Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Masyarakat pulau Panggang sebagian besar adalah nelayan, struktur ekonomi masyarakat adalah Nelayan Tangkap. Berbeda dengan nelayan di Pulau Tidung misalnya, nelayan di Pulau Panggang bukanlah nelayan babang melainkan nelayan harian. Andaikanpun babang, paling lama satu minggu di laut, dan tidak sampai berbulan-bulan.

Ada macam-macam nelayan di Pulau Panggang, dan diantaranya adalah: nelayan ikan hias, nelayan jaring kongsi, nelayan jaring payang, nelayan jaring tegur (ada tegur tengah dan tegur darat), nelayan bubu, nelayan pancing, nelayan ngotrek, dan keramba kerapu.

Pekerjaan dapat dipetakan berdasarkan wilayah (i) Barat lebih banyak nelayan ikan hiasnya, (ii) Timur lebih banyak pegawai, nelayan jaring, dan nelayan pancing.
Orang di wilayah barat sekolahnya lebih rendah dibanding orang di timur. Orang-orang di wilayah Barat semenjak sekolah telah mencari ikan dan banyak yang tidak menamatkan sekolah. Orang di wilayah timur lebih peduli pada pendidikan, sehingga banyak yang menjadi pegawai. Karena di Barat jarang yang menjadi pegawai, maka mempersulit di kemudian hari bagi orang Barat untuk melamar pegawai karena tidak ada orang dalami.

Jaring yang pertama kali dipraktekkan adalah jaring kongsi. Disebut kongsi karena harus dilakukan bersama-sama (hingga 18 orang). Dulunya disebut jaring jepang atau muroami karena yang memperkenalkan adalah orang jepang cuma bukan pada jaman jepang melainkan jaman belandaii. Perkembangan teknologi menyebabkan pemangkasan jumlah orang yang terlibat dalam jaring kongsi, karena pada masa awalnya dulu orang yang dibutuhkan hingga 50- an.

Versi lain menyebutkan yang pertama kali dikenalkan adalah jaring tenara (berasal dari Banten). perbedaan jaring kongsi dengan jaring tenara adalah pada jaring tenara ikan diambil dengan membawa ’giringan’ yang berupa bunyi-buniyan seperti besi yang diadu/ditumbuk satu dengan lainnya atau seperti kerincingan dari atas permukaan laut, sedangkan pada jaring kongsi ikan digiring dari bawah laut, dengan risiko yang lebih besar, karena memanfaatkan tenaga manusia yang menyelam degan kompresor.

Nelayan jaring payang (aktivitasnya disebut manyang) ditekuni mulai pada masa 60-an. Orang yang mengajarkan manyang pertama kali adalah orang Bugis. Manyang disebut sebagai cara yang paling ramah lingkungan karena tidak menginjak-injak karang. Ada belasan juragan payang dan pada saat manyang anak buah mencapai 4-5 orang. Pada tahun 80-an, hasil manyang lebih besar dari ikan hias. Tapi untuk saat ini sudah lima bulan Pak Imka tidak manyang karena tidak ada ikan.

Nelayan ikan hias ada sejak tahun 1970. Menangkap ikan hias adalah pekerjaan yang diturunkani. Pak Hakim menjadi nelayan ikan hias karena orang tuanya juga, dan kini anaknya pun juga. Tidak tahu tahun persisnya, tetapi jaring tegur telah ada sejak lama meskipun kalah dulu dibanding jaring jepang. Jaring tegur ada dua jenis tegur darat untuk perairan dangkal dan tegur tengah untuk perairan dalam. Bekerja jaring tegur butuh berhari-hari di laut (berangkat minggu pulang kamis), jumat dan sabtu tetap bekerja di darat membetulkan jaring. Anak buah jaring tegur jumlahnya sama seperti jaring kongsi, sekitar 18 orang. Ini sebabnya jumlah nelayan tegur lebih banyak dibanding nelayan payang.

