Tampilkan postingan dengan label Mancing. Tampilkan semua postingan

Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau dan kurang dari 2/3 wilayahnya berupa lautan. Karena luasnya perairan laut di negeri ini, maka tidak terlalu susah rasanya untuk memilih lokasi pemancingan.

Memancing di laut dapat dilakukan di perairan dangkal yang dekat dari pantai atau di perairan dalam yang jauh dari pantai. Semuanya tergantung pada keinginan, dana, dan kelengkapan sarana. Memancing di sekitar pantai atau perairan dangkal dapat dilakukan di dermaga, anjungan pelabuhan, atau di perairan karang dekat pantai.
Penentuan lokasi pemancingan yang tepat di laut memang agak sulit, apalagi di perairan lepas. Dalam hal ini peran nelayan setempat sangat membantu. Mereka biasanya lebih mengetahui di mana perairan karang berada dan di mana terdapat lokasi ikan-ikan tertentu. Hal ini didasarkan pada pengalaman mereka selama bertahun-tahun di laut. Oleh sebab itu, bagi yang tidak mau mengambil resiko salah dalam memilih lokasi, bisa meminta bantuan nelayan setempat sebagai penunjuk jalan. Hal seperti ini sering dilakukan oleh sebagian besar pemancing di laut. Bahkan, kadang-kadang sekalian menyewa perahu mereka.

Jika memperhatikan posisi mata pancing di dalam air, memancing di laut dapat dilakukan di dekat permukaan, di lapisan tengah, atau di dasar perairan. Dengan adanya lokasi pemancingan yang berbeda ini tentunya diperlukan teknik pemancingan yang berbeda pula. Teknik memancing dekat permukaan akan berlainan dengan teknik memancing di dasar.

Cara memancing di laut memang dapat dikatakan lebih rumit dibandingkan cara memancing di air tawar. Namun, apabila menguasai tekniknya, memancing di laut akan terasa lebih mengasyikkan. Jenis ikan di laut umumnya lebih beragam dan ukurannya lebih besar dibandingkan ikan air tawar. (kang lintas)

Read More »

Penentuan Lokasi pemancingan di dekat permukaan agak sulit ditentukan. Untuk keperluan ini ada beberapa cara yang dapat di tempuh. Di samping meminta bantuan nelayan setempat, perlu juga di ketahui kejadian-kejadian dilaut sebagai pertanda adanya gerombolan ikan. Adanya gerombolan ikan di tandai dengan perubahan warna air, bentuk air yang beriak atau berbuih,adanya ikan-ikan yang saling berlompatan ke atas, dan banyak burung camar yang menukik-nukik di permukaan laut. Dengan tanda-tanda seperti itu dapat dipastikan perairan tersebut banyak ikannya.

Lokasi pemancingan di dekat permukaan bisa juga terdapat di perairan dalam yang mempunyai dasar karang. Ada tidaknya karang bisa diketahui dengan melihat peta laut atau berdasarkan petunjuk nelayan setempat. Di perairan seperti ini biasanya terdapat berbagai macam organisme yang menjadi makanan ikan.
Jenis ikan pelagis (permukaan) seperti tuna, cakalang, lemadang, barakuda, kembung dan marlin mudah tertarik pada benda-benda yang terapung dilaut. Kejadian seperti ini sering kali di manfaatkan oleh nelayan dalam menentukan lokasi penangkapan. Mereka sering melakukan penangkapanikan disekitar benda-benda terapung tersebut. Dengan dasar seperti itu, di buatlah tipuan dengan memasang benda yang menetap di laut. Benda mengapung yang sengaja dipasang untuk mengumpulkan ikan ini dinamakan rumpon. (kang lintas)

Read More »

Kapal yang didesain untuk memancing ikan dengan tonda (trolling) biasanya berbentuk agak ramping. Dengan bentuk seperti ini gerakan kapal menjadi lebih lincah. Selain itu, kapal juga di lengkapi dengan mesin-mesin kecepatan tinggi, bahkan kadang-kadang ada yang menggunakan mesin ganda. Keberhasilan memancing dengan tonda memang sangat dipengaruhi oleh laju kapal yang di gunakan. Untuk keberhasilan menonda sebaiknya menggunakan kapal dengan kecepatan antara 10-12 knot.

Bagian belakang kapal (burutan) sebaiknya dibuat agak lebar agar pemancing lebih leluasa dan lebih mudah menaikan ikan ke atas kapal. Jika pemancing menggunakan lebih dari satu unit pancing, biasanya kapal di beri tambahan babarapa palang yang terbuat dari kayu atau fiberglas. Palang-palang ini dinamakan out rigger dan dipasang pada bagian kiri dan kanan lambung kapal yang menjorok keluar atau pada bagian belakang kapal. Pada ujung kapal diberi cincin penyalur sebagai tempat pemasukan tali pencing yang berasal dari joran. Dengan adanya palang ini, kita dapat menggunakan beberapa unit pancing tonda dalam satu kapal tanpa khawatir terjadinya tali kusut atau penyangkutan satu sama lain.

Dengan menggunakan pancing tonda, ikan yang tertangkap umumnya berukuran besar seperti ikan tuna, tenggiri, lemadang, layaran atau marlin. Karena besar dan kuatnya ikan yang tertangkap, ada kemungkinan pemancing terbawa oleh gerakan ikan dan bisa terjebur ke laut. Oleh karena itu, demi keselamatan pemancing, ada tipe kapal untuk pancing tonda yang dilengkapi dengan tempat duduk pengaman. Tempat duduk ini bisa dipasang secara permanen di atas kapal dan di lengkapi dengan sabuk pengaman. (kang lintas)

Read More »

Memacing dekat permukaan sering dilakukan dengan pancing tonda (trolling). Pancing yang digunaka untuk menonda dapat dilengkapi dengan joran atau tanpa joran. Namun, demi keamanan dan kenyamanan si pemancing lebih baik menggunakan joran. Pancing tanpa joran biasanya talinya sulit ditarik saat mata pancing dimakan ikan. Apalagi bila ikan yang didapat berukuran cukup besar.

Ikan yang baru terkait mata pancing biasanya mempunyai tenaga melawan yang luar biasa. Jika pemancing tidak mampu menarik atau bertarung dengan tenaga ikan, tidak jarang tali langsung dilepas bersama dengan ikan yang sedang kesakitan. Jika pemancing tetap mempertahankan tali, bisa jadi tangan pemancing kesakitan karena tergores oleh tali yang ditarik ikan. Akhirnya, bukan ikan yang didapat melainkan jari tangan yang terluka.

Dengan joran yang dilengkapi dengan gulungan, pemancing dapat memancing lebih aman dan nyaman. Memang, tidak sembarangan joran dapat digunakan untuk menonda. Pilihlah joran yang mempunyai kelenturan dan kekuatan yang bagus. Bahan joran yang bagus terbuat dari fiberglass. Untuk pancing tonda, kurang nyaman kalau memakai joran yang terlalu panjang. Ukuran yang ideal antara 1-1,5 m.

Gulungan tali yang bagus biasanya mampu memuat ratusan meter tali dan bisa berbunyi saat tali ditarik ikan. Tali yang dipergunakan terbuat dari nylon monofilamen (senar) dengan ukuran yang disesuaikan dengan berat ikan yang menjadi sasaran. Karena pancing tonada umumnya ditujukan pada jenis ikan pelagis yang berukuran besar, maka diperlukan mata pancing yang berukuran agak besar, nomor 5-7.

Pemancing tonda biasanya menggunakan umpan sungguhan atau tiruan. Meskipun demikian kebanyakan pemancing menggunakan umpan tiruan yang berbentuk cumi-cumi atau ikan. Bahkan, ada yang ada yang menggunakan tali rafia atau plastik yang dirumbai-rumbai. Untuk umpan sungguhan, biasanya menggunakan ikan kembung atau ikan layang berukuran kecil yang telah mati. (kang lintas)

Read More »

Memancing dengan tonda sebaiknya dilakukan siang hari karena kita menggunakan umpan tiruan untuk mengelabuhi penglihatan ikan. Kegiatan ini dimulai dengan mempersiapkan pancing yang terdiri dari joran, gulungan, tali pancing, mata pancing dan umpan. Keadaan mata pancing perlu diperhatikan mata masih tajam atau tidak. Apabila sudah tumpul, mata pancing perlu ditajamkan dengan alat pengasah, seperti pengasah pisau atau gerinda batu.

Bagi pemancing tonda yang sudah berpengalaman, kegiatan ini dimulai dari pengaturan tali pada gulungan. Gulungan dilengkapi dengan alat pengatur ketegangan yang memiliki tuas dengan skala yang dapat diatur sesuai kehendak pemancing. Dalam skala tersebut tertera angka yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk menentukan ketegangan tali pancing.

