Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

0 komentar
Ajun Komisaris Besar Polisi Johanson Ronald Simamora, Sik, SH, MH ( Lahir di Sidikalang, Umur 42 Tahun ) adalah Seorang Perwira Menengah yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Resort Kepulauan Seribu - Polda Metro Jaya, dia menduduki jabatan tersebut, pada bulan Juni tahun 2013, sebelumnya dia menjabat sebagai Kasubdit I/Narkotik Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya.

Johanson Ronald Simamora, menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus pada tahun 1994 dengan pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda),  pada tahun 2004 dia lulus PTIK (perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian)  dan pada tahun 2008 lulus sespim (Sekolah Staf dan Pemimpin).

Johanson Ronald Simamora yang lahir di Sidikalang, Sumatra Utara merupakan Suami dari Denny Setyaningtyas dan dikarunai 1 orang putri.

Karir :
Pamapta Polresta Pontianak Polda Kalimantan Barat (1995)
Kanit Resintel Polsektif Pontianak Utara Polda Kalimantan Barat (1995)
Kapolsek Putusibau Polres Kapuas Hulu Polda Kalimantan Barat (1996)
Kasat Lantas Polres Sintang Polda Kalbar (1999)
Kasat Lantas Polresta Pontianak Polda Kalbar (2000)
Kasat Lantas Polres Sambas Polda Kalbar (2001)
Mahasiswa PTIK di Jakarta (2002 - 2004)
Kanit III/Sat Pidum Dit Reskrim Polda papua (2004)
Kabag Ops Polresta Jayapura Polda Papua (2005)
Wakapolres Merauke Polda Papua (2006)
Kapolres Boven Digul Polda Papua (2006-2008)
Pasis Sepim Polri (2008)
Kasubdit Gakkum ditlantas Polda Metro Jaya (2009-2010)
Kapolsek Metro Tanah Abang Polres Metro Jakarta Pusat (2010-2012)
Kasubdit I/Narkotik Dit Resnarkoba Polda Metro Jaya (2012-2013)
Kapolres Kepulauan Seribu (Mei 2013- Nopember 2014)
Kapolres Magetan Polda Jawa Timur (Nopember 2014)

Kursus / Kejuruan

1. Das Pa Lalu-Lintas Pusdik Lantas Serpong 
2. Das Pa Reskrim Pusdik Reskrim Megamendung
3. Lan Pa Regident Pusdik Lantas Serpong
4. Lan Pa Money Laundry Pusdik Reskrim Megamendung
5. Finance Investigation Course JCLEC Semarang
6. Safety and Tactical Course ILEA Thailand
7. International Management Organisation Serious Crime - JCLEC Semarang
8. Financial Investigation Program ILEA Bangkok Thailand
9. International management Investigation Course ILEA in Bangkok - Thailand
10. District Commanders Crime and Command Program in JCLec Semarang

Seminar  
1. OMCG (Out Law Motorcycle Gang Forum) antara AFP (Australian Federal police) and INP (Indonesian National Police) in Bali - Indonesia (Juni 2012)
2. International Law Enforcement Intelectual Property Crime Conference in Panama City (South America) (Sep 2012)
3. The Council Of Europe Medicrime Convention in Singapore (April 2013)
4. Nota Kesepahaman dan Pedoman Kerja Antara SKK Migas dan Polri di Yogyakarta (Sep 2013)

Penghargaan :

1. Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun
2. Satya Lencana Kesetiaan 16 tahun
3. Satya Lencana Dwiya Shista
4. Satya Lencana Dharma Nusa
 
Sumber : http://www.polreskepulauanseribu.com/2014/11/kapolres-kepulauan-seribu-ke-vi.html
 

Read More »

0 komentar
Menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain dan lingkungannya, karena tidak berguna hidup bila tidak bermanfaat dan apalagi sebagai pemimpin harus mampu membedayakan, melayani dan membangun masyarakat, demikian petikan filosofi hidup yang dipegang seorang DR. H. Asep Syarifudin, Bupati Kepulauan Seribu.

"Yang jelas filosifi hidup saya itu, saya harus bermanfaat bagi orang lain dan bagi lingkungan. Itu yang paling utama, karena rugi hidup di dunia ini kalau kita tidak bermanfaat bagi lingkungannya,"  tuturnya memulai perbincangan dengan Buletin Kepulauan Seribu.

Dalam kapasitasnya sebagai bupati, Asep ingin selalu berbuat optimal dalam memberdayakan, melayani dan membangun masyarakat. Oleh karena itu, dirinya menghimbau kepada masyakarat untuk berpartisipasi didalam berbagai aspek, serta semua elemen di harus bahu-membahu membangun Kepulauan Seribu.

"Jika satu sisi ada hal yang berbeda, justru disitulah hikmatnya kehidupan dan perbedaan yang harus kita antisipasi, yang penting jangan ada pada diri kita ini membenci, perbedaan itu harus, karena itu sebuah anugerah, untuk hal-hal yang kita ingingkan supaya kita terus dapat membangun," katanya.

Menurut mantan Wakil Walikota Jakarta Pusat maupun Jakarta Timur ini, dirinya ingin selalu dekat dengan masyarakat, karenanya pada waktu-waktu tertentu seperti pada hari jumat dimanfaatkannya untuk berdialog dengan masyarakat.

"Kata kuncinya adalah gimana kita menyampaikan program, dan alhamdullilah sampai, saya di kantor punya catatan apa saja yang harus saya lakukan di pulau, dan apa saja yang menjadi skala prioritas. Strategi apa saja yang harus saya lakukan, dan kemudian saya akumulasi," terang manta Wakil Walikota Jakarta Pusat maupun Jakarta Timur serta Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Provinsi DKI Jakarta ini.

Suami dari Hj. Susi Andriana ini mengaku saat ini masyarakatnya lebih bergairah daripada sebelumnya, dan yang menyatakan hal demikian adalah masyarakat itu sendiri. menurutnya dulu tidak pernah pemilik resort, pemilik pulau, pemilik homestay di panggil untuk diberikan pengarahan, kalau sekarang mereka dipanggil seperti pemilik pulau diminta tidak membiarkan pulaunya menjadi lahan yang tak berguna.

"Dan saya menghimbau, bagaimana menghidupkan lahan tidur itu biar bisa hidup yaitu dengan tiga, yaitu dibangun sendiri, dikerjasamakan dan dikelola bersama dengan baik oleh masyarakat," urainya.

Setelah dievaluasi terkait dengan kepemilikan pulau, bupati ke enam menduga pulau-pulau yang digunakan secara pribadi, maupun resort, banyak yang tidak memenuhi syarat seperti dia tidak punya AMDAL, dia tidak punya IPAL, dia tidak punya IMB.

"Setelah kita tahu kondisinya seperti ini, jangan sampai kita menjadikan itu sebuah permasalahan, justruh sebaliknya kita segera menyelesikan masalah ini, jangan dibiarkan berlarut-larut. Saya berdialog dengan pemilik-pemilik pulau tentang permasalahan utamanya," ujarnya.

Namun begitu, dirinya tidak ingin  menyalahkan orang lain, dia ingin melakukan perubahan terutama perubahan terhadap mindset.

“Saya ingin menagajak semua jajaran yang ada di Kepulauan Seribu untuk merubah mindset, dari biasa yang dilayani, kita yang harus melayani  itu kata kuncinya, dan untuk selanjutnya kita akan bikin pelayanan satu atap. Bahkan saya sudah membuat ruangan khusus, dan disetiap harinya harus ada orang yang melayani, karena pelayanan untuk perubahan reformasi didalam sebuah birokrasi, salah satunya adalah pekerjaan yang sangat terukur, baik terukur biaya dan terukur waktu. Itu dinamakan komitmen, dengan adanya perubahan itu mereka setuju dan menyambut dengan baik," tegasnya.
    