Untuk saat ini, tidak ada nelayan Pulau Panggang yang menjadi nelayan bagan padahal dulu paling banyak. Modal yang besar menjadi nelayan bagan adalah satu penyebab hilangnya profesi nelayan bagan. Seorang nelayan ikan hiasiiitidak mempercayai slogan konservasi laut bahwa jika laut tidak dirawat maka ikan akan habis. Argumen yang ia sampaikan sederhana saja: ikan masih ada sampai sekarang.

Masyarakat Pulau Panggang dinilai tidak kompak untuk urusan menjaga lautnya. Nelayan Pulau Panggang dilarang mencari ikan di wilayah lain (dapat diperbolehkan jika mengurus izin). Di Pulau Tonda misalnya, jika ada orang luar masuk maka hingga lima kapal orang lokal akan mengejarnya kecuali jika sudah ada izin. Nelayan Panggang tidak melakukan hal yang sama terhadap orang luar yang memasuki perairannya, bahkan ketika orang luar itu merugikan secara langsung nelayan lokal. Misalnya nelayan jaring payang yang dirugikan oleh kapal kursein yang beroperasi di dekat rumpon mereka sehingga ikan-ikan di rumpon tertarik ke jaring kursein. Tidak ada hal apapun yang mereka lakukan untuk mengusir kapal-kapal kursein tersebut. Misal kedua adalah pencurian balong di keramba. Meskipun sudah beberapa kali terjadi, para pemilik keramba yang notabene berada pada satu hamparan yang sama tidak bekerjasama menjaga keramba. Yang dilakukan adalah menjaga keramba masing-masing.

Dalam praktek sehari-hari nelayan telah mengelompok dengan hubungan bos/juragan-anak buah. Nelayan ikan hias, kongsi, payang, tegur, kesemuanya ada bos/juragan dan anak buah. Anak buah tidak terikat pada bos kecuali si anak buah memiliki hutang. Jika si anak buah tidak memiliki hutang, maka anak buah bisa bebas ikut/jual ke bos manapun yang paling menguntungkan untuknya. Pada kasus Pak Hakim, anak buahnya berpindah ke bos lain karena THR yang ia berikan dirasa kurang.

Pengelompokan alamiah ini tidak digunakan pada saat ada program bantuan dari pemerintah. Masyarakat diminta membentuk kelompok baru dan sesama juragan berkumpul menjadi satu kelompok. Pada saat bantuan jaring payang diberikan, dan itu tidak mungkin dipotong-potong untuk dibagi-bagi pada semua juragan di kelompok tersebut, akhirnya jaring itu teronggok percuma. Kesepakatan kelompok menyatakan bahwa jaring tersebut dijual saja untuk kemudian uangnya dibagi rata, tetapi hingga kini belum terjual. Andaikan pun terjual, hasilnya menjadi tidak lagi berkesinambungan dan memberi nilai tambah.

Hubungan pinjam meminjam uang melahirkan istilah pengentotan, ialah orang yang hutangnya menumpuk dan tidak dibayar-bayar. Orang pulau memiliki tiga opsi untuk meminjam uang (i) kepada juragan, (ii) kepada tetangga, dan (iii) kepada koperasi. Juragan dan tetangga tidak memintakan bunga, tetapi koperasi mengenakan bunga sebagai jasa. Untuk meminjam kepada koperasi butuh menunggu satu tahun, sedangkan dengan juragan dan tetangga bisa setiap saat. Prosedur apapun tidak dibutuhkan pada saat meminjam ke juragan dan tetangga, beda halnya dengan koperasi.

Meskipun tanpa prosedur, tingkat pengentotan tergolong rendah jika tidak bisa dikatakan tidak ada. Ada satu kasus seorang anak buah jaring kongsi yang berpindah juragan padahal ia masih punya hutang dengan juragan yang lama, tindakan yang dilakukan oleh juragan kreditor ini hanyalah mendatangi rumah si mantan anak buah untuk kemudian diajak bicara baik-baik. Dengan cara itupun terselesaikan urusan hutang piutang ini.

