Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

0 komentar
Pulau Tidung merupakan pulau terbesar dalam gugusan pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Pulau hunian penduduk ini memiliki luas sekitar 109 ha dengan populasi sekitar 4000 jiwa dengan 2000 kepala keluarga Nama Pulau Tidung berasal dari kata Tidung (dalam aksen penduduk setempat pada waktu itu), yang artinya tempat berlindung, karena pulau ini sering dijadikan sebagai tempat untuk berlindung dari bajak laut atau perompak,Maka Pulau ini dinamakan Pulau Tidung yaitu pulau untuk tempat berlindung.
 
Menurut Buku Sedjarah Djakarta, yang terbit tahun 1960 atau 1970-an diceritakan, ketika Fatahillah menyerbu Portugis di Malaka, ia menggunakan pulau-pulau di teluk Jakarta ini sebagai basis mengatur strategi pada zaman dahulu, salah satunya adalah Pulau Tidung.

Berdasarkan keterangan penduduk setempat, Pulau Tidung mulai dihuni oleh penduduknya sekitar tahun 1920-an. Pada waktu itu ada seorang penjaga pulau yang didatangkan dari Rawa Belong, Jakarta Barat. Pada tahun 1942 ( saat penjajah Jepang datang ke Indonesia) penduduk Pulau Tidung sempat diungsikan ke daerah Tegal Alur Jakarta Barat. Pengungsian tersebut berlangsung selama tiga tahun, hingga tahun 1945, kemudian penduduk tersebut dapat kembali ke pulau Tidung setelah Penjajahan Jepang lengser.

Kini Pulau Tidung menjadi pusat Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan yang membawahi 3 Kelurahan antara lain: Kelurahan Pulau Pari, Kelurahan Pulau Untung Jawa dan Kelurahan Pulau Tidung.

Read More »

0 komentar
Pada abad ke-17, pulau ini merupakan penunjang aktivitas Pulau Onrust karena letaknya yang tidak berjauhan dengannya. Karena menjadi penunjang, di pulau ini dibangun pula sarana-sarana penunjang. Pada tahun 1679, VOC membangun sebuah rumah sakit lepra atau kusta yang merupakan pindahan dari Angke. Karena itulah, pulau ini sempat dinamakan Pulau Sakit.

Saat bersamaan, Belanda mendirikan benteng pengawas. Benteng yang dibangun ini lebih berfungsi sebagai sarana pengawasan untuk melakukan pertahanan dari serangan musuh. Sebelum pulau ini diduduki oleh Belanda, orang Ambon dan Belanda pernah tinggal di pulau ini.

Sekitar tahun 1800, armada laut Britania Raya menyerang pulau ini dan menghancurkan bangunan di atas pulau ini. Sekitar tahun 1803 Belanda yang kembali menguasai Pulau Bidadari dan membangunnya kembali. Akan tetapi Britania kembali menyerang tahun 1806, Pulau Onrust dan Pulau Bidadari serta pulau lainnya hancur berantakan. Tahun 1827 pulau ini kembali dibangun oleh Belanda dengan melibatkan pekerja orang Tionghoa dan tahanan. Bangunan yang dibangun adalah asrama haji yang berfungsi hingga tahun 1933.

Pulau ini sebelum menjadi resor sempat kosong dan tidak berpenghuni sampai dengan tahun 1970. Bahkan pulau ini tidak pernah dikunjungi orang. Pada awal tahun 1970-an, PT Seabreez mengelola pulau ini untuk dijadikan sebagai resor wisata.

Semenjak tahun 1970 ini, untuk menarik pengunjung, pulau ini berganti nama menjadi Pulau Bidadari. Alasan pengambilan nama menjadi Pulau Bidadari diilhami dari nama pulau lainnya di Kepulauan Seribu seperti Pulau Putri, Pulau Nirwana, dan lainnya.


Read More »

DATA PULAU - PULAU DI WILAYAH KABUPATEN ADM. KEPULAUAN SERIBU
NO NAMA PULAU
..................................................... 
LUAS
(Ha)
PERUNTUKAN PENGGUNAAN KET
  KEL. PULAU KELAPA        
3 P. Dua Barat 7,93 PHU Cagar Alam  
4 P. Genteng Besar 24,76 Rekreasi Cottage  
5 P. Genteng Kecil 5,58 Rekreasi Cottage  
6 P. Hantu Barat (Pantara) 10,56 Rekreasi Cottage  
7 P. Hantu Timur (Pantara) 19,95 Rekreasi Cottage  
8 P. Jukung 11,03 PHB Perikanan  
9 P. Kaliage Besar 6,46 Rekreasi Cottage  
10 P. Kaliage Kecil 1,05 PHU Cottage  
11 P. Kapas 0 PHU Gosong  
12 P. Kayu Angin Genteng 0,44 PHU Penghijauan  
13 P. Kayu Angin Melintang 0,77 PHU Penghijauan  
14 P. Kayu Angin Putri 0,98 PHU Penghijauan  
15 P. Kelapa 13,09 Permukiman Permukiman  
16 P. Kelapa Dua (Kongsi) 1,9 Permukiman Permukiman  
17 P. Kelor Barat 2,3 PHU Cottage  
18 P. Kelor Timur 3,73 PHU Cottage  
19 P. Lipan 6,26 Rekreasi Cottage  
20 P. Macan Besar (Matahari) 6,13 Rekreasi Cottage  
21 P. Macan Kecil 0.82 PHU Cottage  
22 P. Melinjo 11.11 Rekreasi Cottage  
23 P. Melintang Besar 16,48 Rekreasi Cottage  
24 P. Melintang Kecil 6,54 Rekreasi Cottage  
25 P. Pabelokan 10,5 PHB / KUT Pertambangan  
26` P. Panjang Besar 12,92 Fasum Lap. Terbang  
27 P. Panjang Kecil 0,39 PHU Pengjijauan  
28 P. Putri Besar Barat 8,29 Rekreasi Cottage  
29 P. Putri Gundul 6,98 PHU Penghijauan  
30 P. Saktu 16,07 Rekreasi Cottage  
31 P. Sebaru Kecil 16,07 Rekreasi Cottage  
32 P. Semut Kecil 0,58 Rekreasi Penghijauan  
33 P. Tongkeng 3,36 Rekreasi Cottage  
34 P. Yu Besar Barat 6,38 PHU Penghijauan  
35 P. Yu Kecil Timur 5,11 PHU Penghijauan  
  KEL. PULAU HARAPAN 244,72      
36 P. Belanda 0,46 PHU Cagar Alam  
37 P. Bira Besar 29,13 Rekreasi Cottage  
38 P. Bira Kecil 7,3 Rekreasi Peristirahatan Pribadi  
39 P. Bulat 1,28 Rekreasi Peristirahatan Pribadi  
40 P. Dua Timur 18,48 PHU Cagar Alam  
41 P. Gosong Laga Besar - - -  
42 P. Harapan 6,7 Pemukiman Pemukiman  
43 P. Jagung 7,92 PHU Cagar Alam  
44 P. Kayu Angin Bira 0,26 PHU Cagar Alam  
45 P.Kuburan Cina 0,25 PHU Penghijauan  
46 P.Laga 4,92 PHU Penghijauan  
47 P. Nyamplung   Rekreasi Cottage  
48 P. Opak Besar 9,74 Rekreasi Cottage  
49 P. Pemagaran 15.56 Rekreasi Cottage  
50 P. Penjaliran Barat 17,9 PHU Cagar Alam  
51 P. Penjaliran Timur 14,24 PHU Cagar Alam  
52 P. Perak 3,06 Rekreasi Cottage  
53 P. Peteloran Barat Besar 1,63 PHU Cagar Alam  
54 P. Peteloran Timur Kecil 0,5 PHU Cagar Alam  
55 P. Petendan Barat (Pelangi) 11,82 R ekreasi Cottage  
56 P. Petondan Timur (Papateo) 7,38 Rekreasi Cottage  
57 P. Putri Kecil Timur 6,93 Rekreasi Cottage  
58 P. Rengit 9,78 PHU Cagar Alam  
59 P. Sebaru Besar 37,7 PHB/KUT Penghijauan  
60 P. Sebira 8,82 PHB/KUT Pemukiman  
61 P. Semut 0,7 PHU Penghijauan  
6 2 P. Semut Besar 6,5 Rekreasi Cottage  
63 P. Sepa Besar Barat 5,68 Rekreasi Cottage  
64 P. Sepa Kecil Timur 3,5 PHU Penghijaun  
  KEL. PULAU PANGGANG 62,1      
65 P. Air 2,9 Rekreasi Cottage  
66 P. Gosong Pandan 0 - -  
67 P. Karang Bongkok 0,5 PHU Penghijauan  
68 P. Karang Congkak 0,6 PHU Penghijauan  
69 P. Karya 6 Pemerintahan Rekreasi  
70 P. Kotok Besar 20,75 Rekreasi Cottage  
71 P. Kotok Kecil 1,3 PHU Cottage  
72 P. Opak Kecil 1,1 PHU Penghijauan  
73 P. Panggang 9 Pemukiman Pemukiman  
74 P. Paniki 3 PHB Rambu  
75 P. Pramuka (P. Lang) 16 Pemerintahan Pemukiman  
76 P. Sekati 0,2 PHUI Penghijauan  
77 P. Semak Daun 0,75 PHU Penghijauan  
  KEL. PULAU TIDUNG 106,9      
78 P. Karang Beras 3,6 Rekreasi Cottage  
79 P. Laki 14,45 Rekreasi Cottage  
80 P. Payung Besar 20,86 Pemukiman Pemukiman  
81 P. Payung Kecil 0,46 PHU Tenggelam  
82 P. Tidung Besar 50,13 Pemukiman Pemukiman  
83 P. Tidung Kecil 17,4 Rekreasi Pemerintahan/Penelitian  
  KEL. PULAU PARI 94,57      
84 P. Biawak 0,24 PHB Penelitian  
85 P. Bokor 18 PHU Cagar Alam  
86 P. Burung 3,26 Rekreasi Cottage  
87 P. Gundul 0 PHU Penghijauan  
88 P. Karang Kudus 0,76 Rekreasi Cottage  
89 P. Kongsi 1,63 Rekreasi Cottage  
90 P. Kudus Lempeng 0 PHU Penghijauan  
91 P. Lancang Besar 15,13 Pemukiman Pemukiman  
92 P. Lancang kecil 11,03 Rekreasi Cottage  
93 P. Pari 41.32 PHB-Pemukiman Pemukiman  
94 P. Tengah 2 Rekreasi Penghijauan  
95 P. Tikus 1,2 PHB Penelitian  
  KEL. PULAU UNTUNG JAWA 102,85      
96 P. Air Besar (Ayer) 6,5 Rekreasi Cottage  
97 P. Air Kecil 0 PHU -  
98 P. Bidadari / Sakit 6 Rekreasi Cottage dan Arkeologi  
99 P. Cipir / Kayangan 1,6 Rek reasi Arkeologi  
100 P. Damar Besar / Edam 12,5 PHB/KUT Rambu / Mercusuar  
101 P. Damar Kecil / Monyet 2,15 PHB/KUT Pos AL  
102 P. Dapur 0 Rekreasi Taman Arkeologi  
103 P. Kelor 2 Rekreasi Arkeologi  
104 P. Nyamuk Besar / Nirwana 0 PHB/KUT Rambu Lalu lintas  
105 P. Nyamuk Kecil / Talak 0 PHB/KUT Rambu Lalu Lintas  
106 P. Ubi Besar 0 PHU -  
107 P. Ubi Kecil 0 - -  
108 P. Onrust 12 Rekreasi Arkeologi  
109 P. Rambut 20 PHU Cagar Alam  
110 P. Untung Jawa 40,1 Perumahan Permukiman  
  Jumlah 2.283.88      