Sosoknya tegas, namun bukan keras. Jiwanya sangat komunikatif dan selalu menghargai pendapat orang lain, termasuk bawahannya. Semangat hidup yang melandasi pengabdiannya selama ini dikelola dengan manajemen yang baik, sehingga mampu menjadi energi luar biasa. Berikut hasil wawancara Buletin Kepulauan Seribu dengan ayah dari Adriana Dhananjaya, SE, MH, Ardhila Parama Arta, BSc (HONS), MSc, Alvia Anjani, buah pernikahannya dengan Hj Susi Adriana ini.

Apakah jajaran Anda sudah siap untuk diajak berlari?

Saya belum menjamin itu, tapi saya selalu mengajak teman-teman kalau untuk merubah reformasi demokrasi, kita harus berani mengambil sikap, dan saya jamin, siapa yang tidak mau mengikuti saya, akan tertinggal dan sebagai  konsekuensinya mereka akan saya lepas.

Bagaimana membangun Kepulauan Seribu untuk kedepan?

Kita harus siap memberikan pelayanan,  tidak ada lagi cerita pemain lambat, tidak ada lagi cerita menunda-nunda bagi saya. Kalau investor atau swasta, ada 3 hal yang sangat mereka harapakan, yaitu kenyamanan, kepastian, dan pelayanan yang profesional. Dari 3 itu saya sudah bisa menduga, kalau kita menarik investor, satu hal tidak boleh kita abaikan dan harus kita jadikan komitmen adalah pelayanan, pelayanan yang akuntable, transparan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah sebuah komitmen yang harus kita lakukan, kalau itu sudah sepakat, saya yakin siapapun mau kita layani.

Apa program yang ingin segera dilakukan?

Yang paling pendek adalah bagaimana kita merubah mindset, baik yang ada di kabupaten atau aparat maupun yang ada di masyarakat. itu namanya konsolidasi kedalam, dan saya butuh waktu dua minggu untuk itu, dan minggu ketiga sudah saya putusan apa yang harus saya lakukan, saya harus berangkat ke masjid-masjid yang ada di Kepulauan Seribu, kemudian malam hari saya harus datang ke masjid-masjid di pulau untuk berdialog bersama-samaa masyarakat, dan siang harinya dimana ada kesempatan, saya berdialog dengan warga sekitar.

Sebagai seorang Bupati bagaimana Anda memimpin Kepulauan Seribu?

Untuk pengambilan sikap, saya tidak memikirkan populis atau tidak populis, yang paling penting masyarakat tau benar apa yang kita lakukan, pertanyaannya apakah seluruh masyarakat setuju? belum tentu. Tapi saya yakin apapaun yang kita lakuakan semua tergantung niat kita dan saya akan dalami, tidak sedikit LSM di pulau seribu yang protes, meski protesnya bukan ke saya, tapi ke pemerintahan tahun lalu, tapi saya bisa menangkap, Oh berarti mereka pengennya seperti ini.

Bagaimana Anda melihat masyarakat Kepulauan Seribu secara umum?


Sebenarnya semua masyarakat Pulau Seribu berkeinginan untuk memajukan pulau, persoalannya adalah bagaimana cara mengajak mereka mempunyai  rasa memiliki pulau. Kalau saat ini terpecah kiri kanan karena mereka merasa punya kepentingan sendiri, dan itu secara psikologis manusia memang seperti itu, tapi kembali lagi, kita sebagai aparat mengajak masyarakat untuk merubah mindset.

Saat ini Kepulauan Seribu menjadi tujuan wisata, apa strategi Anda untuk meningkatkan kunjungan wisata?

Ketika kita tiba pada konteks itu kan harus ada sarana dan prasarana yang harus kita siapkan, yang notabene-nya itu tanggung jawab pemerintah, dan  masyarakat harus mendukung. Dalam dua tahun saya jamin pembangunan Pulau Seribu sudah hebat, perubahan struktur, perilaku masyarakat, dan punya konsep ingin jauh lebih maju lagi.  Saya berjanji untuk pendidikan kita akan kelolah masyarakat yang ada di Kepulauan Seribu ini untuk jauh terbang lebih tinggi lagi, dengan catatan mereka juga turut serta untuk membangun.

Jaya Pulauku Seindah Jakarta Baru, itu maksudnya apa?


Jaya pulauku artinya kemenangan yang ada di kita, karena kita punya konsep dan kita punya pariwisata yang harus maju, makanya harus jaya, yang seperti apa? yang seindah seperti yang diharapkan Jakarta baru kita. Kalau saya lihat kalimat ini itu nyambung dengan visi misinya gubernur. jaya pulauku artinya kita membangun pulau itu sendiri. Yang seperti apa? yang seindah Jakarta baruku. Karena kita tidak terpisahkan dari bagian Jakarta Baru.


Read More »

0 komentar
Jangan kaget bila melihat penampilan penyanyi Raisa saat ini terlihat lebih ‘gelap dari biasanya. 
 
Penyanyi ini baru saja menyelesaikan syuting video klip terbarunya berjudul Melangkah. Lagu ini merupakan single keempat Raisa setelah Serba Salah, Apalah (Arti Menunggu), dan Could It Be, yang lebih dulu dilepas.

"Alhamdulillah. Sekarang semua single aku sudah ada video klipnya," kata Raisa saat ditemui di Hardrock Cafe, Jakarta, Selasa malam (18/12).

Pengambilan gambar dilakukan di Pulau Sepa dan Pulau Gosong, Kepulauan Seribu, selama dua hari. Raisa senang karena takjub melihat keindahan alam di sana. "Di sana benar-benar indah," katanya.

Dari sana, Raisa membawa oleh-oleh. Bukan barang, melainkan kulitnya yang agak menghitam lantaran sering terkena terik matahari. Tapi ia tak khawatir."Saking semangatnya, aku enggak takut gosong. Di sana memang lumayan panas. Tapi aku puas karena hasil klipnya bagus," ujar perempuan berusia 22 tahun ini. tmp
 
Sumber : surabayapost.co.id 
 

Read More »

0 komentar
Boyband cilik Super 7 menikmati liburan sehari di Pulau Pramuka, Pulau Seribu. Namun saat melepas penatnya melihat keindahan laut, Bidi, salah seorang personel Super 7 terlihat galau.

Teman-temannya yang sedang bermain bola melihat Bidi duduk menyendiri. "Kayaknya Bidi lagi galau," ujar Raza. Mereka pun langsung menghampirinya.

"Ada yang lagi galau nih," kata temannya.

Bidi pun langsung menjawab. "Galau homesick. Kangen Bali, kangen pantainya. Kalau di sini udah agak kotor. Di sini agak mirip Bali. Kangen Bali, surving, main sama temen," ujar bocah bernama lengkap Bryan Domani dalam tayangan Hot Shot, Ahad (14/10).

Di Pulau Pramuka, nama Super 7 ternyata cukup mashur. Terbukti kehadiran mereka mendapat sambutan dari warga, terutama remaja dan anak-anak. Tapi karena bukan acara temu fans, Brian dan kawan-kawan cuma bisa meladeni fans seadanya.

Apalagi liburan kali ini bukan hanya untuk bersenang-senang. Mereka harus mengikuti acara peduli lingkungan laut dengan menanam koral di pantai Pulau Pramuka.(MEL)

Sumber : liputan6.com

Read More »

0 komentar
Girlband Blink jalan-jalan melepas lelah ke Kepulauan Seribu. Mereka berencana belajar diving yang baik dengan pakarnya di Kepulauan Seribu.
Tetapi, setibanya di Pulau Pramuka, rencana diving mereka menemui kendala. Ivy, Pricila, dan Via, tidak mempersiapkan kostum renang. Hanya Febby yang siap, tapi ia harus puas karena hanya bisa snorkeling di tepi pantai.


Kesempatan itu tak disia-siakan Febby. Ia mengaku sangat puas telah mencobanya. "Seru ikutan snorkeling ini pertama kalinya aku," kata Febby dalam Tayangan Hot Shot, Ahad (14/10).

