AJWKS Minta Kapal Ojek Sandar di Dermaga Kali Adem


kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Seribu untuk lebih memperhatikan dermaga sandar Kapal Motor (KM) Reguler atau Kapal Ojek tradisional. Pasalnya, dari tahun 2011 dermaga Kali Adem yang dibangun dan diperuntukan untuk kapal tersebut hingga saat ini tidak bisa digunakan.

Asosiasi Jasa Wisata Kepulauan Seribu (AJWKS) meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Seribu untuk lebih memperhatikan dermaga sandar Kapal Motor (KM) Reguler atau Kapal Ojek tradisional. Pasalnya, dari tahun 2011 dermaga Kali Adem yang dibangun dan diperuntukan untuk kapal tersebut hingga saat ini tidak bisa digunakan.

"Kami warga Pulau Seribu meminta Pemkab Kepulauan Seribu untuk tegas dan peduli memperhatikan warganya terkait dermaga sandar kapal ojek di Muara Angke, Jakarta Utara, karena sudah sepekan ini kapal-kapal ojek susah bersandar, tidak mendapatkan ruang di pelabuhan perikanan Muara Angke," ungkap Micky Musele kepada beritapulauseribu.com, Jum'at (8/8/2014).

Menurut Micky, seluruh kapten kapal angkutan tradisional Kepulauan Seribu resah karena, tidak bisa bersandar di pelabuhan perikanan Muara Angke yang dipenuhi dengan kapal nelayan. "Susah masuk dan tidak bisa bersandar di Muara Angke, sementara dermaga Kali Adem sangat longgar bisa di sandari oleh kapal-kapal angkutan yang di kelola oleh Dina Perhubungan dan kapal-kapal pengangkut sampah," katanya.

Menurutnya, bagaimana kami bisa memajukan wisata bahari Kepulauan Seribu, kalau langkah pertama tidak baik di mata wisatawan. "Kalau hal kecil berdampak besar bagaimana pariwiasta di Pulau Seribu akan maju dan sesuai keinginan pemerintah jika dermaga untuk pemberangkatan wisatawan dan warga tidak kunjung selesai," ujarnya.

Micky menambahkan, Jika Pemkab Kepulauan Seribu saat ini masih berpikir di manakah dermaga sandar resmi kapal-kapal tradisional yang sebenarnya? harus kemana lagi kami mengadukan masalah ini. "Haruskah kami menduduki Balaikota dan DPRD DKI Jakarta untuk berorasi atau kami harus tidur di pinggiran jalan bundaran HI bahkan jahit mulut agar kapal-kapal milik masyarakat Pulau Seribu mendapatkan haknya," pungkasnya.