Read More »

JARAK ANTAR PULAU DALAM SATUAN MIL & KM

NO JARAK MIL KM
1 M. Angke – Pramuka 23,80 38,30
2 M. Angke – Untung Jawa 7,98 12,98
3 M. Angke – Tidung 23,8 38,30
4 M. Angke – Lancang 15,60 25,11
5 Pramuka – Tidung 6,73 10,83
6 Pramuka – Kelapa 6,11 10,83
7 Pramuka – Pari 7,04 11,83
8 Pramuka – Panggang 0,82 1,32
9 Pramuka – Untung Jawa 15,82 25,46
10 Pramuka – Lancang 11,30 18,18
11 Tidung – Kelapa 6,11 10,83
12 Tidung – Pari 7,04 11,33
13 Tidung – Lancang 11,3 18,18
14 Tidung – Untung Jawa 15,20 24,46
15 Tidung – Panggang 5,91 9,51



Read More »




Pulau Untung Jawa - Pulau Seribu

Pulau Untung Jawa Kepulauan Seribu merupakan sebuah pulau berpenduduk berlokasi dekat dengan pulau Bidadari resort.  di pulau ini penduduk umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan, saat ini pulau Untung Jawa merupakan salah satu pulau penduduk di Kepulauan Seribu yang tengah di promosikan sebagai tempat wisata bahari, dan pulau Untung Jawa ini telah masuk dalam salah satu pulau wisata Jakarta.

Menuju Pulau Untung Jawa Pulau Seribu

Untuk menuju Pulau Untung Jawa ini, umumnya penduduk dan wisatawan menggunakan pelabuhan Muara Angke sebagai keberangkatannya, selain itu pulau ini banyak dikunjungi wisatawan dari pantai Mutiara dengan menggunakan jet ski untuk sekedar menikmati keindahan pulau, di pulau ini banyak terdapat kedai yang menawarkan makanan khas seperti kripik Sukun, kripik sukun ini diproduksi langsung oleh masyarakat Untung Jawa, selain itu terdapat jajanan dari rumput laut, ikan asin dan manisan ceremai.  Pohon sukun ini banyak tumbuh di Kepulauan Seribu, dengan daging sukun yang kekuningan, berupa irisan tipis yang digoreng garing dengan rasa gurih.

Di beberapa pantai juga terdapat kedai yang menjual ikan bakar, ikan bakar ini sangat fresh diambil dari nelayan, seperti cumi, ikan kue dan lain-lain, rasanya sedang, gurih dan enak dimakan dengan nasi ketika masih panas, harga nya pun relatif murah.

Pabila Anda berkunjung ke pulau Untung Jawa ini cobalah membeli oleh-oleh khas kepulauan Seribu ini, karena selain rasanya enak dengan membeli oleh- oleh ini, Anda berarti juga turut membantu perekonomian mereka, setuju ?

Kelurahan di Pulau Untung Jawa Pulau Seribu Jakarta

Pulau Untung Jawa ini merupakan kelurahan dengan kode pos 14510.  Adapun pulau – pulau yang termasuk dibawah kelurahan Untung Jawa antara lain:
  1. Pulau Air Besar / pulau Ayer Besar, pulau ini merupakan pulau resort peristirahatan, terdapat cottage, fasilitas hotel setara bintang, saat ini pulau Ayer dikelola oleh PT. Global Buana. (baca Pulau Ayer pulau Seribu dan paket wisata pulau Ayer pulau Seribu Jakarta)
  2. Pulau Air Kecil / Ayer kecil; sayang nya pulau ini sudah tergerus oleh ombak dan sudah tidak nampak lagi.
  3. Pulau Bidadari,  pulau ini merupakan resort yang dikelola oleh PT . Seabrez (anak perusahaan PT Taman Impian Jaya Ancol) disini tersedia cottage dan fasilitas berlibur,  Pulau bidadari sarat dengan peninggalan sejarah Belanda sewaktu Belanda ingin menguasai Jayakarta, dan terdapat benteng Martello Castel yang masih ada hingga saat ini. (baca pulau Bidadari resort, harga paket wisata pulau)
  4. Pulau Bokor;  pulau ini merupakan cagar alam burung dengan variasi jenis burung yang bermacam-macam, untuk memasuki pulau ini harus memiliki ijin.
  5. Pulau Cipir / pulau Kahyangan
  6. Pulau Dapur; sayangnya pulau ini sudah tidak terlihat lagi, sudah ada dibawah laut.
  7. Pulau Edam atau Pulau Damar Besar;  pulau Edam terkenal dengan mercusuar nya dengan ketinggian 65 meter dibangun di tahun 1879.
  8. Pulau Kelor; pulau ini dapat terlihat ketika Anda berkunjung ke pulau Bidadari, pulau yang kecil dengan terlihat benteng Belanda sebagai benteng pengintai, pulau Kelor ini terdapat kuburan dan dikenal sebagai “Kerkhof eiland”.
  9. Pulau Monyet / Damar kecil; sekitar pulau ini banyak digunakan memancing, banyak terdapat bandeng laut dengan rasa yang berbeda dengan bandeng darat.
  10. Pulau Nyamuk Besar / pulau Nirwana; mungkin anda sedikit kurang paham mengenai pulau ini, karena pulau ini sudah tidak ada lagi karena terkena abrasi laut.
  11. Pulau Nyamuk Kecil / pulau Talak; pulau kecil di pulau seribu ini bernasib sama, sudah tidak ada lagi.
  12. Pulau Onrust; pulau ini dapat dikunjungi, terdapat peninggalan kolonial Belanda, dahulu merupakan tempat perbaikan kapal
  13. Pulau Rambut;  pulau ini banyak sebagai pulau cagar alam, banyak terdapat burung dan terdapat menara pengawas untuk melihat burung ( birdwatching)
  14. Pulau Ubi Besar;  sudah tenggelam karena abrasi
  15. Pulau Ubi kecil; sudah tenggelam karena abrasi
  16. Pulau Untung Jawa; merupakan pusat keluarahan, dahulu pulau ini bernama Amiterdam, pulau ini masih berpenghuni dan banyak penduduk Kepulauan Seribu yang tinggal di pulau ini


Read More »

Kelurahan Pulau Tidung Pulau Seribu ini telah banyak diberitakan dan ditulis dalam blog, pulau yang mempunyai luas sekitar 50 hektar ini mempunyai daya tarik tersendiri sebagai tempat wisata Jakarta yang pantas untuk dikunjungi, pulau Tidung menawarkan wisata bernuansa pantai dan laut dengan suasana yang unik, dimana akomodasi menginap disediakan homestay yang berbaur dengan rumah penduduk dan dikelola oleh penduduk setempat



Icon dari pulau Tidung adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara tidung kecil dan tidung besar, entah dari mana asalnya jembatan ini banyak dimuat dan diulas di blog wisata dengan nama “jembatan Cinta” ?

