Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Setiap pulau di Kepulauan Seribu, memiliki nama yang unik. Nama unik ini memiliki sejarahnya tersendiri. Salah satunya adalah Pulau Lancang, Kelurahan Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan.

Menurut penuturan warga Pulau Lancang, Aman (89), salah satu tetua masyarakat yang masih hidup, sekitar tahun 1933 pulau ini masih dihuni oleh sekitar tiga keluarga. "Dulu itu cuma ada tiga rumah di sini," kata Aman membuka kisahnya.
 
Sebelum bernama Pulau Lancang, Pulau ini bernama Pulau Klancang. Diberi nama Pulau Klancang, ada sejarahnya. Dahulu ada sepasang Kakek Uwak Arus istrinya yang berkebun dan mengumpulkan Kayu Bakar. Kayu Bakar ini, dijual ke seberang daratan (sekarang Tangerang, Banten).

Uwak Arus ini membawa Kayu Bakar untuk dijual ke daratan seberang dengan menggunakan perahu. "Ketika hendak menyebrang ke daratan, perahu Kakek dan istrinya tersebut belum begitu jauh dari pulau, tiba-tiba ikan banyak yang berloncatan ke dalam perahu yang membawa kayu bakar tersebut," kisah Aman.


Karena banyak ikan yang berloncatan ke dalam perahu dan membuat perahu semakin berat, dibuanglah kayu bakar yang dibawa oleh kakek dan nenek ini. Setelah dibuang, kayu bakar hanya bersisa dua ikat.


Namun ikannya belum berhenti meloncat ke dalam perahu. Setelah ditelusuri rupanya ada kayu yang menarik perhatian ikan. Kayu ini adalah kayu dari tanaman Klancang. "Ikannya berhenti meloncat setelah kayu Klancang ini dibuang," kata Aman.


Mulai saat itu, pulau ini dinamakan Pulau Klancang. Seiring dengan berjalannya waktu, warga lebih mudah menyebut pulau ini dengan nama Pulau Lancang karena lebih mudah pelafalannya atau pengucapannya.
(Kang Lintas)

Read More »

Nah, rupanya Kepulauan Seribu sebagai bagian dari Jakarta tampaknya tak terlepas dari eksvansi bangsa yang dikenal memiliki etos kerja tinggi ini. Ya, para penjelajah samudera bermata sipit ini juga menoreh cerita masa lalu di salah satu pulau di Kepulauan Seribu di era pejajahan Bangsa Belanda di Indonesia khususnya di ranah Batavia yang saat ini bernama Jakarta.

Pulau tersebut adalah Pulau Karya yang terletak di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau yang memiliki luas daratan sekitar 6 hektar ini sekarang dimanfaatkan sebagai pusat Kantor Teknis Pemerintahan Kepulauan Seribu dan sejumlah instasi lainnya, seperti Markas Kepolisian Resor Kepulauan Seribu, Markar Danramil, dan juga sebagai Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Mengenang pulau yang dihiasi pantai pasir putih dengan air laut dangkal yang jernih ini tak terlepas dari penemuan berbagai macam alat kerajinan yang identik dengan Tionghoa. Bahkan, saat dilakukan penilitian oleh Dinas Permusiuman dan Purbakala DKI Jakarta sekitar Tahun 1973 lalu, ditemukan sejumlah tulang belulang yang memiliki kemiripan dengan tekstur kerangka tulang orang cina.

Dari itu, setelah beritapulauseribu.com menelusuri lebih dalam dengan meminta keterangan sejumlah sesepuh dan orang yang mengetahui sejarah Pulau Karya yang juga disebut warga Pulau Panggang adalah Pulau Cina atau Pulau Kuburan Cina. "Sejak 1973 oleh Gubernur Ali Sadikin, pulau itu diganti nama dengan Pulau Karya. Dulunya kita sebut itu Pulau Cina atau Pulau Kuburan Cina," ujar Abdullah (49), warga Pulau Panggang, Kamis (3/1).

Menurut mantan Lurah Pulau Panggang ini, dirinya pernah sering diajak oleh bapaknya yang kala itu Kepala Kampung (Sekarang Lurah. red) membantu Petugas Permusiuman dan Purbakala menggali tanah mencari bukti-bukti sejarah Pulau Karya. "Seingat saya, saat itu banyak ditemukan keramik dan geraba yang dihiasi tulisan-tulisan cina. Bahkan di sisi barat pulau yang saat ini jadi TPU ditemukan kerangka tengkorak orang cina," katanya.
Tak berhenti mencari fakta bagaimana orang Tionghoa bisa sampai di Pulau Karya?, beritapulauseribu.com mendapat cerita dari Ambas (52) yang juga pernah menjabat sebagai wakil lurah di Pulau Panggang. Menurut dia, konon sekitar tahun 1700-an, saat terjadi eksodus orang-orang Tionghoa ke Indonesia yang dijadikan pekerja paksa oleh Belanda karena dikenal memiliki etos kerja tinggi.

Kekejaman Negeri Ratu Elizabet kala itu membuat orang Tionghoa dan orang pribumi menderita. Tak dikatehui siapa yang menjadi pimpinan orang Tionghoa melarikan diri dari kerja paksa itu. Menggunakan kapal, mereka membawa harta benda berupa keramik dan lainnya. "Sayangnya, saat melintas di perairan Pulau Seribu, orang-orang cina yang melarikan diri itu diserang wabah penyakit yang mematikan," kisahnya.

Untuk mengobati serangan penyakit, kata Ambas, kapal itu berlabuh di Pulau Karya yang saat itu tanpa nama. Mereka berusaha mencari obat dan bertahan hidup di pulau tersebut. Sayangnya, karena tak ada obat yang dapat menyembukan penyakit mereka akhirnya satu demi satu meninggal dan dikubur di pulau itu. "Tidak diketahui apakah ada yang selamat, tapi kisah itu putus di saat mereka semua meninggal," paparnya.
Kini jelaslah sudah, kenapa pulau yang berhadap-hapan dengan Pulau Panggang ini sebelumnya bernama Pulau Cina atau Pulau Kuburuan Cina. Fakta sejarah menyebutkan peninggalan keramik berornamen cina dan kerangka tengkorak yang kini tersimpan di musium, membuktikan orang-orang Tionghoa pernah ada di Pulau Karya dan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. (kang Lintas)

Read More »

Pulau Kelapa - Entah bagaimana awal ceritanya diberi nama Pulau Kelapa, padahal saat ini pulau yang berada di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara ini minim pohon kelapa atau apapun yang identik dengan buah kelapa. Dari pada pusing, baiknya kita tinggalkan dulu mencari tahu asal nama pulau terpadat di Kepulauan Seribu ini, dan mengulas hal-hal yang menarik di pulau yang memiliki lima RW dan sekitar 6 ribu jiwa penduduknya ini.

Menurut sejumlah warga yang masih menyimpan kisah unik di pulau ini menyebutkan, ihwal Pulau Kelapa tersebutlah dua saudara kembar berasal dari Mandar, Sulawesi Selatan yang terdampar di perairan Kepulauan Seribu. Dua saudara ini terpisah yang satu terdampar di gugusan pulau sebelah utara dan satunya lagi di sebelah selatan. Tahun berganti tahun, keduanya menikahi penduduk setempat dan beranak pinak hingga sekarang.

"Kita hanya mendapat cerita seperti itu, kenapa namanya Pulau Kelapa kisahnya telah putus dan tak ada satupun warga di sini yang mengetahuinya," ujar Bahram warga Pulau Kelapa. Dikatakannya, cerita si kembar yang diketahuinya hanya dari mulut ke mulut dan tidak ada bukti atau keturunan yang mengaku dari si kembar itu. "Konon katanya, kembar itu terpisah satu terdampar di pulau ini dan satunya di Pulau Tidung," kata Bahram lagi.

Menurut penuturan Bahram yang juga sorang tenaga pendidik ini, satu yang unik di sekitar Pulau Kelapa adalah Pulau Pamagaran yang saat ini masuk wilayah Kelurahan Pulau Harapan. Dia mengisahkan, nama pamagaran disandangkan di pulau milik anak penguasa orde baru itu berasal dari kata pagar. "Entah tahun berapa, sekelompok bajak laut akan merampok Pulau Kelapa, namun bajak laut itu tidak dapat sampai ke pantai lantaran seakan-akan di perahunya terbentur pagar di sekitar perairan pulau itu," katanya
Lalu hal yang unik lagi di pulau ini adalah tumbuhnya sebatang Pohon Kresek yang besar hingga berdiameter sekitar tiga meter di tempat pemakaman. Pohon itu dipercaya warga memiliki nuansa mistis hingga sampai saat ini berdiri kokoh. "Sebagian warga ada yang percaya kalau pohon itu ditunggui makhlus halus, karena disekitarnya terdapat makam zaman dulu," terangnya.

Sementara Madi M Dail, Wakil Lurah Pulau Kelapa yang juga kelahiran pulau tersebut menambahkan, keunikan di pulau ini adalah terdaptnya sejumlah sumur yang memiliki perbedaan dengan sumur-sumur lainnya. Misalnya, dia menyebutkan sumur yang dibuat oleh mahasiswa Universitas saat melakukan Kuliah Kerja Nyata sekita tahun 1991 lalu. Sumur itu tak pernah kering dan rasanya tetap tawar dan segar meski selalu diambil airnya. "Bahkan musim kemarau sumur yang lain kering, sumur itu tidak," ujarnya.

