Tampilkan postingan dengan label Pulau Kelapa. Tampilkan semua postingan

0 komentar
Naas bener nasip Johani (29) nelayan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu ditemukan tewas di Pulau Bira. Korban tewas diduga akibat tersambar petir saat hujan lebat pada Minggu (15/2/2015) kemarin.

Agus Setiawan, Camat Kepulauan Seribu Utara mengatakan, korban pertama kali ditemukan oleh 2 orang nelayan warga RT 006/04 Pulau Kelapa pada pukul 13:45 WIB, disekitar perairan Pulau Bira.

"Dari hasil tim medis, Johani diduga kuat tewas akibat tersamabar petir ketika sedang mencari ikan ditengah laut. Korban mengalami luka bakar sekitar 60 persen," ungkapnya kepada beritapulauseribu.com, Rabu (18/2/2015).

Dikatakannya, saat ditemukan oleh 2 orang nelayan, posisi korban tertungkup dan sudah tidak bernyawa dengan wajah hitam terbakar.

Sementara itu, AKP Harsono Wagino Kapolsek Kepulauan Seribu Utara mengatakan, setelah mendapat informasi nelayan hilang sejak minggu kemarin, pihak kepolisian langsung melakukan penelusuran ke beberapa pulau.

"Jam 08:30 WIB, saya bersama Camat Kepulaun Seribu Utara patroli dengan 12 orang personil, dibantu masyarakat. Delapan kapal menyusuri pulau-pulau bagian perairan seribu utara,"ungkapnya.

Harsono menambahkan, saat ini korban langsung dibawa ke rumah duka dan kita serahkan sepenuhnya kepada keluarga korban.

"Karena tersambar petir dan tidak ada tuntutan, sore ini kita akan langsung dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pulau Kelapa,"pungkasnya.


Sumber : http://beritapulauseribu.com/bpsc/berita-nelayan-pulau-kelapa-ditemukan-tewas-tersambar-petir.html

Read More »

0 komentar
 
Astawan Lurah Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara berharap renovasi secara total pembangunan kantor kelurahan agar segera dituntaskan pihak terkait. Pasalnya, dengan kondisi kantor yang representatif maka dapat meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat.

 "Semoga saja segera diselesaikan pembangunan kantor ini," kata Astawan, saat ditemui beritapulauseribu.com, Selasa (02/12/2014).

Menurutnya, selama menunggu proses renovasi, pihaknya mengontrak salah satu rumah warga untuk dijadikan sebagai kantor agar pelayanan kepada warga setempat tetap berjalan seperti biasa. "Kami mengontrak salah satu rumah warga sebagai kantor menunggu pembangunan selesai, meski kantor sedang dibangun, pelayanan kita kepada masyarakat harus tetap berjalan," ungkapnya.

Astawan menjelaskan, rencananya, pembangunan kantor Kelurahan baru ini akan dibangun 3 lantai dan menjadi Kantor Kelurahan paling termegah di Kepulauan Seribu. "Melihat dari rencana gambar pembangunannya, kantor akan dibangun 3 lantai, dan menurut saya kantor kelurahan pulau kelapa menjadi kantor termegah di pulau seribu," paparnya.

Namun, ia menegaskan, Pembangunan kantor Kelurahan mestinya cepat dituntaskan, gedung tersebut agar pelayanan kepada masayarakat bisa terjalin seperti biasanya."Secepatnya dirampungkan sehingga boleh digunakan sebagai kantor kelurahan pulau kelapa yang baru," ujarnya.


Sumber : http://beritapulauseribu.com/berita-kantor-lurah-pulau-kelapa-direnovasi-pelayanan-pindah-kerumah-kontrakan.html

Read More »

0 komentar
Sebanyak 379 warga miskin di Pulau Kelapa menerima dana perlindungan sosial dari pemerintah. Pembagian dana tersebut berlangsung di halaman Kantor Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, (28/11/2014).

“Kantor Pos Pulau Seribu telah membagikan kepada tiga ratus penerima dana perlindungan sosial sebagai kompensasi kenaikan bahan bakar minyak kepada keluarga miskin,” ungkap Soleh petugas Kantor Pos Pulau Seribu kepada beritapulauseribu.com.

Ia menambahkan warga yang sudah terdata sebagai penerima bantuan itu juga harus membawa tanda pengenal seperti fotokopi KTP atau kartu keluarga.   

“ Adapun syarat untuk mengambil dana perlindungan sosial ini warga harus membawa kartu identitas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Soleh menjelaskan pembagian dana perlindungan sosial untuk warga miskin ini berjalan tertib dan lancar. Petugas membagikan nomor antrean kepada penerima bantuan dan warga miskin juga tampak sabar mengantre di depan kantor Kelurahan Pulau Kelapa untuk menunggu giliran mendapatkan bantuan sosial tersebut.