Pulau yang termasuk didalam kelurahan Pulau Tidung


  1. pulau Karang Beras
  2. Pulau Karang Beras Kecil
  3. pulau Laki; pulau ini dahulu berupa resort yang terkenal dan saat ini sudah tidak beroperasi lagi.
  4. Pulau Payung Besar
  5. pulau Payung Kecil
  6. Pulau Tidung Besar
  7. pulau Tidung Kecil;  merupakan pulau private yang dihubungkan dengan jembatan kayu sepanjang 630 meter ke Tidung Besar

Read More »

Pulau Pari di Kepulauan Seribu merupakan sebuah kantor administrasi setingkat keluarahan, pulau Pari ini mempunyai kode pos 14520, Batas administrasi kelurahan pulau Pari antara pulau Karang beras dan pulau Gundul, secara resminya mempunyai 10 (sepuluh) pulau. Pusat administrasi desa pulau Pari terletak di pulau Pari yang terletak di terumbu karang yang luas termasuk pulau Biawak, Tikus, pulau Burung dan bebeapa pulau lainnya.

Pulau yang termasuk dalam Kelurahan pulau Pari

  1. pulau Biawak
  2. pulau Burung
  3. pulau Gundul
  4. Karang Jong
  5. Karang Kudus / Karang Gudus
  6. pulau Kongsi
  7. pulau Kudus Lempeng / Gudus Lempeng
  8. pulau Lancang Besar
  9. pulau Lancang Kecil
  10. pulau Pari
  11. pulau Tengah
  12. pulau Tikus

Read More »

Kelurahan pulau Kelapa ini termasuk dalam kecamatan Kepulauan Seribu utara, pulau yang berpenduduk dan bermata pencaharian sebagai nelayan.

Pulau yang termasuk didalam kelurahan pulau Kelapa

  1. Pulau Bundar
  2. Pulau Cina
  3. Pulau Dua Barat
  4. Pulau Genteng besar
  5. Pulau genteng kecil
  6. pulau Antuk Barat
  7. Pulau Antuk Timur
  8. pulau Jukung
  9. pulau Kaliage Besar
  10. pulau Kaliage Kecil
  11. pulau Kapas
  12. pulau Karang Bongkok
  13. pulau Kayu Angin Bira
  14. pulau Kayu Angin Penjalir
  15. pulau Angin
  16. pulau kayu Angin Melintang
  17. Pulau Kayu Angin putri
  18. pulau Kayu Angin Selatan
  19. pulau Kelapa
  20. Pulau Kelor Barat
  21. pulau Kelor Timur
  22. pulau Kuburan Cina
  23. pulau Lipan
  24. pulau Macan atau pulau Matahari
  25. pulau Macan kecil
  26. pulau Melinjo
  27. pulau Melintang Besar
  28. pulau melintang kecil atau disebut pulau Bintang
  29. pulau Nyamplung
  30. pulau Opak besar
  31. pulau Opak kecil
  32. pulau Pabelokan
  33. pulau Panjang Bawah
  34. pulau Panjang Besar
  35. pulau Panjang Kampung
  36. pulau Panjang Kecil
  37. pulau Perak
  38. pulau Penjaliran Barat
  39. pulau Peteloran Barat
  40. pulau Putri Barat; pulau yang dikembangkan menjadi sebuah resort yang dikelola oleh PT. Buana Bintang Samudra, total sekitar 70 unit cottage dengan berbagai fasilitas wisata
  41. pulau Gundul
  42. pulau Putri Timur
  43. pulau Rakit Tiang
  44. pulau Saktu
  45. pulau Tongkeng
  46. pulau Yu Barat / pulau Yu Besar
  47. pulau Yu Timur / pulau Yu kecil

Read More »

Kelurahan pulau Harapan Pulau Seribu ini mempunyai kode pos 14540 dan merupakan bagian dari kecamatan kepulauan Seribu Utara.  Kelurahan pulau Harapan ini mempunyai 30 pulau yang berada dibawah administrativ kelurahan  Pulau Harapan.

Situasi di pulau Harapan ini tergolong masih sepi jika dibandingkan dengan pulau non resort lainnya seperti pulau Pramuka, pulau Tidung dan kapal-kapal penumpang dari dermaga tidak seramai dipulau lain.  Dipulau ini juga terdapat penginapan (home stay), Pulau ini mempunyai pemandangan bawah laut yang indah dengan ikan kecil yang berwarna – warni.

Pulau yang termasuk di dalam kelurahan Pulau Harapan

  1. pulau Belanda
  2. pulau Bulat
  3. pulau Bira Besar
  4. pulau Bira Kecil
  5. pulau Dua Timur
  6. pulau Gosong Laga
  7. pulau Gosong Laga Kecil
  8. pulau Harapan
  9. pulau Jagung
  10. pulau Kayuangin Utara
  11. pulau Pamegaran
  12. pulau Penjaliran Timur
  13. pulau Peteloran Timur
  14. pulau Rengit
  15. pulau Sabira
  16. pulau Sebaru Besar
  17. pulau Sebaru Kecil
  18. pulau Semut Besar
  19. pulau Semut Kecil
  20. pulau Semut Sekampung
  21. pulau Sepa Barat atau pulau Sepa Besar merupakan sebuah resort yang dikelola oleh PT Sepa Paradise
  22. pulau Sepa Timur
  23. pulau Tondan Barat atau disebut pulau Pelangi
  24. pulau Tondan Kecil atau disebut Tondan Timur atau pulau Papatheo.

Read More »

Jumlah penduduk Pulau Pramuka mencapai 1.004 jiwa. Pulau ini terletak di wilayah kelurahan Pulau Panggang Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Luas pulau Pramuka mencapai 16 hektar. Untuk menuju Pulau Pramuka, angkutan laut dapat ditempuh melalui dermaga Muara Angke.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2001 tentang Pembentukan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Sebagai pusat pemerintahan Kabupaten, perlahan namun pasti Pulau Pramuka mulai menyediakan sarana dan prasarana dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Kepulauan Seribu.

Seperti Kantor Kabupaten, Rumah Dinas Bupati dan pejabat Kabupaten, RSUD Kepulauan Seribu yang mampu menyediakan pelayanan rawat inap dan penanggulangan hiperbarik, Masjid Agung Pulau Pramuka, Docking kapal nelayan, Tempat Pelelangan Ikan atau PPI, penyediaan instalasi pengolah air bersih sistem RO, fasilitas olahraga dan lain sebagainya.

Selain sebagai pusat pemerintahan dan pemukiman, pulau dengan luas 9 hektar ini juga kerap menjadi tujuan wisata bagi masyarakat umum. Sehingga di sini terdapat bermacam homestay dengan biaya sewa bervariatif dan terjangkau, tergantung dari fasilitas yang diberikan.

Berbagai lokasi wisata dapat ditemui di Pulau Pramuka ini seperti Wisata Survival Pulau dan Penyu, dimana dalam jumlah 4-6 Orang dalam waktu 2-4 Malam, dapat melakukan kehidupan tradisional di pulau sangat kecil, sekaligus melihat dan mempelajari Penyu Sisik bertelur. Jalan Lingkar luar yang telah disediakan bagi penikmat sepeda santai dapat dilakukan mengitari Pulau Pramuka dalam waktu 15 menit sambil menikmati udara laut.

Pemukiman yang sudah tertata menjadi sangat atraktif bagi wisatawan untuk mengenal lebih jauh penduduk Pulau Seribu yang memang berasal dari berbagai etnik. Sedangkan bagi penikmat memancing, Pulau Pramuka menyediakan fasilitas melalui nelayan pancing dan menjadi transit yang efisien bila ingin memancing di beberapa Pulau, karena memang Pulau Pramuka sangat dekat ke berbagai Pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu.