Kekuatan tali (breaking streang) bisa diukur dengan menggunakan timbangan pegas. Cara pengukurannya dapat dilakukan oleh dua orang. Satu orang memegang joran, sedang yang lain menarik tali yang telah digantungi timbangan pegas. Pengukuran ini sangat penting, apabila kita salah menyetel gulungan akibatnya tali mudah putus jika ditarik ikan.

Setelah tali dipasang pada joran, mata pancing yang telah dilengkapi dengan umpan bisa disambungkan pada tali senar. Antara tali senar dan mata pancing umumnya menggunakan tali wire dari monel atau bisa juga tali senar yang berukuran besar. Hal ini untuk menghindari tali putus akibat gigitan ikan yang bergigi tajam. Panjang tali monel ini antara 1-1,5 m yang dipasang langsung pada mata pancing. Pancing tonda dapat menggunakan umpan tiruan atau sungguhan, namun yang sering dipakai adalah umpan tiruan, baik yang menyerupai ikan atau cumi-cumi. Dengan umpan tiruan ini, setiap umpan dapat digantungi lebih dari satu mata pancing.

Pancing yang telah dirangkai dalam satu unit siap untuk dioperasikan di laut. Dengan kecepatan kapal yang tidak terlalu tinggi, antara 3-4 knot, pancing diturunkan berlahan-lahan. Panjang tali pancing yang tepat untuk menonda tergantung pada kecepatan kapal. Dengan kecepatan normal, antara 10-12 knot, panjang tali yang sesuai adalah 20-25 m. Meskipun demikian, ini bukan ketentuan yang baku. Sebagai patokannya adalah bila umpan kelihatan melayang di permukaan laut saat tali ditarik oleh kapal. Dalam hal ini dituntut kejelian pemancing atau nakhoda kapal dalam memperhatikan gerakan umpan tersebut. Ikan-ikan pelagis yang menjadi sasaran lebih tertarik pada benda yang bergerak atau berenang menyerupai ikan atau cumi-cumi hidup.

Apabila tali pancing telah diulur (di area) dan umpan sudah bisa melayang-layang di permukaan, maka tuas yang ada pada gulungan tali bisa dikunci dengan cara menyetel tuas pada posisi ½ nya. Dengan cara seperti ini apabila mata pancing disambar ikan, tali pada gulungan akan mengulur dengan cepat sehingga menimbulkan bunyi “wee..k” menyerupai bunyi bel. Ini menandakan bahwa ada ikan yang terkait pada mata pancing sehingga perlu segera dilakukan penarikan.

Setelah penurunan pancing beserta talinya dianggap beres dan tepat, joran dapat diletakan pada tempat joran, bagi kapal yang dilengkapi tempat joran (road holder). Bagi kapal yang tidak mempunyai tempat joran, maka pemancing harus memegang joran tersebut. Khususnya pancing tonda yang tidak menggunakan joran, tali pancing bisa diikatkan pada bagian belakang (buritan) kapal.

Dalam satu kapal kadang-kadang menggunakan lebih dari satu joran untuk menonda, bahkan ada yang menggunakan enam joran sekaligus. Ini tentunya membutuhkan out rigger agar tali pancing bisa memencar, tidak saling bersangkutan. Cara pemasangan tali dan mata pancing pada joran sama dengan pancing yang pertama. Hanya saja, disini kebutuhan tali pancingnya berbeda antara joran yang dipasang di luar dengan yang di dalam. Joran yang dipasang di luar membutuhkan tali yang lebih panjang.

Jika joran semua telah terpasang pada tempatnya, kapal dapat bergerak dengan kecepatan antara 10-12 knot. Laju kapal diusahakan stabil sehingga umpan akan bergerak sesuai dengan yang diharapkan. Apabila kecepatan kapal dinaikan, ada kemungkinan umpan akan terbang. Sebaliknya jika kapal dilambatkan, umpan akan tenggelam ke dalam air. Dalam hal ini kemahiran Nakhoda megendalikan kapal sangat diperlukan.

Untuk membuat umpan lebih aktif, bisa melayang dipermukaan air, kapal dapat dijalankan dengan gerakan zig-zag (berjalan tidak lurus). Dengan cara seperti ini gerakan permukaan air akan lebih banyak sehingga umpan kelihatan lebih aktif dan akhirnya mampu menarik perhatian ikan pelagis. Perlu juga diketahui bahwa kebanyakan ikan pelagis mudah tertarik pada permukaan air laut yang bergerak seperti bekas permukaan yang telah dilewati oleh kapal. Oleh karena itu sering kita jumpai ikan lumba-lumba, cakalang, tuna dan marlin mengikuti kapal yang sedang berlayar di laut. (kang lintas)

Read More »

Bottom trawling adalah cara menangkap ikan yang ilegal karena merusak lingkungan  Bottom trawling merupakan cara memancing dengan menggunakan pukat, yang berupa jaring ikan dengan jangkauan yang luas dan lebar. Jaring yang dipasang pada teknik bottom trawling dipasang di sepanjang dasar laut ( bottom ) sampai kedalaman tertentu yaitu untuk menangkap ikan demersal yaitu ikan – ikan yang mencari makan di dasar perairan maupun ditengah perairan. Ikan yang ditangkap dengan cara bottom trawling bisa beraneka macam karena penggunaannya di dasar perairan yang merupakan jalur ikan mencari makan. Jaring pukat bottom trawling dipasang rendah di dasar perairan dengan kedalaman yang cukup dalam d dalam perairan dan ditarik oleh kapal pukat baik dengan sistem 1 kapal maupun 2 kapal join menjadi satu. Kapal yang dipakai biasanya yang memiliki daya yang cukup kuat sampai lebih dari 10.000 HP sehingga mampu menarik bottom trawling tanpa kesulitan. Jaring pukat bottom trawling menangkap hampir semua jenis ikan di daerah dasar perairan seperti ikan cod, cumi, udang dan berbagai ikan yang hidup di karang – karang. Ikan besar dan kecil serta berbagai macam molusca biasanya ikut terbawa oleh jaring pukat ini. Hampir semua spesies yang kecil yang terkena jaring pukat ini tidak mampu meloloskan diri dari jaring pukat bottom trawling mengingat kecilnya lubang jaring yang ada. Kehancuran suatu ekosistem di suatu perairan menjadi ancaman penggunaan bottom trawling. Banyak ikan besar dan kecil yang tidak bisa meloloskan diri, dan akhirnya diambil sebagai komoditi meskipun harganya sangat murah. Dengan diambilnya semua jenis ikan bahkan dari berbagai umur, menyebabkan daur hidup ikan menjadi terganggu dan menjadi rusak.  Belum lagi kerusakan yang ditimbulkan jaring tersebut jika menghantam terumbu karang dan merusaknya, maka konservasi terumbu karang menjadi terganggu. Terumbu karang yang menjadi tempat hidup banyak spesies ikan menjadi terancam dengan adanya jaring pukat yang kuat melewatinya dan menghancurkannya. Di beberapa negara penggunaan bottom trawling beberapa sudah diawasi, pengawasan terutama dari jenis dan bentuk jaringnya apakah sudah sesuai dengan standard penangkapan ikan. Besar lubang jaring merupakan faktor penentu besaran ikan yang akan ditangkap. Namun lebih banyak negara yang melarang jenis pukat bottom trawling digunakan sebagai cara penangkapan komersialnya. Mengingat banyaknya kerugian yang ditimbulkannya dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkannya. Kerusakan lingkungan memang merupakan hal yang patut diwaspadai oleh para nelayan profesional, mengingat masa depan industri perikanan di masa depan, semoga para pemancing pun memperhatikan konservasi lingkungan dengan menggalakkan program “catch and release” bagi ikan – ikan yang termasuk langka. Termasuk penggunaan cara – cara penangkapan ikan yang selalu memperhatikan kelestarian lingkungan demi anak cucu kita kelak.Bottom trawling merupakan cara memancing dengan menggunakan pukat, yang berupa jaring ikan dengan jangkauan yang luas dan lebar. Jaring yang dipasang pada teknik bottom trawling dipasang di sepanjang dasar laut ( bottom ) sampai kedalaman tertentu yaitu untuk menangkap ikan demersal yaitu ikan – ikan yang mencari makan di dasar perairan maupun ditengah perairan. Ikan yang ditangkap dengan cara bottom trawling bisa beraneka macam karena penggunaannya di dasar perairan yang merupakan jalur ikan mencari makan.

Jaring pukat bottom trawling dipasang rendah di dasar perairan dengan kedalaman yang cukup dalam d dalam perairan dan ditarik oleh kapal pukat baik dengan sistem 1 kapal maupun 2 kapal join menjadi satu. Kapal yang dipakai biasanya yang memiliki daya yang cukup kuat sampai lebih dari 10.000 HP sehingga mampu menarik bottom trawling tanpa kesulitan.
Jaring pukat bottom trawling menangkap hampir semua jenis ikan di daerah dasar perairan seperti ikan cod, cumi, udang dan berbagai ikan yang hidup di karang – karang. Ikan besar dan kecil serta berbagai macam molusca biasanya ikut terbawa oleh jaring pukat ini. Hampir semua spesies yang kecil yang terkena jaring pukat ini tidak mampu meloloskan diri dari jaring pukat bottom trawling mengingat kecilnya lubang jaring yang ada.

