Tampilkan postingan dengan label Pulau Karya. Tampilkan semua postingan

0 komentar
Untuk itu, agar kinerja pelayanan tidak terganggu, Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu mengusulkan agar rapat yang tidak terlalu penting dilakukan menggunakan media telekonferensi.

"Kita meminta agar rapat-rapat dikurangi, kecuali sangat mendesak dan urgent, makanya kita usulkan segera ditambah jaringannya, jadi rapat cukup menggunakan teleconference saja," ujar Ismer Harahap, Sekretaris Kabupaten Kepulauan Seribu, Senin (4/1).

Selain memakan waktu dan biaya tinggi, kata Ismer, rapat yang digelar di darat tergantung cuaca. Saat kondisi ekstrem, gelombang laut cukup tinggi. Namun, hal itu dapat diatasi menggunakan telekonferensi. 


"Khusus di Pulau Karya dan Pulau Pramuka harus bagus jaringan internetnya, karena bukan saja menyangkut pelayanan, tetapi juga terkait administrasi dan gaji pegawai," katanya.


Sebelumnya, mulai Senin (4/1), Kantor Perwakilan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu, di Gedung Mitra Praja, Sunter Jakarta Utara, dipindahkan ke Pulau Karya, Kepulauan Seribu Utara, khususnya bagi unit kerja perangkat daerah (UKPD). Sementara Pusat Administrasi Kabupaten masih tetap di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu Utara.


Sumber : http://www.beritajakarta.com/read/23403/Pemkab_Usulkan_Rapat_Gunakan_Telekonferensi

Read More »

0 komentar
Seluruh unit kerja perangkat daerah (UKPD) di lingkungan Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Administrasi Kepulauan Seribu secara resmi pindah dari Gedung Mitra Praja, Sunter, Jakarta Utara ke Pulau Karya, Kepulauan Seribu Utara, Senin (4/1).

"Sesuai komitmen kami, hari ini resmi semua pindah kantor, dan seluruh aset Gedung Mitra Praja telah kita serahkan kepada gubernur," ujar Ismer Harahap, Sekretaris Kabupaten Kepulauan Seribu.

Dikatakan Ismer, para karyawan tidak lagi beralasan tidak mau pindah atau berkantor dan tinggal di Pulau Karya. Hal itu karena segala kebutuhan seperti air, listrik, dan tempat tinggal telah disediakan.

"Hari ini rencananya PLN akan menambah daya listrik untuk kebutuhan SWRO yang telah ada. Kalau untuk kebutuhan bangunan dan peralatan kantor saja cukup, tapi karena ada SWRO jadi harus ditambah daya," katanya.


Pihaknya, tambah Ismer, berharap seluruh pegawai betah. Semua kekurangan di Pulau Karya akan diperbaiki dan ditambah, termasuk jaringan internet dan telepon.



Sumber : http://www.beritajakarta.com/read/23400/UKPD_Kep_Seribu_Resmi_Pindah_ke_Pulau_Karya#.VoxFBB6ICM8

Read More »

0 komentar
Pada tahun 1627 di Banten sedang terjadi Perang Batu antara penduduk Banten dan Pasukan Belanda, seorang alim ulama yang sangat sakti yakni Tubagus Zen dari Pucuk Umun, beliau adalah keturunan dari Keluarga Kerajaan Padjajaran yang menyerahkan diri untuk kemudian masuk Islam. Tubagus Zen adalah orang pertama yang tercatat menduduki Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya. Beberapa saat setelah itu juga datang beberapa orang sakti diantaranya adalah Tubagus K.H. Rama, Tubagus Maemunah dan Tubagus Sri Mulyati yang beresal dari tanah Banten. Sampai pada akhir hayatnya, Tubagus Zen dimakamkan di sebelah timur Pulau Karya, K.H Rama menghilang ketika beliau sedang bertapa di Pulau Pramuka sementara Rtubagus Maemunah dan Tubagus Sri Mulyati dimakamkan di Pulau Pramuka (sekarang menjadi Kantor Kabupaten Administrasi kepulauan Seribu).