Anggota polsek dan staf Kelurahan berada di lokasi untuk mengamankan jalannya pembagian dana kompensasi itu. Adapun dana bantuan perlindungan sosial yang diterima warga jumlahnya sebesar Rp.400.000.

Lurah Pulau Kelapa Astawan Husen mengungkapkan meski sempat ada permasalahan karena, adanya protes dari masyarakat yang tidak menerima bantuan. " Pihak Kelurahan sudah berkomunikasi dengan warga dan menyampaikan bahwa data yang mendapatkan bantuan Dana Perlindungan Sosial tersebut berdasarkan data tahun 2011. Dan data tersebut dipakai oleh semua Kelurahan,"ungkapnya.

" Kami akan melakukan pendataan ulang jadi, warga yang kurang mampu dan tidak mendapatkan bantuan dana sosial nantinya bisa menerima,"pungkasnya.

Sementara itu, Upa (50) warga Rt.05/02 Pulau Kelapa sangat kecewa karena dirinya tidak mendapatkan bantuan dana perlindungan sosial pemerintah.Padahal, dirinya termasuk warga miskin yang tidak  mampu. " Saya berharap ada pendataan ulang karena, data yang dipakai saat ini adalah data tahun 2011 ," tandasnya.


Read More »

0 komentar

Musim kemarau membuat warga di Pulau Kelapa Kecamatan Kepulauan Seribu Utara mengalami krisis air bersih. Pasalnya, dalam dua bulan terakhir sumur-sumur mereka dilanda kekeringan.

Makmur (40), mengatakan untuk kebutuhan sehari-hari ia terpaksa harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, minum dan mencuci.

"Sudah 2 bulan sumur warga dilanda kekeringan, persedian air hujan yang ada pun sudah habis dipakai untuk kebutuhan sehari-hari," ungkap warga RT.02/04 kepada beritapulauseribu.com, Kamis (6/11/2014).

Jika setiap hari, sambung Makmur, harus membeli air isi ulang sangat memberatkan warga apalagi bagi yang tidak mampu. " Kami mengharapkan adanya bantuan dari Pemkab Kepulauan Seribu, agar menyalurkan air bersih untuk warga Pulau Kelapa,"ungkap bapak 4 orang anak ini.

Astawan Husen Lurah Pulau Kelapa saat dikomfirmasi membenarkan kondisi yang kini dialami warganya tersebut. "Saya sudah mendatangi rumah-rumah warga, keluhannya hanya air bersih. Sedangkan Air Reverse Osmosis (RO) yang ada juga tidak dapat menutupi kebutuhan warga ,"ungkapnya.  

Lanjut Astawan, pihaknya sudah melayangkan surat kepada pihak perusahan minyak lepas pantai China National Offshore Oil Corporation (CNOOC.Ses.Ltd) untuk memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat Pulau Kelapa. Hingga kini, belum mendapat tanggapan.    

"Kita hanya meminta Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat di wilayah kerja perushaan", kata Astawan.  

Sementara itu, Masuti Yasin Kepala Devisi CSR CNOOC Ses Ltd, saat dihubungi melalui sambungan telepon seluler tidak ada jawaban, bahkan pesan singkat (SMS) yang dikirimkan tim beritapulauseribu.com tidak mendapat balasan.


Read More »

Kelurahan pulau Kelapa ini termasuk dalam kecamatan Kepulauan Seribu utara, pulau yang berpenduduk dan bermata pencaharian sebagai nelayan.

Pulau yang termasuk didalam kelurahan pulau Kelapa

  1. Pulau Bundar
  2. Pulau Cina
  3. Pulau Dua Barat
  4. Pulau Genteng besar
  5. Pulau genteng kecil
  6. pulau Antuk Barat
  7. Pulau Antuk Timur
  8. pulau Jukung
  9. pulau Kaliage Besar
  10. pulau Kaliage Kecil
  11. pulau Kapas
  12. pulau Karang Bongkok
  13. pulau Kayu Angin Bira
  14. pulau Kayu Angin Penjalir
  15. pulau Angin
  16. pulau kayu Angin Melintang
  17. Pulau Kayu Angin putri
  18. pulau Kayu Angin Selatan
  19. pulau Kelapa
  20. Pulau Kelor Barat
  21. pulau Kelor Timur
  22. pulau Kuburan Cina
  23. pulau Lipan
  24. pulau Macan atau pulau Matahari
  25. pulau Macan kecil
  26. pulau Melinjo
  27. pulau Melintang Besar
  28. pulau melintang kecil atau disebut pulau Bintang
  29. pulau Nyamplung
  30. pulau Opak besar
  31. pulau Opak kecil
  32. pulau Pabelokan
  33. pulau Panjang Bawah
  34. pulau Panjang Besar
  35. pulau Panjang Kampung
  36. pulau Panjang Kecil
  37. pulau Perak
  38. pulau Penjaliran Barat
  39. pulau Peteloran Barat
  40. pulau Putri Barat; pulau yang dikembangkan menjadi sebuah resort yang dikelola oleh PT. Buana Bintang Samudra, total sekitar 70 unit cottage dengan berbagai fasilitas wisata
  41. pulau Gundul
  42. pulau Putri Timur
  43. pulau Rakit Tiang
  44. pulau Saktu
  45. pulau Tongkeng
  46. pulau Yu Barat / pulau Yu Besar
  47. pulau Yu Timur / pulau Yu kecil