Lalu, sambung dia, sumur yang unik juga terdapat di rumah seorang warga di RW 03 Pulau Kelapa. Sumur itu juga tak pernah kering maupun berubah rasa padahal sumur tetangganya sudah berasa asin. "Allahu Alam, apa sebabnya sumur milik warga itu tetap tidak berubah padahal bentuknya sama dengan sumur milik tetangganya. Menurut kabar, dulunya sekitar rumah warga itu terdapat banyak pohon besar yang tumbuh, mungkin itu sebabnya air dari sumur itu tetap tawar," jelasnya.

Sesungguhnya masih banyak keunikan dan hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal manusia di Pulau Kelapa, namun lemahnya sumber informasi sehingga penulis menemui kebuntuan untuk menggali lebih jauh kekayaan cerita dan kisah pulau dimana penulis dilahirkan ini. Tapi yang pasti dibalik keunikan yang ada, kondisi Pulau Kelapa kini tak pantas lagi dirayu seperti pada syair lagu "Rayuan Pulau kelapa" milik Ismail Marzuki.

Menurut hemat penulis, pulau ini telah mengalami degradasi yang akut. Lingkungan yang tak lagi tertata, kepadatan penduduk yang telah diambang batas, dan kesemerautan kehidupan masyarakatnya. Puluahan becak dan ratusan sepeda motor hilir mudik tak terkendali diatas jalan yang sempit dan rusak. Perlu kerja keras untuk mengembalikan keasrian Pulau Kelapa agar kembali dapat dirayu dan merayu. (bps/puser)

Sumber : PulauSeribu.co

Read More »



Kalau kita sedang berada di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu Utara, ada sebuah karang yang unik dan terletak tidak jauh dari kedua pulau ini. Karang ini sangat diminati oleh penyelam yang sering menyelam di Kepulauan Seribu karena berbentuk menyerupai "dua orang yang sedang berpelukan".

Karang yang disebut sebagai karang Pengantin atau karang Langka-langka ini, berbentuk dua orang yang sedang berpelukan karena memiliki legenda atau cerita tersendiri yang masih beredar dari mulut ke mulut di warga Pulau Panggang dan tersimpan sampai saat ini.
Asal muasal karang ini terbentuk, seperti kisah yang beredar di warga Pulau Panggang, berawal ketika seorang Pemuda Pulau Panggang, katakanlah Amsar, menikahi Pemudi yang merupakan putri Tokoh Masyarakat Pulau Panggang. Katakanlah si Pemudi bernama Fatimah.


Waktu itu, dan hingga sampai saat ini masih dipegang teguh, ada sebuah pantangan yang melarang pengantin yang baru menikah untuk menyebrang laut dalam kurun waktu sepekan bahkan walau hanya menyebrang ke Pulau Pramuka yang letaknya berdekatan dengan Pulau Panggang.

Larangan itu ternyata dilanggar oleh dua dua insan yang dimabuk cinta ini. Sehari usai menikah, mereka berdua menyebrang ke Pulau Pramuka dengan menggunakan perahu kecil. Karena berniat mengambil air, mereka membawa sebuah tempayan.

Usai mengambil air di Pulau Pramuka, mereka kembali ke Pulau Panggang. Dalam perjalanan kembali ke Pulau Panggang, tiba-tiba kondisi cuaca di laut mulai berubah. Angin mulai berhembus kencang.

Perahu yang dikayuh Amsar, terus bergerak. Istrinya memegang erat tempayan berisi air yang dibawanya. Tiba di atas karang langka-langka, angin yang berhembus semakin kencang. Perahu yang ditumpangi oleh pasangan pengantin yang baru menikah ini, mulai dihempaskan oleh ombak besar seiring datangnya angin kencang.

Lama kelamaan perahu pun terbalik. Fatimah langsung terjatuh ke dasar laut  bersama dengan tempayan yang dibawanya. Sang suami yang mengetahui istrinya tenggelam ke dasar laut, langsung menceburkan dirinya untuk menolong istrinya.

Karena ombak besar, dia berusaha menyelam. Namun, ketika sampai ke dasar laut, Amsar menemukan istrinya sudah tidak bernyawa lagi dengan posisi memeluk tempayan. Karena cintanya yang begitu mendalam terhadap istrinya, Amsar tak kenal lelah berusaha menarik jasad istrinya.

Anehnya, semakin kuat usaha Amsar menarik jasad istrinya, semakin kuat juga tempayan menindih jasad Fatimah. Amsar semakin dibutakan oleh cinta terhadap istrinya. Dia pun bertekad ingin mati bersama istrinya.

Air laut yang semakin bergelombang, semakin menguatkan niat Amsar untuk mati bersama dengan sang kekasih hati dan belahan jiwanya. Diapun memeluk jasad istrinya. Seusai Amsar kehilangan nyawanya, kondisi laut kembali tenang.

Pantangan yang dilanggar oleh Amsar dan Fatimah ini, memberikan bukti. Karena terbukti, warga Pulau Panggang semakin teguh memegang tradisi. Karang Penganting atau Langka-langka ini pun berbentuk dua orang manusia yang sedang berpelukan.

Beberapa penyelam pun melihat secara langsung bentuk batu karang yang menyerupai dua orang yang tengah berpelukan ini. Sampai saat ini, cerita Amsar dan Fatimah (keduanya nama rekaan), masih beredar dari mulut ke mulut dan menjadi salah satu cerita legenda Pulau Panggang.( kang lintas)

Read More »

Banyak cerita yang bisa dipetik dari perjalanan suatu wilayah seperti di Pulau Panggang. Diarea seluas 62,10 hektar, berkembang cerita heroik yang penuh patriotisme dari seorang yang gagah berani dalam menghalau gerombolan perompak. Meski cerita ini tidak tercatat diatas kertas, namun sebagian besar masyarakat Pulau Panggang mempercayainya dengan menjaga peninggalan makam kuno yang diyakini tempat bersemayamnya sang legenda tersebut.

Mengenai kehidupan di Pulau Panggang, pulau ini bisa disejajarkan dengan pulau-pulau di daerah lainnya. Patut diakui, dengan penduduknya yang sebanyak 5.443 jiwa membuat pulau tersebut terlihat sesak. Biar begitu, pola pikir nelayan yang modern, membuat mereka tak terlalu bergantung dengan hasil tangkapan di laut. Pasalnya, sebagian besar kehidupan nelayan disana kini mengandalkan penghasilan pada budidayakan ikan disekitar perairan dangkal.

Sekujur tubuh dari orang tersebut terdapat teritip (semacam kerang yang hidup di benda yang lama di laut). Setelah orang itu diangkat ke geladak dan teritip di cabut dari tubuhnya keanehan pun terjadi. Bekas cabutan keluar cairan putih yang diyakini warga adalah darah. Dari keanehan itulah warga sepakat menyebut orang terdampar itu Pendekar Darah Putih.

Kehidupan nelayan di Pulau Panggang yang kini terlihat nyaman dan tentram, bukannya tanpa perjuangan. Sebelumnya, pulau ini kerap dijadikan sasaran para perompak dan bajak laut. Berkat keberanian salah seorang penduduk pendatang, akhirnya pulau tersebut kini terlihat seperti sekarang. Memang tak ada tinta yang mencatat perjalanan pendekar penyelamat Pulau Panggang ini, namun beberapa makam tua yang ada diyakini masyarakat sekitar sebagai tempat peristirahatan terakhir "pahlawan" tersebut.

Pada masa itu seorang gagah berani yang disebut pendekar darah putih terdampar di pulau yang saat itu belum memiliki nama. Mengenai nama pendekar darah putih sendiri terdapat dua versi cerita yang diyakini warga. Pertama, konon pendekar tersebut terdampar di pantai Pulau Paniki yang tak jauh dari Pulau Panggang. Warga Pulau Panggang yang secara kebetulan sedang mencari ikan menemukannya terdampar dipantai dalam kondisi tak sadarkan diri.

Sedangkan versi kedua menyebutkan, Pendekar Darah Putih berasal dari Mandar, Sulawesi. Kedatangannya ke Pulau Panggang hendak mencari kerabatnya yang berada di pulau tersebut. Warga sendiri menggambarkan kalau Pendekar Darah Putih adalah sosok lelaki gagah yang memiliki ilmu kanuragan (beladiri) tinggi. Hal itu diketahui, setelah Pendekar Darah Putih bersama warga berhasil mengusir dan menangkap segerombolan perompak yang waktu itu akan merampok harta benda warga Pulau Panggang.

Soal nama darah putih dalam versi kedua ini, dimulai ketika Pendekar Darah Putih bertarung dengan belasan perompak. Dalam pertarungan yang tidak imbang itu, perompak berhasil melukai lengannya. Dari luka tersebut, bukannya darah merah yang keluar namun darahnya berwarna putih. Sejak saat, itu gelar Pendekar Darah Putih disandangkan oleh warga.