Para pedagang kain mulai datang ke Pulau Karya, Pulau Panggang dan Pulau Pramuka pada abad ke-17 salah satunya yang terkenal berasal dari Suku Mandar, Sulawesi yaitu Sri Ayu Dewi dengan nama julukan Darah Putih. Dengan mengendarai Perahu Layar orang Aceh yang dinahkodai oleh Saudin, beliau dihadang oleh sekelompok pasukan perompak (bajak laut) yang berasal dari Kuala sungsang, Palembang. Perahu layar beliau sempat dikejar oleh para gerombolan Bajak Laut tersebut namun dengan kesaktiannya dan Izin Allah SWT perahu tersebut dapat tidak terlihat hingga sampai ke tepian Pulau Panggang dengan selamat. Saat beliau tiba di Pulau Panggang seketika itu juga Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya tidak terlihat oleh para Bajak Laut seakan-akan tidak ada Pulau-pulau di penglihatan para perompak kemudian mereka berbalik arah berlayar ke parairan karang balik layar depan Pulau Semak Daun. Akhirnya setelah sekian lama Sri Ayu Dewi meninggal dan dimakamkan di tepian pantai dataran tinggi di Pulau Pramuka. Pada saat beliau meninggal keluarlah tetesan darah yang amat harum dari salah satu pori-pori beliau dengan darah yang berwarna putih menandakan bahwa beliau adalah orang sakti.

Pada masa tersebut juga di tahun 1530 ada kisah nyata di perairan tengah laut Pulau Pramuka dan Pulau Panggang ada sepasang pengantin yang akan mengambil air minum menuju Pulau Pramuka, perbuatan kedua pengantin ini ternyata melanggar adat leluhur, yaitu berpergian sebelum 40 hari akad pernikahan mereka. Ditengan-tengah perjalanan kemudian Perahu tersebut terbalik dan kedua pengantin itupun tenggelam sambil memelik kendi air. Pengantin dan kendinya akhirnya berubah menjadi batu karang yang dinamakan sekarang Karang Langka-langka.

Pada zaman penjajahan Belanda di Tahun 1527 kawasan perairan Kepulauan Seribu khususnya di Pulau Cina, merupakan salah satu tempat transit para pedagang cina, seringkali gerombolan perompak yang berasal dari keturunan Seka yang datang ke Pulau Cina untuk merampok harta dan membunuh para pedagangnya. Para pedagang tersebut dibunuh dengan cara memanggang mereka di Karang Pemanggang dan dimakan bersama-sama. Saat itu juga para pendekar sakti bermunajat untuk keselamatan Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya dan beberapa saat kemudian Pulau Pramuka, Pulau Panggang dan Pulau Karya kembali tidak terlihat oleh para bajak laut. Kemudian ketika sedang mencari-cari Pulau tersebut Pasukan Bajak Laut dari Suku Seka ini terdampar di karang lebar sampai perbekalan konsumsi mereka habis dan kelaparan, pada akhirnya pimpinan bajak laut tersebut memakan daging temannya sendiri dengan cara di panggang dan baru kemudian dimakan dengan lahapnya.

Read More »


Sumber Foto : 


Read More »

Nah, rupanya Kepulauan Seribu sebagai bagian dari Jakarta tampaknya tak terlepas dari eksvansi bangsa yang dikenal memiliki etos kerja tinggi ini. Ya, para penjelajah samudera bermata sipit ini juga menoreh cerita masa lalu di salah satu pulau di Kepulauan Seribu di era pejajahan Bangsa Belanda di Indonesia khususnya di ranah Batavia yang saat ini bernama Jakarta.

Pulau tersebut adalah Pulau Karya yang terletak di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau yang memiliki luas daratan sekitar 6 hektar ini sekarang dimanfaatkan sebagai pusat Kantor Teknis Pemerintahan Kepulauan Seribu dan sejumlah instasi lainnya, seperti Markas Kepolisian Resor Kepulauan Seribu, Markar Danramil, dan juga sebagai Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Mengenang pulau yang dihiasi pantai pasir putih dengan air laut dangkal yang jernih ini tak terlepas dari penemuan berbagai macam alat kerajinan yang identik dengan Tionghoa. Bahkan, saat dilakukan penilitian oleh Dinas Permusiuman dan Purbakala DKI Jakarta sekitar Tahun 1973 lalu, ditemukan sejumlah tulang belulang yang memiliki kemiripan dengan tekstur kerangka tulang orang cina.

Dari itu, setelah beritapulauseribu.com menelusuri lebih dalam dengan meminta keterangan sejumlah sesepuh dan orang yang mengetahui sejarah Pulau Karya yang juga disebut warga Pulau Panggang adalah Pulau Cina atau Pulau Kuburan Cina. "Sejak 1973 oleh Gubernur Ali Sadikin, pulau itu diganti nama dengan Pulau Karya. Dulunya kita sebut itu Pulau Cina atau Pulau Kuburan Cina," ujar Abdullah (49), warga Pulau Panggang, Kamis (3/1).