Read More »

Pulau Kelapa merupakan salah satu pulau terpadat di wilayah Kepulauan Seribu. Menurut cerita asal mula dinamakan Pulau Kelapa karena dahulunya pulau tersebut banyak di tumbuhi pohon Kelapa. Penduduk yang menghuni Pulau Kelapa sangat heterogen, dapat dikatakan hampir sebagian suku yang ada di Indonesia tinggal di Pulau Kelapa walaupun jumlahnya sangat sedikit.

Penduduk yang menghuni Pulau Kelapa ini di dominasi oleh orang-orang Betawi, Banten, Bugis Jawa, Sumatera dan daerah lainnya. Menurut cerita masyarakat setempat banyak hal yang menyebabkan suku dari daerah tersebut menetap di Pulau Kelapa, contohnya kejadiannya pada jaman dahulu bila para pelaut yang melintasi perairan Kepulauan Seribu dengan tujuan ke Pelabuhan Sunda Kelapa mengalami kecelakaan dalam berlayar. Kapal yang mereka tumpangi tenggelam dan mereka pun tidak bisa meneruskan perjalanan, mereka ditolong oleh penduduk setempat. Karena kapal mereka tidak bisa meneruskan perjalanan, akhirnya mereka menetap di pulau tersebut dan dalam perjalanan waktu terjadi perkawinan dengan penduduk setempat. Selain peristiwa tersebut banyak hal yang menyebabkan banyaknya suku bangsa yang menetap di Pulau Kelapa.

Dermaga P. Kelapa di sebelah barat

Menurut Tim Peneliti Dinas Museum dan Sejarah, bagian geografi dan perkembangan kota tua tahun 1970, menyebutkan tentang ditemukannya makam-makam tua dengan batu nisan yang terbuat dari batu karang. Salah satunya terdapat di depan Puskesmas Pulau Kelapa. Selain itu juga di tepi pantai selatan Pulau Kelapa di temukan dua buah meriam kuno yang dibuat pada tahun 1700.

Pada masa lalu Kelapa dengan Pulau Harapan terpisah. Kemudian sekitar tahun 1950-an, dibangun jalan yang menghubungkan antara kedua Pulau tersebut dengan panjang sekitar 200 meter. Tujuan pembangunan jalan tersebut adalah untuk mempermudah akses transportasi karena pada saat itu telah terjadi migrasi masyarakat Pulau Kelapa ke Pulau Harapan dikarenakan penduduk Pulau Kelapa yang cukup padat. Sedangkan pada masa kini intensitas pendatang ke pulau ini cukup tinggi dan menyebabkan Pulau Kelapa sebagai pulau paling banyak penduduknya di Kepulauan Seribu.

Mata pencaharian penduduk Pulau Kelapa sebagian besar adalah nelayan, transportasi laut didominasi kapal ojek dengan tujuan yang bermacam-macam seperti Muara Angke, Mauk, Kronjo sedangkan dengan tujuan Marina Ancol menggunakan Kapal Kerapu.

 


 

Read More »

Libur Perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Senin (31/03/2014) mengakibatkan sejumlah dermaga di Pulau Seribu dipadati penumpang baik yang ingin berwisata ataupun yang hendak pulang ke Ibu Kota Jakarta. Pemandangan seperti ini dapat kita lihat di dermaga Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Dari pantauan beritapulauseribu.com, situasi keramaian di dermaga Pulau Pramuka dari arah menuju dermaga atau sebaliknya nampak dipadati pengunjung pemandangan ini terlihat berbeda jika dibandingkan dengan hari kerja atau biasanya. Begitu juga di dermaga Pulau Kelapa yang terlihat cukup ramai dipadati pengunjung  yang akan melanjutkan perjalananya menuju Pulau Harapan dan sebaliknya.

Menurut Saini pelaku wisata Tour dan Guide membenarkan,  jika saat ini terjadi kepadatan di dua dermaga tersebut. "Ya memang saat ini dermaga Pulau Kelapa ramai dipadati pengunjung wisatwan yang hilir mudik," jelas Saini warga asli RT 002/002 Pulau Kelapa.