Kehancuran suatu ekosistem di suatu perairan menjadi ancaman penggunaan bottom trawling. Banyak ikan besar dan kecil yang tidak bisa meloloskan diri, dan akhirnya diambil sebagai komoditi meskipun harganya sangat murah. Dengan diambilnya semua jenis ikan bahkan dari berbagai umur, menyebabkan daur hidup ikan menjadi terganggu dan menjadi rusak.

Belum lagi kerusakan yang ditimbulkan jaring tersebut jika menghantam terumbu karang dan merusaknya, maka konservasi terumbu karang menjadi terganggu. Terumbu karang yang menjadi tempat hidup banyak spesies ikan menjadi terancam dengan adanya jaring pukat yang kuat melewatinya dan menghancurkannya.

Di beberapa negara penggunaan bottom trawling beberapa sudah diawasi, pengawasan terutama dari jenis dan bentuk jaringnya apakah sudah sesuai dengan standard penangkapan ikan. Besar lubang jaring merupakan faktor penentu besaran ikan yang akan ditangkap. Namun lebih banyak negara yang melarang jenis pukat bottom trawling digunakan sebagai cara penangkapan komersialnya. Mengingat banyaknya kerugian yang ditimbulkannya dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkannya.

Kerusakan lingkungan memang merupakan hal yang patut diwaspadai oleh para nelayan profesional, mengingat masa depan industri perikanan di masa depan, semoga para pemancing pun memperhatikan konservasi lingkungan dengan menggalakkan program “catch and release” bagi ikan – ikan yang termasuk langka. Termasuk penggunaan cara – cara penangkapan ikan yang selalu memperhatikan kelestarian lingkungan demi anak cucu kita kelak. (pemancing/kang lintas)

Read More »

Untuk pancing yang menggunakan gulungan, termakannya umpan oleh ikan ditandai oleh bunyi uluran tali yang menyerupai bel, sedangkan untuk pancing yang dipegang terasa ada sentakan dari dalam air. Kejadian ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pemancing. Dengan adanya tarikan ini, pemancing secara spontan berteriak pada Nakhoda untuk menaikan kecepatan kapal. Hal ini dilakukan agar ikan yang memakan umpan cepat tersangkut pada mata pancing. Jika kecepatan kapal tidak dinaikan, ada kemungkinan ikan melepaskan kembali umpan yang telah masuk ke mulutnya. Bila Nakhoda yakin bahwa ikan telah tersangkut pada mata pancing, kecepatan kapal segera diturunkan sampai lebih pelan dari kecepatan normal menonda. Dalam keadaan seperti ini tetap diperlukan keahlian Nakhoda, jika Nakhoda tidak pintar dalam mengendalikan kapal, ada kemungkinan ikan terlepas kembali.

Setelah kapal berjalan pelan atau berhenti, penarikan tali pancing bisa dimulai, ini dinamakan fighting time. Pemancing profesional biasanya menggunakan sabuk yang telah dilengkapi dengan tempat joran untuk menarik tali pancing. Joran diambil dari rod holder, kemudian dipegang oleh pemancing dengan cara meletakan bagian bawah joran pada sabuk yang telah dilengkapi dengan lubang tempat joran. Tali pancing kemudian digulung perlahan-lahan dengan memutar alat putar yang terdapat pada gulungan.

Irama menggulung tali harus disesuaikan dengan gerakan ikan. Apabila ikan kelihatan melawan,tali harus di hentikan. Sebaliknya bila ikan kelihatan kelelahan, tali harus segera digulung. Demikian seterusnya hingga ikan mendekati kapal. Teknik menggulung tali ditentukan oleh keahlian si pemancing dan dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Apabila si pemancing ceroboh dan tidak sabar ada kemungkinan ikan lepas atau tali putus.
 
Bagi pemancing yang benar-benar lihai dalam hal tarik ulur dengan ikan, mungkin dalam waktu yang singkat ikan sudah dapat dinaikan ke kapal. Bahkan, mereka juga bisa menangkap ikan yang berukuran besar dengan menggunakan tali yang berukuran relatif lebih kecil. Kelihaian ini pada lomba memancing bisa memperoleh nilai tambah pada kriteria penilaian.

Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan penarikan ikan, baik dengan joran atau tanpa joran, adalah kapal harus dalam posisi tidak berjalan. Bila kapal bergerak maju, maka akan terjadi tarik menarik antara si pemancing dengan ikan. Akibatnya tarikan menjadi berat yang kadang-kadang bisa membuat tali putus. Bagi pemancing yang tidak menggunakan joran, penarikan harus di lakukan dengan hati-hati. Apabila ikan yang terkait cukup besar jangan di paksakan untuk menariknya saat ikan masih melawan. Tunggu dulu sampai ikanbenar-benar lemas. Jika dipaksakan menarik tali,jari tangan bisa terluka akibat gesekan senar. Oleh karena itu, jika tidak menggunakan joran, pemancingan disarankan memakai sarung tangan.

Ikan yang sudah kelihatan lemas akibat tarik ulur dengan pemancing, perlahan-lahan akan mendekat ke kapal mengikuti tarikan tali pancing. Meskipun demikian, kadang-kadang ada ikan yang masih memiliki tenaga kuat walaupun sudah mendekati kapal. Ikan marlin dan layaran, misalnya, biasanya masih melawan meskipun sudah berada beberapa meter di belakang kapal. Oleh karena itu, sering kita jumpai pemandangan yang mengasyikan di mana seekor ikan marlin atau layaran melompat keatas permukaan laut (jumping) pada saat di tarik mendekati kapal.

Ikan yang sudah dekat dengan kapal harus ditarik dan di arahkan pada posisi sebelah kiri atau kanan kapal. Maksudnya untuk memudahkan menaikan ikan ke atas dek kapal. Dengan bantuan ganco yang cukup tajam, ikan di kaitkan pada mata ganco, bisa pada tubuhnya atau punggung nya . untuk ikan yang berukuran besar, lebih baik menggunakan dua ganco.

Bila posisi ganco sudah benar-benar kuat, secara perlahan-lahan ikan dapat di naikan ke atas kapal. Ganco ini tidak di perlukan bila yang tertangkap ikan kecil. Serok yang terbuat dari jaring dan bertangkai sudah bisa di gunakan untuk mengangkat ikan kecil. (kang lintas)

Read More »

Jenis ikan yang menjadi sasaran pada pemancingan di lapisan tengah tidak berbeda dengan pemancingan di dekat permukaan. Dengan demikian, lokasi pemancingannya pun tidak berbeda sehingga penentuan lokasinya hampir sama. Memancing di lapisan tengah sering dilakukan di perairan yang telah diketahui ada ikannya seperti di perairan yang memiliki karang atau disekitar rumpon. Oleh karena itu, jenis ikan yang tertangkap adalah jenis ikan yang senang hidup di perairan tersebut seperti ikan tuna, sunglir, dan lemadang. Tidak jarang memancing di lapisan tengah dilakukan di sekitar bagan milik nelayan. Kapal di ikatkan pada bagan sementara si pemancing dapat melakukan aktivitasnya. Kapal untuk memancing di lapisan tengah tiadak perlu di desain khusus, kecuali untuk pemancing ngocer. Karena pemancingan ngocer menggunakan umpan hidup, maka kapal harus dilengkapi dengan tempat penyimpanan umpan. Tempat ini sebaiknya berada di dalam kapal dan memungkinkan air laut bisa diatur sirkulasinya. Dengan sirkulasi air yang baik, umpan akan bertahan hidup dalam waktu yang agak lama.

Jenis kapal apa saja dapat digunakan. Disini kapal hanya berfungsi sebagai sarana transportasi dan tempat berteduh saat memancing. Apalagi pemancingan yang dilakukan di sekitar rumpon, kapal sering kali diikatkan pada rumpon. Bahkan, untuk rumpon yang mempunyaipelampung cukup kuat, sering kali si pemancing melakukan kegiatannya ditas pelampung/rakit rumpon.

Pancing dan umpan

Jenis pancing ulur gulung sangat cocok digunakan untuk memancing dilapisan tengah. Pancing ulur ini tidak dilengkapi dengan joran, hanya terdiri dari gulungan, tali pancing, dan mata pancing. Besarnya pancing yang digunakan tergantung pada jenis ikan yang akan dipancing. Dalam satu tali pancing bisa digunakan lebih dari satu mata pancing. Pemancingan akan berhasil bila menggunakan umpan sungguhan, baik berupa potongan ikan, ikan kecil, cumi-cumi, atau udang. Namun, kadang-kadang ada juga yang menggunakan umpan tiruan dari bulu ayam atau tali rafia.