Menurut mantan Lurah Pulau Panggang ini, dirinya pernah sering diajak oleh bapaknya yang kala itu Kepala Kampung (Sekarang Lurah. red) membantu Petugas Permusiuman dan Purbakala menggali tanah mencari bukti-bukti sejarah Pulau Karya. "Seingat saya, saat itu banyak ditemukan keramik dan geraba yang dihiasi tulisan-tulisan cina. Bahkan di sisi barat pulau yang saat ini jadi TPU ditemukan kerangka tengkorak orang cina," katanya.
Tak berhenti mencari fakta bagaimana orang Tionghoa bisa sampai di Pulau Karya?, beritapulauseribu.com mendapat cerita dari Ambas (52) yang juga pernah menjabat sebagai wakil lurah di Pulau Panggang. Menurut dia, konon sekitar tahun 1700-an, saat terjadi eksodus orang-orang Tionghoa ke Indonesia yang dijadikan pekerja paksa oleh Belanda karena dikenal memiliki etos kerja tinggi.

Kekejaman Negeri Ratu Elizabet kala itu membuat orang Tionghoa dan orang pribumi menderita. Tak dikatehui siapa yang menjadi pimpinan orang Tionghoa melarikan diri dari kerja paksa itu. Menggunakan kapal, mereka membawa harta benda berupa keramik dan lainnya. "Sayangnya, saat melintas di perairan Pulau Seribu, orang-orang cina yang melarikan diri itu diserang wabah penyakit yang mematikan," kisahnya.

Untuk mengobati serangan penyakit, kata Ambas, kapal itu berlabuh di Pulau Karya yang saat itu tanpa nama. Mereka berusaha mencari obat dan bertahan hidup di pulau tersebut. Sayangnya, karena tak ada obat yang dapat menyembukan penyakit mereka akhirnya satu demi satu meninggal dan dikubur di pulau itu. "Tidak diketahui apakah ada yang selamat, tapi kisah itu putus di saat mereka semua meninggal," paparnya.
Kini jelaslah sudah, kenapa pulau yang berhadap-hapan dengan Pulau Panggang ini sebelumnya bernama Pulau Cina atau Pulau Kuburuan Cina. Fakta sejarah menyebutkan peninggalan keramik berornamen cina dan kerangka tengkorak yang kini tersimpan di musium, membuktikan orang-orang Tionghoa pernah ada di Pulau Karya dan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. (kang Lintas)

Read More »


Read More »

Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Parbud) Kepulaun Seribu menggelar audisi pemilihan Putra Putri Bahari 2013 (PPB'13). Audisi dilaksanakan di Gedung Teknis Sudin Parbud Kepulauan Seribu di Pulau Karya, Kepuluan Seribu Utara, Sabtu (14/9).

Acara diikuti 60 peserta yang berasal dari enam wilayah kelurahan di Kepulauan Seribu. "Pada tahun ini antusias peserta meningkat dibanding tahun kemarin. Tahun lalu yang mendaftar hanya 40 orang, sedangkan tahun ini mencapi 60 orang," ujar Puji Surono Perwakilan Sudin Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu.

Dari seluruh peserta di Kepulauan Seribu, menurut Puji, akan dipilih menjadi enam peserta. Mereka akan dikarantina di Jakarta darat. Sedangkan untuk peserta dari wilayah Jakarta darat akan diadakan seleksi pada Minggu 15 September. "Jumlah total peserta sebanyak 120, dengan rincian 60 dari pulau dan 60 dari Jakarta darat," jelasnya.

Seorang peserta, Ory Primadita mengatakan, jika dirinya terpilih menjadi peserta pemilihan Putri Putri Bahari, dia akan berusaha sebaik mungkin agar menjadi pemenanga. Sehingga dara dari Pulau Untungjawa ini berjanji akan ikut memajukan promosi wisata di Kepulauan Seribu.

"Motivasi saya jika terpilih nanti akan meningkatkan wisata bahari yang berkelanjutan dan mengembangkan wisata yang belum terkenal yang ada di Kepulauan Seribu," ungkapnya. [Rudianto]

Read More »

Nah, rupanya Kepulauan Seribu sebagai bagian dari Jakarta tampaknya tak terlepas dari eksvansi bangsa yang dikenal memiliki etos kerja tinggi ini. Ya, para penjelajah samudera bermata sipit ini juga menoreh cerita masa lalu di salah satu pulau di Kepulauan Seribu di era pejajahan Bangsa Belanda di Indonesia khususnya di ranah Batavia yang saat ini bernama Jakarta.