Diperkirakan, kepadatan ini akan berangsur membaik menjelang sore hari. Dimana pada sore hari nanti para pengunjung yang telah menikmati liburan ke Pulau Seribu sudah mulai naik keatas kapal ojek untuk menuju ke Muara Angke, Jakarta Utara.
 
 
 

Read More »



Sejak satu belan terakhir cuaca ekstrim telah melanda perairan Kepulauan Seribu. Akibatnya, warga yang berprofesi sebagai nelayan yang ada di wilayah tersebut tidak bisa melakukan aktivitas melaut. Mereka pun mulai kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Kondisi ini pun mengundang keprihatinan Heriyanti Camat Kepulaun Seribu Utara (KSU). Menurutnya, guna meringankan beban para nelayan khusunya yang ada di wilayah Kepualau Seribu Utara, pihak pemerintah setempat akan melakukan penggalangan dana dengan cara melakukan pendekatan dengan resort-resort yang ada di wilayahnya. "Alhamdulillah bantuan dari pihak swasta sudah mulai ada, misalnya seperti bantuan sembako dari Pulau Macan Kecil," tutur Heryanti saat dihubungi beritapulauseribu.com, Rabu (05/02/2014).

Heryanti menambahkan, kedepanya akan ada beberapa resort yang sudah menawarakan bantuan untuk Pulau Harapan, mudah-mudahan resort-resort lain pun segera menyusul, sebagai wujud kepedulaian antar sesama warga Pulau Seribu.

Tidak hanya penggalangan bantuan dari pihak swasta, rencananya pihak kecamatan dan Kelurahan Pulau Kelapa juga akan menyalurkan Bantuan Sosial (bansos) kepada warga masyarakat berupa mie instan, gula, minyak goreng dan cecap. "Sedangkan untuk anak-anak kami juga akan menyalurkan bantuan berupa susu kotak," tambahnya.

Walaupun bantuan belum menjangkau keseluruh warga yang ada, Camat Kepulauan Seribu Utara ini berharap bisa mengatasi dan mengurangi kesulitan warganya selama dalam kondisi seperti ini."Mudah-mudahan ini bisa meringankan beban mereka," tutupnya.
 
 
 


Read More »

Menurut sejumlah warga yang masih menyimpan kisah unik di pulau ini menyebutkan, ihwal Pulau Kelapa tersebutlah dua saudara kembar berasal dari Mandar, Sulawesi Selatan yang terdampar di perairan Kepulauan Seribu. Dua saudara ini terpisah yang satu terdampar di gugusan pulau sebelah utara dan satunya lagi di sebelah selatan. Tahun berganti tahun, keduanya menikahi penduduk setempat dan beranak pinak hingga sekarang.



"Kita hanya mendapat cerita seperti itu, kenapa namanya Pulau Kelapa kisahnya telah putus dan tak ada satupun warga di sini yang mengetahuinya," ujar Bahram warga Pulau Kelapa. Dikatakannya, cerita si kembar yang diketahuinya hanya dari mulut ke mulut dan tidak ada bukti atau keturunan yang mengaku dari si kembar itu. "Konon katanya, kembar itu terpisah satu terdampar di pulau ini dan satunya di Pulau Tidung," kata Bahram lagi.



Menurut penuturan Bahram yang juga sorang tenaga pendidik ini, satu yang unik di sekitar Pulau Kelapa adalah Pulau Pamagaran yang saat ini masuk wilayah Kelurahan Pulau Harapan. Dia mengisahkan, nama pamagaran disandangkan di pulau milik anak penguasa orde baru itu berasal dari kata pagar. "Entah tahun berapa, sekelompok bajak laut akan merampok Pulau Kelapa, namun bajak laut itu tidak dapat sampai ke pantai lantaran seakan-akan di perahunya terbentur pagar di sekitar perairan pulau itu," katanya

Lalu hal yang unik lagi di pulau ini adalah tumbuhnya sebatang Pohon Kresek yang besar hingga berdiameter sekitar tiga meter di tempat pemakaman. Pohon itu dipercaya warga memiliki nuansa mistis hingga sampai saat ini berdiri kokoh. "Sebagian warga ada yang percaya kalau pohon itu ditunggui makhlus halus, karena disekitarnya terdapat makam zaman dulu," terangnya.

Sementara Madi M Dail, Wakil Lurah Pulau Kelapa yang juga kelahiran pulau tersebut menambahkan, keunikan di pulau ini adalah terdaptnya sejumlah sumur yang memiliki perbedaan dengan sumur-sumur lainnya. Misalnya, dia menyebutkan sumur yang dibuat oleh mahasiswa Universitas saat melakukan Kuliah Kerja Nyata sekita tahun 1991 lalu. Sumur itu tak pernah kering dan rasanya tetap tawar dan segar meski selalu diambil airnya. "Bahkan musim kemarau sumur yang lain kering, sumur itu tidak," ujarnya.