Sejalan dengan itu Pemerintah Kabupaten Adrninistrasi Kepulauan Seribu hingga kini terus berupaya meningkatkan dan menyediakan fasilitas wisata sebagai langkah meningkatkan potensi wilayah yang ada di Pulau Pramuka. [berbagai sumber]

Sumber Berita: http://beritapulauseribu.com/berita-pulau-pramuka-pusat-pemerintah-yang-jadi-tujuan-wisata.html#ixzz2fisj5cyv

Read More »

Masyarakat pulau Panggang sebagian besar adalah nelayan, struktur ekonomi masyarakat adalah Nelayan Tangkap. Berbeda dengan nelayan di Pulau Tidung misalnya, nelayan di Pulau Panggang bukanlah nelayan babang melainkan nelayan harian. Andaikanpun babang, paling lama satu minggu di laut, dan tidak sampai berbulan-bulan.

Ada macam-macam nelayan di Pulau Panggang, dan diantaranya adalah: nelayan ikan hias, nelayan jaring kongsi, nelayan jaring payang, nelayan jaring tegur (ada tegur tengah dan tegur darat), nelayan bubu, nelayan pancing, nelayan ngotrek, dan keramba kerapu.

Pekerjaan dapat dipetakan berdasarkan wilayah (i) Barat lebih banyak nelayan ikan hiasnya, (ii) Timur lebih banyak pegawai, nelayan jaring, dan nelayan pancing.
Orang di wilayah barat sekolahnya lebih rendah dibanding orang di timur. Orang-orang di wilayah Barat semenjak sekolah telah mencari ikan dan banyak yang tidak menamatkan sekolah. Orang di wilayah timur lebih peduli pada pendidikan, sehingga banyak yang menjadi pegawai. Karena di Barat jarang yang menjadi pegawai, maka mempersulit di kemudian hari bagi orang Barat untuk melamar pegawai karena tidak ada orang dalami.

Jaring yang pertama kali dipraktekkan adalah jaring kongsi. Disebut kongsi karena harus dilakukan bersama-sama (hingga 18 orang). Dulunya disebut jaring jepang atau muroami karena yang memperkenalkan adalah orang jepang cuma bukan pada jaman jepang melainkan jaman belandaii. Perkembangan teknologi menyebabkan pemangkasan jumlah orang yang terlibat dalam jaring kongsi, karena pada masa awalnya dulu orang yang dibutuhkan hingga 50- an.

Versi lain menyebutkan yang pertama kali dikenalkan adalah jaring tenara (berasal dari Banten). perbedaan jaring kongsi dengan jaring tenara adalah pada jaring tenara ikan diambil dengan membawa ’giringan’ yang berupa bunyi-buniyan seperti besi yang diadu/ditumbuk satu dengan lainnya atau seperti kerincingan dari atas permukaan laut, sedangkan pada jaring kongsi ikan digiring dari bawah laut, dengan risiko yang lebih besar, karena memanfaatkan tenaga manusia yang menyelam degan kompresor.

Nelayan jaring payang (aktivitasnya disebut manyang) ditekuni mulai pada masa 60-an. Orang yang mengajarkan manyang pertama kali adalah orang Bugis. Manyang disebut sebagai cara yang paling ramah lingkungan karena tidak menginjak-injak karang. Ada belasan juragan payang dan pada saat manyang anak buah mencapai 4-5 orang. Pada tahun 80-an, hasil manyang lebih besar dari ikan hias. Tapi untuk saat ini sudah lima bulan Pak Imka tidak manyang karena tidak ada ikan.

Nelayan ikan hias ada sejak tahun 1970. Menangkap ikan hias adalah pekerjaan yang diturunkani. Pak Hakim menjadi nelayan ikan hias karena orang tuanya juga, dan kini anaknya pun juga. Tidak tahu tahun persisnya, tetapi jaring tegur telah ada sejak lama meskipun kalah dulu dibanding jaring jepang. Jaring tegur ada dua jenis tegur darat untuk perairan dangkal dan tegur tengah untuk perairan dalam. Bekerja jaring tegur butuh berhari-hari di laut (berangkat minggu pulang kamis), jumat dan sabtu tetap bekerja di darat membetulkan jaring. Anak buah jaring tegur jumlahnya sama seperti jaring kongsi, sekitar 18 orang. Ini sebabnya jumlah nelayan tegur lebih banyak dibanding nelayan payang.

Untuk saat ini, tidak ada nelayan Pulau Panggang yang menjadi nelayan bagan padahal dulu paling banyak. Modal yang besar menjadi nelayan bagan adalah satu penyebab hilangnya profesi nelayan bagan. Seorang nelayan ikan hiasiiitidak mempercayai slogan konservasi laut bahwa jika laut tidak dirawat maka ikan akan habis. Argumen yang ia sampaikan sederhana saja: ikan masih ada sampai sekarang.

Masyarakat Pulau Panggang dinilai tidak kompak untuk urusan menjaga lautnya. Nelayan Pulau Panggang dilarang mencari ikan di wilayah lain (dapat diperbolehkan jika mengurus izin). Di Pulau Tonda misalnya, jika ada orang luar masuk maka hingga lima kapal orang lokal akan mengejarnya kecuali jika sudah ada izin. Nelayan Panggang tidak melakukan hal yang sama terhadap orang luar yang memasuki perairannya, bahkan ketika orang luar itu merugikan secara langsung nelayan lokal. Misalnya nelayan jaring payang yang dirugikan oleh kapal kursein yang beroperasi di dekat rumpon mereka sehingga ikan-ikan di rumpon tertarik ke jaring kursein. Tidak ada hal apapun yang mereka lakukan untuk mengusir kapal-kapal kursein tersebut. Misal kedua adalah pencurian balong di keramba. Meskipun sudah beberapa kali terjadi, para pemilik keramba yang notabene berada pada satu hamparan yang sama tidak bekerjasama menjaga keramba. Yang dilakukan adalah menjaga keramba masing-masing.

Dalam praktek sehari-hari nelayan telah mengelompok dengan hubungan bos/juragan-anak buah. Nelayan ikan hias, kongsi, payang, tegur, kesemuanya ada bos/juragan dan anak buah. Anak buah tidak terikat pada bos kecuali si anak buah memiliki hutang. Jika si anak buah tidak memiliki hutang, maka anak buah bisa bebas ikut/jual ke bos manapun yang paling menguntungkan untuknya. Pada kasus Pak Hakim, anak buahnya berpindah ke bos lain karena THR yang ia berikan dirasa kurang.

Pengelompokan alamiah ini tidak digunakan pada saat ada program bantuan dari pemerintah. Masyarakat diminta membentuk kelompok baru dan sesama juragan berkumpul menjadi satu kelompok. Pada saat bantuan jaring payang diberikan, dan itu tidak mungkin dipotong-potong untuk dibagi-bagi pada semua juragan di kelompok tersebut, akhirnya jaring itu teronggok percuma. Kesepakatan kelompok menyatakan bahwa jaring tersebut dijual saja untuk kemudian uangnya dibagi rata, tetapi hingga kini belum terjual. Andaikan pun terjual, hasilnya menjadi tidak lagi berkesinambungan dan memberi nilai tambah.

Hubungan pinjam meminjam uang melahirkan istilah pengentotan, ialah orang yang hutangnya menumpuk dan tidak dibayar-bayar. Orang pulau memiliki tiga opsi untuk meminjam uang (i) kepada juragan, (ii) kepada tetangga, dan (iii) kepada koperasi. Juragan dan tetangga tidak memintakan bunga, tetapi koperasi mengenakan bunga sebagai jasa. Untuk meminjam kepada koperasi butuh menunggu satu tahun, sedangkan dengan juragan dan tetangga bisa setiap saat. Prosedur apapun tidak dibutuhkan pada saat meminjam ke juragan dan tetangga, beda halnya dengan koperasi.

Meskipun tanpa prosedur, tingkat pengentotan tergolong rendah jika tidak bisa dikatakan tidak ada. Ada satu kasus seorang anak buah jaring kongsi yang berpindah juragan padahal ia masih punya hutang dengan juragan yang lama, tindakan yang dilakukan oleh juragan kreditor ini hanyalah mendatangi rumah si mantan anak buah untuk kemudian diajak bicara baik-baik. Dengan cara itupun terselesaikan urusan hutang piutang ini.

Perikanan Budidaya

Menurut beberapa nelayan keadaan sumberdaya ikan yang semakin menyusut secara otomatis membuat mereka berpikir mengenai profesi lain di luar nelayan tangkap. Introduksi budidaya seperti rumput laut telah dikenalkan oleh pemerintah sebagai program alternatif untuk keberlangsungan hidup (sustainable livelihood), namun kendala program ini adalah daya dukung lingkungan (carrying capacity) sekitar pulau.
Menurut Syakur masyarakat pulau lebih banyak meniru dan latah. Sehingga jika program diperkenalkan maka tidak banyak yang mengikuti sampai program itu terbukti sukses. Permasalahan ini kemudian menjadi mengemuka ketika mereka mulai meniru program yang sukses. Dalam proses peniruan seringkali pengelola program yang juga masyarakat pulau Panggang, tidak memperhatikan aspek sosial. aspek sosial yang dimaksud oleh Syakur adalah penyebaran informasi dan penyuluhan terhadap nelayan budidaya di luar kerangka proyek. Asumsi mereka adalah sebagai orang pulau seharusnya para pengelola proyek memperhatika masyakatnya sendiri, apalagi semua pendamping untuk program pemerintah adalah ‘orang pulau’.