Dalam cerita yang diwarisi turun temurun, keberadaaan Pendekar Darah Putih ini berkaitan dengan nama Pulau Panggang. Setelah Pendekar Darah Putih yang dibantu warga berhasil mengalahkan gerombolan perompak, bahkan berhasil menawan tiga orang dari belasan perompak. Agar para perompak tersebut tak kembali lagi, pendekar ini mencari siasat, disuruhnya warga membuat perapian (Pemanggangan).

Api yang berkobar besar dari pemanggangan itu menyiutkan nyali perompak yang ditawan karena warga berteriak agar perompak itu dipanggang hidup-hidup. Selanjutnya, mata para tawanan itu ditutup dengan kain kemudian salah seorang warga bersandiwara untuk berteriak kepanasan seperti terbakar hingga teriakan terhenti seakan sudah meregang nyawa.

Mendengar teriakan itu, tawanan yang diliputi kepasrahan makin ciut nyalinya. Mereka menganggap, salah satu rekannya telah meregang nyawa diatas bara api. Pasalnya, disamping teriakan kepanasan, bau daging terbakar tercium oleh para tawanan ini. Padahal bau itu berasal dari seekor kambing yang sengaja dibakar oleh Pendekar Darah Putih. Setelah siasat itu selesai, dua perompak dilepas dan yang lainnya ditawan disuatu tempat tang tidak diketahui dua perompak yang dilepas itu.

Pendekar Darah Putih mengatakan kepada dua perompak yang dilepas itu agar jangan kembali ke Pulau Panggang atau nasib mereka akan sama dengan teman mereka yang dipanggang hidup-hidup. Sejak saat itu, Pulau Panggang aman dari perompak dan warga mengucapkan terimah kasih kepada Pendekar Darah Putih. Sejak itu, Pendekar Darah Putih menjadi satu bagian sejarah tersendiri bagi masyarakat pulau tersebut. Sedangkan peristiwa pemanggangan itu merupakan cikal-bakal disebutnya pulau itu sebagai Pulau Pemanggang atau sekarang lebih dikenal Pulau Panggang.

Peninggalan sejarah Pendekar Darah Putih berupa beberapa makam kuno sampai sekarang masih dijaga oleh warga Pulau Panggang. Warga meyakini salah satu makan itu adalah makam Pendekar Darah Putih. Pada bulan Maulud di hari tertentu biasanya warga tidak ada yang berani kelaut karena angin dan gelombang kadang-kadang menjadi tak terduga. Peristiwa itu diyakini sebagai waktu Pendekar Darah Putih mensucikan diri dan tidak boleh diganggu. Karena semasa hidupnya, pendekar ini memiliki kebiasaan mensucikan diri dengan bersemedi ditengah laut. Menurut para sesepuh Pulau Panggang, hingga kini keturunan darah putih masih ada di pulau ini. Namun, mereka tidak bersedia menyebutkan keturunan Pendekar Darah Putih karena dikhawatirkan akan terjadi sesuatu pada keturunannya. (kang lintas)
 
Sumber : PulauSeribu.co

Read More »

Pulau Pari - Dengan luas sekitar 94,57 hektar, Pulau Pari merupakan gugusan pulau yang masuk Pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (Pemkab Kep. Seribu). Sebelumnya, pulau ini merupakan pulau pengungsian bagi pelarian warga sekitar yang menolak dijadikan pekerja paksa oleh Belanda. Kini, Pulau Pari menjadi sentra budidaya rumput laut yang menopang kehidupan warganya.

Sebelum tahun 1900-an, Pulau Pari merupakan pulau tak berpenghuni dan belum memiliki nama. Berkuasanya Belanda pada waktu itu memaksa sejumlah warga sekitar Tangerang menetap disana untuk menghindari kerja paksa.
 
Seperti dituturkan Arsyad warga Pulau Pari sekaligus, keluarga pertama yang menghuni pulau tersebut. Sekitar 1900-an, ia dan keluarganya melarikan diri ke pulau yang tak berpenghuni dan tak bernama tersebut. Bermodalkan perahu cadik, sekuat tenaga ia mendayung perahu dari Tangerang ke pulau tersebut untuk menetap disana. "Saat menetap, kami menyebut pulau ini dengan Pulau Pandawa karena anak kami ada lima," katanya.

Kepergiannya ke Pulau Pari, lanjutnya, untuk menghindari kebijakan pemerintahan Belanda yang memaksa seluruh warga menjadi tenaga kerja paksa. Pasalnya, dari beberapa warga Tangerang yang sempat dijadikan pekerja paksa, mereka tak ada yang pernah kembali.


Semenjak tinggal di pulau tersebut, kehidupan keluarga Arsyad berjalan normal. Keahliannya sebagai nelayan, dijadikan modal untuk menafkahi seluruh keluarganya. Setelah beberapa lama menetap, Arsyad menyebut pulau tersebut dengan Pulau Pari karena disekitarnya terdapat banyak sekali habitat ikan pari.

Kehidupan keluarga Arsyad yang tenang ternyata tercium oleh para tetangganya. Karena tak lama kemudian, sejumlah keluarga yang berasal dari Tangerang mengikuti jejaknya ke Pulau Pari. "Kebanyakan para pendatang baru berasal dari Kampung Rawa Saban, Karang Serang, Ketapang, Mauk, dan Kronjo Tangerang," ungkapnya.

Karena berasal dari daerah yang sama, akhirnya keluarga Arsyad dan para pendatang baru tersebut berbaur membina suatu lingkungan sosial yang harmonis. Sekitar tahun 1943, kehidupan harmonis warga Pulau Pari sempat terusik dengan kedatangan Jepang yang menguasai pulau tersebut. Pada masa ini, sebagian besar warga dipaksa Jepang menjadi nelayan tangkap tanpa dibayar sedikitpun.

Beruntung, kekuasaan Jepang di pulau tersebut tak berlangsung lama. Sejak Presiden pertama RI mengumandangkan proklamasi, Jepang pun angkat kaki dari pulau tersebut. Sejak hengkangnya Jepang, salah satu warga Pulau Pari berinisiatif memberikan pendidikan bagi warga pulau untuk mengembangkan pola pikir masyarakat melalui pendidikan formal.

“Bapak Mansyur selaku pencetus sekolah rakyat (SR) disana merasa terpanggil untuk meningkatkan mutu pendidikan di pulau tersebut," ungkapnya. Sekitar tahun 1960-an, dengan swadaya masyarakat dan bantuan dari Pemerintah setempat, dibangunlah gedung sekolah sederhana. Pembangunan gedung sekolah ini, sekaligus menandakan perubahan SR menjadi Sekolah Dasar (SD).

Berkat pendidikan yang ada, akhirnya pengetahuan masyarakat mengalami perkembangan. Dari yang tadinya hanya mengandalkan penghasilan dari nelayan, mereka mulai mencoba mengeksploitasi perairan sekitar dengan melakukan budidaya. Rumput laut Bali menjadi pilihan sebagai komoditi untuk dibudidayakan.

Antusiasme masyarakat untuk membudidayakan rumput laut, ternyata mendapat lampu hijau dari pemerintah. Tak lama kemudian, pemerintah membangun pusat penelitian yang dimotori Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menempati sisi barat Pulau Pari, Gubernur Ali Sadikin langsung meresmikan Kantor LIPI yang berfungsi sebagai pusat penelitian rumput laut.

Kini, rumput laut Bali menjadi andalan budidaya yang berhasil untuk dijadikan bibit di perairan Pulau Pari. Ditambah lagi, dengan keindahan terumbu karang dan aneka jenis ikan di sekitar laut pulau tersebut memberikan banyak perubahan ekonomi bagi warga itu sendiri. (Kang Lintas)

Read More »

Pulau Tidung - Bagi warga Pulau Tidung Kepulauan Seribu Selatan mungkin tidak asing lagi mendengar nama Wa’Turup atau “Panglima Hitam” yang berasal Cirebon Banten Jawa Barat. Konon ceritanya beliau sudah lahir pada Jaman Kerajaan Syarif Hidayah Tullah dan dipercayai oleh masyarakat setempat adalah orang yang pertama kali menginjakan kakinya di Pulau Tidung.



Berawal dari peperangan Kerajaan Syarif Hidayah Tullah melawan Kolonial Belanda dan pasukan yang dipimpin oleh Panglima Hitam kalah dalam perang hingga akhirnya melarikan diri. Saat itulah Wa’ Turup dan beberapa prajurit lainnya melarikan diri Kepulau Tidung untuk mencari perlindungan dari serangan tentara Belanda. Hingga pada akhirnya Datuk dan beberapa sahabatnya memutuskan Pulau Tidung Besar ini di jandikan sebagai tempat persinggahan (tempat tinggal) hingga sampai akhir khayatnya.



Cerita ini bermula dari tabir mimpi Sugeng, salah satu warga Pulau Tidung Besar bertemu dengan si Panglima Hitam, dalam mimpinya ia di perintahkan untuk mencari makam orang pertama ini. Hingga pada tanggal 31 Desember 2006 makam tersebut ditemukan, terdapat disebelah Timur Pulau Tidung Kecil tepatnya di bawah pohon kedongdong Besar serta oleh warga dibersihkan, makamnya pun di Keramik dan hingga sekarang di jadikan tempat Ziarah bagi masyarakat setempat. Peninggalannya pun yang masih tersisah hingga kini diabadikan didekat makamnya seperti Keris,Pedang,Guci, Gendi dan tempat beribadah sewaktu ia masih hidup.