Lalu, sambung dia, sumur yang unik juga terdapat di rumah seorang warga di RW 03 Pulau Kelapa. Sumur itu juga tak pernah kering maupun berubah rasa padahal sumur tetangganya sudah berasa asin. "Allahu Alam, apa sebabnya sumur milik warga itu tetap tidak berubah padahal bentuknya sama dengan sumur milik tetangganya. Menurut kabar, dulunya sekitar rumah warga itu terdapat banyak pohon besar yang tumbuh, mungkin itu sebabnya air dari sumur itu tetap tawar," jelasnya.

Sesungguhnya masih banyak keunikan dan hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal manusia di Pulau Kelapa, namun lemahnya sumber informasi sehingga penulis menemui kebuntuan untuk menggali lebih jauh kekayaan cerita dan kisah pulau dimana penulis dilahirkan ini. Tapi yang pasti dibalik keunikan yang ada, kondisi Pulau Kelapa kini tak pantas lagi dirayu seperti pada syair lagu "Rayuan Pulau kelapa" milik Ismail Marzuki.

Menurut hemat penulis, pulau ini telah mengalami degradasi yang akut. Lingkungan yang tak lagi tertata, kepadatan penduduk yang telah diambang batas, dan kesemerautan kehidupan masyarakatnya. Puluahan becak dan ratusan sepeda motor hilir mudik tak terkendali diatas jalan yang sempit dan rusak. Perlu kerja keras untuk mengembalikan keasrian Pulau Kelapa agar kembali dapat dirayu dan merayu.

Read More »

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu menargetkan Kelurahan Pulau Panggang dan Kelurahan Pulau Kelapa akan menjadi lokasi pelaksanaan program rumah deret. Keduanya merupakan pulau pemukiman terpadat dari 11 pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu.

"Pertama akan kita garap di Pulau Panggang, kepadatannya luar biasa dan harus segera dibenahi dengan membangun rumah deret," ujar Bupati Kepulauan Seribu, Asep Syarifudin, Minggu (27/10/2013).

Menurutnya, rumah atau kampung deret yang merupakan salah satu program gubernur dapat menjadi solusi mengurai kepadatan penduduk di pulau-pulau tersebut. "Dalam waktu dekat ini kita akan sosialisasikan ke masyarakat, saya berharap mereka merespon dengan baik," katanya.

Selain membangun rumah deret, kata Asep, di Pulau Panggang juga membutuhkan ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi bermain dan iteraksi warga. "Itu sangat dibutuhkan, kondisi pulau ini sudah sangat menghawatirkan. Degradasi lingkungan yang terjadi karena minimnya ruang terbuka hijau," jelas Asep.

Sementara, menurut bupati, untuk di Pulau Kelapa pembangunan rumah deret dapat menjadi alternatif kebutuhan tempat tinggal warga yang selama ini melakukan kegiatan reklamasi secara brutal. "Pengurukan yang dilakukan berdampak negatif terhadap lingkungan, itu harus dicegah dan alternatifnya adalah pembangunan rumah deret," katanya.

Tokoh pemuda dan aktivis sosial masyarakat Pulau Panggang, Muhammad Fakhri mengatakan, dirinya sangat mendukung pelaksanaan program rumah deret tersebut. Menurut dia, sudah saatnya masyarakat Kepulauan Seribu khususnya di Pulau Panggang dan Pulau Kelapa berpikir kedepan.

"Mau jadi apa pulau ini kalau tidak ada pembenahan. Pulau padat dan lingkungan yang tidak sehat justru akan mengurangi kualitas kehidupan. Saya sangat mendukung program itu," tegasnya. [Afriyani Aldin]

Read More »

Pulau Kelapa - Entah bagaimana awal ceritanya diberi nama Pulau Kelapa, padahal saat ini pulau yang berada di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara ini minim pohon kelapa atau apapun yang identik dengan buah kelapa. Dari pada pusing, baiknya kita tinggalkan dulu mencari tahu asal nama pulau terpadat di Kepulauan Seribu ini, dan mengulas hal-hal yang menarik di pulau yang memiliki lima RW dan sekitar 6 ribu jiwa penduduknya ini.

Menurut sejumlah warga yang masih menyimpan kisah unik di pulau ini menyebutkan, ihwal Pulau Kelapa tersebutlah dua saudara kembar berasal dari Mandar, Sulawesi Selatan yang terdampar di perairan Kepulauan Seribu. Dua saudara ini terpisah yang satu terdampar di gugusan pulau sebelah utara dan satunya lagi di sebelah selatan. Tahun berganti tahun, keduanya menikahi penduduk setempat dan beranak pinak hingga sekarang.

