Cuaca Buruk, Nelayan Pulau Seribu Alih Profesi


 

Cuaca buruk seperti tingginya gelombang serta angin kencang kembali melanda perairan Kabupaten Kepulauan Seribu. Alhasil, para nelayan di pulau tersebut terpaksa mengurungkan diri untuk melaut lantaran takut tersapu gelombang setinggi dua meter.

"Dari mulai kemarin sebagian besar nelayan di Kepulauan Seribu belum berani pergi ke laut karena gelombang di perairan ini masih tinggi di atas dua meter," kata Somad (30), salah seorang nelayan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, kepada beritapulauseribu.com. Rabu (3/12/2014)

Menurtutnya, kalaupun ada yang melaut, mereka hanya mencari ikan sekitar dua atau tiga mil dari pantai karena dinilai tidak terlalu membahayakan. Yang melakukan ini umumnya nelayan-nelayan yang menggunakan kapal kecil. Sementara kapal-kapal besar tidak melaut sama sekali.  "Selama tidak melaut, sebagian besar dari mereka untuk sementara beralih profesi menjadi buruh bangunan, yang saat ini sedang ada proyek pengerjaan IPAL," kata Somad.

Hal senada juga diungkapkan Herman (44). Ia mengatakan, sejak gelombang tinggi yang melanda Kepulauan Seribu belakangan ini banyak nelayan beralih profesi menjadi buruh bangunan untuk menyambung hidup keluarganya dengan upah sekitar Rp 50.000 per hari yang dibayarkan per minggu. "Jadi, sambil menunggu gelombang berhenti para nelayan bekerja sebagai buruh bangunan. Terpenting dapat uang setiap hari untuk anak istri, sehingga anak dan istri bisa makan," jelasnya..

Mereka berharap, cuaca segera membaik dan laut kembali tenang sehingga mereka bisa kembali melaut. "Ya, kami hanya bisa pasrah dan berharap laut kembali bersahabat dengan para nelayan di Kepulauan Seribu. Semoga saja ada bantuan dari para dermawan," pungkasnya.


Sumber Berita: http://beritapulauseribu.com/berita-cuaca-buruk-nelayan-pulau-seribu-alih-profesi.html#ixzz3L31uBnWG