Perkembangan masyarakat dari nelayan tangkap ke nelayan budidaya dapat memenuhi asumsi akal sehat masyarakat karena secara ekologis pulau Panggang telah rusak karena banyak faktor, antara lain praktek penangkapan yang tidak ramah lingkungan (sianida, bom), penangkapan yang melebihi ambang batas (over fishing), ledakan penduduk yang mempengaruhi ketersediaan ruang hunian, dan aturan main yang mengurangi akses masyarakat terhadap sumberdaya.

Namun secara kasat mata program budidaya yang berjalan pernah sukses sperti rumput laut, namun berangsur hancur karena daya dunkung lingkungan yang telah rusak dan penyuluhan yag tidak lagi intensif setelah proyek selesai. Program budidaya yang sekarang berlangsung dan ditiru oleh masyarakat adalah budidaya krapu. Budidaya krapu ini berlangsung tanpa penyuluhan dari penyuluh yang ada, karena nelayan-nelayan ini ‘di luar kelompok penerima manfaat’, atau d luar bentukan proyek.

Sumber : Tulisan Bpk. Sudiman,S.Pi, M.Si (Ringkas sejarah kultur budaya pulau panggang)


Sumber / Link : Pulau Seribu Jakarta

Read More »

Rebana merupakan seni tradisi yang bernafaskan Islam. Dengan didukung oleh alat berbentuk kendang kecil berjumlah tiga buah, rebana merupakan kesenian Islami yang sangat menarik untuk dilihat. Menurut Mustafa, salah satu penyebar rebana di Pulau Panggang, seni rebana di Pulau Panggang kini hanya tinggal kenangan. Ketika ditemui di rumahnya, ia bertutur banyak hal, mulai dari sejarah hingga ke cara memainkan alat rebana.

Sejarah rebana di Pulau Panggang mulai ada pada sekitar tahun 1960-an. Pada pertengahan tahun 1950-an, terdapat satu keluarga yang datang dari Jakarta, lalu menyebarkan seni rebana tersebut. Penyebar dan pembina Rebana, yang kemudian dikenal dengan nama Mustafa itulah yang dianggap sebagai sosok yang pertama kali mengajarkan seni rebana bagi sebagian masyarakat Pulau Panggang.
“ Waktu itu, saya dan orangtua memang suka memainkan rebana. Lalu pak kepala desa pada saat itu meminta saya untuk mengajarkan rebana kepada remaja-remaja di sini. Karena saya sendiri masih bujang, jadi saya mau. Dan masyarakat juga sangat mendukung kegiatan ini. Saya saja suka dibantu beras, jadi tidak dibayar. Saya sendiri sih ikhlas karena waktu itu kan saya memang hobi mengajarkan rebana ini.”

Untuk mendapatkan suatu sajian musik rebana yang menarik, maka rebana harus dimainkan oleh 3 orang yang harus menguasai masing-masing alat (kendang) dengan cukup baik. Tiga buah rebana tidak memiliki satu komposisi musikal yang sama sehingga cara memukul dan menggaungkan iramanya sendiri berbeda-beda. Ketiga buah rebana tersebut diberinama kendang empat, kendang lima, dan kendang enam. Istilah tersebut juga untuk membedakan jenis pukulan dan irama musikal yang harus dikuasai oleh pemainnya.

Di samping itu, jenis pukulan yang harus dikuasai oleh pemain rebana terdiri dari sedikitnya 12 pukulan, yaitu: sorong, syiir, gambus, ketoprak, selamba, selamba empat, selamba melayu, selamba sambung, sambung, sorong sambung, sambung ragap, dan asyrakal. Ketika masing-masing jenis pukulan diterapkan pada masing-masing kendang, maka ia akan memunculkan irama musikal yang berbeda-beda karena masing-masing kendang memiliki suatu aturan musikal tersendiri. Masing-masing jenis pukulan masih memiliki variasi yang bermacam-macam sehingga untuk menguasai permainan rebana membutuhkan waktu yang relatif lama.

Tanda lagu atau not yang dimiliki oleh rebana sangat berbeda dengan model tanda lagu yang dimiliki oleh jenis musik modern. Not balok yang ada tidak terdiri dari susunan angka, melainkan hanya berbentuk silang dan bulat ditambah dengan tanda garis bawah untuk menandai apakah pukulan yang dimainkan harus cepat atau tidak. Berikut contoh tanda lagu yang ada pada rebana.
Kendang Empat
Ο Ο X X X O
X O X O
X.O O O
X O X O
X.X X O
Kendang Lima
O O X X X X O
X O X O
X.O O O
X O X O
X O O O
Kendang Enam
O O.X X X X O
X X O X O
X O O O
X X X X O


Tanda bulat (O) menunjukkan suatu jenis pukulan yang harus memunculkan suara gaung (dung), sedangkan tanda silang (X) menunjukkan adanya suara tepak mati (pak). Menurut Mustafa, untuk menguasai satu jenis pukulan saja membutuhkan waktu sekitar satu bulan, sehingga untuk menguasai beragam pukulan dipastikan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Satu hal yang dinilai cukup sulit adalah bahwa memelajari jenis pukulan rebana paling tidak harus ditemani oleh dua orang yang telah menguasai jenis pukulan untuk mengiringi pukulan bagi yang sedang belajar.

Hingga tahun 1970-an, terdapat beberapa orang yang menguasai rebana dengan cukup baik. Mustafa sendiri cukup rajin untuk melatih anak-anak muda semasanya untuk belajar rebana secara terus-menerus. Pada waktu itu pula rebana sering dimainkan pada acara-cara ritual di masyarakat, seperti acara maulud[1] di hajatan masyarakat.

“ Waktu masih rame-ramenya dulu, di setiap acara maulud kita diundang dan diminta untuk memainkan rebana hingga larut malam. Jika di acara maulud, kita bisa memainkan seluruh jenis pukulan. Kecuali pada waktu ngarak pengantin atau menyambut tamu dari pemerintah, paling cuma memainkan tiga pukulan, yaitu syiir ragap, selamba ragap, dan sambung ragap. Dulu, setiap kita bermain rebana yang hadir dan menonton pasti banyak karena rebana ini sangat indah sekali didengar. Lagu-lagu yang dibawakan juga diambilkan dari kitab barzanji yang sudah akrab di sini.”

Tetapi pada akhir 1980-an, rebana mulai ditinggalkan. Hanya sesekali ia dipakai pada hajatan tertentu, khususnya pada waktu ngarak pengantin. Dan kini, rebana sudah benar-benar menjadi kenangan dan telah tergantikan oleh jenis kesenian baru yang lebih diterima oleh generasi masa kini. Mustafa sendiri menjelaskan bahwa “hilangnya” rebana di masa kini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya : pertama, tidak terdapatnya lagi minat generasi muda untuk memelajari rebana yang dinilai cukup sulit dan membutuhkan waktu serta kesabaran yang cukup. Generasi muda masa kini lebih memilih jenis kesenian modern yang sepertinya memberikan image tentang musik yang memberikan makna lebih prestisius.

Kedua,Mustafa sendiri sebagai guru di bidang ini mulai sibuk dengan pekerjaan sehari-hari sebagai nelayan yang harus kelaut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ia mengaku bahwa dirinya tidak lagi memiliki waktu yang cukup luang untuk mengajarkan permainan rebana kepada masyarakat sekitar.

Ketiga, tidak terdapat suatu dukungan dari berbagai pihak untuk “melestarikan” jenis kesenian tradisi Islam yang satu ini. Mustafa masih ingat ketika ia begitu gencar-gencarnya dalam memainkan dan mengajarkan rebana kepada generasi muda di sini. Selain lurah, hampir seluruh penduduk bersedia memberikan bantuan berupa beras atau yang lain sebagai tanda terima kasih sekaligus dukungan pemenuhan ekonominya. Tetapi, hal tersebut tidak ada lagi di masa kini. Dengan tidak adanya dukungan dari masyarakat, maka sangat sulit bagi Mustafa untuk meluangkan waktu mengajarkan rebana, karena pada saat yang sama ia sebagai kepala keluarga dituntut pergi kelaut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Pemerintah daerah sendiri juga tidak memberikan perhatian yang serius bagi keberlangsungan seni tradisi yang satu ini sehingga maklum jika kemudian keberlangsungannya hanya tinggal imajinasi yang melekat pada segelintir orang seperti Mustafa. Dalam ungkapan lain, demi hidup, tradisi harus mati.

b. Q a s i d a h
Seni tradisi yang satu ini juga bisa disebut sebagai seni tradisi islam. Hampir mirip dengan rebana, seni tradisi yang satu ini menggunakan kendang dan juga membawakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Meskipun kini juga kerap terlihat lagu-lagu yang berbahasa Indonesia, tetapi ia tetap kental dengan nuansa Islamnya.