Ngocer juga sering dilakukan pada pemancingan dilapisan tengah. Pancing yang digunakan untuk ngocer dapat dilengkapi dengan joran atau tanpa joran. Yang menjadi ciri khusus pemancingan ngocer adalah digunakannya umpan hidup. Umpan bisa berupa ikan kembung, layang, cumi-cumi, atau udang. Umpan hidup ini dapat dibeli pada nelayan yang mengoperasikan bagan atau sero di laut.

Cara memancing

Memancing di lapisan tengah, sekitar rumpon, sangat mudah. Kapal bisa ditambatkan pada rakit rumpon, kemudian pemancing dapat melakukan kegiatannya. Pemancingan bisa dilakukan dari atas kapal atau rakit rumpon. Pemancingan pancing ulur atau golong dimulai dengan memasang umpan pada mata pancing. Setelah umpan terpasang baru diturunkan ke laut sambil diulur talinya. Panjang tali pancing yang digunakan tergantung pada kedalaman ikan yang menjadi sasaran.

Tidak semua jenis ikan pelagis senang hidup di dekat permukaan. Kadang-kadang ikan ini berada di perairan yang lebih dalam. Oleh karena itu, penentuan panjang tali pancing sangat menentukan jenis ikan yang tertangkap. Untuk ikan kembung,tongkol, cakalang, dan lemadang tali pancing tidak perlu diulur terlalu panjang. Akan tetapi, untuk ikan tuna dan marlin diperlukan tali pancing yang lebih panjang karena ikan jenis ini kadang-kadang berenang di lapisan pertengahan.

Pada teknik pemancingan ngocer kegiatan dimulai dengan pemasangan umpan hidup. Umpan hidup dikaitkan pada mata pancing, lalu dimasukan ke laut. Bersamaan dengan itu tali pancingnya diulur. Karena masih hidup, maka umpan akan berenang ke sana ke mari sehingga dapat menarik perhatian ikan pemangsa yang berada di sekitar kapal. Ngocer sebaiknya dilakukan pada perairan yang telah diketahui ada ikannya seperti di perairan karang atau di dekat rumpon. Pemancingan seperti ini juga sering dilakukan setelah menonda, apabila banyak ikan yang mengikuti jalannya kapal.

Penarikan tali pancing pada pemancingan di lapisan tengah hampir sama dengan penarikan tali pancing tonda karena jenis ikan yang tertangkap hampir sama. Demikian juga dengan penanganan ikan setelah dinaikan di atas kapal. Memancing ikan di lapisan tengah bisa dilakukan pada siang ataupun malam hari. (kang lintas)

Read More »

joran lautJoran antenna adalah jenis joran yang memiliki bentuk seperti antenna televisi jaman dahulu yaitu bisa dipendekkan panjangnya. Dengan adanya joran antenna maka peralatan memancing  bisa dibuat menjadi lebih ringkas saat membawanya. Joran ini dapat dibawa kemana – mana dengan mudah karena dapat dimasukkan ke dalam tas pancing atau digabungkan dengan peralatan out door yang lain.

Joran antenna terdapat dalam bentuk joran khusus air tawar maupun air laut. Joran antenna untuk air laut sedikit lebih mahal karena biasanya terbuat dari bahan yang lebih kuat seperti dari karbon maupun dari titanium. Penggunaan bahan yang kuat dan lentur tersebut dimaksudkan untuk menahan beban pancingan terutama pada saat memancing ikan di laut yang memang besar – besar. Joran untuk pemancingan laut biasanya sudah dilengkapi dengan pegangan dan spool sebagai penahan senar. Untuk dapat digunakan sebagai peralatan memancing, joran antenna laut sebaiknya juga menggunakan penggulung yang kuat untuk memudahkan pemancing saat menangkap ikan.


Namun penggunaan jenis antenna pada joran laut agak kurang disukai karena dengan joran ini kekuatannya sudah jauh berkurang mengingat terdapat sambungan diantara ruas – ruasnya. Dan karena biasanya joran memancing di laut tidak terlalu panjang dan lebih mengutamakan kekuatan pada batangnya dan umumnya pendek, maka para pemancing lebih menyukai bentuk yang tanpa sambungan.

Joran antenna pada pemancingan tawar
Joran antenna yang digunakan untuk pemancingan air tawar bentuknya lebih sederhana, hanya terdiri dari beberapa ruas dan tanpa spool. Panjang joran tawar biasa ditawarkan dengan panjang mulai 1,8 m – 3,6 m dapat diringkas dan di pendekkan menjadi hanya kira – kira 60 cm saja. Dengan model pendek seperti ini joran memancing dapat di bawa ke mana – mana dengan lebih mudah.

Joran antenna tawar sekarang sudah dapat dibeli dengan harga yang murah di bawah kisaran 50 ribu per stick. Dan sekarang joran ini sudah menggantikan keberadaan joran lama yang menggunakan bambu atau stick yang ukurannya panjang. Segi kepraktisan dari sebuah joran antenna menjadi pilihan utama para pemancing. Merk  - merk yang bagus untuk joran air tawar yaitu Maguro, Falcon dll. Biasanya joran ini tersedia dalam dua bahan yaitu dari fiber glass dan dari karbon yang tentu saja harganya lebih mahal. Sebaiknya  anda mencari yang anti petir sehingga aman dipakai di pemancingan alam bebas. Selamat memancing (pemancing.com/kang lintas)

Read More »

Secara teori pemancingan di laut dapat dilakukan dalam setiap waktu, mengingat kegiatan memancing dapat dilakukan kepada berbagai jenis ikan secara acak. Kita tentu tahu bahwa ikan di laut memiliki kebiasaan makan yang berlainan, ada yang mencari makan di siang hari dan ada pula yang memiliki kebiasaan makan di malam hari. Sehingga tentu saja pencarian ikan dengan cara memancing sebenarnya dapat dilakukan kapan saja baik siang maupun malam.

Pengaruh utama pemancingan di siang hari adalah adanya sinar matahari yang menyebabkan suhu air meningkat. Umumnya jika air semakin panas, ikan akan turun dan berada di tengah perairan dan bahkan berada di dasar perairan serta di sela – sela karang yang dijadikan perlindungan bagi ikan tersebut. Semakin terang matahari menyinari dan semakin tinggi suhu maka ikan mencari perlindungan di dalam air. Namun jika udara terlalu dingin, ikan juga menjadi malas makan. Suhu sedang antara 25 – 35 derajat celsius merupakan suhu terbaik bagi pemancingan Biasanya ikan memiliki rasa lapar yang sangat jika pagi hari mulai datang, saat ia bangun dari tidurnya dan sedang aktif – aktifnya mencari makan ia akan menjadi agresif terhadap umpan ikan. Para pemancing yang memancing di laut biasanya menggunakan momen ini sebagai saat yang tepat untuk memancing karena biasanya ikan yang lapar akan memakan umpan kita dengan lebih cepat, dan jika beruntung anda bisa mendapatkan ikan sampai siang harinya terutama jika cuaca cerah.

Sore dan malam hari adalah saat tersulit untuk memancing, penggunaan lampu dan alat penerang lain seperti petromaks dapat dijadikan alat untuk menarik perhatian cumi – cumi sehingga mudak dipancing. Pemancingan ikan dimalam hari hanya bisa dilakukan kepada ikan karang seperti ikan kakap, kerapu dan berbagai ikan karang lain semacam hiu totol. Cara pemancingan jenis jigging mungkin masih bisa dilakukan dengan umpan yang luminous atau berpendar di saat gelap.

Pemancingan memang tujuannya adalah untuk bisa mendapatkan ikan, dan dengan mengetahui pola waktu makan ikan yang tepat, kita bisa menentukan kapan kita bisa memancing, termasuk umpan apa saja yang dapat kita pakai untuk memancing. Kapanpun kita mau memancing asal mengetahui pola makan ikan, maka kita bisa mendapatkan ikan pancingan yang kita inginkan. Salam strike (pmc/kang lintas)

Read More »

Sebagaimana kita ketahui, alat tangkap yang termasuk kepada perikanan pancing ini dapat dibedakan menjadi dua kategori :

1. Alat tangkap pancing berumpan
• Pancing tangan dan pancing ulur sederhana
• Alat pancing bergagang pancing
• Alat pancing dengan laying-layang
• Alat pancing gurita
• Alat pancing rawai (long line).
2. Alat tangkap pancing tanpa umpan
• Alat pancing tonda (troll line)
• Alat pancing huhate (pole and line)
• Alat pancing yang di tarik (drag line).

