Bupati Kepulauan Seribu, Dr. H. Asep Syarifudin Jaya Pulauku Seindah Jakarta Baru

Menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain dan lingkungannya, karena tidak berguna hidup bila tidak bermanfaat dan apalagi sebagai pemimpin harus mampu membedayakan, melayani dan membangun masyarakat, demikian petikan filosofi hidup yang dipegang seorang DR. H. Asep Syarifudin, Bupati Kepulauan Seribu.

"Yang jelas filosifi hidup saya itu, saya harus bermanfaat bagi orang lain dan bagi lingkungan. Itu yang paling utama, karena rugi hidup di dunia ini kalau kita tidak bermanfaat bagi lingkungannya,"  tuturnya memulai perbincangan dengan Buletin Kepulauan Seribu.

Dalam kapasitasnya sebagai bupati, Asep ingin selalu berbuat optimal dalam memberdayakan, melayani dan membangun masyarakat. Oleh karena itu, dirinya menghimbau kepada masyakarat untuk berpartisipasi didalam berbagai aspek, serta semua elemen di harus bahu-membahu membangun Kepulauan Seribu.

"Jika satu sisi ada hal yang berbeda, justru disitulah hikmatnya kehidupan dan perbedaan yang harus kita antisipasi, yang penting jangan ada pada diri kita ini membenci, perbedaan itu harus, karena itu sebuah anugerah, untuk hal-hal yang kita ingingkan supaya kita terus dapat membangun," katanya.

Menurut mantan Wakil Walikota Jakarta Pusat maupun Jakarta Timur ini, dirinya ingin selalu dekat dengan masyarakat, karenanya pada waktu-waktu tertentu seperti pada hari jumat dimanfaatkannya untuk berdialog dengan masyarakat.

"Kata kuncinya adalah gimana kita menyampaikan program, dan alhamdullilah sampai, saya di kantor punya catatan apa saja yang harus saya lakukan di pulau, dan apa saja yang menjadi skala prioritas. Strategi apa saja yang harus saya lakukan, dan kemudian saya akumulasi," terang manta Wakil Walikota Jakarta Pusat maupun Jakarta Timur serta Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Provinsi DKI Jakarta ini.

Suami dari Hj. Susi Andriana ini mengaku saat ini masyarakatnya lebih bergairah daripada sebelumnya, dan yang menyatakan hal demikian adalah masyarakat itu sendiri. menurutnya dulu tidak pernah pemilik resort, pemilik pulau, pemilik homestay di panggil untuk diberikan pengarahan, kalau sekarang mereka dipanggil seperti pemilik pulau diminta tidak membiarkan pulaunya menjadi lahan yang tak berguna.

"Dan saya menghimbau, bagaimana menghidupkan lahan tidur itu biar bisa hidup yaitu dengan tiga, yaitu dibangun sendiri, dikerjasamakan dan dikelola bersama dengan baik oleh masyarakat," urainya.

Setelah dievaluasi terkait dengan kepemilikan pulau, bupati ke enam menduga pulau-pulau yang digunakan secara pribadi, maupun resort, banyak yang tidak memenuhi syarat seperti dia tidak punya AMDAL, dia tidak punya IPAL, dia tidak punya IMB.

"Setelah kita tahu kondisinya seperti ini, jangan sampai kita menjadikan itu sebuah permasalahan, justruh sebaliknya kita segera menyelesikan masalah ini, jangan dibiarkan berlarut-larut. Saya berdialog dengan pemilik-pemilik pulau tentang permasalahan utamanya," ujarnya.

Namun begitu, dirinya tidak ingin  menyalahkan orang lain, dia ingin melakukan perubahan terutama perubahan terhadap mindset.

“Saya ingin menagajak semua jajaran yang ada di Kepulauan Seribu untuk merubah mindset, dari biasa yang dilayani, kita yang harus melayani  itu kata kuncinya, dan untuk selanjutnya kita akan bikin pelayanan satu atap. Bahkan saya sudah membuat ruangan khusus, dan disetiap harinya harus ada orang yang melayani, karena pelayanan untuk perubahan reformasi didalam sebuah birokrasi, salah satunya adalah pekerjaan yang sangat terukur, baik terukur biaya dan terukur waktu. Itu dinamakan komitmen, dengan adanya perubahan itu mereka setuju dan menyambut dengan baik," tegasnya.
    
Sosoknya tegas, namun bukan keras. Jiwanya sangat komunikatif dan selalu menghargai pendapat orang lain, termasuk bawahannya. Semangat hidup yang melandasi pengabdiannya selama ini dikelola dengan manajemen yang baik, sehingga mampu menjadi energi luar biasa. Berikut hasil wawancara Buletin Kepulauan Seribu dengan ayah dari Adriana Dhananjaya, SE, MH, Ardhila Parama Arta, BSc (HONS), MSc, Alvia Anjani, buah pernikahannya dengan Hj Susi Adriana ini.