"Kita hanya mendapat cerita seperti itu, kenapa namanya Pulau Kelapa kisahnya telah putus dan tak ada satupun warga di sini yang mengetahuinya," ujar Bahram warga Pulau Kelapa. Dikatakannya, cerita si kembar yang diketahuinya hanya dari mulut ke mulut dan tidak ada bukti atau keturunan yang mengaku dari si kembar itu. "Konon katanya, kembar itu terpisah satu terdampar di pulau ini dan satunya di Pulau Tidung," kata Bahram lagi.

Menurut penuturan Bahram yang juga sorang tenaga pendidik ini, satu yang unik di sekitar Pulau Kelapa adalah Pulau Pamagaran yang saat ini masuk wilayah Kelurahan Pulau Harapan. Dia mengisahkan, nama pamagaran disandangkan di pulau milik anak penguasa orde baru itu berasal dari kata pagar. "Entah tahun berapa, sekelompok bajak laut akan merampok Pulau Kelapa, namun bajak laut itu tidak dapat sampai ke pantai lantaran seakan-akan di perahunya terbentur pagar di sekitar perairan pulau itu," katanya
Lalu hal yang unik lagi di pulau ini adalah tumbuhnya sebatang Pohon Kresek yang besar hingga berdiameter sekitar tiga meter di tempat pemakaman. Pohon itu dipercaya warga memiliki nuansa mistis hingga sampai saat ini berdiri kokoh. "Sebagian warga ada yang percaya kalau pohon itu ditunggui makhlus halus, karena disekitarnya terdapat makam zaman dulu," terangnya.

Sementara Madi M Dail, Wakil Lurah Pulau Kelapa yang juga kelahiran pulau tersebut menambahkan, keunikan di pulau ini adalah terdaptnya sejumlah sumur yang memiliki perbedaan dengan sumur-sumur lainnya. Misalnya, dia menyebutkan sumur yang dibuat oleh mahasiswa Universitas saat melakukan Kuliah Kerja Nyata sekita tahun 1991 lalu. Sumur itu tak pernah kering dan rasanya tetap tawar dan segar meski selalu diambil airnya. "Bahkan musim kemarau sumur yang lain kering, sumur itu tidak," ujarnya.

Lalu, sambung dia, sumur yang unik juga terdapat di rumah seorang warga di RW 03 Pulau Kelapa. Sumur itu juga tak pernah kering maupun berubah rasa padahal sumur tetangganya sudah berasa asin. "Allahu Alam, apa sebabnya sumur milik warga itu tetap tidak berubah padahal bentuknya sama dengan sumur milik tetangganya. Menurut kabar, dulunya sekitar rumah warga itu terdapat banyak pohon besar yang tumbuh, mungkin itu sebabnya air dari sumur itu tetap tawar," jelasnya.

Sesungguhnya masih banyak keunikan dan hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal manusia di Pulau Kelapa, namun lemahnya sumber informasi sehingga penulis menemui kebuntuan untuk menggali lebih jauh kekayaan cerita dan kisah pulau dimana penulis dilahirkan ini. Tapi yang pasti dibalik keunikan yang ada, kondisi Pulau Kelapa kini tak pantas lagi dirayu seperti pada syair lagu "Rayuan Pulau kelapa" milik Ismail Marzuki.

Menurut hemat penulis, pulau ini telah mengalami degradasi yang akut. Lingkungan yang tak lagi tertata, kepadatan penduduk yang telah diambang batas, dan kesemerautan kehidupan masyarakatnya. Puluahan becak dan ratusan sepeda motor hilir mudik tak terkendali diatas jalan yang sempit dan rusak. Perlu kerja keras untuk mengembalikan keasrian Pulau Kelapa agar kembali dapat dirayu dan merayu. (bps/puser)

Sumber : PulauSeribu.co

Read More »


"Setelah mendapat laporan langsung saya cek lapangan, memang sumur warga bau dan untuk sementara warga saya larang memanfaatkan air sumurnya," jelas Astawan Husen, Rabu (23/10). 

Menindaklanjuti keluhan warga RT 03 dan 04 Kelurahan Pulau Kelapa, Kepualuan Seribu Utara terkait pembuatan gorong-gorong yang menyebakan sumur warga berbau, Lurah Pulau Kelapa Astawan Husin bergerak cepat. Dia meminta Sudin Perumahan dan Gedung Pemerinta yang empunya proyek menegur kontraktor gorong-gorong tersebut.


"Setelah mendapat laporan langsung saya cek lapangan, memang sumur warga bau dan untuk sementara warga saya larang memanfaatkan air sumurnya," jelas Astawan Husen, Rabu (23/10).