Perikanan Budidaya

Menurut beberapa nelayan keadaan sumberdaya ikan yang semakin menyusut secara otomatis membuat mereka berpikir mengenai profesi lain di luar nelayan tangkap. Introduksi budidaya seperti rumput laut telah dikenalkan oleh pemerintah sebagai program alternatif untuk keberlangsungan hidup (sustainable livelihood), namun kendala program ini adalah daya dukung lingkungan (carrying capacity) sekitar pulau.
Menurut Syakur masyarakat pulau lebih banyak meniru dan latah. Sehingga jika program diperkenalkan maka tidak banyak yang mengikuti sampai program itu terbukti sukses. Permasalahan ini kemudian menjadi mengemuka ketika mereka mulai meniru program yang sukses. Dalam proses peniruan seringkali pengelola program yang juga masyarakat pulau Panggang, tidak memperhatikan aspek sosial. aspek sosial yang dimaksud oleh Syakur adalah penyebaran informasi dan penyuluhan terhadap nelayan budidaya di luar kerangka proyek. Asumsi mereka adalah sebagai orang pulau seharusnya para pengelola proyek memperhatika masyakatnya sendiri, apalagi semua pendamping untuk program pemerintah adalah ‘orang pulau’.

Perkembangan masyarakat dari nelayan tangkap ke nelayan budidaya dapat memenuhi asumsi akal sehat masyarakat karena secara ekologis pulau Panggang telah rusak karena banyak faktor, antara lain praktek penangkapan yang tidak ramah lingkungan (sianida, bom), penangkapan yang melebihi ambang batas (over fishing), ledakan penduduk yang mempengaruhi ketersediaan ruang hunian, dan aturan main yang mengurangi akses masyarakat terhadap sumberdaya.

Namun secara kasat mata program budidaya yang berjalan pernah sukses sperti rumput laut, namun berangsur hancur karena daya dunkung lingkungan yang telah rusak dan penyuluhan yag tidak lagi intensif setelah proyek selesai. Program budidaya yang sekarang berlangsung dan ditiru oleh masyarakat adalah budidaya krapu. Budidaya krapu ini berlangsung tanpa penyuluhan dari penyuluh yang ada, karena nelayan-nelayan ini ‘di luar kelompok penerima manfaat’, atau d luar bentukan proyek.

Sumber : Tulisan Bpk. Sudiman,S.Pi, M.Si (Ringkas sejarah kultur budaya pulau panggang)


Sumber / Link : Pulau Seribu Jakarta

Read More »

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu
Menyematkan Keelokan Panorama Laut nan Menawan, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu atau lebih dikenali sebagai Kepulauan Seribu merupakan gugusan kepulauan di Teluk Jakarta yang membentang sekira 100 mil dengan luas 108.000 hektar atau mencapai sebelas kali luas daratan Jakarta. Kawasan taman nasional laut yang berlokasi 45 km sebelah utara Kota Jakarta itu merupakan kawasan pelestarian alam bahari dengan zona konservasi yang terus dijaga keindahan dan kebersihannya.
Anda yang berdiam di Kota Jakarta sebenarnya tidak perlu jauh-jauh ke Bali atau berlibur ke pulau indah lainnya di Nusantara. Untuk menikmati keindahan alam tropis laut Indonesia mengapa tidak kini mencoba plesir ke Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Kawasan ini kian hari kian digemari sebagai salah satu tujuan wisata favorit wisata bahari.

Jumlah pulau di kawasan ini nyatanya tidaklah seribu melainkan sekira 342 pulau dan yang ideal untuk tempat wisata ada 20 pulau dari 45 pulau wisata umum dan wisata khusus. 6 pulau di kawasan ini telah dijadikan sebagai tujuan wisata dengan sarana dan prasarana yang memadai, yaitu: Pulau Ayer, Pulau Bidadari, Pulau Kotok, Pulau Putri, Pulau Pantara, dan Pulau Sepa.
 
Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu Pulau-pulau di kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu sebagian besar tidak berpenghuni dan berupa pulau pasir dengan terumbu karang bervegetasi maupun tidak. Dari keseluruhan pulau di kawasan ini diperkirakan ada 17 pulau sudah tenggelam akibat abrasi alam.

Umumnya mereka yang datang ke Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu untuk menikmati keindahan alamnya dengan snorkeling atau diving. Pulau Tidung menjadi pulau yang paling lengkap fasilitasnya serta mampu menampung wisatawan dalam jumlah besar. Apabila Anda ingin mengunjungi pulau yang bernuansa alam maka Pulau Pramuka cocok untuk ekowisata dan wisata edukasi. Beberapa pulau lain yang dapat Anda sambangi, yaitu: Pulau Ayer, Pulau Bidadari, Pulau Sepa, Pulau Putri, Pulau Alam Kotok, Pulau Pelangi, Pulau Pari, dan Pulau Pantara.

Sebagian besar pantai di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dilindungi hutan bakau yang menjadi rumah bagi biawak, ular cincin emas, dan piton. Fauna di kawasan ini diperkirakan ada sekira 17 jenis burung, 350 jenis ikan karang, 2 jenis kima, 3 kelompok ganggang, 101 jenis moluska, 237 jenis terumbu karang, dan 6 jenis rumput laut.
 
 
Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu Sementara itu, flora  di Taman Nasional Kepulauan Seribu didominasi tumbuhan pantai, seperti nyamplung (Calophyllum inophyllum), butun (Barringtonia asiatica), bogem (Bruguiera sp.), sukun

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu mempunyai sumber daya alam khas berupa ekosistem karang yang unik yaitu terumbu karang. Pulau-pulau di kawasan ini dikelilingi terumbu karang tepian (fringing reef) dengan kedalaman 1-20 meter. Terumbu karang seniri merupakan salah satu sub sistem ekosistem perairan laut yang produktif. Beberapa jenis karang keras di sini, yaitu: seperti karang batu (massive coral), karang meja (table coral); karang kipas (gorgonia); karang daun (leaf coral); karang jamur (mushroom coral).
 
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu kini ditata menjadi dua wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara (3 kelurahan) dan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan (3 kelurahan). Pusat pemerintahannya sendiri ada di Pulau Pramuka dan sudah difungsikan sejak 2003. Mengingat sebagian besar wilayahnya merupakan perairan dan zona konservasi maka pengembangan wilayah kabupaten ini lebih ditekankan pada budidaya laut dan pariwisata.
 
Sumber : indonesia.travel 
 

Read More »