Adapun bagian-bagian pokok dari suatu alat pancing terdiri dari mata pancing, umpan dan tali pancing. Berbeda jenis alat pancingnya maka akan berbeda pula pelengkap sebagai tambahannya, seperti gagang pancing atau joran, pelampung, pemberat serta lain sebagainya. Selain itu, berbeda jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapannya, maka berbeda pula jenis alat pancing yang digunakan. Mengingat struktur alat tangkap pancing yang dapat dikatakan tidak rumit ini, maka variasi dari alat tangkap pancing ini pun akan banyak sekali, walau diatas telah dicobakan mengelompokkannya dalam dua kategori berdasarkan satu hal saja, yaitu dari segi umpan saja.

2.1.a. pancing tangan/ulur sederhana
Jenis pancing ini tersebar luas di Negara kita, bahkan dapat dikatakan tiap nelayan memilikinya paling kurang satu perangkat. Jenis ini ada yang menggunakan satu mata pancing peralat ataupun ada yang dengan beberapa mata pancing peralat. Jenis pancing ini ada yang dioperasikan dari suatu tebing di pantai, dari bebatuan yang ada di pantai, dari perahu maupun kapal. Beberapa jenis pancing dari kelompok ini yang ada di tanah air antara lain : pancing usep, pancing jegog, pancing mungsing, pancing gambur serta sejumlah penamaan lainnya. Jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan antara lain bambangan (kakap merah, snapper) ekor kuning (Caesio sp.), Caranx sp. Dan lain sebagainya.

2.1b. Pancing Berjoran (pole line)
Contoh yang dapat diketengahkan dari jenis bergagang pancing ini adalah pancing welesan. Panjang gagang dari jenis pancing ini 2-3 m lebih yang terbuat dari batang bamboo. Contoh lain adalah pancing tiger, pancing dewel, pancing sumbal, pancing pemaphav dan lainnya. Ikan yang menjadi tujuan penangkapan biasanya kakap merah ekor kuning, belanak, kakap serta lainnya.
2.1c. Pancing Dengan Layang-Layang (Kite Line).
Jenis pancing yang satu ini cukup unik,karena pada pengoperasiannya menggunakan laying-layang. Jenis pancing yang banyak dijumpai di pulau seribu (Jakarta), banten, sulawesi dan maluku ini umumnya dioperasikan dari sebuah perahu ataupun kapal kecil. Sebagai laying-layangnya, nelayan biasanya menggunakan daun kiter (Polypodium quercifollum), sebagai ganti ekor laying-layang, diikatkan tali pancing tanpa mata pancing sama sekali. Sebagai mata pancing dibuatkan jerat berumpan. Nelayan mengoperasikan alat ini sama seperti halnya orang bermain laying-layang. Layang-layang tersebut dinaikkan sedemikian rupa dan diusahakan agar ujung tali (yang berjerat dan berumpan) seperti bermain diatas air. Jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan yang umumnya berupa ikan cendro (Tylosurus melenotes blk) akan berusaha untuk dapat menangkap umpan tadi, hingga suatu saat ikan tersebut akan masuk ke dalam jerat dan tertangkap.

2.1d. Alat pancing gurita (Octopus Jigg)
Sesuai dengan namanya, jenis alat pancing ini ditujukan untuk menangkap gurita (octopus). Kita tahu, gurita merupakan salah satu komuditi mahal bagi restoran yang menyajikan “sea foods” maupun hidangan “sabu-sabu” yang harganya cukup “waaah”.pancing gurita ini sangat spesifik, karena pada badan alat pancingnya terdapat sekian banyak mata kail yang melengkung dan mencuat ke atas. Melalui tali pancing yang panjang, maka alat pancing yang bermata banyak tersebut diturunkan pada lokasi yang diduga banyak dihuni gurita, yang umumnya pada karang bergua-gua batu, sedikit disebelah atas mata pancing tersebut ditautkan beberapa ikan umpan pada tali pancing. Manakala gurita tengah sibuk memakan umpan-umpan tadi, melalui sentakan mendadak, akan memungkinkan gurita akan tersangkut pada mata pancing.

2.1e. Alat pancing rawai (Long Line)
Ayodhyoa (19720, Sainsbury (19680, Von Brandt (1972) maupun Nedeleo (1990) mengetengahkan bahwa jenis alat tangkap pancing yang di Indonesia ini umum dikenal sebagai pancing perawe ataupun prawe ini, bila dilihat dari segi teknisnya dan beragam alat Bantu yang digunakan, sangatlah berkembang dengan pesat. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk dioperasikan baik dilaut selasar benua maupun di laut lepas. Selain itu, ikan yang menjadi tujuan penangkapan utamanya adalah jenis ikan ekonomis penting, utamanya adalah jenis-jenis ikan tuna. Tidak mengherankan bahwa bila yang kita maksudkan adalah longlinemaka secara ototmatis diartikan “Tuna long line”. Hasil tangkapan yang diperoleh sebenarnya tidaklah mutlak jenis tuna semata, karena tidak jarang tertangkap juga jenis-jenis ikan lain seperti cucut, pari, layaran, setuhuk, ikan pedang atau ikan todak serta lain sebagainya.

Sehubungan dengan jenis alat tangkap ini, ternyata terdapat sejumlah variasi baik dalam hal ukuran, struktur maupun besar-kecil serta jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapannya. Berdasarkan besar-kecilnya alat tangkap long-line ini, Anonimous (1971) Membedakannya menjadi :
a. Onawa (long line besar). Long line besar ini ditujukan untuk menangkap jenis-jenis tuna berukuran besar dengan kisaran bobot 30-100 kg seperti jenis bluefin tuna, tuna mata besar (Bigeye tuna), Madidihang (Yellowfin Tuna) serta lainnya ;
b. Tombonawa (Albacore long line) yang sesuai dengan namanya, lebih banyak dikhususkan untuk menangkap jenis ikan albakora. Jenis ikan albakora yang menjadi sasaran penangkapan umunya dengan kisaran bobot tubuh 10-20 Kg.
c. Meijinawa (Meiji Long line). Sasaran penangkapan adalah jenis-jenis tuna berukuran bobot tubuh lebih kecil daripada kedua jenis long line terdahulu, yaitu yang berbobot antara 3-10 Kg. jenis long line ini pada dasarnya hamper tidak berbeda dengan jenis tombonawa (Albacore long line), bahkan dikarenakan banyak memperoleh perbaikan maka umum juga dikenal sebagai “improved long line”. Selain berbeda dalam hal ikan yang menjadi tujuan utamanya, juga berbeda dalam hal jumlah branch line atau tali cabang yang digunakan.

Pengklasifikasian long line lainnya ada yang mendasarkannya pada faktor kedalaman perairan tempat mengoperasikannya. Sehubungan dengan hal ini, maka dikenal :
a. jenis long line yang dioperasikan pada lapisan di bawah permukaan (sub-surface layer) ataupun pada perairan dangkal. Jenis long line ini diduga biasa dikenal sebagai “Albacore type long line” ;
b. jenis long line yang dioperasikan pad perairan dalam. Jenis ini dikenal sebagai “Black tuna type long line”. ( Shapiro, 1950 dalam tambunan 1964).

Pembagian jenis long line lainnya, adapula yang mendasarkan pada cara bagaimana long line tersebut dioperasikan, apakah perentangannya ditetapkan dengan adanya pelampung dan jangkar ataukah jenis long line tersebut dibiarkan terhanyut di ayun dan dihanyutkan oleh adanya arus. Berdasarkan hal ini maka pembagiannya adalah :
a. Jenis long line yang ditetapkan (Set long line) ;
b. Jenis long line hanyut (Drift long line) (Ayodhyoa, 1972 ; Sainsbury, 1968 ; von Brandt, 1972 ; Nedelec and Prado, 1990).

Walau dikatakan bahwa jenis long line sangatlah berfariasi baik dalam hal ukurannya, cara pengoperasiannya, daerah penangkapannya, jenis ikan yang menjadi tujuan maupun tradisi lokal, sainbury (1968) membedakan long line utamanya pada lapisan kedalaman tempat alat tersebut dioperasikan. Beliau menggklasifikasikannya menjadi :
a. sub surface long line. Long line ini leluasa dioperasikan pada lapisan air dibawah permukaan menurut kedalaman yang dihendaki berdasarkan pengetahuan kedalaman renang ikan yang menjadi tujuan penangkapan ;
b. Bottom long line. Long line ini direntang dekat maupun didasar perairan.

kecenderungan daerah asal long line mendasari penggolongan long line yang di tempuh oleh von Brandt (1972) :
a. Long line Eropa yang ditujukan untuk belut dan sidat Eropa ;
b. Long line dengan rangkaian lampu pada jarak tertentu ;
c. Jenis long line Portugis, long line ini diatur sedemikian rupa sehingga posisi long line ini terangkat dari dasar perairan.