Tidak hanya menjadi tempat Ziarah bagi masyarakat Pulau Tidung saja, makam Wa’Turup (Panglima Hitam) ini juga menjadi salah satu objek wisata sejarah yang mengasikkan bagi warga Jakarta yang berkunjung Kepulau ini. Seperti yang di lakukan oleh anak-anak Universitas Unindra yang bertempat di Pasar Rebo Jakarta Timur mereka asik mengabiskan masa liburan di Pulau Tidung Kecil ini. “selain memancing dan berenang di laut, kami juga bisa mengetahui sejarah di Pulau Tidung ini”, kata Rio salah satu mahasiswa yang ikut berlibur. Ia juga merasa sangat senang bisa berlibur di Pulau Tidung ini. Selain itu hamparan pasir putih dan deru ombak menambah asiknya berlibur di Pulau yang tidak kalah bagusnya dengan wisata yang ada di Bali.

Read More »

Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungan yang diperlukan bagi pengamanannya disebut situs. Pengertian tersebut sesuai dengan pasal 1 ayat (2) Undang-undang RI nomor 5 Tahun 1992. Tentang Benda Cagar Budaya. Pulau Onrust adalah suatu situs yang mengandung benda cagar budaya dari masa kolonial yang perlu mendapat perlindungan dengan maksud untuk pelestarian dan pemanfaatannya guna memajukan kebudayaan nasional Indonesia.

Latar Belakang Sejarah
Pulau Onrust berperan pada masa Kolonial Belanda sekitar abad 17. Sebelum Belanda memanfaatkan untuk keperluan penjajahan, pulau-pulau di perairan Teluk Jakarta tersebut telah dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten.

Pulau Onrust pernah menjadi sengketa antara kerajaan Banten dan Jayakarta. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat, di depan kota Jayakarta. Sedangkan Banten juga mempunyai hak atas epulauan tersebut karena seluruh kepulauan seribu adalah bagian dari teritorial kekuasaannya.

Setelah VOC gagal menguasai perdagangan Banten pada 1610, atas izin dari Pangeran Jayakarta, Belanda menempati salah satu kepulauan di Teluk Jakarta sebagai tempat untuk perbaikan kapal-kapal yang berlayar ke Asia, khususnya Asia Tenggara. Oleh Pangeran Jayakarta VOC diizinkan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jakarta, yaitu Pulau Onrust, seluas 12 hektar dan jaraknya 14 km dari Jakarta. Tahun 1615 VOC mendirikan galangan kapal dan sebuah gudang kecil. J. Pieterzoon Coen mengharapkan Pulau Onrust dapat menjadi koloni dagang selain dijadikan pertahanan atas ancaman Banten dan Inggeris pada 1618. Pada tahun-tahun berikutnya dilakukan pembangunan untuk kepentingan VOC-Belanda di Pulau Onrust di antaranya pada 1656 dibangun benteng kecil bersegi empat dengan dua bastion (bangunan yang menjorok ke luar berfungsi sebagai pos pengintai).

Pada 1671 bangunan benteng tersebut diperluas menjadi benteng bersegi lima dengan astion pada tiap-tiap sudutnya, namun bentuknya tidak simetris. Semua bangunan tersebut terbuat dari batu merah dan batu karang. Pada 1674 dibangun gudang-gudang. Kedudukan Belanda di Batavia semakin tak menentu sehubungan dengan perang Eropa 1795. Ketidaktentuan semakin bertambah dengan adanya armada Inggeris di bawah pimpinan H. L. Ball pada 1800. Pulau Onrust dikepung oleh Inggeris dan dihancurkan. Belanda membangun kembali Pulau Onrust dan selesai pada 1806, kemudian dihancurkan lagi oleh Inggeris. Serangan Inggeris yang kedua ini dipimpin oleh Admiral Edward Pellow.

Dengan didudukinya Batavia oleh Inggeris pada 1810 bangunan-bangunan di Pulau Onrust diperbarui sampai Inggeris meninggalkan Indonesia 1816. Pulau Onrust diperhatikan kembali pada 1827 pada masa Gubernur Jenderal G.A. Baron Van Der Capellen. Kegiatan di Pulau Onrust berjalan kembali pada 1848. Tahun 1856 dibangun dok kapal terapung untuk perbaikan kapal di laut. Dengan dibangunnya pelabuhan laut Tanjung Priok tahun 1883 maka peranan Pulau Onrust semakin berkurang.

Pada 1911-1933 Pulau Onrust dijadikan karantina Haji. Sejak 1933 sampai 1940 Pulau Onrust dijadikan tahanan bagi para pemberontak yang terlibat “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien). Tahun 1940 dijadikan tempan tawanan orang-orang Jerman di antaranya Steinfurt mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust. Setelah Jepang datang di Indonesia (1942) peranan Pulau Onrust kurang penting dan dijadikan penjara bagi penjahat/kriminal kelas berat.

Pada masa Indonesia merdeka dimanfaatkan sebagai karantina penderita penyakit menular, di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI sampai awal 1960. Rumah sakit ini kemudian dipindahkan ke pos VII Pelabuhan Tanjung Priok.

Letak dan Lingkungan
Pulau Onrust adalah satu pulau di utara Jakarta, termasuk wilayah administratif Kepulauan Seribu, berada di koordinat 106--44 derajat Bujur Timur dan 6 derajat 02.3 Lintang Selatan. Pulau Onrust dapat dicapai lewat jalan air, melalui lima pelabuhan laut, yaitu Pelabuhan Laut Tanjung Priok, Pelabuhan Marina Ancol, Pelabuhan Pasar Ikan, Pelabuhan Angke dan Pelabuhan Muara Kamal. Dari kelima pelabuhan tersebut yang paling dekat adalah Pelabuhan Muara Kapal, bisa dicapai dengan perahu tradisional dalam waktu 20--25 menit.

Pulau Onrust dikelilingi oleh lautan yaitu Laut Jawa dan termasuk salah satu dari Kepulauan Seribu yang lebih dekat dengan Pulau Cipir, Pulau Kelor dan Pulau Sakit (biasa disebut Pulau Bidadari).

Deskripsi
Penduduk Kepulauan Seribu menyebut Pulau Onrust ini sebagai Pulau Kapal karena pada pertengahan abad 17 sampai 18 di pulau tersebut banyak berlabuh kapal-kapal VOC, (kongsi dagang Belanda) yang oleh penduduk waktu itu disebut Kompeni.

Saat ini Pulau Onrust dalam keadaan rusak, hanya beberapa bangunan yang masih dalam keadaan utuh (hasil pemugaran) dan beberapa penambahan bangunan dan monumen dari Pariwisata dan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Adapun sisa bangunan yang masih ada antara lain bekas penjara, bekas rumah dokter, gudang, kantor, reruntuhan bekas rumah sakit, kuburan, bekas dermaga dan pos penjagaan.

Pulau Onrust yang semula memiliki luas 12 hektar, mulai berperan pada masa kolonial Belanda pada 1618 sebagai galangan kapal, namun pulau-pulau di Teluk Jakarta ini sebenarnya telah digunakan sebagai tempat peristirahatan oleh raja-raja Banten. Pulau Onrust pernah pula digunakan sebagai benteng pertahanan atas serangan Banten dan Inggeris pada 1618 dan pada 1800 dihancurkan oleh Inggeris. Kemudian diperbaiki lagi tahun 1816. Pada 1911-1933 digunakan untuk karantina haji, tahun 1940 sebagai tahanan para pemberontak “Peristiwa Kapal Tujuh” dan pada tahun yang sama digunakan untuk tahanan orang Jerman.

Pada masa pemerintahan Jepang, Pulau Onrust digunakan untuk tahanan para penjahat/kriminal berat. Pada masa Indonesia merdeka digunakan untuk karantina bagi para penderita penyakit menular, di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI pada 1960. Sekarang pulau ini dijadikan situs cagar budaya di bawah pengelolaan Bidang Muskala Kanwil Depdikbud DKI dan pengembangannya oleh Dinas Pariwisata.

Mengingat peranan penting perairan Teluk Jakarta, khususnya Pulau Onrust yang telah dimanfaatkan sebelum maupun sesudah masa kolonial sampai masa Indonesia merdeka, maka Pulau Onrust perlu dilestarikan sebagai cagar budaya.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Read More »


Read More »


Read More »






Read More »

Benteng yang ada di Pulau Onrust Pulau Seribu
courtesy jakarta.go.id
Onrust Tahun 1615
Tahun 1610, Jan Pieterszoon Coen minta restu Pangeran Jayakarta untuk membangun dok kapal disalah satu pulau di teluk Jakarta untuk perbaikan kapal yang akan digunakan untuk berlayar ke Asia terutama ke Asia tenggara, permintaan ini disetujui oleh Pangeran Jayakarta dengan memberikan ijin pemakaian di Pulau Onrust, pulau seluas 12 hektar yang berjarak 14 kilometer dari Jakarta.