Meski belum sampai ke tengah pantai, Febby terkagum-kagum dengan keindahan terumbu karang di dalamnya. "Terumbu karangnya bagus-bagus. Cuma melihatnya dari atas, nggak terlalu ke bawah. Masih anak-anak nggak boleh ke tengah. Terumbu karangnya masih yang biasa aja, cuma bagus," katanya.

Berbeda dengan Febby, Pricila dan Via mengobati penasaran tentang diving dengan mencari kepada pakarnya. Mereka nggak menyangka wanita-wanita cantik itu sangat profesional dalam urusan diving.

"Keren perempuan cantik-cantik tapi semuanya berani masuk ke laut," kata Via terkagum-kagum.(MEL)
Sumber : liputan6.com

Read More »

0 komentar
Nina Tamam (Foto: Runi/Okezone)
Nina Tamam (Foto: Runi/Okezone)
DI tengah kesibukannya sebagai penyanyi, Nina Tamam ternyata juga hobi traveling. Dia mengaku sangat menyukai wisata pantai, namun anehnya, pilihan pantainya tidak seperti kebanyakan artis kebanyakan.

Biasanya, sebagian besar wisatawan Indonesia memilih Bali sebagai destinasi wisata pantai terfavorit. Namun, tidak demikian dengan penyanyi solo Nina Tamam. Nina justru lebih menyukai pulau-pulau di Kepulauan Seribu dibanding Bali.

"Kalau pantai, aku lebih suka Kepulauan Seribu daripada Bali. Lebih sepi, terus juga tidak begitu jauh dari pusat kota Jakarta," kata Nina saat bertandang ke redaksi Okezone di Gedung HighEnd, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Pulau yang menjadi pilihan Nina di Kepulauan Seribu ternyata adalah Pulau Bira. "Pulau Bira itu cantik sekali. Airnya jernih, dan masih sepi karena belum banyak yang tahu. Kalau wisatawan kan biasanya ke Pulau Tidung atau Pulau Pramuka," ujarnya. Selain Pulau Bira, yang menjadi favorit mantan personel Warna ini adalah Pulau Putri Barat.

Meski memilih Kepulauan Seribu, bukan berarti Nina anti terhadap pantai-pantai di Bali. Bahkan diakuinya, ada pantai di sana yang selalu diingat hingga saat ini.

"Aku bilangnya ’pantai setan’. Nama sebenarnya sih Pantai Nyang-nyang, letaknya di sebelah Pantai Kamakandara," tukas Nina.

Pantai tersebut sangat berkesan baginya bukan hanya karena pemandangannya yang indah, namun jalan untuk mencapainya yang sulit. "Jadi itu pantainya cantik banget, untuk masuk ke sana kita harus masuk jalan-jalan yang ditutupi pepohonan dan menuruni 500 anak tangga," jelasnya.

"Wah begitu sampai, benar-benar tidak bisa terbantahkan indahnya. Tapi langsung lemas saat ingin pulang karena harus naik 500 anak tangga lagi," ujarnya sambil tertawa.
Sumber : travel.okezone.com

Read More »

0 komentar
Sebagai Kepala Suku Dinas (Kasudin) Pendidikan Kepulauan Seribu, Bowo Irianto menekankan perlunya peningkatakan keahlian dan keterampilan bagi para pendidik di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Sebagai bagian dari wilayah Pronvinsi DKI Jakarta, dia tak mau kualitas pendidikan di Kabupaten Kepulauan Seribu kalah dari wilayah lain di ibukota.
“Untuk meningkatkan kualitas pendidikan tentu harus dibarengi dengan peningkatan keahlian dan keterampilan para pendidik. Karena itu setiap ada pertemuan dengan para guru, saya selalu mendorong mereka agar terus meningkatkan keahlian dan keterampilannya,” ungkap Bowo.

Sejak bertugas di instansi Sudin Pendidikan di Kepulauan Seribu pada awal tahun 2011, Bowo mendorong para pendidik di Kabupaten Kepulauan Seribu agar rajin membuka wawasan lewat membaca. Selain itu para guru juga diminta untuk memanfaatkan teknologi informasi yang tersedia.

“Dengan membuka wawasan dan menambah ilmu, diharapkan kemampuan para guru ini dapat menular ke murid-murid yang mereka ajar,” imbuhnya.

Sosok sederhana ini mengaku, dunia pendidikan di Kepulauan Seribu sudah bisa bersaing dengan pendidikan yang ada di daratan Jakarta. Terbukti sudah banyak pelajar asal Pulau Seribu masuk Perguruan Tinggi terkemuka di Jakarta.

“Alhamdulillah anak-anak pulau tidak kalah dengan anak-anak di daratan Jakarta. Mereka bisa duduk bareng belajar bersama di Perguruan Tinggi terkemuka bahkan di perguruan tinggi negeri,” ungkapnya.

Bowo memiliki obsesi besar terhadap pendidikan di Kepulaun Seribu. Dirinya sering terjun langsung ke lapangan, bahkan tak segan menyempatkan diri mengunjungi sekolah satu atap di Pulau Sebira, Kelurahan Pulau Harapan walau hanya untuk sekedar silaturahmi di pulau paling ujung di Kepulauan Seribu itu.

“saya bangga dengan guru-guru di Pulau Sebira. Walau kondisi pulau yang jauh, mereka tetap semangat untuk mendidik. Dedikasi mereka patut diacungi jempol,” pujinya.

Tak hanya itu yang menjadi kebanggan Bowo, sejumlah guru di Kepulauan Seribu dinilainya telah banyak melakukan upaya yang baik demi meningkatkan kualitas pendidikan di pulaunya. Dia berharap, apa yang dilakukan para guru di sejumlah pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu dapat menjadi contoh dan dapat menularkan ke guru-guru lain yang bertugas di Kabupaten Kepulauan Seribu.

“lagi-lagi saya salut sama guru di Kepulauan Seribu, belum lama ini ada 5 tenaga pengajar yang mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam penyusunan teknis soal Ujian Nasional (UN),” imbuhnya.

Menurut Bowo, sejak dirinya bertugas di Kepulauan Seribu, ia memiliki semangat tinggi untuk terus memberi motivasi kepada para tenaga pendidik dan pelajar. Dia juga tak segan-segan memberi hadiah kepada para pelajar berprestasi, agar mereka selalu semangat dalam belajar.

"Saya sering memberikan buku-buku motivasi kepada anak-anak, agar mereka bisa menggali lagi potensi pada dirinya. Saya berharap anak-anak di Kepulauan Seribu siap dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin mengedepankan Iptek. Saya rasa kalau kita mau memanfaatkan kemudahan teknologi, tidak ada batasan untuk maju,” tegasnya. 



Read More »

0 komentar
Tangan tua Sawiyah (60 tahun) masih lincah memainkan jemarinya menjahit daun kelapa yang telah disusun rapi dengan benang berbahan sayatan daun kelapa. Daun-daun kelapa itu disusun berjejer memanjang ke samping dengan panjang sekitar dua meter dan dikaitkan dengan batang dahan kelapa sebagai pegangan. Sebelum dijahit, daun kelapa ini mesti direndam beberapa hari di laut agar lebih kuat, termasuk batang dahan kelapanya. Rendaman air itu akan membuat daun kelapa berwarna kecoklatan.

Di hari tuanya Sawiyah yang hidup sendiri di rumahnya memang tak bisa bersantai-santai. Perempuan ini masih harus giat bekerja mendapatkan rupiah demi membiayai kehidupannya. Wak Wiyah sendiri sebetulnya memiliki seorang anak. Namun bersama sang menantu, anaknya tinggal jauh dari pulau.  “Selagi bisa saya nda mau minta bantuan orang-orang,” katanya. Siang itu ketika ditemui Iman Cahyadi puloseribu.com pertengahan Mei silam di tempat biasanya ia membuat atap di Kampung Baru, Sawiyah tengah merampungkan pekerjaannya membuat atap rumah dari daun belarak (daun kelapa –red). Dalam dua jam Sawiyah bisa mengerjakan satu atap rumah. Untuk satu atap, ia jual seharga Rp. 2 ribu perak.

