Tampilkan postingan dengan label Pulau Onrust. Tampilkan semua postingan

0 komentar
Pulau Kelor, Onrust dan Cipir, tiga pulau ini adalah sedikit pulau yang ada di gugusan Kepulauan Seribu. Pulau yang tidak terlalu luas ini memiliki pantai dengan hamparan pasir putih, dermaga hingga beberapa pemecah ombak.
 
Siapa sangka meski pulau-pulau tersebut tidak begitu luas, ternyata ketiganya menyimpan sejarah yang besar bagi bangsa Indonesia. Hal ini pun jadi daya tariknya.

Pulau Kelor
Pulau Kelor atau Kherkof, yang berarti halaman gereja atau kuburan. Daya tarik utama pulau yang memiliki luas sekitar 1,5 hektar ini adalah Benteng Martello yang dibangun VOC pada abad ke-17. Terbuat dari batu bata merah berbentuk lingkaran dimaksudkan supaya senjata bisa bermanuver 360 derajat. Pada masa kejayaan Belanda, benteng Martello didirikan sebagai benteng sekaligus alat pertahanan untuk meredam serangan musuh yang ingin menyerang Batavia. Benteng tersebut hingga kini masih berdiri kokoh meski beberapa sisinya sudah roboh termakan usia dan pelapukan alami. Nama Kelor juga semakin dikenal oleh masyarakat setelah aktor Rio Dewanto menggelar pernikahan di pulau ini pada pertengahan 2013 lalu.

Pulau Onrust
Tak jauh dari Pulau Kelor, terdapat Pulau Onrust. Konon James Cook, sang penemu benua Australia pernah singgah untuk memperbaiki kapalnya yang rusak di Pulau Onrust. Hal itu diceritakan kembali pada diorama miniatur pulau Onrust dalam museum yang terbuka untuk umum di pulau tersebut. Tidak berhenti di situ, sekitar tahun 1911-1933 pulau ini pernah menjadi tempat persinggahan bagi para calon jemaah yang hendak menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Sisa reruntuhannya masih bisa dilihat sampai sekarang.

Pulau Onrust juga tak lepas dari cerita misteri tentang kemunculan sosok wanita Belanda bernama Maria. Sosok Maria sudah dikenal di kalangan nelayan dan warga Kepulauan Seribu. Menurut tutur cerita yang beredar, Maria meninggal dan dimakamkan di Pulau Onrust dengan mengenakan gaun pengantin saat menanti kekasihnya yang telah lama pergi. Di atas petilasan Maria yang bisa dijumpai di pulau ini tertulis puisi karyanya berbahasa belanda yang berisi kesedihan hatinya. Selain Maria, terdapat juga sebuah makam kembar yang dipercaya milik salah satu pejuang DI/TII pada masa perjuangan Soekarno.

"Sosok Maria bagi sebagian warga di sini memang sudah tak asing lagi. Namun justru itulah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang dan melihat langsung petilasannya," ujar Fauzani, tour guide dari GoffinID kepada Beritasatu.com.

Beberapa cerita yang juga sempat beredar dari berbagai sumber mengatakan bahwa terdapat sebuah terowongan rahasia bawah laut yang menghubungkan pulau Kelor dan Onrust. Selain itu, Onrust juga pernah diyakini menyimpan harta karun berupa emas dan perhiasan peninggalan Belanda. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pernah dilakukan penggalian terhadap harta karun tersebut, namun kenyataannya hal itu tidak pernah ditemukan hingga sekarang.

"Dulu terowongan dan harta karun emas itu pernah diselidiki dan digali pada masa pemerintahan presiden Soeharto, namun hasilnya nihil," kata Fauzani.

Pulau Cipir
Pulau berikutnya bernama Cipir atau yang disebut juga dengan Pulau Khayangan. Onrust dan Cipir masih memiliki sejarah yang erat terkait para calon jemaah haji. Di pulau ini masih bisa kita temui sisa reruntuhan rumah sakit dan rumah karantina bagi para calon jemaah haji yang jatuh sakit. Dua pulau ini dulunya dihubungkan dengan sebuah jembatan. Namun kini yang terlihat hanya reruntuhan tiang jembatannya saja yang membentang di tengah laut.