Apakah jajaran Anda sudah siap untuk diajak berlari?

Saya belum menjamin itu, tapi saya selalu mengajak teman-teman kalau untuk merubah reformasi demokrasi, kita harus berani mengambil sikap, dan saya jamin, siapa yang tidak mau mengikuti saya, akan tertinggal dan sebagai  konsekuensinya mereka akan saya lepas.

Bagaimana membangun Kepulauan Seribu untuk kedepan?

Kita harus siap memberikan pelayanan,  tidak ada lagi cerita pemain lambat, tidak ada lagi cerita menunda-nunda bagi saya. Kalau investor atau swasta, ada 3 hal yang sangat mereka harapakan, yaitu kenyamanan, kepastian, dan pelayanan yang profesional. Dari 3 itu saya sudah bisa menduga, kalau kita menarik investor, satu hal tidak boleh kita abaikan dan harus kita jadikan komitmen adalah pelayanan, pelayanan yang akuntable, transparan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah sebuah komitmen yang harus kita lakukan, kalau itu sudah sepakat, saya yakin siapapun mau kita layani.

Apa program yang ingin segera dilakukan?

Yang paling pendek adalah bagaimana kita merubah mindset, baik yang ada di kabupaten atau aparat maupun yang ada di masyarakat. itu namanya konsolidasi kedalam, dan saya butuh waktu dua minggu untuk itu, dan minggu ketiga sudah saya putusan apa yang harus saya lakukan, saya harus berangkat ke masjid-masjid yang ada di Kepulauan Seribu, kemudian malam hari saya harus datang ke masjid-masjid di pulau untuk berdialog bersama-samaa masyarakat, dan siang harinya dimana ada kesempatan, saya berdialog dengan warga sekitar.

Sebagai seorang Bupati bagaimana Anda memimpin Kepulauan Seribu?

Untuk pengambilan sikap, saya tidak memikirkan populis atau tidak populis, yang paling penting masyarakat tau benar apa yang kita lakukan, pertanyaannya apakah seluruh masyarakat setuju? belum tentu. Tapi saya yakin apapaun yang kita lakuakan semua tergantung niat kita dan saya akan dalami, tidak sedikit LSM di pulau seribu yang protes, meski protesnya bukan ke saya, tapi ke pemerintahan tahun lalu, tapi saya bisa menangkap, Oh berarti mereka pengennya seperti ini.

Bagaimana Anda melihat masyarakat Kepulauan Seribu secara umum?


Sebenarnya semua masyarakat Pulau Seribu berkeinginan untuk memajukan pulau, persoalannya adalah bagaimana cara mengajak mereka mempunyai  rasa memiliki pulau. Kalau saat ini terpecah kiri kanan karena mereka merasa punya kepentingan sendiri, dan itu secara psikologis manusia memang seperti itu, tapi kembali lagi, kita sebagai aparat mengajak masyarakat untuk merubah mindset.

Saat ini Kepulauan Seribu menjadi tujuan wisata, apa strategi Anda untuk meningkatkan kunjungan wisata?

Ketika kita tiba pada konteks itu kan harus ada sarana dan prasarana yang harus kita siapkan, yang notabene-nya itu tanggung jawab pemerintah, dan  masyarakat harus mendukung. Dalam dua tahun saya jamin pembangunan Pulau Seribu sudah hebat, perubahan struktur, perilaku masyarakat, dan punya konsep ingin jauh lebih maju lagi.  Saya berjanji untuk pendidikan kita akan kelolah masyarakat yang ada di Kepulauan Seribu ini untuk jauh terbang lebih tinggi lagi, dengan catatan mereka juga turut serta untuk membangun.

Jaya Pulauku Seindah Jakarta Baru, itu maksudnya apa?


Jaya pulauku artinya kemenangan yang ada di kita, karena kita punya konsep dan kita punya pariwisata yang harus maju, makanya harus jaya, yang seperti apa? yang seindah seperti yang diharapkan Jakarta baru kita. Kalau saya lihat kalimat ini itu nyambung dengan visi misinya gubernur. jaya pulauku artinya kita membangun pulau itu sendiri. Yang seperti apa? yang seindah Jakarta baruku. Karena kita tidak terpisahkan dari bagian Jakarta Baru.

JADILAH ORANG PERTAMA YANG MENGOMENTARI :



Dikirim oleh Kang Lintas pada 20.08. dan Dikategorikan pada . Kamu dapat meninggalkan komentar atau pesan terkait berita / artikel diatas

0 komentar untuk Bupati Kepulauan Seribu, Dr. H. Asep Syarifudin Jaya Pulauku Seindah Jakarta Baru

Tinggalkan Komentar

PARA PENGGUNA JASA KAMI

2010 Lintas Pulau Seribu. All Rights Reserved. - Designed by Lintas Pulau Seribu