Ombak-ombak berkejaran di sela akar-akar bakau yang tumbuh memanjang. Kepiting dan ikan kecil berenang dengan mesra. Musim angin selatan sesaat lagi tiba, ombak lebih besar dari biasanya. Bakau yang baru berukuran 50 cm itu nampak rapi, dan siap menerima terjangan musim angin selatan.
Ratusan tahun lalu, di tengah lautan yang sama, sebuah kapal terombang-ambing dan awaknya berjatuhan kelaut satu demi satu. Kapal itu semakin goyah dan terjadi kebocoran dimana-mana. Pemilik kapal, yang merupakan orang Mandar, berseru untuk mengencangkan tiang dan tali layar.
Apa daya, sebuah ombak besar keburu menghantam sisi kapal, dan kapal itu hancur. Awaknya bergelimpangan di tengah lautan, bersembulan dan kehilangan nyawa. Hari menjelang pagi, hanya satu orang yang selamat, dan itu hanya si pemilik kapal.
Bertahun-tahun ia mengapung di tengah lautan luas tanpa mengalami kematian. Kaki dan tangannya telah ditumbuhi teritip dan ganggang. Kulitnya sudah rusak. Akhirnya terdamparlah ia di sebuah pulau, dan ia telentang diatas pesisirnya. Nafasnya tinggal satu-satu, kesaktiannya hilang begitu menyentuh pasir.
Penduduk pulau yang ada di sana kebingungan, sebab ada orang yang kulitnya sudah rusak dan ditumbuhi teritip namun masih hidup. Ketika ia ditolong, ia nampak sudah mendekati ajalnya. Ia berkata, “Aku sesaat lagi mati. Bila kamu ingin mandikan dan kuburkan aku, jangan kamu bersihkan kulitku”.
Ia akhirnya mati, dan sebelum mati ia meninggalkan sebuah amanat, “bila kamu ingin kuburkan aku, maka kapalku galangkanlah dulu”. Penduduk pulau tidak bertanya, sebab mereka yakin, si Mandar ini bukan orang biasa. Setelah kapalnya yang karam digalangkan, maka diadakan upacara penguburan. Ketika upacara ini, mengalirlah darah berwarna putih dari sela kulit Mandar. Oleh sebab itu, ia dipanggil dengan Darah Putih.
Ketika upacara penguburan diadakan, terjadi sesuatu di tengah lautan. Ombak bergulung-gulung dengan besarnya, sementara angin menghembus dahan-dahan kelapa menjadi terhuyung. Petir menggelegar. Para penduduk pulau panik, pemakaman baru saja dilaksanakan, belum lagi ada yang sampai ke rumahnya.
Dengan panik, para penduduk berkumpul kembali di dekat makam Darah Putih dan membuat sebuah mantra, “Hai Makam Darah Putih! Tolong lautan ini kau teduhkanlah!” Tak berapa lama, lautan menjadi teduh, angin berhenti, dan suasana kembali tenang. Makam itu kini bisa dilihat di Pulau Karya, sebelah Pulau Panggang.
Penduduk mulai ramai. Mulai banyak anak-anak dan penduduk Mandar, bugis, banten, dan jawa banyak yang menetap disana. Banyak juga yang wafat, dan dikuburkan. Perumahan mulai padat, dan pulau semakin menyempit karena padat. Banyak juga reklamasi untuk membangun rumah baru.
Hari beranjak malam, semua sudah mematikan pelita. Angin berhembus tenang, membawa suara-suara dari tengah lautan. Udara dingin, membuat semuanya menarik selimut lebih erat. Tak berapa lama, telinga dikejutkan dengan suara langkah kaki kuda. Menapak-napak penjuru pulau. Di pulau itu tidak pernah dijumpai kuda sebelumnya.
Seorang mengintip, alangkah terkejutnya ia melihat sesosok penunggang kuda putih. Lentera dibawanya disisi kiri, sementara sisi kanannya memegang tali kekang yang juga putih terang warnanya. Ia mengenakan surban, yang tampak bersinar di kegelapan malam. Kainnya menjulur seperti panji, sementara ia mengenakan jubah putih.
Janggutnya lebat, tetapi tak ada yang dapat melihat mukanya. Seorang yang mengintip itu nampak ketakutan, dan ia segera menutup jendela. Ini berlangsung sepanjang malam itu, dan paginya beberapa penduduk mengalami hal yang sama.