Di Pulau Panggang sendiri, asal mula perkembangan qasidah dimulai pada akhir tahun 1960-an. Selain Mustafa yang ikut serta mengembangkan qasidah, terdapat pelatih lain yang juga giat mengembangkan seni tradisi yang satu ini, yaitu orang yang bernama Yusuf. Bersama dengan Mustafa, Yusuf yang sebelumnya telah belajar qasidah dari darat (Jakarta) membagi kemampuannya dalam memukul kendang kepada generasi perempuan dan laki-laki Pulau Panggang. Maman, ketua grup qasidah Nurhasanah Pulau Panggang mengatakan bahwa ia sendiri belajar qasidah dari Yusuf. Ia mengenang bahwa pada waktu itu, terdapat dua kelompok generasi qasidah yang masing-masing terdiri dari grup laki-laki bernama al-Amin dan grup perempuan bernama an-Ni’mah.

Dari segi alat yang dipergunakan, qasidah lebih bervariasi dibanding rebana. Peralatan qasidah terdiri dari kendang kecil dan kendang besar hingga berjumlah belasan. Hal tersebut terhantung pada jumlah personil yang tergabung pada grup qasidah itu sendiri. Artinya, peralatan qasidah tidak seketat rebana yang hanya terdiri dari tiga kendang kecil dengan jenis pukulan yang khusus pula. Cara memainkan kendang qasidah dinilai lebih mudah dibanding rebana.

Pada masa “kejayaan” qasidah, seni tradisi ini juga kerap ditanggap oleh masyarakat pada acara-acara hajatan masyarakat atau ketika menyambut tamu penting. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan rangkaian perubahan yang terjadi di Pulau Panggang, grup qasidah An-ni’mah dan al-Amin mulai pudar. Baru pada awal tahun 2000-an, qasidah mulai dimunculkan kembali. Salah satu grup yang paling tua saat ini, yaitu Grup qasidah Nurhasanah merupakan salah satu grup yang paling eksis, meskipun personilnya bukanlah sosok-sosok yang muda lagi karena sebagian di antaranya merupakan orang perorang yang dulu pernah bermain di grup An-ni’mah. Meskipun terdapat beberapa grup qasidah lain yang lebih muda, tampaknya belum sepopular grup qasidah Nurhasanah pimpinan Maman ini.

“Sebenarnya saya sendiri suka diminta oleh ibu-ibu di bagian barat untuk melatih mereka. Tapi ibu-ibu dari Nurhasanah binaan saya terkadang kurang menyetujui, takutnya saya tidak lagi fokus ke mereka. Saya juga sempat diminta oleh kepala Sekolah SMP di Pulau Pramuka untuk melatih anak-anak, tetapi ia bilang bahwa tidak ada anggaran untuk itu. Terus-terang saya keberatan karena bukankah guru-guru yang lain aja dibayar, masak saya tidak? Bukankah dalam hal ini kita juga sama-sama guru? Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu berharap ada bayaran yang banyak, cukup untuk transportasi dan uang rokok, tapi karena tidak ada kepastian ya saya sendiri jadi keberatan,” ujar Maman.

Saat ini, qasidah menjadi seni tradisi yang lebih eksis dibanding seni tradisi yang pernah ada di pulau ini. Pada waktu perlombaan qasidah di tingkat kabupaten misalnya, terdapat belasan grup yang berkompetisi untuk memperebutkan gelar juara. Pada berbagai acara hajatan di masyarakat pun masih kerap ditanggap, misalnya untuk mengiringi arak-arakan pengantin keliling pulau. Lagu-lagu yang dibawakan tidak melulu syair-syair arab sebagaimana rebana, tetapi banyak juga lagu-lagu kontemporer seperti pengantin baru, perdamaian, jilbab putih yang sempat dipopularkan oleh grup Nasida Ria asal Semarang Jawa Tengah. Sayangnya, pembinaan terhadap seni tradisi Islam yang satu ini masih mengalami banyak kelemahan. Di antaranya, sulit untuk melakukan latihan rutin secara konsisten. Personil qasidah yang terdiri dari perempuan dinilai menjadi faktor ketidakkonsistenan tersebut. Para personilnya kerap disibukkan oleh pekerjaan rumah tangga, pengajian, arisan, dan sebagainya sehingga turut menjadi kendala untuk menggelar latihan secara rutin.

Di samping itu, pengembangan peralatan juga masih sangat minimal. Maman mengatakan bahwa selama ini untuk memperoleh peralatan seperti kendang saja harus menyisihkan dari uang bayaran yang mereka peroleh dari tanggapan di acara hajatan masyarakat. Grup qasidah Nurhasanah sendiri misalnya, sudah pernah mengajukan permohonan ke pemerintah daerah untuk bantuan peralatan, tetapi tidak pernah direspon. Maka wajar pula jika grup sendirilah yang harus pandai-pandai menyiasati bagaimana mengupayakan adanya peralatan sendiri, mulai dari kendang hingga pakaian.

Berbeda dengan rebana yang kesulitan untuk melakukan regenerasi, qasidah relatif lebih hidup dan masih memunculkan minat dari generasi masa kini. Keberadaan beberapa grup qasidah yang menyebar dari pulau ke pulau merupakan wujud dari tetap kuatnya minat itu. Kini, qasidah yang hidup menghampar di tengah-tengah tantangan modernitas itu tengah berupaya untuk menciptakan formulasi bertahan hidup. Harapan agar ia diperhatikan oleh pihak penguasa merupakan bagian dari upaya untuk mempertahankan hidup itu. Gempuran musik modern seperti pop, dangdut, dan perubahan sosial yang ditandai oleh keberadaan media informasi dan media hiburan yang lain akan memunculkan pertanyaan; apakah qasidah akan bernasib seperti rebana ataukah ia akan tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang sangat tergantung pada keinginan berbagai pihak untuk menjadikan qasidah sebagai ruang artikulasi masyarakat atau sebaliknya, ia hanyalah kesenian dimana tanggungjawabnya diserahkan kepada para pemainnya yang lambat-laun pasti lenyap ditelan usia.

c. L e n o n g

Menyebut jenis seni tradisi yang satu ini maka ia menjadi sangat akrab dengan Betawi. Tampaknya pula lenong yang pernah hidup di Pulau Panggang dan juga pulau yang lain tidak lepas dari wilayah darat. Baharuddin, atau yang lebih dikenal di Pulau Pramuka sebagai Wak Ndut mengatakan bahwa lenong yang pernah ada di pulau tahun 1960-an hingga 1990-an memang diawali oleh pembelajaran yang berasal dari darat (Jakarta), tetapi ketika sudah berada di pulau ia mengalami improvisasi dari para pemainnya.

Dari segi penampilannya, lenong merupakan jenis seni tradisi panggung yang dimainkan (diperankan) oleh beberapa orang menurut cerita-cerita tertentu. Ia seperti drama panggung atau juga tampak seperti teater yang mengisahkan tentang peristiwa keseharian atau juga dongeng-dongeng tentang tokoh-tokoh tertentu. Salah satu lenong di Pulau Panggang yang sempat popular adalah grup lenong Cinta Damai. Grup ini terdiri dari dua puluh lima personil dengan beberapa di antaranya sebagai pemain alat musik gong, gambang, kromong, gihan, genjring, dan ada juga yang berperan sebagai pelantun lagu-lagu.

Dari sekian alat musik tersebut, gambang, kromong, dan gihan dianggap paling sulit. Bahkan untuk belajar ketiganya, beberapa pemain ahli dari Jakarta sempat dihadirkan secara khusus untuk melatih permainan alat musik tersebut. Sedangkan lagu-lagu dan juga pantun yang dilantunkan sangat identik dengan lagu-lagu atau pantun bercorak Betawi.

Wak Dakir, salah seorang mantan pemain lenong yang selalu memainkan peran sebagai perempuan mengatakan bahwa lenong Pulau Panggang tinggallah kenangan. Ia masih mengenang masa-masa indah ketika lenong Pulau Panggang pernah diundang di berbagai acara hingga ke Tangerang dan beberapa pulau yang lain dengan menampilkan cerita-cerita yang membuat penonton merasa larut dalam cerita yang diperankan.

“ Cerita yang biasa diperankan biasanya tentang Ibu tiri, ada juga tentang tokoh-tokoh jagoan, tapi ada juga yang tergantung pada permintaan tuan rumah. Sebelum tampil, kita harus latihan terlebih dahulu. Pada waktu latihan itu, kita semua harus serius seolah-olah cerita itu benar-benar kita yang melakukan. Kalau ceritanya tentang jagoan, kita biasa pukul-memukul dengan sebenarnya sehingga setelah latihan badan jadi sakit semua. Dan ketika sudah tampil, seolah-olah kita semua ini seperi beneran. Bahkan, di antara kita yang suka berperan jadi penjahat, kerap dibenci oleh masyarakat. Padahal itu semua hanya peran di atas panggung. Itulah lenong. Ia bisa membawa emosi masyarakat yang menonton. Sama juga kalau ceritanya tentang ibu tiri, tidak sedikit penonton yang menangis dan membenci pemeran ibu tirinya,” ujar Dakir.