Selain membuat atap, Wak Wiyah, begitu sapaan akrabnya, juga bekerja mencari kayu bakar. Area kerjanya di bagian barat hingga ujung Pulau Tidung. Hampir setiap hari ia mengumpulkan berbagai kayu bakar. Kayu-kayu yang berhasil lalu dikumpulkan dan disusun hingga seukuran 1X1 meter yang nantinya akan dijual dengan harga bervariasi. Untuk jenis pelepah kelapa dihargai Rp. 35 ribu per meter. Sedang untuk jenis kayu angin dan kayu punaga Rp 45 ribu. Dalam sebulan kayu yang bisa dijual sekitar 3-4 meter. “Itupun kalau ada yang memesan,” katanya. Jadi ditotal pendapatan Wak Wiyah dari menjual kayu dan atap berkisar antara Rp. 100 -150 ribu perbulan. Hari gene, uang segitu pasti jauh dari cukup! Tapi bagi Wak Wiyah, uang segitu sudah alhamdulillah.


Jasa Wak Wiyah mencari kayu bakar ini biasanya dibutuhkan oleh para tukang pembuat kue keliling di Pulau Tidung. Tapi tak setiap mereka juga membeli kayu dalam bentuk
cash and carry. “Ada juga yang ngambel (ambil –red) dulu. Nanti baru dibayar,” ungkap warga Pulau Tidung RT 01 RW 03 Kampung Baru ini.

Meski tergolong kurang mampu, nyatanya Wak Wiyah bukanlah warga yang termasuk sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai sejak program ini digulirkan pemerintah beberapa tahun lalu. “Seperakpun Alhamdulillah belum pernah terima,” katanya. Menurut data yang diperoleh di Pulau Tidung warga kurang mampu tahun 2009 tercatat sebanyak 173 orang. Sedang tahun 2008 sebanyak 2008.


Dalam hidup ini Wak Wiyah punya prinsip. Kalau bisa ia tak ingin menyusahkaan orang lain, termasuk juga pada anaknya sendiri. Jika bisa ia ingin mandiri. Kepada
puloseribu.com, ia sendiri merasa beruntung. Meski tak berlebihan, ia tak memiliki hutang. “Biar kalau meninggal ndak ada halangan lagi,” ujarnya. [*]  
 
Iman Cahyadi & Alamsyah M. Dja’far
Foto: Iman Cahyadi

Read More »

0 komentar
Dia seorang guru di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu. Selepas dzuhur hingga magrib dia mengajar anak-anak pulau belajar agama. Beberapa jam kemudian, dia berubah menjadi pedagang ikan yang berjualan hingga Muara Angke, Jakarta Utara.

Muridnya lebih dari 135 orang. Gajinya tidak dalam bentuk rupiah, karena memang tidak ada yang menggajinya. Madrasah diniyah yang dia dirikan adalah inisiatifnya setelah lulus dari Ponpes Al-Mahbubiyah, Cilandak, Jakarta Selatan. Abdul Malik (30) benar-benar menerapkan plesetan kata 'mengaji' yang dulu sering dia dengar waktu masih nyantri: '
mengabdi tanpa digaji'.

Tahun 1998, Abdul Malik, saat baru lulus, merasa prihatin dengan kondisi anak-anak
pulau yang wala-wala (tidak tahu apa-apa soal agama). Dengan berbekal kepercayaan diri, dia mulai mengajar anak-anak, melakukan kampanye door to door, mempromosikan dirinya sebagai guru ngaji.

Tahun demi tahun, muridnya terus bertambah, dan dia pun merekrut teman-teman almamaternya di pesantren untuk mengabdi bersamanya. "Gajinya sementara dari Allah saja, ya. Kalau soal makan, insya Allah orang pulau masih bisa masak nasi," katanya setiap kali menghubungi rekannya untuk dijadikan calon guru di madrasahnya.

Sambil terus berdagang dan menjual ikan, Abdul Malik pun menyambi sebagai tour guide kecil-kecilan, mempromosikan pulaunya ke turis-turis lokal yang datang baik dari arah Ancol maupun Tanjung Pasir. Dari profesi amatirannya ini, dia banyak berkenalan dengan orang-orang dan mulai banyak yang simpati dengan perjuangannya.

"Setiap ada kenalan yang datang ke pulau, saya cerita tentang madrasah," tuturnya di depan warung lesehan yang menjual hidangan laut. Warung makan itu milik encang-nya. Abdul Malik juga ikut bantu-bantu di warung makan itu.

Malik menikah tahun 2008 dan sudah memiliki seorang putri berusia 2 tahun. Pernikahannya dia ibaratkan sebuah bahtera perjuangan karena dia tidak punya penghasilan tetap, tapi punya banyak pengeluaran tetap, terutama untuk membiayai madrasahnya.

Ungkapan lillahi ta’ala ternyata tidak seindah di bibir seperti yang sering orang lafalkan. Bagi Abdul Malik, lillahi ta’ala adalah perjuangan dalam harap dan cemas. “Lillahi ta’ala kalau duit tidak ada, tetap saja cemas. Anak-istri kan butuh makan,” katanya. “Alhamdulillah, sekarang sudah ada orang yang berinfak rutin untuk 10 orang guru di madrasah Rp 100 ribu sebulan,” kata dia.

Tahun 2007, dia mulai 'berani' mengirim anak-anak dhuafa di pulau untuk sekolah di Jakarta. Modalnya cukup silaturahim dengan pemilik yayasan sekolah. Diakuinya, membiayai 13 orang anak di sebuah SMK swasta memang berat, bahkan 4 orang di antaranya sudah gugur di tengah jalan. Sekarang sisanya yang 8 orang sudah selesai ujian, tapi tidak dapat mengambil ijazah karena belum membayar beberapa kewajiban.

"Saya nunggak SPP dan makan selama 1 tahun, jumlahnya Rp 27 juta. Siang-malam saya pontang-panting cari bantuan kalau perlu berutang demi anak-anak itu. Alhamdulillah, lewat kebaikan salah satu kenalan saya, ada restoran siap saji yang sudah membayari Rp 30 juta, yang langsung ditransfer ke rekening sekolah," kisahnya setengah pilu. Tagihan uang ijazah sebesar Rp 16,2 juta juga sudah berhasil dilunasi sebagian. Sekarang tinggal Rp 5,7 juta.

"Saya masih jualan ikan dan mengharap uluran tangan orang-orang berada," harapnya. Sekarang Abdul Malik dan istrinya menempati rumah salah satu kerabatnya yang sedang merantau ke luar pulau. "Anak saya masih kecil, saya juga baru 30 tahun, tentu jalan saya masih panjang dan saya tidak boleh mundur ke belakang," katanya bertekad. ( republika/puser)

Read More »

0 komentar

Dari tahun ke tahun, populasi sejumlah satwa atau hewan terus mengalami penurunan. Bukan saja karena diburu orang yang tidak bertanggung jawab. Namun karena habitat hidup satwa tersebut mulai tergeser oleh peningkatan jumlah penduduk.

Satwa yang makin sulit ditemui salah satunya adalah elang bondol. Harganya yang makin mahal, menjadi salah satu daya tarik perburuan satwa langka ini. Sebagai maskot DKI Jakarta, namun tak pernah terlihat elang bondol yang terbang bebas di langit Ibu Kota.

Karena ancaman kepunahan itu, Pusat Penyelamat Satwa terdorong menyelamatkan maskot Jakarta ini. Pulau Kotok di Kepulauan Seribu merupakan tempat bagi program konservasi dan rehabilitasi elang bondol. Hasil sitaan atau tangkapan akan dilepaskan di pulau itu.