Cerita tentang penunggang kuda ini tersebar dari mulut kemulut. Ketika itu, malam jum’at, sekelompok juru ronda berjaga di tepi dermaga. Ada yang mengobrol tentang pulau, ada pula yang terkantuk-kantuk. Tiba-tiba, sang penunggang kuda kembali menampakkan wujudnya di kejauhan. Hal ini terus berulang setiap malam jumat.
Hingga pada akhirnya, di pulau-pulau terluar terjadi bencana. Beberapa penyihir dari Kalimantan dan daratan Jawa membuat suatu kutukan mengerikan. Entah apa alasannya, yang jelas setiap anak yang tidur di siang hari, maka ia akan hilang pada sore harinya. Tanpa jejak, dengan pintu kamar yang terkunci.
Keesokan harinya, anak-anak itu ditemukan bergelimpangan di jalan-jalan utama pulau. Telentang. Tanpa luka sedikitpun. Penduduk pulau geger, dan langsung diketahui bahwa ini adalah sihir. Tetapi siapa yang mengirimnya? Untuk apa? Kenapa pula menyasar anak-anak pulau ini?
Pada malamnya, seorang penduduk, yang kehilangan anaknya karena peristiwa itu mengalami mimpi. Sang penunggang kuda putih datang kepadanya, dan memberikan sebuah pertanda mengenai bencana yang menimpa pulaunya.
Keesokan paginya, si penduduk yang mengalami mimpi itupun memberitahukan kepada yang lain, dan segera dilakukan pencarian terhadap sumber sihir. Entah kenapa juga, di pulau Pramuka, Panggang, dan Karya, yang menjadi asal dari Sang Penunggang Kuda Putih itu tidak sama sekali terkena dampak dari sihir.
Ratusan tahun kemudian, berdirilah pemukiman modern diatas kepulauan itu. Pulau Panggang menjadi pusat Kelurahan, sementara Pulau Pramuka menjadi pusat kabupaten. Sudah ribuan orang yang menetap di sana.
Folklore yang ditemukan diatas, hanyalah sekelumit ceritera rakyat yang hilang dan membentuk kearifan setempat. Folklore, adalah salah satu unsur pembentuk kebudayaan dalam sebuah sistem masyarakat. Kepulauan ini adalah contoh terbaik bagaimana folklore membentuk kearifannya.
Bahnawi, 54, adalah seorang pelaut, sedangkan Haji Ahmad, 70, adalah pembangun dan saksi hidup berkembangnya pulau ini. Mereka mengajarkan satu prinsip filsafatis yang amat dalam, sedalam lautan yang menjadi penghubung kepulauan, rumah-rumah mereka.
Pada dasarnya, lautan, memiliki hati. Samudera raya ini memiliki perasaan yang dapat membaca hati setiap manusia yang berlayar dan tinggal di atas pulau-pulaunya. Kita, manusia, apabila memiliki niat baik, lautan akan mendukung kita, secara kasat mata. Entah itu berupa tenangnya lautan, keluarnya rizki yang melimpah dari dasarnya, atau dijaganya pulau dari kedatangan lanun dengan membesarnya ombak.
Apabila kita memiliki niatan jahat ketika datang ke lautan tersebut, atau memiliki etika kurang sopan, maka lautan dan kepulauan tersebut akan meluapkan kemarahannya, dari sekedar menegur, hingga meminta korban jiwa.
Ketika pembangunan dermaga, ada seorang pekerja yang dengan angkuh bermain-main di sekitar pantai dan dalam istilah Ibu Denta, seorang ketua RT, kurang permisi. Akibatnya, ia tenggelam dan secara ajaib, jasadnya hilang di dasar lautan. Ketika itu, ia tenggelam di bawah batuan proyek dermaga utama Pulau Pramuka.
Masyarakat setempat dan rekan kerjanya berusaha mencari tetapi tidak ditemukan juga. Akhirnya, warga meminta petunjuk dan “pembersihan” dengan doa seorang alim ulama, ustad pulau tersebut, dan ditunjukkanlah dimana mayatnya. Sang pekerja ditemukan dalam kondisi bersedekap, terduduk, bersandar di tiang jembatan dermaga. Di sana penyelam sudah mencari berulang kali, namun baru kali ini terlihat.