Memasuki tahun 1990-an, lenong mulai ditinggalkan. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa lenong menguap. Di antaranya, pertama, para pemain lenong yang sudah menginjak usia tua memilih untuk beristirahat dan fokus pada penguatan ekonomi rumah tangga. Celakanya, parkirnya para generasi tua pemain lenong tidak melahirkan generasi penerus lenong yang mumpuni. Kedua, masuknya jenis seni modern yang menghinggapi generasi muda dianggap lebih memiliki daya tarik dibanding lenong. Menurut Wak Ndut, anak muda masa kini sepertinya malu dan gengsi untuk belajar lenong karena seni tradisi yang satu ini dianggap sebagai seni kampungan yang tidak bergengsi.

Di samping dua faktor tersebut, terdapat hal lain yang menarik untuk dicermati. Lenong Pulau Panggang sebagai seni tradisi yang hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat muslim tradisional ternyata tidak hidup dengan tenang. Tahun 1990-an ditengarai sebagai masa dimana mulai banyak orang-orang yang semula belajar ilmu agama di darat mulai pulang dengan membawa pengetahuan baru ke pulau. Pengetahuan baru yang meletakkan Islam beroposisi terhadap seni tradisi telah melahirkan suara-suara yang tidak sepihak dengan seni tradisi yang ada. Nawawi, salah satu mantan pemain lenong sendiri kerap mendapat teguran ketika dirinya yang sudah tidak muda lagi tetapi masih getol meminati lenong. Ia dianggap tidak patut lagi bermain lenong karena usia yang beranjak senja seharusnya menuntunnya untuk lebih mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa ketimbang menggandrungi lenong.

Nawawi yang sepertinya tidak ingin berdebat dan mencari masalah dengan beberapa tokoh agama itu akhirnya lebih memilih untuk mundur dari kancah lenong, meskipun didalam dasar hatinya tetap terpaut dengan lenong.

“Gimana ya, saya ini seniman. Saya juga orang yang beragama. Saya cukup tau lah mana yang bilah dan mana yang tidak. Lagian lenong ini kan bukan kesenian yang mengumbar aurat, tidak seperti dangdut atau orkes. Lalu, apanya yang harus dilarang dari lenong ini? Sampai sekarang, kalau saya mendengar lagu-lagu lenong, saya terasa melayang dan semua persoalan hidup saya ini seolah-olah selesai. Itulah jiwa seni saya. Tapi karena saya juga tidak mau ribut dengan orang lain, ya sudahlah, saya mundur saja. Kalaupun nanti saya harus terjun lagi ke dunia lenong, saya lebih memilih untuk menjadi sutradara saja,” ujarnya.

Hal lain yang tidak kalah menarik, menurut pengalaman pribadinya Nawawi, penyebab generasi tua mangkir dari kancah lenong seperti dirinya diperantarai oleh keengganan diri untuk berkonfilk dengan istri dalam kehidupan rumah tangga. Ia mengaku bahwa ketika dirinya memerankan tokoh tertentu di pertunjukan lenong dan harus berlawanan dengan seorang perempuan yang berperan menjadi istrinya, maka setiap perilaku dan gerakan yang memperlihatkan keakraban sebagai suami istri, meskipun hanya sebatas peran di atas panggung- bisa menyeret dan atau menimbulkan persoalan dalam keseharian rumah tangganya.

Adanya berbagai faktor yang memengaruhi lenyapnya seni tradisi pertunjukan lenong itulah yang bisa dilihat dan sekaligus menjadi penjelas mengapa lenong tidak lagi menjadi suatu ruang ekspresi berkesenian masyarakat. Kini, lenong mengalami nasib seperti rebana. Ia mewujud dalam kenangan generasi tua tentang masa lalu. Bahkan, peralatannya pun tinggal benda-benda mati yang tidak tersentuh, hanya sesekali keluar sarang untuk sekedar mengingat-ingat kejayaan masa lalu yang telah pudar.

d. M a r a w i s

Seni tradisi islam yang satu ini merupakan fenomena kesenian yang relatif baru di Pulau Panggang. Meskipun sebelumnya pernah ada kesenian seperti Marawis di Pulau Panggang , tetapi ketika dicermati ternyata kesenian yang sudah ada itu lebih identik dengan hadrah, yaitu suatu seni tradisi mirip rebana tetapi dibawakan dengan memainkan kendang serta diiringi pula oleh tarian. Hadrah sendiri tidak memiliki sejarah yang memadai di Pulau ini karena tidak dikembangkan dengan baik.

Heri, seorang pengajar marawis di pulau ini mengatakan bahwa ketika dirinya tiba di pulau ini lima tahun yang lalu dari darat, ia diminta oleh beberapa orang di Pulau Panggang untuk mengajarkan marawis pada anak-anak yang seusia SD atau SMP. Karena pada dasarnya ia sangat menyukai jenis kesenian yang satu ini, maka ia tidak keberatan sama sekali.

Demikian halnya yang terjadi di sekolah SMA 69 Pulau Pramuka tempat ia mengajar. Ia juga mengajarkan marawis dengan intensif. watak yang dimiliki oleh murid tersebut. Jurus dan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Nek Deli itu ada yang berunsur lembut, keras, berbentuk seni, tenaga dalam, dan banyak lagi. Masing-masing murid akan dilihat dulu oleh Nek Deli Mulai dari cara memainkan kendang, cara menari, hingga melantunkan lagu-lagu bernafaskan Islam. Hingga saat ini, marawis termasuk seni tradisi bernuansa Islam yang masih baru dan terus diupayakan untuk dikembangkan.

“Marawis ini masih dalam tahap rintisan. Saya sendiri bersemangat untuk melatih anak-anak karena mereka juga menyukai seni ini. Saya sudah merasa bersyukur karena anak-anak binaan saya sudah bisa tampil di depan umum untuk membawakan marawis. Seperti ketika mereka tampil di acara peringatan hari besar Islam, ternyata sambutannya cukup baik. Kini beberapa orang dari pulau yang lain juga meminta saya untuk melatih. Tapi saya belum memiliki waktu yang banyak untuk bisa kesana-kemari mengajarkan marawis. Mungkin kalau anak-anak yang saya bina di sini sudah jadi, saya bisa saja untuk mengajarkan marawis di pulau yang lain,” ujar Heri.

e. Pencak Silat

Salah satu yang dikenal banyak orang terkait Pulau Panggang adalah pencak silatnya. Berbagai cerita tentang masa lalu yang penuh oleh tokoh-tokoh lokal seperti Nek Sadeli, Nek Aing, Habib Ali, Darah Putih sangat identik dengan cerita tentang ketokohan individu baik dalam penguasaan ilmu agama maupun ilmu beladiri pencak silat. Tampaknya, pencak silat Pulau Panggang merupakan jenis seni ketangkasan yang tidak pernah pudar hingga saat ini, meskipun harus diakui pula bahwa ia mengalami penurunan kuantitas penerusnya.

Menurut informasi dari beberapa orang, pencak silat Pulau Panggang sangatlah unik karena unsur-unsur gerak dan jurus-jurus yang ada merupakan serapan dari berbagai aliran dan jenis jurus silat yang ada di seluruh pulau Jawa. Hal tersebut disebabkan oleh kesukaan para pendahulu dan tokoh Pulau panggang yang kerap pergi keliling pulau Jawa untuk menimba ilmu beladiri dari berbagai perguruan dan pesantren yang tersebar di Pulau Jawa.

Pak Ilin, salah satu guru pencak silat untuk generasi masa kini mengatakan bahwa pencak silat di Pulau Panggang pertama kali dikembangkan oleh Nek Sadeli atau yang biasa disebut dengan Nek Deli. Tokoh legendaris yang diperkirakan hidup pada abad 18-an itulah yang diyakini oleh penduduk pulau panggang masa kini sebagai tokoh yang mengajarkan pencak silat secara turun-temurun.

“Saya sendiri tidak belajar secara langsung kepada Nek Deli, tetapi melalui murid-muridnya. Menurut cerita, murid Nek Deli itu sangat banyak, tetapi anehnya murid-murid beliau yang banyak itu diajarkan jenis-jenis jurus yang berbeda-beda pula, tergantung pada kira-kira lebih cocok untuk belajar jenis jurus macam apa. Jika orangnya dinilai tepat untuk memelajari jenis jurus yang keras, maka jurus itulah yang diajarkan. Jadi, bisa dibayangkan betapa luasnya ilmu yang dimiliki oleh Nek Deli,” ujar pak Ilin.