Pulau tersebut adalah Pulau Karya yang terletak di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau yang memiliki luas daratan sekitar 6 hektar ini sekarang dimanfaatkan sebagai pusat Kantor Teknis Pemerintahan Kepulauan Seribu dan sejumlah instasi lainnya, seperti Markas Kepolisian Resor Kepulauan Seribu, Markar Danramil, dan juga sebagai Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Mengenang pulau yang dihiasi pantai pasir putih dengan air laut dangkal yang jernih ini tak terlepas dari penemuan berbagai macam alat kerajinan yang identik dengan Tionghoa. Bahkan, saat dilakukan penilitian oleh Dinas Permusiuman dan Purbakala DKI Jakarta sekitar Tahun 1973 lalu, ditemukan sejumlah tulang belulang yang memiliki kemiripan dengan tekstur kerangka tulang orang cina.

Dari itu, setelah beritapulauseribu.com menelusuri lebih dalam dengan meminta keterangan sejumlah sesepuh dan orang yang mengetahui sejarah Pulau Karya yang juga disebut warga Pulau Panggang adalah Pulau Cina atau Pulau Kuburan Cina. "Sejak 1973 oleh Gubernur Ali Sadikin, pulau itu diganti nama dengan Pulau Karya. Dulunya kita sebut itu Pulau Cina atau Pulau Kuburan Cina," ujar Abdullah (49), warga Pulau Panggang, Kamis (3/1).

Menurut mantan Lurah Pulau Panggang ini, dirinya pernah sering diajak oleh bapaknya yang kala itu Kepala Kampung (Sekarang Lurah. red) membantu Petugas Permusiuman dan Purbakala menggali tanah mencari bukti-bukti sejarah Pulau Karya. "Seingat saya, saat itu banyak ditemukan keramik dan geraba yang dihiasi tulisan-tulisan cina. Bahkan di sisi barat pulau yang saat ini jadi TPU ditemukan kerangka tengkorak orang cina," katanya.
Tak berhenti mencari fakta bagaimana orang Tionghoa bisa sampai di Pulau Karya?, beritapulauseribu.com mendapat cerita dari Ambas (52) yang juga pernah menjabat sebagai wakil lurah di Pulau Panggang. Menurut dia, konon sekitar tahun 1700-an, saat terjadi eksodus orang-orang Tionghoa ke Indonesia yang dijadikan pekerja paksa oleh Belanda karena dikenal memiliki etos kerja tinggi.

Kekejaman Negeri Ratu Elizabet kala itu membuat orang Tionghoa dan orang pribumi menderita. Tak dikatehui siapa yang menjadi pimpinan orang Tionghoa melarikan diri dari kerja paksa itu. Menggunakan kapal, mereka membawa harta benda berupa keramik dan lainnya. "Sayangnya, saat melintas di perairan Pulau Seribu, orang-orang cina yang melarikan diri itu diserang wabah penyakit yang mematikan," kisahnya.

Untuk mengobati serangan penyakit, kata Ambas, kapal itu berlabuh di Pulau Karya yang saat itu tanpa nama. Mereka berusaha mencari obat dan bertahan hidup di pulau tersebut. Sayangnya, karena tak ada obat yang dapat menyembukan penyakit mereka akhirnya satu demi satu meninggal dan dikubur di pulau itu. "Tidak diketahui apakah ada yang selamat, tapi kisah itu putus di saat mereka semua meninggal," paparnya.
Kini jelaslah sudah, kenapa pulau yang berhadap-hapan dengan Pulau Panggang ini sebelumnya bernama Pulau Cina atau Pulau Kuburuan Cina. Fakta sejarah menyebutkan peninggalan keramik berornamen cina dan kerangka tengkorak yang kini tersimpan di musium, membuktikan orang-orang Tionghoa pernah ada di Pulau Karya dan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. (kang Lintas)

Read More »

http://i1002.photobucket.com/albums/af144/magicaelly/pulau%20seribu/100_1931.jpg

Sumber :  magicaelly

Read More »












Sumber : maleber.net























Read More »




Sumber Foto : astacala.org



Read More »


Sumber Foto : By N.Rio

 


Read More »