Mengunjungi ke tiga pulau tersebut dapat dilakukan dengan menyewa perahu motor dari Muara Kamal, Penjaringan, Jakarta Utara. Biaya sewa pulang-pergi untuk satu perahu termasuk pengemudinya tidak mahal jika bersama dengan rombongan.

Perjalanan dengan jarak sekitar 1,8 kilometer tersebut bisa dicapai dalam waktu sekitar 30 menit saja. Hal terakhir yang menarik adalah menyusuri ketiga pulau tersebut bisa dilakukan hanya dalam sehari, dari pagi hingga sore hari. Lihat keindahan pulau-pulau tersebut dengan mengunjungi link di galeri ini.

Penulis: Danung Arifin/MUT
Sumber : http://www.beritasatu.com/food-travel/236037-cerita-harta-karun-emas-di-pulau-onrust.html


Read More »

Pulau Onrust dari Masa ke masa

Tahun 1610, Jan Pieterszoon Coen minta restu Pangeran Jayakarta untuk membangun dok kapal disalah satu pulau di teluk Jakarta untuk perbaikan kapal yang akan digunakan untuk berlayar ke Asia terutama ke Asia tenggara, permintaan ini disetujui oleh Pangeran Jayakarta dengan memberikan ijin pemakaian di Pulau Onrust, pulau seluas 12 hektar yang berjarak 14 kilometer dari Jakarta.

Benteng Pertahanan Belanda di Pulau Onrust Pulau Seribu

Benteng yang ada di Pulau Onrust Pulau Seribu
courtesy jakarta.go.id
Onrust Tahun 1615

VOC mulai membangun dok perbaikan kapal dan gudang di pulau Onrust.  Jan Pieterszoon Coen pelan- pelan sudah berencana membangun perdagangan dan militer untuk melawan Banten dan Inggris.
Onrust Tahun 1656
mulai membangun benteng pertahanan kecil yang berbentuk persegi panjang dengan dua menara pengawas, dan tahun 1671 benteng pertahanan ini diperbesar, benteng berbentuk simetris  pentagonal dengan menara pengawas disetiap sudutnya.  Konstruksi benteng dengan dinding tebal yang terbuat dari bata merah dan batu karang.
Onrust Tahun 1674

Tahun 1674 Benteng ini ditambah dengan beberapa bangunan gudang .
Onrust Tahun 1795

Tahun 1795 Posisi Belanda di Batavia kurang kuat akibat perang eropah dan tahun 1800 angkatan laut Inggris yang dipimpin oleh Kapten Henry Lidgbird Balls dengan kapal HMS Daedalus, HMS Sybille, HMS Centurion dan HMS Brave masuk ke Batavia dan benteng pertahanan pulau Onrust dihancurkan.
Onrust Tahun 1848

Pulau Onrust diperhatikan kembali oleh Gubernur Jenderal GA Baron Van Der Capellen di tahun 1827, dan aktivitas di pulau Onrust kembali normal di tahun 1848.
Onrust Tahun 1911-1933

Tahun 1911-1933 pulau Onrust dan pulau Cipir menjadi karantina Haji, barak haji berjumlah 35 unit untuk kapasitas masing – masing 100 orang, jadi total dapat menampung 3500 orang.  Dibangun di tahun 1911. Karantina haji ini adalah bagian dari politik Islam dari kolonial Belanda, karena takut akan kekompakan umat Islam, pemerintah kolonial Belanda mengkarantina penduduk pribumi yang ingin berangkat haji maupun setelah pulang haji di maksud agar melalui karantina haji ini kolonial Belanda mudah mengkontrol, dan merupakan taktik Belanda.  Pulau Cipir tetangga dari pulau Onrust yang dihubungkan dengan jembatan ini masih terlihat sisa-sisa karantina haji walaupun sudah tidak utuh lagi, karantina haji ini mirip dengan penjara atau kamp konsentrasi.  Bangunan karantina seperti rumah sakit dan bark terbagi di pulau Onrust dan pulau Cipir, dengan pusat karantina di pulau Onrust, jemaah diwajibkan ikut karantina selama 5 hari.
Onrust Tahun 1933-1940

Tahun 1933 – 1940  pulau Seribu ini kembali digunakan Belanda untuk tahanan pembrontak yang terlibat insiden Tujuh Kapal “Zeven Provicien“.  Di tahun 1940 pulau ini digunakan Belanda untuk menahan Jerman seperti Steinfurt yang merupakan kepala adminstrativ Pulau Onrust.  Setelah jepang menyerbu Indonesia tahun 1942 peran pulau ini mulai menurun hanya digunakan sebagai penjara bagi penjahat dengan kejahatan serius.

