Sejarah Singkat Terjadinya Tragadi Perairan Pulau Panggang dan Pulau Karya

Pada tahun 1627 di Banten sedang terjadi Perang Batu antara penduduk Banten dan Pasukan Belanda, seorang alim ulama yang sangat sakti yakni Tubagus Zen dari Pucuk Umun, beliau adalah keturunan dari Keluarga Kerajaan Padjajaran yang menyerahkan diri untuk kemudian masuk Islam. Tubagus Zen adalah orang pertama yang tercatat menduduki Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya. Beberapa saat setelah itu juga datang beberapa orang sakti diantaranya adalah Tubagus K.H. Rama, Tubagus Maemunah dan Tubagus Sri Mulyati yang beresal dari tanah Banten. Sampai pada akhir hayatnya, Tubagus Zen dimakamkan di sebelah timur Pulau Karya, K.H Rama menghilang ketika beliau sedang bertapa di Pulau Pramuka sementara Rtubagus Maemunah dan Tubagus Sri Mulyati dimakamkan di Pulau Pramuka (sekarang menjadi Kantor Kabupaten Administrasi kepulauan Seribu).

Para pedagang kain mulai datang ke Pulau Karya, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka pada abad ke-17 salah satunya yang terkenal berasal dari Suku Mandar, Sulawesi yaitu Sri Ayu Dewi dengan nama julukan Darah Putih. Dengan mengendarai Perahu Layar orang Aceh yang dinahkodai oleh Saudin, beliau dihadang oleh sekelompok pasukan perompak (bajak laut) yang berasal dari Kuala sungsang, Palembang. Perahu layar beliau sempat dikejar oleh para gerombolan Bajak Laut tersebut namun dengan kesaktiannya dan Izin Allah SWT perahu tersebut dapat tidak terlihat hingga sampai ke tepian Pulau Panggang dengan selamat. Saat beliau tiba di Pulau Panggang seketika itu juga Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya tidak terlihat oleh para Bajak Laut seakan-akan tidak ada Pulau-pulau di penglihatan para perompak kemudian mereka berbalik arah berlayar ke parairan karang balik layar depan Pulau Semak Daun. Akhirnya setelah sekian lama Sri Ayu Dewi meninggal dan dimakamkan di tepian pantai dataran tinggi di Pulau Pramuka. Pada saat beliau meninggal keluarlah tetesan darah yang amat harum dari salah satu pori-pori beliau dengan darah yang berwarna putih menandakan bahwa beliau adalah orang sakti.

Pada masa tersebut juga di tahun 1530 ada kisah nyata di perairan tengah laut Pulau Pramuka dan Pulau Panggang ada sepasang pengantin yang akan mengambil air minum menuju Pulau Pramuka, perbuatan kedua pengantin ini ternyata melanggar adat leluhur, yaitu berpergian sebelum 40 hari akad pernikahan mereka. Ditengan-tengah perjalanan kemudian Perahu tersebut terbalik dan kedua pengantin itupun tenggelam sambil memelik kendi air. Pengantin dan kendinya akhirnya berubah menjadi batu karang yang dinamakan sekarang Karang Langka-langka.

Pada zaman penjajahan Belanda di Tahun 1527 kawasan perairan Kepulauan Seribu khususnya di Pulau Cina, merupakan salah satu tempat transit para pedagang cina, seringkali gerombolan perompak yang berasal dari keturunan Seka yang datang ke Pulau Cina untuk merampok harta dan membunuh para pedagangnya. Para pedagang tersebut dibunuh dengan cara memanggang mereka di Karang Pemanggang dan dimakan bersama-sama. Saat itu juga para pendekar sakti bermunajat untuk keselamatan Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya dan beberapa saat kemudian Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya kembali tidak terlihat oleh para bajak laut. Kemudian ketika sedang mencari-cari Pulau tersebut Pasukan Bajak Laut dari Suku Seka ini terdampar di karang lebar sampai perbekalan konsumsi mereka habis dan kelaparan, pada akhirnya pimpinan bajak laut tersebut memakan daging temannya sendiri dengan cara di panggang dan baru kemudian dimakan dengan lahapnya.