Benteng Pertahanan Belanda di Pulau Onrust Pulau Seribu

VOC mulai membangun dok perbaikan kapal dan gudang di pulau Onrust.  Jan Pieterszoon Coen pelan- pelan sudah berencana membangun perdagangan dan militer untuk melawan Banten dan Inggris.
Onrust Tahun 1656

mulai membangun benteng pertahanan kecil yang berbentuk persegi panjang dengan dua menara pengawas, dan tahun 1671 benteng pertahanan ini diperbesar, benteng berbentuk simetris  pentagonal dengan menara pengawas disetiap sudutnya.  Konstruksi benteng dengan dinding tebal yang terbuat dari bata merah dan batu karang.
Onrust Tahun 1674

Tahun 1674 Benteng ini ditambah dengan beberapa bangunan gudang .
Onrust Tahun 1795

Tahun 1795 Posisi Belanda di Batavia kurang kuat akibat perang eropah dan tahun 1800 angkatan laut Inggris yang dipimpin oleh Kapten Henry Lidgbird Balls dengan kapal HMS Daedalus, HMS Sybille, HMS Centurion dan HMS Brave masuk ke Batavia dan benteng pertahanan pulau Onrust dihancurkan.
Onrust Tahun 1848

Pulau Onrust diperhatikan kembali oleh Gubernur Jenderal GA Baron Van Der Capellen di tahun 1827, dan aktivitas di pulau Onrust kembali normal di tahun 1848.
Onrust Tahun 1911-1933

Tahun 1911-1933 pulau Onrust dan pulau Cipir menjadi karantina Haji, barak haji berjumlah 35 unit untuk kapasitas masing – masing 100 orang, jadi total dapat menampung 3500 orang.  Dibangun di tahun 1911. Karantina haji ini adalah bagian dari politik Islam dari kolonial Belanda, karena takut akan kekompakan umat Islam, pemerintah kolonial Belanda mengkarantina penduduk pribumi yang ingin berangkat haji maupun setelah pulang haji di maksud agar melalui karantina haji ini kolonial Belanda mudah mengkontrol, dan merupakan taktik Belanda.  Pulau Cipir tetangga dari pulau Onrust yang dihubungkan dengan jembatan ini masih terlihat sisa-sisa karantina haji walaupun sudah tidak utuh lagi, karantina haji ini mirip dengan penjara atau kamp konsentrasi.  Bangunan karantina seperti rumah sakit dan bark terbagi di pulau Onrust dan pulau Cipir, dengan pusat karantina di pulau Onrust, jemaah diwajibkan ikut karantina selama 5 hari.
Onrust Tahun 1933-1940

Tahun 1933 – 1940  pulau Seribu ini kembali digunakan Belanda untuk tahanan pembrontak yang terlibat insiden Tujuh Kapal “Zeven Provicien“.  Di tahun 1940 pulau ini digunakan Belanda untuk menahan Jerman seperti Steinfurt yang merupakan kepala adminstrativ Pulau Onrust.  Setelah jepang menyerbu Indonesia tahun 1942 peran pulau ini mulai menurun hanya digunakan sebagai penjara bagi penjahat dengan kejahatan serius.

Pulau Onrust Pulau Seribu setelah Kemerdekaan

Saat setelah kemerdekaan, pulau Onrust dijadikan karantina bagi penderita penyakit lepra dibawah kendali Departemen kesehatan Indonesia, hal ini sampai tahun 1960, kemudian karantina penyakit Lepra dipindah ke Tanjung priuk.
Chris Soumokil pendiri Republik Maluku Selatan ditangkap dan ditahan di pulau Onrust dan di eksekusi pada tanggal 21 April 1966 atas perintah presiden Soeharto.
On this date in 1966, an Indonesian firing squad on the island of Obira (or Obi) shot Chris Soumokil (the link is to his Dutch wikipedia page) for having styled himself the president of the Republic of the South Moluccas.
Soumokil was captured in December 1962 and imprisoned; he was executed* just a month after the Indonesian government was seized by Suharto, on a programme of putting disorder to the sword.
Onrust Tahun 1972

Tahun 1972 gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menyatakan pulau Onrust sebagai situs sejarah yang dilindungi.
Onrust Tahun 2002

Tahun 2002, pemerintah menyatakan pulau Onrust dan 3 pulau lain didekatnya (pulau Cipir, pulau Kelor dan Pulau Bidadari) sebagai Taman Arkeologi untuk melindungi situs – situs reruntuhan yang terdapat dipulau dari jaman VOC Belanda.

Read More »



Pulau Panggang – Bukti-bukti sejarah di Pulau Panggang yang merupakan salah satu pulau yang masuk Pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (Pemkab Kep Seribu), diyakini masyarakatnya sebagai saksi bisu bahwa Kelurahan Pulau Panggang memiliki sejarah panjang pemerintahan. Peninggalan yang masih tampak kokoh dan terpelihara adalah gedung bertipe jaman kolonial yang kini dijadikan kantor Kelurahan Pulau Panggang. Meskipun sudah mengalami renovasi, keaslian gedung yang diperkirakan dibangun pada tahun 1618 ini tetap dipertahankan hingga kini.

Pulau Panggang sendiri ditetapkan sebagai kelurahan pada Agustus 1986, namun karena meningkatnya status Kep Seribu dari kecamatan menjadi kabupaten administrasi, Kelurahan Pulau Panggang disahkan kembali pada 27 Juli 2000 silam. Menempati area 62,10 hektar, Kelurahan Pulau Panggang kini dihuni sekitar 5.443 jiwa yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Keistimewaan lain dari Kelurahan Pulau Panggang adalah, terpusatnya Pemkab Kep Seribu yang berada di Pulau Pramuka yang menjadi bagian dari Kelurahan Pulau Panggang. Sedangkan di Pulau Karya terdapat Kantor Teknis Suku Dinas dan Seksie, serta Kantor Kepolisian Resort Kep Seribu.

Untuk menuju ke Kelurahan Pulau Panggang tak sulit, karena disediakan transportasi laut dari Marine Jaya Ancol (MJA) dan Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Di MJA, disediakan transportasi berupa speedboat sehingga waktu yang ditempuh lebih cepat sedangkan di Muara Angke terdapat ojek (sebutan kapal tradisional pengangkut penumpang, red) dengan tarif relatif terjangkau yang waktu tempuhnya lumayan panjang untuk jarak ke Pulau Panggang dari daratan Jakarta sejauh 74 kilometer.

Berdasarkan letak geografisnya, Kelurahan Pulau Panggang terdiri dari gugusan 13 pulau yang peruntukannya dibagi menjadi empat, yang terdiri dua pulau pemukiman, dua pulau resort, dan satu pulau pemerintahan. Sedangkan sisanya, digunakan sebagai pulau perlindungan ekosistem seperti di Pulau Semak Daun yang terdapat pula program budidaya ikan Pemkab Keb Seribu yang dikelola oleh PKSPL-IPB. Untuk perairan dangkal di Pulau Karya, difungsikan menjadi tempat budidaya ikan bandeng laut yang dikelola PT Nusa Keramba.

Dalam menunjang pendidikan bagi anak-anak warga Pulau Panggang, terdapat empat Sekolah Dasar (SD), satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), satu Sekolah Menegah Atas (SMA). Istimewanya lagi, SMA 69 Jakarta yang berlokasi di Pulau Pramuka merupakan SMA satu-satunya di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Tradisi yang melekat pada masyarakat Pulau Panggang tak lepas dari budaya Jakarta. Ini bisa dilihat dari keseharian masyarakatnya yang mengenakan sarung, kopiah, dan baju koko sebagai pakaian sehari-harinya jika tidak sedang melaut. Karena 80 persen budaya masyarakatnya menginduk pada budaya Jakarta, tak salah jika seluruh masyarakatnya menganut agama Islam.

Karena keunikan dan sejarahnya yang panjang, tak salah jika belakangan ini Kelurahan Pulau Panggang, khusus Pulau Pramuka menjadi tujuan wisata yang cukup diminati. Apalagi jika sedang hari libur, ratusan wisatawan domestik memadati sejumlah tempat bersejarah yang tetap dijaga keasliannya. (***)
 
 Sumber : www.pulauseribu.co

Read More »

Kolonel Purnawirawan Sani Lupias Abdurrahman memastikan pelaksanaan hukuman mati terhadap pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Pulau Nyamuk, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

"Ini berdasarkan cerita teman-teman saya sesama perwira di Komando daerah Militer III Siliwangi," kata Sani saat dihubungi merdeka.com melalui telepon kantornya di Bandung, Kamis (13/9). Dia mengaku terkejut rahasia lama ini akhirnya terbongkar juga.

Dia berani bersumpah Pulau Nyamuk tempat peristirahatan terakhir Kartosoewirjo. "Kalau bohong saya berdosa."

Sani mengaku angkatan pertama pasukan PETA (Pembela Tanah Air) bersama Sarwo Edhie Wibowo, Umar Wirahadikusumah, Ahmad Yani, dan Amir Machmud. Namun dia mentok di pangkat kolonel selama 17 tahun. Dia juga terlibat dalam operasi menangkap Kartosoewirjo, Tan Malaka, dan Kahar Muzakkar. Dia mengaku dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, pada 1922.

Dia mengaku pensiun pada 1978 dengan jabatan terakhir Asisten Logistik Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Magelang, Jawa Tengah. Pengakuan Sani ini sekaligus memperkuat temuan dokumen Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang diperoleh merdeka.com. Berikut penuturannya kepada Faisal Assegaf.