Pulau Onrust Pulau Seribu setelah Kemerdekaan

Saat setelah kemerdekaan, pulau Onrust dijadikan karantina bagi penderita penyakit lepra dibawah kendali Departemen kesehatan Indonesia, hal ini sampai tahun 1960, kemudian karantina penyakit Lepra dipindah ke Tanjung priuk.
Chris Soumokil pendiri Republik Maluku Selatan ditangkap dan ditahan di pulau Onrust dan di eksekusi pada tanggal 21 April 1966 atas perintah presiden Soeharto.
On this date in 1966, an Indonesian firing squad on the island of Obira (or Obi) shot Chris Soumokil (the link is to his Dutch wikipedia page) for having styled himself the president of the Republic of the South Moluccas.
Soumokil was captured in December 1962 and imprisoned; he was executed* just a month after the Indonesian government was seized by Suharto, on a programme of putting disorder to the sword.
Onrust Tahun 1972

Tahun 1972 gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menyatakan pulau Onrust sebagai situs sejarah yang dilindungi.
Onrust Tahun 2002

Tahun 2002, pemerintah menyatakan pulau Onrust dan 3 pulau lain didekatnya (pulau Cipir, pulau Kelor dan Pulau Bidadari) sebagai Taman Arkeologi untuk melindungi situs – situs reruntuhan yang terdapat dipulau dari jaman VOC Belanda.
 
Sumber : viva.co.id


Read More »



Untuk menginspirasi masyarakat Jakarta agar lebih banyak bergerak, Nike meluncurkan gerakan "Bajak Jakarta" untuk menyebarkan virus lari. Kegiatan tersebut akan berujung ke agenda besar, yaitu lari 10K (10 kilometer) pada 15 Desember 2013 di Jakarta. Pada Minggu (17/11/2013), sebanyak 60 peserta yang terpilih ikut "membajak" Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, sebagai salah satu persiapan jelang 10K.

Nike mengatur tiga sesi latihan untuk membantu pelari mempersiapkan diri menjelang lomba 10K, mulai akhir Oktober hingga awal Desember. Setiap sesi Bajak Jakarta memiliki kegiatan yang bervariasi yang dilakukan di berbagai lokasi Ibu Kota. Pelari yang berpartisipasi dalam Nike Training Club akan mendapatkan tips dari para atlet.

"Awalnya kami melakukan gerilya dengan membuat simbol-simbol Bajak Jakarta di tempat yang memang sering digunakan untuk kegiatan olahraga. Gerakan tersebut berlanjut dengan 'pembajakan' Sultan Residence dengan melakukan vertical running, 23 Oktober lalu. Sekarang, kami melanjutkan dengan sesuatu yang lebih besar, yaitu membajak pulau," terang Nino Priambodo, Manajer Marketing Nike Indonesia.

Pada sesi kedua ini, para peserta melakukan gerakan-gerakan dasar sebagai pemanasan sebelum mengikuti serangkaian kegiatan lari. Kemudian semua peserta dibagi menjadi empat tim dengan satu instruktur. Selain melatih kelenturan dan ketahanan fisik, para peserta juga diajak bermain game yang menuntut mereka untuk terus berlari.

"Memang pesertanya masih terbatas karena space yang kami sediakan juga terbatas. Tapi yang lebih penting, kami ingin menyebarkan pesan yang disampaikan melalui kegiatan ini. Kami ingin masyarakat Jakarta bergerak sebab kebanyakan warga Jakarta malas bergerak karena padatnya aktivitas mereka," tambah Nino.

"Alasan memilih lari sebagai inti gerakan ini pun karena semua orang bisa melakukannya. Lari adalah olahraga paling sederhana yang bisa dilakukan tanpa perlengkapan apa pun."

"Untuk 15 Desember nanti, pendaftaran peserta sudah ditutup dan kami sudah mencatat 10.000 peserta yang akan berpartisipasi. Tapi sebelum itu, kami akan melakukan 'pembajakan' sekali lagi pada 8 Desember. Mengenai tempat dan kegiatannya, masih rahasia," tandas Nino.