Pak Ilin sendiri memelajari jenis jurus gerak kehadiran, suatu varian jurus yang terdiri dari 12 jurus dan diakhiri oleh jurus sikat duabelas. Ia disebut dengan kehadiran karena untuk memelajari jurus ini harus menghadirkan kekuatan gaib yang membantu menggerakkan tubuh sang murid agar lebih mudah memelajari berbagai langkah jurus dengan baik. Di samping mengajarkan gerak jurus fisik yang terdiri dari 12 jurus itu, Pak Ilin juga melambarinya dengan berbagai amalan khusus, seperti puasa dan bacaan-bacaan tertentu.

“ Sebenarnya jurus yang dimiliki oleh Nek Deli itu bernama Jurus Alif, artinya adalah tauhid. Berbagai jenis jurus yang dikuasai oleh Nek Deli itu hanyalah cabang-cabangnya saja, tetapi semuanya itu menuju pada hakikat yang satu yaitu Allah swt. Oleh sebab itulah, belajar ilmu beladiri berarti belajar pula tentang tauhid. Jika bisa diibaratkan, maka jurus Alif itu menunjukkan hakikat Allah, sedangkan variasi jurusnya adalah asmaul-husna, atau cabang-cabang dari hakikat itu sendiri. Begitulah kira-kira jurus yang dimiliki dan diajarkan oleh Nek Deli. Bayangkan saja, jika seseorang sudah sampai menguasai jrus alif dengan benar, siapa sih di antara sekian manusia yang bisa mengalahkan? Dulu ada cerita kalau Nek Deli itu sering ditantang oleh para pendekar dari berbagai tempat, tapi tidak ada satupun yang bisa mengalahkan Nek Deli, maka pencak silat Pulau Panggang ini sangat terkenal dan dihormati oleh banyak orang di berbagai tempat,” cerita pak Ilin.

Selain pencak silat Nek Deli, di Pulau Panggang juga dikenal dengan pencak silat aliran Nek Aing. Jika Nek Deli diyakini sebagian orang berasal dari Mandar, ada juga yang mengatakan ia berasal dari Banten, maka Nek Aing (yang aslinya bernama Mursalin) adalah tokoh yang berasal dari daerah Cemplang, Bogor. Nek Aing sendiri merupakan pengajar ilmu agama Islam dan juga ilmu beladiri yang meninggal pada tahun 1970-an. Generasi tua yang ada di Pulau Panggang ini masih banyak yang sempat bertemu muka dengan Nek Aing.

Meskipun secara gerak fisik jurus Nek Aing berbeda dengan Nek Deli, tetapi hakikat yang diajarkan sama, yaitu menuju kepada pemahaman akan ketauhidan. Jika jurus Nek Deli mencapai 12 jurus, maka jurus Nek Aing hanya berjumlah 9. Tetapi, perbedaan jumlah jurus keduanya tidak bisa dijadikan ukuran mana yang lebih baik. Bagi sebagian orang Pulau Panggang, semuanya tergantung pada masing-masing murid yang belajar. Baik yang belajar pencak silat dari aliran Nek Deli maupun Nek Aing semuanya harus mengedepankan sikap rendah hati dan ketauhidan itu.

Pak Ilin mengatakan bahwa Nek Deli dulu sempat berucap bahwa siapapun yang memiliki jurus dan menyerang terlebih dahulu, maka ia pasti kalah. Pernyataan ini, menurut pak Ilin adalah anjuran agar tidak menggunakan kepandaian beladiri untuk digunakan secara sewenang-wenang. Ilmu beladiri hanya perlu digunakan pada situasi-siatuasi tertentu, terutama ketika harus mempertahankan diri karena diserang oleh pihak lain.

Kini, pencak silat pulau Panggang mulai kehilangan penerus. Hanya sedikit dari generasi muda masa kini yang mau belajar pencak silat. Tidak seperti dulu dimana hampir semua penduduk pulau panggang, khususnya yang laki-laki belajar pencak silat. Sudut pandang generasi masa kini mulai berubah, di samping konteks jaman juga terus bergerak menuju perubahan. Kini, generasi muda lebih tertarik untuk mendalami ilmu pengetahuan dengan belajar dan sekolah hingga keluar pulau. Perubahan lingkungan sosial sangat memengaruhi keberlanjutan pencak silat Pulau Panggang. Hingga saat ini tidak ada yang berani bertaruh apakah keberadaan pencak silat Pulau Panggang akan tetap bertahan untuk beberapa tahun ke depan.

Silat kebanyakan jurusnya berasal dari Mandar, kemudian dicampur dengan siat Banten dan Betawi. Untuk penggunaan senjata tetap sama, trisula, golok, dan toya yang lebih banyak digunakan. Dalam silat P. Panggang jurus yang digunakan lebih banyak jurus untuk melumpuhkan lawan, bukan jurus untuk bertahan. dengan tiga jurus diharapkan lawan langsung ‘lumpuh’. Jika lawan setelah digebrak tidak lumpuh maka pertahanan yang dianjurkanpun tak lebih menahan tiga jurus lawan, setelah itu kembali melawan. Oleh karena itu silat P. Panggang harus disertifikasi terlebih dahulu untuk menjadi salah satu cabang dari persilatan.

Menurut Habib Zen permasalahan silat ini bukan pada hal-hal yang sifatnya fisik, namun sesuai dengan akar katanya, silat berasal dari silaturahmi, dengan tujuan memperkuat persaudaraan, menyebarkan Islam, dan membentuk karakter dan budi pekerti. Silat sebagai sebuah pertunjukkan (bukan ilmu bela diri) sedikit sekali digunakan di pulau Panggang. Menurut Habib Zen ini disebabkan karena sejarah pulau Panggang yang penuh dengan perjuangan. Diawali dengan berbagai legenda, seperti legenda Darah Putih, Kapitan Saudin, dan Mohammad Sadli bin Kohar yang melegenda sebagai pendekar yang mengajarkan ilmu bela diri dan mempertahankan pulau Panggang dari serbuan bajak laut.

Dalam perjalanannya hanya Mohammad Sadlilah yang paling lengkap ceritanya dan paling disebut-sebut sebagai orang yang mengajarkan silat ke seluruh P. Panggang. Dalam kisahnya Mohammad Sadli pada usia 19 tahun pergi mengembara meninggalkan P. Panggang, beberapa puluh tahun kemudian kembali dan mengajarkan silat.

Tokoh lainnya adalah Budin dan Miang yang tercatat menjadi guru silat di P. Panggang. Sedangkan nama-nama lainnya tidak diingat oleh masyarakat. Menurut Habib Zen, diperkirakan pencak silat ini diperkenalkan tahun 1911 dengan beranggotakan ± 20 orang, kemudian berkembang dan mencapai ratusan orang. Pencak silat pada masa ini bertujuan sebagai [1] olah tubuh dan pikiran, [2] seni beladiri, [3] mempererat tali silaturahmi, [4] menumbuhkan rasa percaya diri, [5] sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sekarang pencak silat di dipersatukan menjadi Ikatan Pencak Silat Pulau Panggang (IPSPP), yang bercirikan jurus ‘anak pukul’ (dikenal dengan istilah ‘gerak’-sekali pukul tidak pulang kembali dan harus tepat sasaran). Jurus ini tidaklah diperuntukkan sebagai ‘seni untuk seni’ (seni pertunjukkan) namun lebih pada kemampuan mempertahankan diri (bela diri), sedangkan untuk seni pertunjukkan orang pulau Panggang lebih mengenal istilah ‘fragmen’ yang digunakan untuk menampilkan keindahan.

Dalam teknik-belajar mengajar silat dikenal juga istilah ‘kehadiran’ dimana sang murid dibuka ‘auranya’ untuk dimasuki oleh ‘ilmu’ sang guru. Menurut Habib hal ini menjadi ‘hapalan’ sehingga mereka dapat bergerak sendiri . Dan seiring dengan meningkatnya kualitas keimanan (dilihat dari ritual ibadah yang dijalankan, termasuk didalamnya ritual untuk sosial atau kesalehan sosial, seperti baik kepada tetangga, sering bersilaturahmi, rendah hati ke orang lain, dan sebagainya). Dengan hapalan yang mampu membuat ‘gerak’ ini maka silat pulau Panggang menurutnya memiliki keunikan, karena setiap orang akan menemukan sendiri ciri khasnya, misalnya ada yang mampu bersalto tinggi, merayap di dinding, dan lain-lain.

Sumber : Tulisan Bpk Sudiman,S.Pi,M.Si (Kasubag Kelautan)

[1] Acara maulud disini adalah suatu acara hajatan masyarakat seperti nikah, khitanan, atau akikah dimana didalamnya membacakan kitab barzanji. Maulud disini bukanlah acara peringatan kelahiran Nabi SAW yang biasanya dilaksanakan pada bulan maulud menurut kalender Islam.

Sumber / Link : Pulau Seribu Jakart

Read More »