Filsafat yang dalam ini timbul akibat ikatan yang kuat antara pelaut, pulau, dan samudera. Kearifan mereka, yang menjaga pulau ini, sebetulnya memiliki arti utama bukan menghormati atau merawat lautan itu sendiri.
Sang Penunggang Kuda Putih, Sang Darah Putih dari Mandar, hanyalah simbol sebuah kearifan betapa lekat kehidupan masyarakat kepulauan ini dengan lautan. Berbeda dengan apa yang kita kenal sebagai wisata, mereka lahir, tumbuh, dan dimakamkan di kepulauan ini. Laut adalah rumah.
Dengan khusus, Sang Penunggang Kuda Putih, adalah simbol seorang syaikh. Haji Ahmad menekankan bahwa kepulauan ini adalah kepulauan yang religius. Bukan kepulauan yang lugu, yang primitif. Apabila masyarakat daratan memandang mereka sebagi masyarakat yang kampungan, salah besar.
Sang Penunggang Kuda Putih yang digambarkan menjadi syaikh penolak sihir mengerikan, menyimbolkan bahwa Umarolah yang mampu melindungi rakyatnya dari malapetaka. Bukan sosok putri, raja, pangeran, atau panglima. Syaikh adalah seorang yang mendalam pengetahuan agamanya dan mampu menjadi pemimpin bagi rakyat.
Sang Darah Putih, adalah simbol kegagahan seorang pelaut. Suku Mandar, dari Sulawesi Selatan, adalah suku yang dikenal amat sakti. Mereka mampu mengendalikan mayat, menyihir jarak jauh, dan menaklukkan lautan. Darahnya memang terkenal putih sebagai efek samping aji mandraguna.
Masyarakat Kepulauan Seribu terdiri dari mayoritas orang Mandar. Mereka inilah pewaris-pewaris kegagahan masa lalu, yang kini mulai ditinggalkan dengan kebijakan pemerintah yang hanya terfokus kepada pembangunan daratan dan kota besar. Jarang ada pembangunan yang memfokuskan pemeliharaan dan eksploitasi lautan secara optimal.
Makam Darah Putih, dipercaya sebagai makam keramat. Keramat disini diartikan seperti seorang pemilik terhadap rumah sewaan. Apabila kita ingin pergi dan kembali, tentu kita harus minta izin terlebih dulu. Demikian pula masyarakat sana.
Minta izin bukan diartikan pemujaan, tetapi, segala hal yang dilakukan, segala hal yang dibangun, diruntuhkan, diciptakan, dipindahkan, harus memperhatikan kearifan dan sejarah masa lalu. Jangan sampai segala pembangunan yang ada meruntuhkan peninggalan kebudayaan masa lalu, dan berganti menjadi kebudayaan industri yang terbukti gagal mempertahankan kearifan budaya asli Indonesia.
Mantra Darah Putih, yang dituturkan Haji Ahmad, sesungguhnya bukan bentuk kemusyrikan, tetapi secara kebahasaan menunjukkan kesadaran bahwa rakyatnya bekerja di lautan. Hidupnya amat tergantung dengan lautan. Apabila terjadi sesuatu dengan lautan, habislah penghidupan.
Ketika Sang Darah Putih ini wafat, barulah segala aspek kehidupannya kembali ke daratan. Kapalnya dinaikkan ke darat. Manusia, tercipta dari tanah, dan tanah ini secara umum disimbolkan dengan daratan. Ketika ia mati, ia akan serta merta kembali menjadi tanah. Betapapun jauhnya pelayaran, betapapun saktinya ia. Tanah, itulah hakikat hidup seorang manusia.
Bangsa pelaut kepulauan ini memang mencari makan di lautan, tetapi mereka akan pulang kepada asalnya. Mereka tercipta dari tanah, dan akan kembali tanah lagi. Ini menunjukkan sisi kesadaran masyarakat yang amat tinggi kepada asal kejadiannya, agar tidak sombong. Secara kebetulan pula, setiap orang yang ditanyai mengenai sejarah kebudayaan kepulauan, akan mengawalinya dengan ucapan “Maaf, jika saya salah, manusia memang banyak salahnya”. Sekali lagi, folklore yang dipandang sebagai fosil kebudayaan zaman dulu, jangan sampai hilang. Apabila itu terjadi maka dengan sendirinya akar kebudayaan akan hilang, dan arah kebudayaan yang sedang berkembang itu menjadi tak jelas. Hancur.

