepon yang bisa dimakan dengan dicampuri ampas kelapa. Entah karena demi kesopanan atau sebab lain, nama kue tersebut kini lebih dikenal dengan sebutan onde-onde.

v. Belibar Manggis

Kue ini terbuat dari ketan hitam yang dikukus, setelah matang ia ditaburi dengan ampas kelapa lalu disiram dengan air gula jawa.

Makanan Hajatan :

Makanan hajatan termasuk kue-kue atau jenis makanan yang sengaja dibuat dan disajikan pada waktu masyarakat menggelar hajat tertentu, baik pernikahan, akikah, atau khitanan. Seolah-olah, keberadaan jenis makanan dan kue ini menjadi keharusan yang  wajib ada pada setiap hajatan. Oleh sebab itu pula, makanan yang termasuk dalam kategori ini sangat sulit ditemukan pada waktu harian. Di antara makanan yang ada pada waktu hajatan, antara lain:

a. Lambang Sari

Hampir mirip dengan masyarakat lain di pulau jawa misalnya, kue ini hampir selalu ada pada setiap acara hajatan. Kue ini dibuat dari bahan sagu, tepung beras yang diadonin dengan air santan kelapa. Adonan tersebut diisi dengan pisang lalu dibungkus dengan dengan daun pisang dan dikukus.

 b. Kue Bugis

Kue ini terbuat dari tepung ketan yang diadonin dengan santan. Setelah itu diisi dengan centi (ampas kelapa yang disiram dengan air gula), lalu dibungkus dengan daun pisang, dan dikukus. Sekilas, kue ini mirip dengan lambang sari.

c. Bika Ambon

Kue ini terbuat dari tape ketan dicampur dengan tepung beras dan santan. Ia dicetak dalam bentik segi empat dan dimasukkan ke dalam loyang lalu dipanggang (oven).

d. Kue Pepe’ (kue Lapis)

Kue ini terbuat dari sagu yang diadonin dengan santan dan gula pasit. Terkadang adonan tersebut dipisah-pisan menjad beberapa tempat dimana masing-masing adonan diberi warna yang berbeda-beda. Jenis makanan ini dimasak dengan cara dikukus.

Makanan Lebaran

Berbeda dengan makanan harian dan hajatan, makanan lebaran biasanya dibuat untuk disajikan pada waktu lebaran (hari raya). Meskipun ia bukan dalam kategori makanan harian, tetapi dari segi daya tahan makanan yang bisa mencapai waktu berminggu-minggu hingga beberapa bulan, makanan lebaran ini juga tidak jarang menjadi sajian harian pula. Di antara makanan yang dibuat dan biasanya selalu ada pada waktu lebaran yaitu:

a. Biji Ketapang

Makanan ini terbuat dari sagu yang diaduk bercampur santan dan gula pasir. Hasil adonan tersebut dimasak dengan cara digoreng.

b. Kue Sagu

Kue ini dibuat dengan membutuhkan waktu yang lebih lama karea sebelum adonan kue dibuat, maka harus membuat srundeng terlebih dahulu, yaitu ampas kelapa yang dioseng hingga berwarna merah. Srundeng ini dicampur dengan sagu, telur, gula merah, dan santan. Cara memasaknya dimasukkan ke dalam loyang atau cetakan khusus lalu dipanggang (oven).

c. Kue Jepi’

Makanan ini dibuat dari bahan tepung beras, tepung ketan, gula dan sagu yang diaduk dicampur dengan santan atau air biasa. Ia dimasak dengan cara dipanggang (oven).

d. Kue Kacang

Kue ini terbuat dari tepung terigu, mentega, telur, santan, dan mentega. Bahan utama lain yang harus ada adalah kacang tanah yang dihaluskan lalu dimasukkan kedalam adonan sebelumnya. Setelah itu, hasil adonan dimasukkan kedalam cetakan, biasanya berbentuk bundar, lalu dipanggang (oven).

Makanan Sajian Waktu Orang Meninggal Dunia
Pada saat terjadi peristiwa kematian dari salah seorang penduduk, biasanya juga disediakan makanan yang khusus untuk sajian. Para anggota keluarga dan tetangga yang berdatangan saling membantu untuk membuat kue bagi tamu yang ingin ta’ziah. Hanya saja, jenis makanan yang disajikan di masyarakat Pulau ini memiliki perbedaan dengan yang dilakukan masyarakat lain.
Selain berbeda dari jenis makanan, hari-hari yang berbeda juga menentukan jenis makanan yang dibuat. Misalnya, pada kematian hari pertama dan kematian hari ketiga atau ketujuh, masing-masing hari peringatan menyajikan jenis kue yang berbeda.

Hari Pertama
menyajikan dodol dan wajik. Jika dodol dibuat dari bahan tepung ketan, gula jawa dan santan yang diaduk secara terus-menerus di atas api, maka wajik bahannya masih berbentuk ketan utuh yang belum menjadi tepung. Cara pembuatannya sama dengan dodol.

Hari Ketiga
menyajikan Kue Pasung. Kue ini terbuat dari ketan yang dimasukkan dalam ikatan janur lalu direbus. Penyebutan kue pasung ini dianggap sebagai pelepasan ikatan manusia dari kehidupan duniawi. Hari Ketujuh menyajikan Kue-kue yang bersifat mengembang, seperti kue bolu dan bika ambon. Menurut beberapa orang, kue mengembang ini diharapkan agar almarhum memiliki kelonggaran di alam kuburnya dan bisa dimudahkan melalui berkat amalnya didunia.

Hari Ketujuh
menyajikan Kue-kue yang bersifat mengembang, seperti kue bolu dan bika ambon. Menurut beberapa orang, kue mengembang ini diharapkan agar almarhum memiliki kelonggaran di alam kuburnya dan bisa dimudahkan melalui berkat amalnya didunia.

Hari Kelima-belas
menyajikan ketupat dan sekuteng. Ketupat sendiri bisa dimakan dengan sayur atau lauk apapun, sedangkan sekuteng langsung disajikan apa adanya. Sekuteng sendiri biasanya terdiri dari air jahe dicampur dengan potongan roti, kacang, dan kacang hijau. Sekuteng yang dikonsumsi dinilai bisa menghangatkan tubuh. Hari Keempat-puluh menyajikan kue serabi. Entah apa makna dibalik pembuatan kue ini, tetapi masyarakat biasa menyajikan kue serabi pada hari keempat-puluh dari hari kematian seseorang.

Hari Keempat-puluh
menyajikan kue serabi. Entah apa makna dibalik pembuatan kue ini, tetapi masyarakat biasa menyajikan kue serabi pada hari keempat-puluh dari hari kematian seseorang

Makanan pada Ritual Tertentu

Pada acara ritual tertentu, makanan yang dibuat pun menjadi sangat khusus pula. Sementara ini, ritual khusus yang dimaksud dan kerap ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat pulau adalah ritual tujuh bulan, yaitu ritual yang dilakukan untuk menggelar doa-doa tertentu pada saat seorang istri (perempuan) sedang mengandung tujuh bulan.
Pada saat ritual itu, makanan yang biasa dibuat dan disajikan adalah bubur sumsum, atau yang disebut oleh masyarakat pulau dengan bubur lolos. Dengan perantara bubur sumsum atau bubur lolos itu diharapkan sang ibu akan mudah melahirkan anakdaridalamkandungannya.

Sumber  :   Ringkasan dari  tulisan Bpk. Sudiman,S.Pi, M.Si (Ringkas sejarah kultur budaya pulau panggang)
Sumber / Link : Pulau Seribu Jakarta

www.pulauseribu.net