2.2 . Alat tangkap pancing tanpa umpan
a. Alat pancing tonda ( Troll line )
b. Alat pancing huhate ( Pole and line )
c. Alat pancing yang ditarik ( Drag line )
2.2.a. Pancing tonda ( Troll line )

Alat tangkap ini ditujukan untuk menangkap jenis-jenis ikan palagis yang biasa hidup dekat permukaan, mempunyai nilai ekonomis tinggi dan mempunyai kualitas daging setengah mutu tinggi. Jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan antara lain jenis ikan bonito ( Scomberomerous sp. ), tuna, salmon, cakalang, tengiri dan lainnya. Melalui bagian belakang maupun samping kapal yang bergerak tidak terlalu cepat, dilakukan penarikan sejumlah tali pancing dengan mata-mata pancing yang umumnya tersembunyi dalam umpan buatan. Ikan-ikan akan memburu dan menangkap umpan-umpan buatan tersebut, hal ini tentu saja memungkinkan mereka tertangkap.

Sainsbury ( 1986 ) menegaskan bahwa kunci keberhasilan penangkapan umumnya banyak ditentukan oleh :
- Kemampuan pendugaan tempat-tempat pengkonsentrasian daerah yang banyak didiami jenis-jenis ikan menjadi tujuan penangkapan ;
- Kesiapan ikan-ikan untuk memekan umpan ;
- Kemampuan untuk mengetahui keadaan suhu dan gradiasi suhu maupun termoklin yang ada di daerah penangkapan tersebut, karena ikan-ikan pelagis yang hidup dekat permukaan ini umumnya sangat sensitif terhadap hal ini ;
- Bunyi yang dihasilkan baik oleh mesin maupun propeler kapal dapat mengganggu dan mengusir ikan-ikan yang membuntuti kapal yang sedang dioperasikan. Sehubung dengan hal ini, perahu atau kapal yang digerakan oleh tenaga layar tampaknya justru akan lebih baik.


Sumber : kuliahitukeren

Read More »

Mancing baronang dengan teknik garong telah berhasil membuat beberapa pemancing yang biasa mancing dengan teknik lain berpindah agama menjadi penganut mancing baronang dengan tegek dan kail garong yang fanatik. Untuk mengenal lebih jauh mengenai teknik ini ada baiknya kita mengetahui mengenai jenis-jenis kail garong serta plus minusnya. Berikut ini tulisan Mr Ichang, salah satu suhu mancing garong yang juga pengurus RAFAC.

Jenis Pancing atau Kail Garong Berikut Kelebihan & Kekurangannya :
1. Model Lurus/Biasa (Tipe : O’Shaughnessy, Sode, Maru-Sode dll)
Kelebihan:
  • Lebih mudah hook up karena mata pancing langsung mengarah keatas
Kekurangan:
  • Lebih mudah lepas (mocel) saat fight/ikan diangkat karena mata pancing tidak “mengunci” didalam daging

2. Model Lengkung/Kuku Macan (Tipe : Iseama, Chinu, Beak, Limerick dll)
Kelebihan:
  • Lebih sulit lepas (mocel) saat fight/ikan diangkat karena mata pancing “mengunci” didalam daging (seperti model mata pancing “circle hook” yang digunakan untuk memancing ikan pelagis dengan teknik ngoncer dll)
Kekurangan
  • Lebih sulit hook up karena mata pancing mengarah kedalam

3. Model Nekuk/Tekuk Dalam (Tipe : Maru Seigo, dll)
Kelebihan:
  • Diantara model lurus/biasa dan lengkung/kuku macan
  • Lebih mudah hook up dibanding model lengkung/kuku macan
Kekurangan:
  • Lebih sulit mocel dibanding model lurus/biasa


Jenis Material/Bahan Pembuat Pancing Garong :
1. Bahan Nickel/Biasa (putih/abu-abu)
Kelebihan:
  • Paling mudah disolder, hampir tidak perlu menggunakan pasta solder/cairan pelarut
Kekurangan
  • Mudah berkarat
  • Kurang kuat, pancing bisa bengkang/lurus jika di”hajar” ikan baronang besar

2. Bahan Carbon (putih/hitam)
Kelebihan:
  • Kuat, jika tidak dapat menahan kekuatan ikan cenderung langsung patah tidak bengkang
  • Tidak mudah berkarat
Kekurangan:
  • Agak sulit disolder, biasanya harus diolesi pasta solder/cairan pelarut agar lapisan carbon-nya cepat lepas & bisa disolder dengan baik

3. Bahan Baja/Stainless Steel
Kelebihan:
  • Bahan paling kuat, jarang patah/bengkang jika di”hajar” ikan baronang besar
  • Tidak mudah berkarat
Kekurangan:
  • Paling sulit disolder, harus menggunakan pasta solder/cairan pelarut serta panas solder yang baik & merata agar timah solder dapat menempel dengan sempurna di semua titik/sudut yang ada

4. Bahan Lain (Black Nickel/BN, Emas/Gold, Merah dll)
Kelebihan:
  • Jika ukuran bahan/material tebal, kelebihan hanya pada kekuatan ketebalan bahannya
Kekurangan:
  • Cukup sulit disolder, harus menggunakan pasta solder/cairan pelarut agar timah solder dapat menempel dengan sempurna
  • Cenderung lebih mudah berkarat
  • Warna mencolok cenderung menakuti ikan
Sumber: Kamifc

Read More »

Beberapa waktu lalu, sudah disajikan secara bersambung teknik-teknik memancing yang ada. Namun memancing di tengah laut atau offshore memiliki teknik tersendiri.

Teknik memancing di tengah laut adalah Bottom Fishing, Jerking, Drifting, Trolling dan Kite Fishing. Supaya tidak panasaran dengan teknik ini, secara khusus untuk memancing di laut, pulauseribu.net menyajikan untuk anda.
1. BOTTOM FISHING (Mancing dasar/jebluk): Memancing dari atas perahu yang di jangkar diatas lokasi yang dianggap potensial seperti gugusan karang, tubiran, dll. Menggunakan pemberat (umumnya terbuat dari timah) untuk menenggelamkan umpan sampai ke dasar laut. Umpan yang umum dipakai antara lain udang, ikan hidup, irisan daging ikan, cacing laut, dll. Anda dapat menggunakan type piranti yang sesuai dengan keinginan. Pada lokasi yang berpotensi ikan besar, sebaiknya menggunakan type conventional. Anda akan mempunyai tali pancing yang cukup panjang dan juga kelas kenur menengah dengan menggunakan type conventional. Sedangkan untuk ikan yang lebih kecil akan lebih mengasyikan jika menggunakan type spinning atau baitcasting.
2. JERKING (Mancing hentak/ngotrek): Sama halnya pada mancing dasar, perbedaanya terletak pada umpan yang dipakai. Mancing ngotrek menggunakan umpan tiruan yang diberi pemberat agar dapat tenggelam sampai ke dasar laut. Dan umpan tsb biasanya menyerupai ikan kecil, cacing, udang, dll. Melempar umpan dan lalu mengulur kenur sampai umpan sampai ke dasar laut, lalu gulung kenur sambil menggerakan joran untuk menciptakan gerakan kepada umpan agar terlihat seperti hidup. Setelah umpan sampai dipermukaan tenggelamkan umpan kembali, lalu gulung lagi. Demikian berulang-ulang sampai ada ikan yang menyambar umpan tsb. Piranti yang umum dipakai adalah jenis spinning, baitcasting dan conventional.
3. KITE FISHING (Mancing menggunakan layang-layang): Memancing dari perahu dengan menggunakan layang-layang untuk menjauhkan umpan pada jarak tertentu. Dan juga untuk menjaga umpan agar tetap berada di permukaan air, karena tehnik ini biasanya di lakukan untuk menangkap ikan-ikan permukaan (palagis). Beberapa pemancing bahkan menggunakan jerat untuk menangkap ikan. Piranti yang biasanya dipakai adalah jenis spinning, dan disamping menggunakan layang-layang dapat pula memakai balon.
4. DRIFTING (Mancing berhanyut): Dapat diartikan menghanyutkan umpan atau perahu, keduanya akan menimbulkan efek yang sama. Umpan yang paling baik digunakan adalah umpan hidup dengan menggunakan piranti jenis spinning, baitcasting atau conventional. Ada pula pemancing yang melakukan hal ini untuk menemukan gugusan karang yang dikelilingi oleh ikan-ikan pancingan. Setelah ada yang menyambar umpan, biasanya jangkar di lemparkan dilokasi tersebut.
5. TROLLING (Mancing tonda): Menggunakan umpan hidup atau segar dan juga umpan tiruan adalah umum pada tehnik ini. Biasanya umpan di hela di belakang perahu yang bergerak maju pada kecepatan tertentu. Dianjurkan untuk menggunakan piranti conventional, karena ikan target biasanya ikan-ikan yang berukuran besar.
(berbagai sumber/kang lintas)
Sumber Foto : http://mata-pancing.blogspot.com/2011/04/album-mancing.html

Read More »

Salah satu perlengkapan memancing yang tidak kalah penting adalah joran atau yang lebih dikenal dengan "rods". Saat ini banyak joran yang beredar di pasaran dengan berbagai merek dan tipe.