Namun tak semua elang bondol langsung dilepas. Sebab banyak yang cedera sehingga harus disembuhkan dulu. Sosok yang peduli dengan elang bondol adalah dokter hewan dari Belanda, Femke den Haas. Sejak dibangun 2004, sudah 67 elang dilepasliarkan dari lokasi ini.


Femke den Haas mendirikan Jakarta Animal Aid yang bekerja sama dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu untuk mengelola pusat rehabilitasi elang di Pulau Kotok. Ada 31 elang, termasuk elang bondol. Elang-elang berasal dari razia di pasar burung atau penyerahan warga.


Tak hanya elang, Femke juga mempelopori sterilisasi kucing karena populasinya di Pulau Seribu sudah terlalu banyak. Femke juga memberikan pelatihan daur ulang sampah kepada warga. Sebab dalam setahun, sampah di Pulau Seribu berukuran tiga kali Candi Borobudur.


Femke berharap perjuangannya didukung pemerintah dengan penegakan hukum yang tak pandang bulu terhadap orang yang mengancam ekosistem satwa di Indonesia. Kepedulian warga memang perlu ditingkatkan. Jangan hanya bangga punya maskot elang bondol tapi tak merawatnya. Sebaliknya orang asing yang lebih peduli.
(lip6/puser)

Read More »

0 komentar
Achmad Ludfi, Bupati Kepulauan Seribu yang ingin menjadikan Kepulauan Seribu sebagai destinasi wisata bahari dan pusat budidaya ikan berlevel dunia. Obsesi bupati ke-5 ini tidaklah berlebihan, karena dengan potensi 110 gugusan pulau di Kepulauan Seribu, cita-cita itu tak mustahil tercapai, asalkan dilakukan dengan usaha keras dan komitmen tinggi.

"Cita-cita boleh tinggi, Kepulauan Seribu menjadi tujuan wisata berskala dunia dapat terwujud kalau kita mau serius dan komitmen mengembangkannya." ungkap Ludfi.



Ayah tiga anak ini memang tipe pekerja keras dan tak betah diam dibelakang meja. Dia selalu berusaha mencari tahu permasalahan yang ada di wilayah yang dipimpinnya dan menselesaikan dengan keseriusan.

Dalam memimpin Kepulauan Seribu, Ludfi mengedepankan kekompakan dengan jajarannya. Dia tek segan mengingatkan bawahannya untuk berlaku jujur dan mau membuka tangan bila dibutuhkan bantuan oleh masyarakat. Selain itu, pria berkacamata ini menekan agar transparansi menjadi prioritas dalam menjalankan program pemerintahan dan pembangunan. "Saya lebih suka turun langsung ke lapangan daripada hanya mendapat laporan. Bukannya tidak percaya, tapi saya lebih puas bila bisa mencari solusi bersama," tegas lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Bandung tahun 1981 ini dan strata satu Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) tahun 1985 Ini.


Mengenai apa yang akan dilakukan kedepan, Ludfi telah menggarisbesarkan program-program unggulan dan prioritas. Pertama yakni mengenai potensi wisata, Ludfi yang menyelesaikan program pascaserjana Magister Manajemen (MM) tahun 1996 ini mengaku telah memiliki konsep yang akan diaplikasikan. Dia berencana akan membangkitkan kejayaan wisata bahari di pulau-pulau resort. Sementara untuk wisata pulau pemukiman, kabupaten akan memfasilitasi jasa homestay dengan pola perkembangan wisata yang bernuansa back to nature dengan tetap memperhatikan kearifan lokal serta untuk melengkapi daya tarik wisata akan mengoptimalkan keberadaan cagar-cagar alam dan budaya .


Menapak tilas zaman kejayaan pariwisata di Kepulauan Seribu, mantan Sekretaris Kota Jakarta Utara dan Kepala Biro Tata Pemerintahan Pemprov DKI Jakarta ini mengatakan, kala itu Kepulauan Seribu salah satu trend mark wisata bahari resort di Indonesia, bahkan namanya hampir setara dengan Pulau Dewata Bali. "Bila dimasa lalu itu terjadi kenapa tidak dimasa mendatang kondisi itu bisa kembali terulang. Yang terpenting, kita mau membuka diri dan melakukan promosi wisata ke manca negara tanpa mengesampingkan kearifan budaya lokal," jelas Ludfi.


Melihat perkembangan wista Kepulauan Seribu saat ini, Ludfi mengatakan, titik awal dari perkembangan wisata bahari Kepulauan Seribu seutuhnya. Tak terbantahkan, pulau-pulau pemukiman yang infratruktur wisatanya belum memadai saja telah mampu menyedot pengunjung hingga ribuan orang per pekan. "Meski masih pengunjung lokal, kondisi itu sudah menjadi awal yang bagus. Bila infrastruktur sudah memadai, saya yakin tidak sulit mengembalikan masa kejayaan wisata bahari Kepulauan Seribu seperti di tahun 1997 lalu," ungkap optimis pria yang mengabdi sebagai PNS sejak tahun 1977 ini hingga sekarang.


Selain wisata, Ludfi juga terobsesi menjadikan Kepulauan Seribu sebagai pusat budidaya ikan dunia. Dari potensi laut Kepulauan Seribu yang luasnya 11 kali daratan Jakarta, didalamnya banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Pola budidaya ikan adalah program yang tepat dan strategis, karena dengan melakukan budidaya dapat mengendalikan siklus ekosistem dan keberadaan ikan. "Kita memiliki banyak hamparan laut seperti sawah di darat yang dapat digunakan sebagai ladang budidaya ikan yang mempunyai nilai jual serta budidaya biota laut lainnya," jelas suami dari Yuliani Ludfi ini.


Dari dua program itu, Ludfi mengunggkapkan bahwa keduanya adalah lokomotif dari pencapaian program inti Pemprov DKI Jakarta yakni kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, disamping pembangunan infrastruktur pendukung pemerintahan, dia juga tetap concern melaksanakan program pelayanan kemasyarakatan seperti meningkatkan mutu pendidikan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Sementara program listrik 24 jam akan mulai mereta di 2011 mendang.


"Apa yang kita lakukan tetap bermuara pada satu titik yakni kesejahteraan masyarakat. Warga Kepulauan Seribu harus ikut berperan aktif dan tak lagi hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya. Mereka harus berdaya di dalam pembungunan Kepulauan Seribu sekarang, besok, dan akan datang," tandas Ludfi.
(puser)

Read More »

0 komentar
Putri Bahari Kepulauan Seribu 2010, Nurulhudah Nabillah Aswari (19) atau akrab di sapa Nurul mengaku terpukau dengan keindahan Kepulauan Seribu setelah mengikuti rangkaian acara sebelum dirinya dinobatkan sebagai duta wisata muda pariwisata Kepulauan Seribu pada grend final Putra-putri Bahari Kepulauan Seribu 2010 di Pulau Bidadari.



Berdasarkan itu, mahasiswi Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta ini tergerak ingin lebih memperkenalkan potensi wisata Kepulauan Seribu ke manca negara dengan memanfaatkan dunia maya (internet), utamanya jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan yang lainnya.
 
"Langkah terdekat yang akan saya lakukan adalah mempromosikan keindahan Kepulauan Seribu melalui jejaring sosial, seperti facebook, twitter, atau yang lainnya," ujar dara manis kelahiran Linggau, 5 Desember 1991 ini saat berbincang dengan beritapulauseribu, Rabu (22/12).

Selain memanfaatkan media internet, pecinta seni dan senang berkomunikasi serta berhubungan baik dengan orang lain ini menggagas diadakannya event yang melibatkan komunitas, perusahaan, serta media. "Kegiatan itu dilaksanakan di pulau sehingga akan dapat meningkatkan ketertarikan wisatawan domestik maupun mancanegara," tuturnya.