Apa benar Kartosewirjo dieksekusi di Pulau Nyamuk?

Betul di Pulau Nyamuk.

Kenapa dipilih Pulau Nyamuk?

Risalah Bung Karno tidak boleh ada yang tahu di mana kuburnya, takut bakal dipuja para pengikutnya.

Kapan pelaksanaan hukuman mati itu?

Saya tidak tahu persis, biasanya pagi-pagi.

Apakah benar dokter yang memeriksa Kartono Mohamad?

Bukan, saya bisa pastikan bukan dia. (Sumber merdeka.com memberi tahu dokter yang memeriksa kondisi Kartosoewirjo menjelang dan selepas eksekusi adalah dokter Gerard Paat dari Kodamar Tanjung Priok).

Siapa menangkap Kartosoewirjo?

Batalion 238 Kodam Siliwangi, Komandan peletonnya Sanip.

Apakah kuburnya masih ada?

Tidak, karena semua pemberontak tidak boleh ada bekasnya.

Jadi memang tidak diberi nama di batu nisan?

Tidak ada.
Sumber : merdeka.com

Read More »

Meski eksekusi mati Kartosoewirjo telah berlalu setengah abad, tidak banyak dokumen memuat hari-hari terakhirnya. Mulai dari penangkapan, pemulihan kesehatan, hingga lokasi eksekusi dan pemakaman. Semua masih misterius.

Menurut Asvi Warman Adam, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengakui dokumen-dokumen mengenai Kartosoewirjo masih sedikit. “Mungkin karena minat kita terhadap peristiwa itu kurang, kemudian kita tidak pernah tahu berapa banyak jumlah dokumen diserahkan Angkatan Darat ke Arsip Nasional,” ujar Asvi saat dihubungi merdeka.com Selasa lalu.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) juga berpendapat serupa. Seorang pegawai di sana mengungkapkan dokumen hari-hari terakhir Kartosoewirjo malah banyak dari sumbangan arsip personal. Meski begitu, pihaknya masih berusaha mencari dokumen-dokumen lainnya.

ANRI mencatat Marzuki Arifin paling banyak menyumbang dokumen soal Kartosoewirjo, paling banyak foto. Mereka memperkirakan mantan pemimpin redaksi majalah Ekspres ini menyerahkan bukti-bukti itu pada masa Orde Baru.

Selain Marzuki, penyumbang dokumen terkait Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan Kartosoewirjo adalah Djamal Marsudi. Dalam sebuah catatan, dia pernah bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Batalion Banteng Loreng, Cilacap, Jawa Tengah, di bawah pimpinan Mayor Suroso pada 1948-1950.

Dokumen-dokumen dari kedua orang itu tersimpan di ANRI, Jakarta. “ANRI hanya mengumpulkan arsip, sejarawan dan peneliti berhak menafsirkan,” ujar seorang pegawai ANRI saat menunjukkan dokumen-dokumen itu kepada merdeka.com.

Semua dokumen itu sedikit berbeda dengan 81 foto milik Fadli Zon. Dari 28 foto koleksi ANRI, beberapa di antaranya tidak dimiliki oleh politikus dari Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) itu. Seluruh foto juga tidak memiliki keterangan.

Fadli menolak memberi tahu pemilik foto-foto itu sebelumnya. Seorang sumber merdeka.com memperkirakan foto eksekusi mati Kartosoewirjo banyak salinannya saat dicetak Angkatan Darat. “Di Indonesia banyak kolektor barang dan dokumen bersejarah, jadi sulit ditebak siapa pemiliknya,” kata sumber itu.

Bila foto koleksi ANRI tidak memilki keterangan, siapa pemilik dan pembuat keterangan foto telah dibeli Fadli? Sejarawan dari Universitas Indonesia, Rushdy Hoesein, menduga 81 foto kini dipegang Fadli sebelumnya milik majelis hakim yang mengadili Kartosoewirjo. “Itu bisa saja milik hakim pemberi putusan sebagai bukti eksekusi putusannya,” kata Rusdy kepada merdeka.com saat ditemui di rumahnya kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, Selasa malam lalu.

Memang banyak yang kaget dengan foto-foto Fadli itu, termasuk Sardjono, putra bungsu Kartosoewirjo. Ia hanya tahu melalui cerita-cerita saja. “Saya baru melihat buku foto itu malam hari sebelum peluncuran buku,” ujar Sardjono saat ditemui secara terpisah Sabtu pekan lalu di garut, Jawa Barat.

Tapi seorang sumber mengaku tidak terkejut. Dia malah mempertanyakan kenapa foto-foto itu baru diluncurkan sekarang. “Saya merasakan peluncuran buku itu seperti menggugat peran tentara dalam menjalankan perintah hukum saat itu. Tentara mengeksekusi itu bukan seperti membunuh ayam,” dia menegaskan.

Sumber itu menyesalkan pihak Angkatan Darat tidak diundang sebagai pembicara dalam peluncuran buku itu. Menurut dia, itu bentuk penghinaan terhadap kors tertentu di Angkatan Darat. “Kenapa tidak kalian tanyakan kepada Fadli Zon?” kata sumber itu.
Sumber : merdeka.com 

Read More »

Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu, Jakarta (Foto: Winda/Okezone)
Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu, Jakarta (Foto: Winda/Okezone)
JAKARTA -Tak hanya menyajikan keindahan alam serta air laut yang jernih. Di pulau ini terdapat mitos yang konon, pernah terjadi di kehidupan masa lampau. 

Pulau Bidadari atau yang kini telah berubah nama menjadi Bidadari Eco Resort merupakan salah satu gugusan pulau yang terdapat di Kepualauan seribu. Dikembangkan sebagai kawasan bahari, pulau yang dulunya bernama Pulau Sakit ini menyimpan keunikan sejarah serta mitos yang masih dipercaya sampai saat ini.

Salah satunya adalah Pohon Rezeki. Meski di pulau ini memang banyak terdapat beragam jenis pohon langka dibandingkan tempat wisata lainnya, ada satu pohon yang juga menarik perhatian wisatawan, yaitu Pohon Rezeki. Mitosnya adalah siapa yang berfoto dengan menyentuh pohon ini, akan diberi rezeki yang tak terduga-duga. Rezeki yang dimaksudkan tak selalu berbentuk uang, akan tetapi bisa berbagai hal seperti jodoh maupun peluang bisnis atau usaha. 

Tak hanya itu, satu lagi mitos yang dianggap nyata adalah Pohon Jodoh. Pohon sejenis kapuk ini awalnya pohon biasa, sampai pada akhirnya pulau bidadari kedatangan komunitas tidak menikah, mereka sudah berkomitmen untuk tidak akan pernah menikah. Namun siapa sangka ternyata setelah berfoto di pohon tersebut salahs atu diantara mereka akhirnya menemukan jodohnya. Dari situlah asal muasal pohon ini kemudian diberi nama Pohon Jodoh. Pohon besar ini berada tepat di pinggir pantai, dijaga sebaik mungkin agar tetap kokoh dan manarik perhatian wisatawan yang berkunjung. 

Menurut Jundariatin Rowi selaku Dirut Operasional dari PT Seabreez Indonesia, kedua pulau tersebut dipelihara dengan baik oleh pengurus Pulau Bidadari. Kebanyakan dari para wisatawan yang datang berkunjung, umumnya para muda mudi tak pernah melewatkan untuk tidak mengabadikan keduanya dari lensa mereka. Meski kebenarannya masih dipertanyakan, namun minat wisatawan untuk berfoto di kedua pohon tersebut selalu saja meningkat. “Iya rata-rata pengunjungnya remaja-remaja yang memang ingin melihat dua pohon itu. Terkadang sampai harus antri bergantian,” katanya kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Untuk sampai ke pulau ini cukup mudah. Hanya dengan menumpangi speed boat dengan jarak tempuh waktu sekitar 30 menit dari Dermaga Marina Ancol. Karena letaknya paling dekat, tak heran jika Pulau ini menjadi gerbang masuk di Kepulauan Seribu. 


Sumber : http://travel.okezone.com/

Read More »

Masyarakat, terutama peminat sejarah dan sejarawan, barangkali terkejut setelah Fadli Zon Rabu pekan lalu meluncurkan bukunya berjudul Hari Terakhir Kartosoewirjo di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Buku setebal 91 halaman ini bukan sekadar memuat 81 foto merekam jejak terakhir pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia itu. Mulai dari penangkapan hingga eksekusi dan pemakaman. Namun paling mengejutkan, politikus Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) ini menyebutkan eksekusi sekaligus penguburan jenazah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo berlangsung di Pulau Ubi pada 12 September 1962.

Selama ini, banyak pihak, termasuk keluarga meyakini lelaki yang dijemput ajal pada usia 57 tahun itu ditembak mati dan dimakamkan di Pulau Onrust. "Sekarang mana yang benar, di Onrust atau Pulau Ubi? Katanya selama ini di Onrust, saya selalu ke sana," kata Sardjono, putra bungsu Kartosloewirjo dari lima bersaudara kepada merdeka.com di Garut, Sabtu pekan lalu.