Bagi yang baru terjun ke hobby mancing., tak ada salahnya dan harus hati-hati dalam memilih joran, baik itu dalam penggunaan maupun kualitasnya. Didalam memilih joran dan memutuskan untuk membelinya, sebaiknya kita pertimbangkan dulu tujuan kita membeli joran apakah itu untuk lomba atau hanya untuk rekreasi saja.

Kalau tujuan kita membeli joran untuk mengikuti lomba/galatama sebaiknya memakai joran yang hanya lentur di ujungnya saja. Karena waktu mengajar ikan menjadi lebih singkat dibandingkan dengan joran yang lentur sampai ke tengah. Joran untuk lomba/galatama sebaiknya dipilih model yang tanpa sambungan (1 piece) yakni terdiri dari satu bagian/tangkai (tidak dapat dilepas) dengan panjang joran pada umumnya tidak lebih dari 2 meter.

Kita juga bisa mempergunakan hanya satu sambungan (2 piece) yaitu bisa dilepas menjadi 2 bagian dengan panjang joran kurang lebih 1.2 meter – 3 meter. Jangan mempergunakan joran teleskopik atau antena, karena tiap sambungannya mudah bergeser sehingga kelenturannya mudah berkurang dan juga kekuatannya terbagi-bagi.

Kontradiksi antara joran dengan pendek sampai sekarang ini hampir tidak ada masalah, tetapi untuk lomba panjang joran idealnya berkisar 168-180 cm, joran yang lebih panjang memang dapat melontarkan umpan yang lebih jauh, tetapi disesuaikan dengan luas kolam yanng rata-rata sempit sehingga tidak memerlukan lontaran yang jauh seperti di laut.

Bagi yang memancing hanya untuk sekedar rekreasi saja sebaiknya dipergunakan joran yang lentur sampai ke tengah, yang akan membuat pemancing menikmati waktu pengejaran ikan yang lebih lama, walaupun yang menyambar ikan mungkin hanya ikan-ikan yang kecil.

Supaya tidak mudah patah
Joran yang patah pada saat mengejar ikan bukanlah salah penjualnya atau pabrik pembuatnya. Kalau mau jujur, joran bisa patah karena kesalahan pemancing karena membebani joran di luar batas kemampuan joran tersebut.

Penyebab joran patah di kolam pemancingan atau di laut, paling sering terjadi karena pemancing menyentak joran hannya dengan pergelangan tangan atau mengayun menggunakan siku. Perputaran melebihi sudut 90o inilah yang membuat joran mudah dan langsung patah.

Pemancing seharusnya menyentak joran cukup dengan mengayunkan lengan, ditambah dengan menggerakan pergelangan tangan ke belakang. Ini sudah membuat kail mengait di mulut ikan tanpa terlalu berlebihan membebani joran. Ada baiknya usai mancing bilas joran dengan menggunkan air sabun untuk menghilangkan kotoran dan bau.

Yakinkanlah bahwa joran itu sudah benar-benar kering dengan cara mengelap sebelum disimpan, kalau perlu melapisi joran dengan cairan (WD40) agar kotoran atau debu tidak cepat menempel. Lalu, simpanlah di tempatnya dan jauhkan dari sinar matahari secara langsung. Apabila joran terkena sinar matahari akan berubah menjadi getas/kering sehingga mudah patah. (bintangdisurga blogs)

Read More »




Penggulung atau ril (reel) merupakan piranti yang penting di dunia mancing dewasa ini. Memang beberapa pemancing tradisional di negara kita terkadang tidak memerlukannya. Namun untuk mereka yang serius di arena mancing, penggulung menjadi suatu keharusan. Mancing ikan mas akan sangat nyaman bila penggulung yang digunakan adalah spinning reel, dicirikan dengan penggulungnya yang ada di depan dan pemasangannya di bawah joran. Dalam memilih penggulung yang baik tentu saja utamakan adalah kwalitas dari spining ril itu sendiri. Ril yang baik badannya terbuat dari Grafit yang ringan bukan plastik atau alumunium. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih spining ril seperti rem spul (Drag), bantalan roda (Ball Bearing), rasio gigi (Gear Ratio), kapasitas kenur dan kelas ril.
Drag atau mekanisme yang menahan lajunya spul saat kenur dilarikan ikan adalah alat yang vital pada ril. Tanpa drag kemungkinan gagalnya menaklukkan ikan jadi besar terutama saat menghadapi ikan mas yang berukuran super. Ril yang baik mempunyai beberapa lempengan elemen drag di dalamnya, dapat dilihat pada dus atau buku pentunjuknya. Letaknya ada yang di depan disebut Front Drag (bagian atas spul) ada juga yang di bagian belakang ril disebut Rear Drag. Beda keduanya hanya pada letak, namun berdasarkan pengalaman, Front Drag lebih tangguh, dapat menahan lajunya ikan dengan mulus tanpa tersendat.

Ball Bearing atau bantalan roda berfungsi meminimalkan gesekan pada setiap mekanismenya sehingga perputaran yang dihasilkan menjadi lancar karena kurangnya beban yang dinetralisir bantalan. Pada prakteknya semakin banyak Ball Bearing adalah semakin baik, tapi konsekwensinya harga ril menjadi mahal. Jumlah bantalan sebaiknya dilihat dari diagram ril pada buku petunjuknya. Tiga (3) Ball Bearing pada ril sudah memadai. biasanya terletak pada Pinion Gear, Drive Gear sebelah kiri dan Line Roller-nya.

Gear Ratio atau rasio gigi, dihasilkan dari perbandingan putaran gagang (handle) dengan putaran Rotor. Gear Ratio 4:1 sudah memadai untuk digunakan mancing ikan mas, rasio ini akan menghasilkan 4 putaran rotor pada 1 kali putaran gagangnya. Ril modern gear rationya antara 3:1~6,3:1. Bedakan dengan Trolling Gear yang mempunyai dua posisi gear ratio, rasio yang rendahnya untuk mengatasi perlawanan ikan yang sangat besar. Maka pada pemancingan ikan mas gear ratio yang tinggi akan semakin baik, terutama saat lomba atau mancing ikan mas sistim galatama.
Kapasitas kenur dan kelas ril yang digunakan berukuran 4kg~8kg pada kelasnya yang menampung kenur 8lbs~14lbs sebanyak 60m hingga 200m sudah cukup memadai digunakan pada perlombaan mancing ikan mas. Penggolongan kelas ril biasanya ditunjukkan oleh tipenya yang bernomor 100, 200, 1000, 2000 dan seterusnya. Tipe yang digunakan untuk mancing ikan emas adalah 2000 ke bawah. Beberapa merek terkenal yang terbukti cukup handal dalam pemakaian dan keawetannya seperti Daiwa SS-700, Shimano tipe Stella, Biomaster, Ultegra juga Wonder Zeus dan lain sebagainya. (Kang Lintas)

Read More »



Usai memancing, biasanya kita langsung mengepak peralatan pancing ke dalam wadah penyimpan alat pancing entah itu berupa tas atau mungkin box. Sesampai di rumah, kita dengan cueknya langsung meletakkan alat pancing kita.

Salah satu alat pancing utama adalah "reel" atau ril atau penggulung. Tanpa ril tentu saja sulit mendapatkan ikan besar dengan kenur kecil. Fungsi dari ril tentu sangat membantu, baik dalam melontar umpan, merata kenur, hingga memenangkan pertarungan dengan ikan. Lantaran banyak fugsinya, maka keberadaan ril perlu perawatan agar ril anda bisa tahan lama. Berikkut 8 langkah merawat ril.

1. CUCI RIL USAI MANCING Agar ril anda tetap oke sebaiknya cucilah ril anda usai mancing. Cucilah dibawah kran yang dibuka kecil. Ara ini efektif untuk menghilangkan debu, pasir dan umpan yang menempel. Keringkan ril dengan menggoyangkannya dan mengelapnya dengan kain lap.

2. PERIKSAAN RUTIN Pemeriksaan rutin ternyata bukan hanya untuk mobil atau motor saja tapi ril pun demikian bila ingin awet. Pastikan handel berputar lancar kalau perlu kasih pemulas.

3. PERIKSA RODA PENGGULUNG 
Roda pengulung (line roller) yang bagus bila berjalan lancar. Bila roda penggulung macet maka bisa menyebabkan permukaan roda cat sehingga kenur yang dilewatinya mudah cacat sehingga kenur mudah putus.

