Sawiyah: Pencari Kayu, Pembuat Atap Belarak

Tangan tua Sawiyah (60 tahun) masih lincah memainkan jemarinya menjahit daun kelapa yang telah disusun rapi dengan benang berbahan sayatan daun kelapa. Daun-daun kelapa itu disusun berjejer memanjang ke samping dengan panjang sekitar dua meter dan dikaitkan dengan batang dahan kelapa sebagai pegangan. Sebelum dijahit, daun kelapa ini mesti direndam beberapa hari di laut agar lebih kuat, termasuk batang dahan kelapanya. Rendaman air itu akan membuat daun kelapa berwarna kecoklatan.

Di hari tuanya Sawiyah yang hidup sendiri di rumahnya memang tak bisa bersantai-santai. Perempuan ini masih harus giat bekerja mendapatkan rupiah demi membiayai kehidupannya. Wak Wiyah sendiri sebetulnya memiliki seorang anak. Namun bersama sang menantu, anaknya tinggal jauh dari pulau.  “Selagi bisa saya nda mau minta bantuan orang-orang,” katanya. Siang itu ketika ditemui Iman Cahyadi puloseribu.com pertengahan Mei silam di tempat biasanya ia membuat atap di Kampung Baru, Sawiyah tengah merampungkan pekerjaannya membuat atap rumah dari daun belarak (daun kelapa –red). Dalam dua jam Sawiyah bisa mengerjakan satu atap rumah. Untuk satu atap, ia jual seharga Rp. 2 ribu perak.

Selain membuat atap, Wak Wiyah, begitu sapaan akrabnya, juga bekerja mencari kayu bakar. Area kerjanya di bagian barat hingga ujung Pulau Tidung. Hampir setiap hari ia mengumpulkan berbagai kayu bakar. Kayu-kayu yang berhasil lalu dikumpulkan dan disusun hingga seukuran 1X1 meter yang nantinya akan dijual dengan harga bervariasi. Untuk jenis pelepah kelapa dihargai Rp. 35 ribu per meter. Sedang untuk jenis kayu angin dan kayu punaga Rp 45 ribu. Dalam sebulan kayu yang bisa dijual sekitar 3-4 meter. “Itupun kalau ada yang memesan,” katanya. Jadi ditotal pendapatan Wak Wiyah dari menjual kayu dan atap berkisar antara Rp. 100 -150 ribu perbulan. Hari gene, uang segitu pasti jauh dari cukup! Tapi bagi Wak Wiyah, uang segitu sudah alhamdulillah.


Jasa Wak Wiyah mencari kayu bakar ini biasanya dibutuhkan oleh para tukang pembuat kue keliling di Pulau Tidung. Tapi tak setiap mereka juga membeli kayu dalam bentuk
cash and carry. “Ada juga yang ngambel (ambil –red) dulu. Nanti baru dibayar,” ungkap warga Pulau Tidung RT 01 RW 03 Kampung Baru ini.

Meski tergolong kurang mampu, nyatanya Wak Wiyah bukanlah warga yang termasuk sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai sejak program ini digulirkan pemerintah beberapa tahun lalu. “Seperakpun Alhamdulillah belum pernah terima,” katanya. Menurut data yang diperoleh di Pulau Tidung warga kurang mampu tahun 2009 tercatat sebanyak 173 orang. Sedang tahun 2008 sebanyak 2008.


Dalam hidup ini Wak Wiyah punya prinsip. Kalau bisa ia tak ingin menyusahkaan orang lain, termasuk juga pada anaknya sendiri. Jika bisa ia ingin mandiri. Kepada
puloseribu.com, ia sendiri merasa beruntung. Meski tak berlebihan, ia tak memiliki hutang. “Biar kalau meninggal ndak ada halangan lagi,” ujarnya. [*]  
 
Iman Cahyadi & Alamsyah M. Dja’far
Foto: Iman Cahyadi