Tentang keikutsertaannya di ajang Putra-putri Bahari Kepulauan Seribu 2010, sulung dari tiga bersaudara putri pasangan Saifudin Aswari Rivai-Lily Madari ini mengaku awalnya mengikuti ajang tersebut hanya untuk mengukur kemampuan diri dan menambah wawasan serta pengalaman.

"Tidak disangka saya berhasil lolos menjadi finalis Putra-Putri Bahari 2010 dan dinobatkan sebagai juara saat grand final," ujar Nurul yang ingin siap memikul tanggung jawab sebagai duta muda pariwisata Kepulauan Seribu satu tahun kedepan. (beritapulauseribu.com/puser)


FACEBOOK PULAU SERIBU


Read More »

0 komentar
Gerusan zaman tak mengubah tangan lemahnya membuka satu demi satu sabut kelapa. Batok kelapa keras dibukanya dengan golok lusuh yang rompang dibeberapa bagian. Sesekali peluh membasahi dahinya yang telah termakan usia.

Ya, dialah Sa'amah atau orang yang mengenalnya memanggil Wak Amah, wanita tua yang setia membuat minyak dari ampas parutan kelapa tua. Sejak 1950 lalu, nenek 15 cucu ini tak bosan mengaduk santan kelapa di atas wajan sekadar membuat satu liter minyak kelapa.
 
"Sekarang ma jarang yang beli. Paling hanya buat ngurut," kata Wak Amah saat ditemui beritapulauseribu.com dirumahnya yang sederhana di RT 03/04 Pulau Pramuka, Kelurahan 
 
Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, Minggu (23/1).
Dituturkan Wak Amah, dulu sebelum ada minyak sayur di pulau, minyak masakan buatannya banyak yang cari dan dipergunakan untuk menggoreng. Tapi saat ini, tak seperti itu lagi, warga sudah menggunakan minyak sayur yang mudah dibeli diwarung dan harganya jauh lebih murah.

"Minyak buatan saya sering digunakan buat minyak rambut anak-anak juga," ujarnya sambil mengisi satu demi satu botol minuman suplemen dengan minyak kelapa buatannya.


Wak Amah tak pernah bosan membuat minyak masakan, karena menurut dia, minyak dari sari pati kelapa ini banyak manfaatnya dan sewaktu-waktu pasti ada yang cari. Sa'amah menjual satu botol minyak olahannya seharga Rp 5.000.


"Minyak ini tahan lama, bahkan makin lama makin bagus," katanya. "Kalau ada yang mau beli kemari aja," imbuhnya dengan ramah.


Namun, kata nenek berusia 77 tahun ini mengaku, kelapa tua bahan dasar minyak buatannya belakangan ini sudah sulit dicari. Kalau dulu, tutur Wak Amah, kelapa tua banyak ditemukan di pulau-pulau. Bahkan, kata dia, di Pulau Pramuka juga banyak yang berjatuhan.


"Kalu dulu ma tinggal ambil, banyak yang jatuh dari pohonnya. Sekarang harus beli, itu pun pesan dulu," tutup Wak Amah mengakhiri pembicaraan.
(beritapulauseribu)

Read More »

0 komentar
Di era dewasa ini, pendidikan merupakan kebutuhan mutlak untuk menjadikan kehidupan yang lebh baik. Kiranya, prinsip itulah yang dipegang Sipon (60) warga Kampung Baru RT 04/03 Kelurahan Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan.

Betapa tidak? ibu dari tujuh anak ini mampu menyekolahkan dua anaknya hingga tingkat SMA hanya dengan mengandalkan berdagang sapu lidi.
 
Ya, sejak ditinggal suami ke alam baka enam tahun silam, Sipon atau wak Ipon akrab disapa warga ini adalah seorang pembuat dan pedagang sapu lidi di Kampung Baru Kelurahan Pulau Tidung. Setiap hari, dia berkeliling pulau menawarkan dan sekaligus mengatar sapu pesanan warga.

"Ada saja yang beli, lumayan buat makan sehari-hari dan sisanya ditabung buat
nyekolain anak," ungkapnya saat berbicara dengan beritapulauseribu.com di rumahnya yang sederhana, Sabtu (19/2).

Menurutnya, berdagang sapu lidi telah dilakoninya sejak 12 tahun silam, kala itu harga per ikat hanya Rp 1.500. Sekarang harganya mencapai Rp 7.000 per ikat. "Harganya bedah, kalau dulu blarak (daun pohon kelapa. red) masih banyak, sekarang sudah sulit," ujarnya.


Demi melihat dua anaknya lulus SMA, membuat semangat Wak Ipon menggelora. Maka tak salah, perempuan yang telah rentah ini banting tulang menjual sapu lidi, meski kini mulai tergerus dengan produk dan model sapu dari bahan sintetis.


"Selama masih ada yang beli, saya akan terus
bikin. Sebelum meninggal, saya hanya ingin melihat dua anak saya lulus sekolah dan semoga bisa kuliah," harapnya sambil terus meraut batang lidi dari daun blarak. (beritapulauseribu)

Read More »

0 komentar
Pajar mulai meninggi, sesosok kakek tua sekitar 86 tahun tengah duduk asik diatas bale bambu buatannya sendiri. Dengan kopiah haji menutupi rambutnya yang mulai jarang, dia mulai merajut bambu untuk dibuatnya menjadi bubu atau perangkap ikan. Matanya tenang walau tenaga tidak sekuat ketika ia masih muda. Jari tangan yang tidak kencang lagi, terus menyusun belahan bambu.

Kakek biasa dipanggil Kong Haji Yahya warga Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu ini awalnya kerja sebagai nelayan. Dia sudah bergelut dilaut semenjak usia sekitar 15 tahun. Sepulangnya dari laut, dia belajar membuat bubu bambu. Berbekal semangat dan kemauan tinggi,  jadilah dia saat ini pengrajin bubu bambu yang hasil karyanya cukup disenangi nelayan bubu pulau tersebut.

Hasil yang didapat dari membuat bubu bambu inilah, dia dapat menyekolahkan dua dari lima anaknya hingga ke bangku kuliah.  Kerja keras dan mengutamakan pendidikan menjadi prinsif hidup Kong Yahya. "Engkong ma seneng kalau anak-anak bisa sekolah tinggi. Jangan seperti engkong kepanasan di laut sejak muda." ujar Kong Yahya saat dijumpai di bale kesayangan yang telah pulahan tahun menemani hidupnya.

Selama ini, bubu buatannya dibeli oleh nelayan baik dari Pulau Untung Jawa maupun nelayan dari pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu. Bahkan, karena kualitasnya baik, tak jarang bubunya dipesan oleh nelayan dari Tanjung Pasir dan tanjung Kait, Tangerang. "Malah ada nelayan yang dari Sulawesi datang beli bubu
engkong," katanya yang tetap tekun mengerjakan bubu jenis butun.

Menurut dia, saat ini harga bubu buatannya dibandrol Rp 100 ribu perunit. Karena ingin kualitas bubu buatannya terjaga, dia pastikan bubu dapat selesai hingga tiga hari. "
Engkong ma nda mau buru-buru, yang penting bubunya bagus dan tahan lama," jelasnya sesekali mengusap dahi yang mulai dihiasi air keringat.

Kakek yang tampak masih segar meski di usia senja ini mengaku peduli dengan kesehatan. Maka tak ayal, dia paling tidak suka dengan asap rokok bahkan sekadar kopi pahit. "Kalau habis shalat subuh,
engkong sempatkan olahraga dan ngebersiin halaman. Makanya, engkong panjang umur," ujarnya sambil tertawa.