Sumber : risalahamar

Read More »



Kota Jakarta yang ramai dan bising membuat manusia lupa, bahwa di sisi utara ada ratusan pulau nan tenang, berpantai indah dengan alam bawah laut yang menawan. Kepulauan Seribu memang ibarat Hawaii di utara Jakarta.

Banyak orang Jakarta yang tidak menyadari potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Seribu. Ketika ditanya soal Jakarta, banyak warganya dengan lantang menyebut Jakarta Pusat, Barat, Selatan, Timur dan Utara. Namun, seringkali Kabupaten Kepulauan Seribu terlewat.

Pun demikian ketika ditanya soal wisata pantai, yang diingat adalah Bali, Lombok, Anyer, Pangandaran, Parangtritis. Padahal, Provinsi DKI Jakarta memiliki deretan pulau seindah kawasan Samudera Pasifik yaitu di Kepulauan Seribu. Travel Highlight kali ini akan mengupas primadona wisata bahari Jakarta ini.

Gugusan kepulauan seluas 8,7 km2 ini memiliki tidak sampai seribu pulau memang. Catatan resmi Pemprov DKI mencatat ada 110 pulau. Sepertiganya menjadi pulau wisata, yang lain adalah kawasan pemukiman, kawasan penunjang nelayan atau tidak dihuni manusia sama sekali.

Dengan Pulau Pramuka sebagai pusat pemerintahan, Kepulauan Seribu masih punya banyak hal untuk ditawarkan. Mereka menyambut semua perahu wisatawan sampai cruise mewah yang menyeberang dari Muara Angke, Muara Kamal, atau Pelabuhan Marina Ancol. Mau ke pulau mana, pilihannya ada di tangan wisatawan.

Taman Arkeologi Onrust misalnya, sebagai deretan pulau yang paling dekat dari Jakarta, menyediakan situs wisata sejarah peninggalan kolonial Belanda. Ada Pulau Onrust dengan bekas galangan kapal, Pulau Cipir, Pulau Kelor dengan Benteng Martello dan Pulau Bidadari.

Lebih jauh ke utara lebih banyak lagi pesona Kepulauan Seribu yang bisa memenuhi minat wisatawan. Anda mau snorkling atau diving? Ada Pulau Payung, Pulau Sepa, Pulau Semak Daun, Pulau Pari, Pulau Kotok dan masih banyak lagi. Bawa teman-teman yang banyak untuk kemping seru di Kepulauan Seribu. Banyak pulau sepi dan Anda bisa menjadi raja sehari di sana.

Tapi jangan khawatir dengan akomodasi di sana. Kepulauan Seribu menyediakan kamar mulai dari ratusan ribu di Pulau Tidung dan Pulau Pramuka, sampai resort romantis untuk berbulan madu di Pulau Putri, Pulau Bidadari, Pulau Pantara, Pulau Ayer dan Pulau Macan. Harga resor ini mulai dari Rp 800 ribu sampai 1,8 juta per orang per malam.

Kabar baiknya adalah, Kepulauan Seribu semakin populer di mata wisatawan. Beberapa pulau sudah menjadi favorit wisatawan dan menjadi ramai di akhir pekan.

Pulau Tidung, Pulau Semak Daun, Pulau Bira, Pulau Pari dan Pulau Bidadari adalah pulau-pulau yang sering didatangi wisatawan. Pulau-pulau ini mungkin bisa menjadi awal tujuan Anda saat berlibur ke Kepulauan Seribu, selain tentu saja mampir di Pulau Pramuka yang menjadi pulau utama.

Pulau Tidung adalah yang paling favorit untuk anak-anak muda karena memiliki Jembatan Cinta. Tapi bukan artinya pulau lain tidak punya pesona.

Seperti halnya deretan pulau di Samudera Pasifik dan Hawaii, maka setiap pulau di Kepulauan Seribu juga punya keunggulan dan keindahannya masing-masing. Tapi kan Anda tidak usah jauh-jauh melihat gugusan pulau di Hawaii.

Cukup dengan perjalanan perahu puluhan menit saja Anda pun sampai di Kepulauan Seribu, dan pilih sendiri pulau yang ingin dinikmati. Mumpung masih hari Kamis, yuk coba hubungi kawan-kawan dekat, siapkan perbekalan yang dibutuhkan dan sambut liburan yang seru di Kepulauan Seribu!

*tulisan merupakan kutipan dari situs http://travel.detik.com

Read More »