Dikatakannya, hasil dari lapangan sebagaian besar rumah warga yang dilalui gorong-gorong itu, sumurnya berbau. "Yang pasti jumlahnya belum ada, tapi warga yang mengeluh sumurnya bau mencapai puluhan. Saya sudah kontak Sudin Perumahan dan Gedung Pemerintah dan akan segera memeriksan proyeknya," tegasnya.

Sementara salah seorang warga, Selamet (35) menuturkan, setelah mendapat laporan warga, bersama sejumlah aparatur kelurahan, lurah langsung melakukan pemeriksaan ke lapangan. "Pak lurah langsung turun ke lapangan dan sepertinya ada orang Sudin Perumahan juga," tuturnya.

Sejauh ini, sambung dia, respon pihak kelurahan sudah tepat dan memang warga sudah hampir satu bulan mengeluhkan kondisi air sumur yang bau sejak ada proyek pembuatan gorong-gorong itu. "Warga masih menggunakan air sumur untuk keperluan sehari-hari, Jadi, kalau airnya bau, mereka kesulitan," tuntasnya. [Afriyani Aldin]

Read More »


Dibanding dengan lima wilayah kelurahan di Kepulauan Seribu, Kelurahan Pulau Kelapa dikenal penuh dengan masalah. Dari kepadatan penduduk, degradasi lingkungan, hingga masalah yang tak kalah pelik adalah prilaku masyarakatnya. Namun begitu, bagi Ismail masalah yang ada di pulau tempatnya mengemban amanah sebagai lurah adalah tantangan yang harus dicari jalan keluarnya.  

Pengalamannya yang juga pernah menjabat lurah di Pulau Panggang ini, masalah di Pulau Kelapa tak jauh berbeda. Karenanya, putra asli pulau ini selalu mengedepankan komunikasi dan membangun kebersamaan dengan warganya. “Kita ini orang pulau, ada cara untuk menyelesaiknnya,” ujar Ismail.

Menurut dia, membenahi dan menata Pulau Kelapa memang perlu tenaga ekstra. Kontur wilayah yang padat perlu ada resep yang jitu. Satu diantaranya dengan mengajak warga melakukan penghijauan dengan wadah didepan rumah. “Kita kasih contoh, sekarang di depan kantor lurah penuh dengan tanaman hijau. Itu agar warga meniru,” katanya.

Saat ini, kata dia, kebutuhan warga memang perlu dicari jalan keluarnya. Diantaranya, kebutuhan akan lahan makam yang belum ada. Selain itu, kebutuhan air bersih dan perbaikan jalan umum yang masih dalam upaya. “Kita terus berusaha, karena memenuhi kebutuhan warga adalah prioritas pemerintah,” tandsnya. [af]

Read More »


Kepulauan Seribu adalah destinasi yang hampir tak pernah sepi wisatawan. Inilah tempat terdekat warga ibukota yang ingin merasakan liburan di pulau. Cara untuk mencapainya pun gampang.

Ada banyak jenis kapal yang bisa traveler tumpangi, mulai dari kapal kayu hingga kapal jenis kerapu. Khusus yang ingin lebih segera sampai, Anda bisa naik kapal cepat.

Lokasi keberangkatan pun cukup banyak, mulai dari Muara Angke, Muara Kamal dan juga Pelabuhan Marina Ancol. Di Muara Angke, ada dua pelabuhan yang bisa traveler gunakan, yaitu pelabuhan lama dan pelabuhan baru atau Kali Adem.

Di Pelabuhan Lama Muara Angke, kapal yang tersedia adalah jenis kapal kayu. Kapal ini tersedia setiap hari dengan waktu keberangkatan pukul 07.00 WIB.

"Waktu itu datang jam 06.00 WIB ke Pulau Kelapa. Soalnya kan bareng orang-orang pulau juga, supaya nggak kehabisan tempat kita datang lebih pagi. Kalau nggak, kehabisan tempat yang enak," tutur salah seorang traveler Tika, kepada detikTravel, Selasa (14/5/2013).

Jika tidak ingin tertinggal, datanglah sebelum pukul 07.00 WIB. Bukan tanpa sebab, ini karena ada banyak orang yang ingin menumpang kapal kayu. Penumpang kapal ini bercampur antara penduduk asli pulau dengan wisatawan. Biasanya, mereka sudah datang sejak pukul 06.00 WIB.

Rute kapal yang tersedia di pelabuhan ini antara lain Pulau Untung Jawa, Pulau Pramuka, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Tidung, Pulau Panggang dan Pulau Pari.

"Bayarnya sih Rp 30.000/orang," imbuh Tika.