Hasil penelusuran merdeka.com menemukan Pulau Ubi yang dimaksud Fadli, sesuai keterangan foto, ternyata ada dua, yakni Ubi Besar dan Ubi Kecil. Dua-duanya sudah tenggelam, bahkan jauh sebelum eksekusi atas Kartosoewirjo. "Pulau Ubi Kecil tenggelam pada 1949 dan Pulau Ubi Besar hilang pada 1956," ujar Lurah Pulau Untung Jawa Agung Maulana Saleh ketika ditemui terpisah Senin lalu dalam acara Lebaran Betawi di kelapa Gading, Jakarta Utara.

Ternyata tidak hanya Fadli yang memiliki arsip saat-saat terakhir kematian lelaki kelahiran Cepu, Jawa tengah, itu. Kumpulan foto serupa tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Bedanya, 28 foto ini tanpa keterangan dan ditempel di atas kertas berukuran folio.

Selain arsip foto, ada beberapa dokumen terkait Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan eksekusi mati Kartosoewirjo. Salah satunya menyebutkan lokasi eksekusi dan pusara Kartosoerwirjo di Pulau Nyamuk. Seperti Onrust, Ubi Besar, dan Ubi Kecil, pulau ini di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Tulisan di atas kertas sudah berwarna kekuningan itu menggunakan mesin ketik tanpa kop sebuah lembaga. Dokumen ini merupakan putusan majelis hakim Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang untuk Djawa dan Madura diberi judul 'Pelaksanaan Hukuman Mati'

PELAKSANAAN

HUKUMAN

***MATI***

Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo

yang menamakan dirinya Imam Negara Islam Indonesia (D.I)

Penjelasan:

1. Mahkamah Angkatan Darat dalam keadaan perang untuk Djawa dan Madura (MAHADPER) yang khusus dibentuk dan bertugas untuk mengadili pemimpin gerombolan D.I S.N. Kartosoewirjo, telah bersidang sejak tgl 14 Agustus 1962 sampai 16 Agustus 1962 di bangsal (Aula) Departemen Angkatan Darat Merdeka Barat Djakarta. Telah mendjatuhkan HUKUMAN MATI terhadap S.N. Kartosoewirjo.

2. Permohonan GRASI kepada Kepala Negara RI (Presiden Sukarno) telah ditolak pada tgl 12 September 1962.

3. Setelah ditolak, S.N. Kartosoewirjo mendjalankan HUKUMAN MATI SECARA DITEMBAK di Pulau Nyamuk yg termasuk gugusan Kepulauan Sribu Daerah Djakarta-Raya.

Menurut sumber merdeka.com, dokumen itu seperti bentuk ringkasan putusan terhadap sebuah kejadian besar. Untuk keaslian dokumen, kata sumber itu, perlu diuji, karena tanpa kepala surat lembaga atau organisasi yang mengeluarkan putusan itu. "Ini jelas dokumen pribadi, tapi kalau isi perlu diuji lagi," ujar sumber itu.

Dari catatan ANRI, pemilik dokumen bernama Marzuki Arifin, wartawan foto pernah meliput peristiwa 17 Oktober 1952, peristiwa Republik Maluku Selatan (RMS), hijrahnya Divisi Siliwangi, Angkatan Perang Rakyat Semesta (APRA) Westerling, Jawa Barat, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), DI/TI, dan pemakaman Jenderal Soedirman. Marzuki pernah bekerja do Harian Merdeka pada 1968 dan menjadi pemimpin redaksi Majalah Ekspres pada 1969-1974.

Sejarawan Universitas Indonesia, Rushdy Hoesein yang katanya akrab dengan Marzuki Arifin, baru mengetahui informasi itu. "Marzuki Arifin, tidak pernah bicara hal itu kepada saya. Tapi semua yang terkait Kartosoewirjo masih memungkinkan sampai saat ini," katanya kepada merdeka.com saat ditemui di rumahnya, Bintaro, Jakarta selatan.



Sumber : merdeka.com

Read More »


Read More »


Makam Panglima Hitam di Pulau Tidung Kecil.

Makam Panglima Hitam di Pulau Tidung Kecil.

Read More »