Kong Yahya yang telah meraskan tanah suci dari hasil menjual bubu ini mengaku akan selalu setia menjadi pengrajin bubu. Karena menurut dia, usaha ini harus terus ada sebagai warisan untuk generasi mendatang. "
Biar anak engkong pada kuliah dan ada juga yang jadi ustadz, tetap mereka engkong ajarin cara membuat bubu," tutupnya sambil terus merajut helai demi helai bambu. (bpsc)

Read More »

0 komentar
Siang itu sang surya mulai akan meninggi, sinarnya yang sedikit hangat mendekati panas mulai menyapu kulit warga Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan. Ini akhir pekan yang telah tak mampu lagi dihitung sejak pulau pemilik 'Jembatan Cinta' ini menjadi perhatian kaum urban untuk sekadar menghilangkan kepenatan aktivitas kota. Mereka menghabiskan waktu menikmati kejernihan air laut dan belaian pasir putih sambil menatap senja di upuk timur.

Ratusan bahkan mungkin ribuan para pecandu wisata datang tiap akhir pekan ke pulau yang konon, warganya dahulu cukup religius dan kuat mejaga tradisi lokal. Ekonomi warga mulai terangkat, itu menurut sebuah tulisan di koran besar di Indonesia. Warga yang sebelumnya menyambung hidup dengan mengorbankan hidup (nelayan muroami. red) kini beralih menjadi penyegar hidup mereka yang gila akan tempat indah dan nyaman menjadi pelaku jasa wisata.

Pertanyaan besarnya, apakah Juki (54) (nama disamarkan atas permintaan yang bersangkutan. red) salah seorang warga juga kebagian kue wisata itu?. Nah, tak salah kita lihat kehidupan sedikit kaum marjinal ini yang menyambung hidup dari hanya menjual pelepah dahan Pohon Kelapa untuk kayu bakar di tengah gempuran kompor gas yang hampir 100 persen digunakan warga Pulau Tidung untuk memasak. Duh, ini Jakarta sebuah ibukota negara, jadi kenapa harus ada Juki?.

Dengan menggunakan baju lusuh bergambarkan sebuah partai yang menjadi idola, Juki yang gubuknya tak jauh dari megahnya Kantor Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan ini mulai menyusun satu demi satu pelepah dahan pohon kelapa yang diambilnya dari lahan kosong di pulau itu. Dibantu istri dan ibu tercinta, pelapah penjadi harapan hidupnya itu mulai tersusun rapi dan siap di edarkan keliling ke daerah pemukiman.


Suara dari gesekan roda gerobak ke jalan aspal mulai menghiasi keseharian Juki. Dengan sabar dan penuh harapan, dia menawarkan pelepahnya ke tiap warga, kalau-kalau ada yang berminat untuk dijadikan kayu bakar. "Tiap hari seperti ini, biasanya ada saja yang beli meski hanya sedikit," ujar Juki sesekali menepis butiran keringat yang mulai mengganggu dahi hitamnya.


Dari menjual pelepah pohon kelapa, Juki mengaku dapat mengantongi uang sekitar Rp 15 ribu perhari. Itu pun, kata bapak lima anak ini kalau cuaca bagus. Bila hujan, pelepahnya tidak laku terjual. Sudah itu, dia dan istrinya banting stir pekerjaan yang tak kalah hebat yakni sebagai pembersih pantai dari sampah plastik. "Yang penting halal dan tidak menyusahkan orang lain, jadi pemulung juga kami jalani," kata Juki.


Lalu bagaimana dengan bantuan dari pemerintah, misalnya jatah beras miskin (raskin) atau jaminan kesehatan kalau-kalau dia dan keluarganya ada yang sakit?. Juki mengaku bersyukur, dia tak pernah absen mengambil jatah raskin yang menjadi haknya dan mendapat keringanan pelayanan kesehatan di Puskesmas setempat. "Perhatian pemerintah tidak kurang ke kami dan itu kami syukuri," jelasnya.


Namun, raut wajah Juki yang dihiasi kerutan kemiskinan mulai berubah muram saat disinggung pesatnya wisata di pulau tempat tinggalnya. Dia tegas mengatakan, warga yang mana menikmati hasil dari pariwisata, dirinya atau Juki-juki lainnya hanya menjadi penonton setia lenggak lenggok kemolekan wisata yang kembali menurut koran besar Indoenasi, wisata mampu meningkatkan ekonomi warga. Ya, ini hanya sebuah gambaran kecil dari sebuah lukisan kehidupan.


Jadi mungkin, bungkus sederhananya adalah kemajuan suatu wilayah tak melulu memberikan angin segar bagi semua warga. Dia yang dapat memanfaatkan kesempatan akan mendapat hadiah dari kesempatan itu. Sementara Juki yang hanya berperan sebagai fuguran hanya dapat termangu sambil mensyukuri kemakmuran saudara, kerabat, atau apalah namanya bergelimang rupiah dari pesatnya yang bernama wisata. (bpsc)

Read More »

0 komentar
Bagi setiap muslim dimana pun berada, pasti berkeinginan menuntaskan keimanan dengan pergi ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan Ibadah Haji. Demikian pun yang diimpikan seorang penjual mainan anak seperti Alek (51) atau bernama asli Warga asal Desa Gintung Kidung, Cirebon Jawa Barat.

Lelaki yang nampak masih terlihat mudah meski berusia lebih setengah abad ini, hampir 23 tahun berkeliling ke pulau-pulau pemukiman lainnya di Kepulauan Seribu menjajakan dagangannya. Banyak suka dan duka yang diungkapkan bapak empat anak  ini saat berdagang mainan di Kepulauan Seribu.

 
"Saat pertama kali ke pulau saya masih lajang, berkeliling jual mainan dari pulau satu ke pulau lainnya. Sekarang sih sudah enak transportasinya lancar. Kalu dulu, kita satu minggu baru bisa nyeberang," tutur Alek saat berbincang dengan beritapulauseribu.com di pelataran masjid Al-Makmuriah Pulau Pramuka, Minggu (7/8).

Kata dia, banyak perubahan yang terjadi di Kepulauan Seribu, seperti bangunan sekolah yang sudah pada bagus dan terawat. Bangunan lainnya pun demikian. "Sekarang jauh lebih baik, Pulau Seribu tidak seperti dulu yang serba terbatas," kata Alek yang mengaku dari menjaul mainan dirinya berhasil menyekolahkan anak sulungnya hingga keperguruan tinggi.


Alek mengaku, bila dibandingkan dengan penghasilannya di masa lalu, saat ini jauh menurun. "Kalau dulu warga sulit mencari mainan untuk anaknya. Jadi, dagangan saya yang dibeli. Tapi sekarang sih enak, kalau mau beli mainan tinggal naik ojek kapal ke Muara Angke atau bisa satu hari balik lagi naik kapal kerapu ke Marina Ancol," ucapnya.


Namun demikian, pedagang yang kadung cinta dengan pulau ini tetap bersyukur dan terus berusaha agar impiannya menunaikan ibah Haji bisa terwujud. "Apalagi yang kita cari didunia selain ibadah. Semoga di bulan baik ini (Ramadhan) doa saya untuk berhaji diterima Allah SWT," katanya mengakhiri perbincangan.(berita pulau seribu)

Read More »

0 komentar
Kedepankan Pemberdayaan dan Partisipasi Aktif Warga

Menjadi seorang pemimpin haruslah memiliki visi dan mau mengetahui segala potensi yang dimiliki di wilayah yang dipimpinnya. Maka tak salah bila seorang Astawan Husen, Lurah Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan, mengedepankan pemberdayaan warga dalam melakukan pembenahan tata kelola wilayah.