Kalau Pelabuhan Lama Muara Angke khusus kapal kayu, Pelabuhan Kali Adem untuk KM Lumba-lumba dan Kerapu. Untuk KM Lumba-lumba, traveler diminta membayar sedikit lebih mahal dari kapal kayu, yaitu Rp 40.000-50.000/orang. Harga ini tergantung tujuan.

Ada dua lintasan yang dilalui KM Lumba-lumba. Lintasan pertama adalah Muara Angke, Pulau Untung Jawa, Pulau Pramuka dan Pulau Tidung. Lintasan kedua adalah Muara Angke, Pulau Untung Jawa dan Pulau Tidung.

Selain KM Lumba-lumba, kapal lain yang juga tersedia di Pelabuhan Kali Adem adalah Kerapu. Berbeda dengan Lumba-lumba yang hanya tersedia pukul 07.00 WIB, Kerapu tersedia dalam dua waktu, yaitu pukul 07.00 dan 13.00 WIB.

"Kerapu itu asyik, cepat, tapi lumayan ngeri juga. Bayarnya Rp 50.000/orang tambah Rp 2.000 untuk asuransi," kata traveler bernama Ivan.

Harga tiket kapal ini sama seperti Lumba-lumba. Hanya saja, pilihan rute untuk kapal Kerapu lebih banyak, yaitu ada 4 lintasan. Lintasan pertama adalah Muara Angke, Pulau Untung Jawa, Pulau Pramuka dan Puau Kelapa (PP).

Untuk traveler yang ingin ke Pulau Pari bisa menggunakan Kerapu lintasan dua. Kapal ini akan berlayar dari Muara Angke, Pulau Untung Jawa, Pulau Pari, Pulau Pramuka, dan Pulau Kelapa (PP).

Selanjutnya, yang ingin ke Pulau Tidung bisa menggunakan Kerapu di lintasan tiga. Lintasan ini melalui Muara Angke, P Untung Jawa, P Lancang, P Payung dan P Tidung (PP).

Lintasan terakhir yang dilalui Kerapu adalah lintasan empat. Di sini, traveler akan diantar dari Muara Angke menuju P Untung Jawa, P Lancang, P Pari, dan terakhir ke P Pramuka.

Nah, untuk Anda yang ingin naik kapal yang lebih cepat bisa naik kapal cepat di Dermaga Marina Ancol. Kapal ini rutin ada mulai pukul 08.00 WIB. Tujuannya adalah P Untung Jawa, P Pramuka, P Kelapa, P Harapan, P Tidung dan P Pari.

Salah satu kapal yang berangkat dari Marina Ancol adalah kapal tujuan Pulau Bidadari.

"Biayanya Rp 300.000/orang, bisa berangkat dari Dermaga Marina Ancol, dermaga 17," tutur Ayu karyawan di Pulau Bidadari.

Traveler bisa naik kapal ini pada pukul 11.00 WIB dan kembali menuju Ancol pada pukul 18.00 WIB. Namun, untuk bisa naik Anda harus booking H-3 sebelum keberangkatan.

"Untuk ke Bidadari sekitar 30 menit saja. Kapal kita kapal cepat yang aman kok," jelas Ayu.

Jika kapal-kapal yang disebut di atas adalah kapal yang biasa digunakan sebagai angkutan umum, Anda juga bisa menyewa kapal. Saat ini ada banyak operator wisata yang menyediakan jasa penyewaan kapal.

Kapal sewaan ini cocok untuk Anda yang liburan dengan rombongan. Beberapa jenis kapal yang disewakan adalah KM Miss Lee. Kapal ini cukup untuk 35 orang penumpang. Harga sewanya berkisar mulai dari Rp 1,4-12 juta/kapal tergantung tujuan.

Tak hanya KM Miss Lee, kapal lain yang juga bisa disewa adalah KM Zevolution. Kapal ini cukup untuk 37 orang penumpang. Harga sewanya mulai Rp 3,6-9 juta tergantung tujuan.

Ternyata, masih ada banyak lagi kapal sewa yang bisa Anda gunakan, seperti KM King of Birdnest, Predator 1,2 dan 3, KM Mangala 30, KM Vincent dan KM Theresia. Kisaran harganya pun tidak jauh berbeda dengan dua kapal sebelumnya.

Yang asyik dari kapal sewa ini adalah fasilitasnya. Setiap kapal dilengkapi dengan ruangan AC, toilet dan bahkan LCD televisi.

Nah, untuk beberapa orang yang memiliki kapal pribadi, bisa berangkat dari Pelabuhan Marina Batavia. Inilah titik awal perjalanan wisatawan yang menggunakan kapal mewah.

*tulisan merupakan kutipan dari situs http://travel.detik.com

Read More »

Menikmati Senja di Pulau Kelapa Harapan
Senja di ujung Pulau Kelapa, Pulau Seribu.
 Sumber : kfk.kompas.com


 
 

Read More »