SOSOK bocah berkulit hitam, bermata besar, dan berambut ikal bermain bola dan sesekali berdialog dengan kawan-kawan sebayanya menggunakan bahasa Indonesia dengan aksen khasnya. Mereka adalah generasi tunas dari masyarakat pulau ini. Melihat postur mereka dan mendengar cara mereka berkomunikasi, serasa saya tidak berada di wilayah yang merupakan bagian dari pinggiran wilayah Jakarta. Rasanya seperti di daerah pesisiran di luar Pulau Jawa, di antara wilayah yang dikepung oleh lautan. Penglihatan saya terhadap bocah yang tinggal di Pulau Panggang dengan penduduk lebih dari 5.000 jiwa dan bagian dari pulau terpadat dari Kepulauan Seribu, membuka tabir pemikiran tentang identitas: Dari manakah mereka? Sejarah dan kebudayaan macam apakah yang hidup di Pulau Panggang ini?
Mereka menjuluki dirinya dengan sebutan “Orang Pulo”. Hidup dan bermata pencaharian dari alam lautan yang mengayomi mereka di antara wilayah Kepulauan Seribu. Dalam peta, kita bisa mencermati 1.100 gugusan pulau-pulau di antara laut yang membentang sepanjang 100 mil dari Teluk Jakarta.
“Sebenarnya, apa yang saya dapati, bahwa kondisi pulo itu yang dominan sekali penduduknya itu dari Banten, dari Kalimantan juga ada, dari suku Mandar. Itu yang betul-betul tinggal di sini pada awal mulanya,” ujar Amrullah, Pamong Kelurahan Pulau Panggang, mengungkapkan asal mula penduduk di situ.
Keberadaan Pulau Seribu yang dapat dicapai dengan jarak tempuh 1-3 jam oleh perahu motor dari Muara Angke, Jakarta, kerap dijadikan objek wisata oleh para turis, sebagaimana yang sedang digembar-gemborkan pemerintah. Di balik turisme, Pulau Seribu masih menyimpan potensi harta karun, yakni budaya hidup Orang Pulo.
Hasrat untuk mengungkap harta karun budaya tersebut ditangkap oleh Lab Teater Ciputat yang bekerja sama dengan Sanggar Apung (satu-satunya Sanggar Seni Teater di Pulau Panggang-Pramuka). Dibantu oleh organisasi HIVOS, mereka melakukan penelitian dan workshop tradisi Kepulauan Seribu. Maka terciptalah buku “Orang Pulo di Pulau Karang” dan dilanjutkan dengan pembuatan naskah yang akan dipentaskan secara teatrikal pada Juli 2012 dengan tentu saja melibatkan Orang Pulo.
“Bagaimana kita melihat kebudayaan Pulau Seribu secara bersama-sama? khususnya Pulau Panggang. Yang saya khawatirkan tidak akan lama lagi, jika wisatawan yang datang semakin banyak, kebudayaannya tidak terjaga. Setelah buku ini, akan lahir naskah pertunjukan yang akhirnya kembali kepada masyarakat. Ini sebagai bentuk kesenian yang membuat semuanya berharga di negeri ini,” tutur Bambang Prihadi, selaku Sutradara Lab Teater Ciputat.
Rosida Erowati Irsyad, penyusun dan peneliti buku “Orang Pulo di Pulau Karang” merasa tergelitik saat proses penulisan buku. Berkali-kali tokoh di Kepulauan Seribu selalu menyatakan bahwa Pulau Seribu itu tidak punya budaya. Setelah Rosida dan kawan-kawan peneliti merasakan tinggal, mereka menegaskan bahwa tentu saja kebudayaan di Kepulauan Seribu memang ada dan selalu berjalan.
“Di sini ada mitos, dan mitos ini sangat kuat dimiliki oleh setiap orang di pulau misal tentang mitos darah putih. Mitos merupakan bagian dari pola berpikir masyarakat, ini menjadi penanda identitas budaya. Lalu, yang kedua, jika bicara tradisi, Orang Pulo paling kuat dengan pencak silat yang mewarnai kehidupan masyarakat di pulau, khususnya Pulau Panggang, yang merupakan pulau dengan budaya yang paling lama hidup, dan silat ini membentuk mentalitas generasi muda. Lalu ada lenong ala Pulo yang sekarang sudah jarang disaksikan. Jadi, kata siapa Pulau Seribu itu tidak punya budaya?” ujar Rosida.
Mitos Pendekar Darah Putih 
Kisah Legenda Darah Putih sebagai folk history disajikan dengan berbagai versi yang berbeda. “Serombongan bajak laut datang ke salah satu Kepulauan Seribu. Para bajak laut itu merampas dan mengganggu penduduk setempat. Melihat kejadian itu, orang sakti penjaga pulau tak tinggal diam. Bersama warga, ia menangkap bajak laut. Mereka kemudian dihukum, tubuh mereka dipanggang di pinggir pelabuhan perahu. Sejak saat itu, pulau tersebut dinamakan Pulau Panggang. Saat ini tempat “pemanggangan” bajak laut yang ada di bagian Pulau Panggang dijadikan dermaga oleh penduduk setempat.”
Sedangkan kisah lain menuturkan, konon kabarnya di perairan Kepulauan Seribu berkeliaran para bajak laut yang selalu mengganggu kemanan dan ketenteraman penduduk. Pada suatu hari segerombolan bajak laut datang menghadang pulau panggang. Tetapi, atas kesaktian Darah Putih, maka para bajak laut tidak dapat melaksanakan niatnya karena sekeliling Pulau Panggang menjadi gelap gulita. Para bajak laut hanya dapat mencapai sebagian pulau, daerah sekitar Pulau Panggang saja. Oleh para bajak laut Pulau Panggang tampak tertutup dengan kabut dan terpaksa mereka kembali (kisah ini menurut Mutholib et al 1984. Laporan Arkeologi Bo XXIX, Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, H. 12-3.
Ini merupakan kisah turun-temurun antargenerasi. Orang Pulo mengenal kisah—Darah Putih dan Karang Pemanggang—secara turun-temurun. Beberapa generasi tahun 60-an, menceritakan kejadian angin kencang puting beliong (lesu angin) yang tiba-tiba datang saat pementasan drama Darah Putih yang disutradarai oleh Pak Darwis sekitar tahun 1980-an, sehingga pertunjukan harus dibatalkan. Sosok pendekar Darah Putih meninggalkan jejak makam kramat pulo yang dikenal dengan Makam Pendekar Darah Putih (PDP) dan diakui oleh pemerintah sebagai salah satu cagar budaya DKI Jakarta.
“Saya menjaga makam Pendekar Darah Putih dari tahun 1975. Dialah yang melindungi Pulau ini,” tutur Hajah Supena.
Sosok legendaris Darah Putih menjadi afiliasi dari sejarah perompakan dan bajak laut dengan pendekar yang melindungi pulau. Ketika masa itu, ini menjadi kiasan dari perang saudara di laut dan sejarah masyarakat Orang Pulo sebagai masyarakat laut yang menetap di pulau dan berusaha melindungi daerahnya dari ancaman.
“Keragaman versi ini sebagai kenyataan yang mencerminkan kuatnya kepemilikan Orang Pulo terhadap legenda mereka, dan kekukuhan mereka meyakini untuk memegang tradisi cerita Pulo. Munculnya versi dari suatu legenda jamak terjadi di banyak tempat dan ini selaras dengan yang disinyalir Danandjaja (Antropolog kondang-Red) tentang distorsi terhadap sejarah bersama,” ini petikan dari buku Orang Pulo di Pulau Karang.
Mitos Pendekar Darah Putih dan karang pemanggang turun-menurun dalam lintas generasi menjadi gambaran dari latar belakang sejarah Pulau Panggang yang masuk pada ranah kebudayaan. Termasuk dengan hadirnya Silat Alif, Mandar jurus pribadi dengan gerak silat dan rancak yang memukau.
“Silat mandar ini, turun-menurun sejak zaman nenek moyang. Hingga kini kami masih terus mengembangkannya. Sebenarnya kami punya banyak sekali aset budaya, yang sayangnya sedikit tersisih jika dibandingkan budaya di luar pulau,” ujar Djailing, pelatih silat mandar.
Ruwatan
Masyarakat Pulau Panggang juga memiliki adat kebiasaan yang disebut ruwatan, acara syukuran dengan menjalankan doa bersama di dermaga dengan mengorbankan kepala sapi atau kamping sebagai tumbal. Pada masa kini, ruwatan dengan tumbal hewan sudah jarang dilakukan dan digantikan dengan syukuran biasa.
Acara Haul Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al Aidid dan Habib Hasan bin Hasyim Al-Aidid yang diselenggarakan besar-besaran sejak 10 tahun silam dan diikuti oleh 500 orang juga masih diselenggarakan masyarakat. Pada acara ini, ibu-ibu memasak makanan khas Kepulauan Seribu.
Di Pulau Panggang juga berdiri sanggar Apung sebagai yang menjadi komunitas dan memfasilitasi generasi muda untuk mengembangkan potensi berkesenian.
“Sanggar apung yang sudah berdiri empat tahun ini berawal dari budi daya ikan, lalu masuk ke ruang bermain kesenian dan direspons positif. Aktivitas kami seperti berkumpul, bernyanyi bersama, dan pelatihan bina rasa yang didukung Lab Teater Ciputat, juga pembuatan kerajinan tangan sebagai proses pembelajaran dan stimulus kreativitas,” ujar Hamdi M Husni, pendiri Sanggar Apung.
Bila dililhat dari sudut pemikiran modern (masa kini) mitos yang menjadi awal keberangkatan budaya di Kepulauan Seribu– khususnya Pulau Panggang-yang dikhawatirkan mengarah pada perilaku syirik (menduakan keberadaan Tuhan), tetapi jika mitos ini diberdayakan sebagai seni dan budaya, yang bentuknya bisa seni pertunjukan yang masuk secara lunak melalui media seni pertunjukan oleh komunitas Sanggar Apung, disokong tokoh-tokoh masyarakat dan dibantu pihak luar seperti Lab Teater Ciputat, kebudayaan ini akan berkembang, dan berinovasi menjadi fenomena menarik tanpa menghilangkan identitas Orang Pulo dengan nilai kolektivitas dan kekerabatan mereka yang erat.
Kepungan Globalisasi dan Modernisasi 
Keberadaan Kepulauan Seribu telah melewati lintas sejarah dari fase ke fase. Dimulai dari masa Kesultanan Banten pada Abad ke-16 dan awal kedatangan VOC tahun 1684 yang mengawali eksploitasi sumber daya laut untuk pembangunan Kerajaan Banten dan Kota Batavia (Jakarta saat ini).
Pada masa VOC tahun 1761, peta Belanda menandai adanya pulau-pulau di sekitar Pulau Panggang yang telah berpenghuni hingga pada masa Hindia Belanda. Dari mulai eksploitasi penambangan pasir laut dan batu karang, penangkapan ikan, hingga penanaman kopra dan kelapa. Masuk pada masa pemerintahan DKI Jakarta, dari tahun 1951 penangkapan ikan hingga era 1970-1999 menjadi bentuk pemerintahan kabupaten administrasi Kepulauan Seribu, dan era saat ini (1999-sekarang) pertumbuhan pariwisata yang pesat, dengan budi daya laut di dalamnya dari ikan hias, rumput laut, karang hidup, konservasi jasa dan pertambangan.
Posisi Pulau Panggang pada saat ini atau tepatnya Orang Pulo, terletak pada—pinggir transisi—- yakni menghadapi modernisasi. Pada pengertian ini, secara ekonomi Kepulauan Seribu diposisikan berbasis pariwisata dan rekayasa laut, yakni jasa layanan pariwisata, untuk menghidupkan ekonomi masyarakat dengan membentuk koperasi atau kerja sama untuk menghidupkan ekonomi nelayan, misal ada nelayan ikan hias, karang hias, pengolahan hasil laut.
“Jadi, apa yang kami saksikan dari masyarakat Pulo, mereka dapat mengingat dengan baik. Bila tahun 70-80-an ikan hias menjadi idola, tahun 90-an rumput laut yang menjadi idola. Lalu berubah hingga masa puncak yang saat ini adalah pariwisata dan tambak,” kata Rosida.
Masalah yang dialami Orang Pulo adalah berpusatnya ia pada Jakarta sebagai pusat kabupaten Kepulauan Seribu. Di mana Jakarta adalah kota megapolitan, sementara Kepulauan Seribu harus mengikuti gerak cepat mobilitas Jakarta dengan modernisasinya.
Orang Pulo tanpa disadari berada di tengah kepungan modernisasi dan globalisasi, dalam ranah sosial politik, ekonomi dan kebudayaan. Bila di Jakarta identik dengan pasar bebas, bisa jadi sama halnya dengan apa yang dirasakan Orang Pulo dengan globalisasi itu. Di sini terlihat pembangunan infrastruktur dari kebudayaan awal, rumah bilik menjadi tembok, lalu masuknya listrik yang sekarang menjadi 24 jam, hingga modernisasi pada eksploitasi karang dan pariwisata, juga kepemilikan pulau yang bisa disewa individu yang mampu, sehingga menyisihkan hak komunal.
“Bagi Orang Pulo, operasi kecil globalisasi, seperti pada karang, terumbu, dan pantai, ini dirasakan sebagai problem untuk masyarakat pulau panggang. Karena, ada ketidakseimbangan antara kekuatan yang satu dengan yang lain, dan kita harus merasakan keseimbangan kebudayaan, politik maupun ekonomi,” tutur Bisri Efendi, antropolog.
Bisri menambahkan, perlu dilakukan beberapa upaya bila globalisasi ini juga dihadapkan dengan berbagai komunitas. Orang Pulo harus mempunyai negosisasi dalam globalisasi kebudayaan, karena ini sangat penting. Jika kita tidak peduli, maka Orang Pulo menjadi orang lain, misalnya apa bedanya orang Pulau Panggang dengan orang Betawi pinggiran.
Dengan globalisasi yang masuk dan berkembang di Kepulauan Seribu, yang paling penting adalah sikap saling mengingatkan dan menyikapi globalisasi tersebut. Bila globalisasi dan modernisasi yang akan terus masuk dan tak bisa dikendalikan, tidak boleh disikapi oleh ketidakberdayaan, masyarakat Kepulauan Seribu –khususnya Pulau Panggang– harus mempertahankan identitas dan produk-produk lokal mereka. Tentunya hal ini butuh dukungan dari kita semua.
Sumber : selviagnesia

Read More »