Tak hanya itu, lelaki kelahiran  Lelonggaluku, Kendari, Sulawesi Tenggara, 32 tahun silam ini, juga menggenjot partisipasi aktif dan peran serta masyarakat untuk ikut dalam tiap kegiatan baik yang bersifat sosial maupun keagamaan. "Kita ini pelayan masyarakat, dan harus mampu mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam pemebenahan wilayah," papar Astawan di Ruang Kerjanya Kantor Kelurahan Pulau Pari di Pulan Lancang, Kamis (12/5).
Dari itu, suami Ramlah Lamusu dan ayah handa dari M Faiz Husen (9) ini, mengaku terobsesi untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki Kelurahan Pulau Pari baik itu sumber daya alam maupun bidang perekonomian masyarakat. "Kita miliki  beberapa potensi unggulan yang tidak dimiliki kelurahan lain di Kepulauan Seribu, seperti pengolaan rajungan dan ikan teri di Pulau Lancang," ujar Astawan.
Selain itu, menurut jebolan Sekolah Tinggi Pemeritahan Dalam Negeri (STPDN) Tahun 2001 ini, di Pulau Pari yang juga pulau pemukiman di wilayahnya, meiliki sumberdaya hayati yang juga sebagai mata pencarian warga. "Di Pulau Pari juga dikembangkan budidaya rumput laut dan pengolahan keripik sukun," katanya. "Bahkan, di Pulau Pari juga dapat dikembangkan potensi wisata konsevasi," imbuhnya.

Alumni Magister Ilmu Pemerintahan (MIP) Universitas Satyagama Tahun 2005 ini, mengaku memilik program klasifikasi potensi wilayah guna mendukung pendapatan ekonomi sebanyak 2.534 jiwa warganya. Saat ini, kata dia, Kelurahan Pulau Pari tengah merintis konsep wisata bahari yang berorientasi pada wisata kuliner. "Untuk mendukung itu, kita juta gencar melakukan upaya biutifikasi wilayah dengan meningkatkan sarana dan prasarana wisata," tutur lurah yang murah senyum ini.


Lebih jauh, putra pasangan Husen Arini dan Siti Saerah ini mengaku bersyukur karena karakteristik warga yang dipimpinnya dapat menerima dan membuka diri untuk bersama-sama pemerintah melakukan penataan dan pembenahan wilayah. "Memang wilayah ini sudah tertata rapi. Jadi, saya ingin tingkatkan dan terus mencari inovasi yang diharapkan dapat bermanfaat untuk masyarakat," ucapnya.


Permasalahan yang masih mengganjal hingga saat ini, diungkapkan lurah yang hobi dan jago mengolah si kulit bundar ini adalah status kepemilikan lahan yang ditempati warga di Pulau Pari. "Kita sudah berbagai cara memfasilitasi masalah itu. Namun, terkait dengan posisi dan tanggungjawab, pemerintah hanya sebagai penengah kedua belah pihak," tandasnya. (bpsc)
 

Read More »

0 komentar


Ingin Jadikan Pulau Panggang Sentra Industri Rumahan
Lama mengabdi sebagai staf Bagian Ekonomi dan Pembangunan Kepulauan Seribu nampaknya menjadi modal utama Lurah Pulau Panggang, Husnul Fauzi membenahi ekonomi masyarakatnya. Sejumlah program pemberdayaan ekonomi digelontorkan, usaha-usaha warga dibina dengan konsep kesetaraan kesempatan melalui program usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) kios Usaha Kecil Menengah kembali difungsikan.

"Kami ingin Pulau Panggang menjadi sentra industri rumahan yang dapat menyuplai produk unggulan di Kepulauan Seribu. Langkah itu sedangkan kita lakukan dengan memberdayakan ibu rumah tangga lebih aktif berusaha," papar Husnul Fauzi kepada beritapulauseribu.com saat disambangi di tempat kerjanya di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, Senin (2/5).


Fauzi yang mengemban amanah sebagai lurah akhir Tahun 2010 ini mengungkapkan, rumus yang digunakan untuk mewujudkan itu yakni dengan cara pendekatan persuasif terhadap masyarakat. Dirinya selalu menampung dan mencari solusi bersama warga dalam menumbuhkembangkan perekonomian wilayah. "Banyak usaha yang harus dikembangkan di pulau ini. Jadi saya mantapkan hati untuk memprioritaskan program pemberdayaan ekonomi warga," jelas lurah yang mengidolakan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo ini.


Bersama istri tercinta Indriyana Fauzi dan segenap jajaran pemerintah kelurahan, bapak dua putera dan satu orang putri ini tak segan turun langsung ke masyarakat guna mengajak warganya selalu berupaya dan berusaha meningkat kesejahteraan. "Perubahan harus dari diri kita, prilaku meminta sudah tidak zamannya lagi. Kita harus mulai mandiri," tuturnya .


Fauzi yang lahir di Palaihara, Kalimantan Selatan pada 13 Oktober 1968 dari pasangan H Achmad Bajuri dan H Hamnah ini mengatakan, dirinya selalu ingin menciptakan perubahan baik pribadi dan lingkungannya. Dari itu, menjadi seorang lurah merupakan kesempatan emas untuk berkreasi menciptakan perubahan wilayah.


"Pulau Panggang satu dari dua pulau terpadat di Kepulauan Seribu. Saya tertantang untuk mencipatakan perubahan utamanya tata lingkungan dan sosial kemasyaratan," jelas Fauzi yang mengaku merintis karir dari hanya seorang staf bias ini. "Semuanya harus dari bawah, jadi kita dapat merasakan perjuangannya," tutup pria penggila sepakbola ini. (bpsc)

Read More »

0 komentar
Kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan nampaknya berbuah manis buat bagi Bahroni (26). Warga Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan ini, berhasil melenggang mewakili Provinsi DKI Jakarta dalam pemilihan Pemuda Pelopor tingkat nasional Tahun 2011.

Ya, Bahroni yang seorang tenaga pengajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pulau Tidung ini terpilih lantaran dengan keikhlasan dan tanpa mengharap balasan dia menanam ribuan pohon mangrove di sekitar pantai Pulau Tidung. Itu dilakukan sejak Tahun 2009 hingga saat ini.
Saat berbibcang dengan beritapulauseribu.com, Kamis (26/10), pemuda yang akrab disapa Oni ini mengungkapkan, awal menanam mangrove dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Karena, kegiatannya dianggap sia-sia.

"Dulu dianggap saya main-main. Saya sering diejek karena mengerjakan sesuatu yang sia-sia," ungkap Oni. Namun begitu, anak ke sembilan dari 10 saudara pasangan M. Nur dan A. Kati ini tak ambil pusing dan tetap melakukan kegiatannya menanam mangrove.


Keseriusan dan ketekunannya menjaga kelestarian lingkungan dengan menanam mangrove lama kelamaan mulai mendapat dukungan, utamanya rekan sejawat di sekolah tempatnya mengajar. "Para murid juga mulai membantu dan merewat bibitan mangrove," katanya.


Dari sikap tak pantang menyerah yang ditunjukkannya itu, kini Oni memetik buahnya. Selain terpilih sebagai wakil Pemuda Pelopor di tingkat nasional. Dia juga kerap mendapat tawaran kerja sama untuk kegiatan penanaman mangrove dari pihak lain.


Seiring dengan itu, Pulau Tidung kini menjadi tujuan wisata pemukiman yang sangat diminati di Kepulauan Seribu. Oni memanfaatkan kegiatannya sebagai paket wisata berbasis kepedulian lingkungan. "Ya, saya pernah diajak bersama salah satu sekolah menanam pohon mangrove di Pulau Tidung," katanya seraya tertawa.


Meski begitu, Oni mengaku tidak memasang harga tinggi untuk paket wisata yang dimilikinya. "Yang terpenting bagi saya, wisatawan yang datang mau menjaga dan peduli terhadap kelestarian lingkungan di pulau ini," jelasnya.


Kedepannya, pemuda kelahiran 17 September 1984 ini terobsesi untuk mengajak pemuda Kepulauan Seribu mau dan peduli dengan lingkungannya. "Banyak hal untuk menjaga kelestarian lingkungan kita. Untuk itu, pemuda harus menjadi garda terdepan," katanya. (***)


Sumber / Link :
BeritaPulauSeribu. com

Read More »