4. PERIKSA REM REEL
Untuk memeriksa rem ril (drag) ril, langkah pertama buka knob drag ke kanan hingga mati, lalu putar spul untuk membentuk mekanisme drag masih bekerja. Keping elemen drag basah, berkarat, atau terkena minyak umumnya membuat spu/tetap berputar walau drag terpasang penuh.

5. BONGKAR ELEMEN DRAG
Jika mekanisme drag mati maka tindakan selanjutnya adalah membongkar elemen drag. Caranya, lepas spulnya dengan memutar knob drag ke arah kiri. Lepaskan kawat penguncinya. Satu persatu lepas elemennya dan hafalkan urutannya. Cuci dengan air dan sabun, lalu keringkan. Bila ada salah satu yang cacat lebih baik gantilah seluruh kampas drag (washer). Jika lempeng metal (key washer dan aered washer) berkarat, rendam dalam minyak tanah atau semprotkan WD-40 dan buang karatnya dengan amplas halus. Setelah dikeringkan, lapiskan pelumas khusus untuk drag tipis-tipis setiap keping elemen drag, lalu pasang seperti semula.

6. PERIKASA ANTI-REVERSE
Jika roller bearign terkena pelumas, anti-reverse-nya sering kali tidak dapat menunci sehingga ril perlu diservis.

7. PERLU PEMERIKSAAN BERKALA
Untuk memastikan apakah ada pelumas yang mengumpal atau terdapat kotoran dal kail, maka anda perlu membongkar ril anda secara berkala. Untuk membongkar anda harus menyiapkan skema ketika anda membelinya. Siapkan piranti yang mendukung seperti obeng + dan -, tang penjepit, dan kunci pas nomor 14 untuk membuka rotor. Lepaskan spul hendel dan rotor lalu sisihkan.

8. PERIKSA GEMUK
Jika didalam ada minyak gemuk yang mengumpal berarti ril telah aus dengan kondisi parah. Buang gemuk dengan kuas dan minyak tanah lalu, periksa semua kondisi perangkat ril. Bila ada ball bearing atau gear rusak segera ganti. Bila bearing anti-reverse masih bagus jangan dibongkar atau diberi gemuk. Jika bearing anti-reverse-nya rusak ganti saja yang baru. (IFT/Mancing Mania/Kang Lintas)

Read More »

http://hananan.files.wordpress.com/2009/03/12.jpgMancing sambil wading atau berendam (atau dikenal dengan istilah ngoyor) yakni setengah berendam memang sering menghasilkan tangkapan yang super baik untuk teknik kasting ataupun teknik mancing baronang (negeg/nggarong). Tapi hati-hatilah, risiko bahaya semacam tergores karang tajam hingga yang lebih fatal selalu mengancam keselamatan Anda. Bagi Anda yang suka ngoyor, sebaiknya perhatikan beberapa hal berikut ini.

Usahakan jangan sampai Anda mancing sendirian. Ini sangat penting jika tiba-tiba terjadi insiden yang tidak diharapkan. Misalnya ketika ngoyor Anda terkena bulu babi sementara kedalaman air satu pinggang lebih. Jika sendirian Anda bisa jadi akan panik (karen amemang sangat sakit juga) dan lupa situasi.
Kenakan jaket pelampung atau pelampung ban. Ikat dan hubungkan saja dengan tali jika dianggap malah mengganggu acara atau pergerakan mancing.

Pastikan Anda telah mengetahui kedalaman air dan struktur dasar perairan setiap kali akan mancing di lokasi yang baru, tanyakan juga pergantian pasang surut terbaru kepada penduduk setempat. Pahami juga seberapa kuat arusnya.

Jika Anda hendak ngoyor di kedalaman yang lumayan,pastikan Anda tidak beradai di areal dimana antara arus bawah dan arus permukaan perbedaan arahnya sangat ekstrem. Ini sangat berbahaya bagi keselamatan Anda karena Anda bisa terseret arus layaknya pohon tumbang di air. Kaki terseret ke depan misalnya karena arus bawahnya ke depan, tetapi badan bisa terhempas ke belakang karena arus permukaan mengarah ke sana.

Setiap kali melangkah untuk berpindah lokasi, angkat kaki agak lebih tinggi ketimbang jalan biasa untuk mencegah kaki tertumbur batu atau karang yang menonjol di dasar.

Kenakan sepatu (sepatu tinggi lebih baik) untuk melindungi kaki dari goresan batu karang, menginjak bulu babi, atau tersengat binatang laut yang berbisa seperti ubur-ubur misalnya. Alangkah baiknya jika Anda memakai wader (sepatu dan celana khusus untuk wading)

Sebaiknya kenakan juga topi, kacamata (idealnya polarise), dan pakaian berlengan panjang untuk melindungi Anda dari pengaruh buruk sinar matahari. Lindungi bagian kulit yang terbuka dengan lotion sun block jika merasa diperlukan.

Tetaplah waspada terhadap gejala-gejala akan timbulnya badai. Jika gejala tersebut tampak, sudahi acara mancing Anda sesegera mungkin.(Kang Lintas)

Read More »


Cara mengikat kail :

1. Tekuk kenur pengikat kail, satukan dengan mata kailnya dan pegang dengan ibu jari dan telunjuk kiri.
2. Buat lilitan hingga batang kail dan tekukan kenur masuk ke dalam lilitan.
3. Lilitan untuk leader yang agak besar cukup 5 lilitan, semakin kecil ukuran leader semakin banyak jumlah lilitannya.
4. Tarik ujung dan pangkal kenur hingga mengetat.Periksa apakah ikatan yang mengetat tadi masih dapat meloloskan kenur, bila masih sebaiknya ulangi lagi. Maksimalkan kekuatan ikatan dengan meneteskan power glue.Kenur yang dipakai membuat rangkaian sebaiknya menggunakan kenur khusus leader atau untuk mengikat kail, biasanya warnanya hitam, agar tidak mudah melintir.Diameter kenur sesuaikan dengan kebutuhan dan nomor kail. Kail kecil dengan kenur yang kecil atau sebaliknya.


Read More »

Mengganti cincin alias kolongan joran yang rusak di bagian pangkal atau di tengah tak semudah di ujung. Sebab, baik cincin yang berkaki tunggal maupun ganda, umumnya dilekatkan ke joran dengan melalui beberapa tahapan.
Minimal cincin dilekatkan ke joran dengan dibalut benang secara melingkar dan kemudian dilapis epoksi. Namun ada pula cincin yang setelah dibalut benang, terlebih dahulu ditutup semacam pita perekat sebelum kemudian dilapis lagi dengan epoksi.
Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengganti cincin joran yang rusak tentu saja menyiapkan cincin pengganti dengan spesifikasi yang sama, atau yang mirip-mirip jika ternyata di toko pancing tak tersedia cincin joran yang betul-betul sama. Untuk itu, pastikan bawa cincin joran yang rusak ketika hendak membeli cincin yang baru. Jangan lupa, Anda juga perlu menyiapkan benang pengikat dengan diameter dan warna yang sama pula.
Untuk melepas cincin joran, mula-mula iris terlebih dahulu lapisan epoksi secara melingkar tepat di batas-batas belitan benang pengikat menggunakan pisau cutter yang tajam. Selanjutnya gunakan kuku Anda untuk mengupas lapisan epoksi yang tertinggal. Kini kupas pita perekat dan putuskan benang lalu uraikan.

Memasang cincin baru dimulai dengan menempelkannya tepat di posisi semula, menggunakan setitik superglue. Berikutnya lilitkan benang kuat-kuat secara melingkar hingga seluruh kaki cincin joran tertutup rapat. Tutup lagi dengan pita dan terakhir lapisi dengan epoksi, vernis, ataupun cat kuku.(MR/tomy)

Read More »

Ngoncer atau flylining adalah mancing dengan umpan alami (bait) dimana umpan itu dihanyutkan (untuk umpan mati) atau dibiarkan berenang bebas (untuk umpan hidup). Ngoncer biasanya dilakukan tanpa pemberat, kadang kala malah diberi alat bantu seperti balon yang berfungsi menjaga agar umpan tidak menyelam terlalu dalam.

Mancing dengan teknik ini umumnya mempunyai target ikan-ikan pelagis yang biasanya makan di permukaan. Teknik mancing ini sangat banyak digunakan di kepulauan seribu dengan target ikan tenggiri. Umpan yang dianggap paling baik adalah umpan hidup berupa ikan tembang. Selain ikan tembang ikan kembung, selar como, maupun selar juga umum dijadikan umpan, tetapi umumnya ikan-ikan itu dianggap tidak sebaik ikan tembang. Untuk mancing ikan tenggiri biasanya rangkaian diberi kawat stainless steel sepanjang 6-8 cm yang fungsinya menjaga agar kenur tidak putus digigit tenggiri yang bergigi sangat tajam.

Ngoncer juga dapat dilakukan dengan umpan ikan mati yang dihanyutkan mengikuti arus.

Read More »