Sumber : http://olahraga.kompas.com

Read More »

salah satu benteng peninggalan Belanda di Pulau Bidadari (Kep. Seribu)
Mendengar nama Pulau Seribu, pasti di benak kita akan terlintas bayangan akan sebuah tempat yang eksotis, indah dan merupakan salah satu wilayah yg tepat untuk para pelancong, baik dalam maupun luar negeri.

Benak seperti itu memang tidak salah. Gugusan Kepulauan Seribu memang suatu tempat yang amat eksotis dan sangat strategis untuk menenangkan diri dari kebisingan dan kesibukan Ibu Kota Jakarta. Tempat yang pas untuk me-refresh pikiran yang sehari-hari “dipermainkan” oleh hiruk pikuknya ibu kota. Namun, bila kita kembali pada sekitar 3 abad yang lalu, benak kita akan indahnya Pulau Seribu pasti akan sirna, apalagi untuk berpelesir kesana. Berikut sekilas mengenai sejarah dan asal-usul Pulau Seribu yang dirangkum dari berbagai sumber.

Pada abad ke-17, pulau ini merupakan penunjang aktivitas Pulau Onrust karena letaknya yang tidak berjauhan dengannya. Karena menjadi penunjang, di pulau ini dibangun pula sarana-sarana penunjang. Pada tahun 1679, VOC membangun sebuah rumah sakit lepra atau kusta yang merupakan pindahan dari Angke. Karena itulah, pulau ini sempat dinamakan Pulau Sakit.

Saat bersamaan, Belanda mendirikan benteng pengawas. Benteng yang dibangun ini lebih berfungsi sebagai sarana pengawasan untuk melakukan pertahanan dari serangan musuh. Sebelum pulau ini diduduki oleh Belanda, orang Ambon dan Belanda pernah tinggal di pulau ini.

Sekitar tahun 1800, armada laut Britania Raya menyerang pulau ini dan menghancurkan bangunan di atas pulau ini. Sekitar tahun 1803 Belanda yang kembali menguasai Pulau Bidadari dan membangunnya kembali. Akan tetapi Britania kembali menyerang tahun 1806, Pulau Onrust dan Pulau Bidadari serta pulau lainnya hancur berantakan. Tahun 1827 pulau ini kembali dibangun oleh Belanda dengan melibatkan pekerja orang Tionghoa dan tahanan. Bangunan yang dibangun adalah asrama haji yang berfungsi hingga tahun 1933.

Pulau ini sebelum menjadi resor sempat kosong dan tidak berpenghuni sampai dengan tahun 1970. Bahkan pulau ini tidak pernah dikunjungi orang. Pada awal tahun 1970-an, PT Seabreez mengelola pulau ini untuk dijadikan sebagai resor wisata.

Pada kawasan Pulau Seribu terdapat Taman Nasional yang diberi nama Taman Nasional Pulau Seribu yang mencakup 44 pulau di dalamnya dengan luas sekitar 110 Ha. Kawasan taman nasional ini mempunyai nilai konservasi tinggi karena keanekaragaman jenis dan ekosistem yang dimiliki. Program pelestarian taman nasional salah satunya adalah penangkaran penyu sisik (eretmochelys imbricata), hutan mangrove dan padang lamun di Pulau Pramuka. Pembudidayaan ikan hias banyak dilakukan di Pulau Panggang.

Wilayah konservasi lainnya adalah Pulau Rambut yang menjadi habitat bagi burung-burung asli Pulau Seribu termasuk Elang Bondol yang menjadi mascot kota Jakarta. Pulau Bokor adalah kawasan konservasi bagi kelestarian terumbu karang, mollusca dan aneka jenis biota laut yang eksotis.

Pulau Khayangan, Pulau Onrust dan Pulau Kelor memiliki banyak situs bersejarah. Di Pulau Khayangan terdapat sisa bangunan benteng lengkap dengan meriam peningggalan Belanda. Pulau Onrust dahulu merupakan galangan kapal VOC dan terdapat sisa-sisa bangunan karantina haji, sedangkan di Pulau Kelor terdapat benteng Martello yang pada masa penjajahan Belanda merupakan benteng pertahanan bagi wilayah perairan teluk Jakarta.

Sumber : mustaqimzone 

Read More »

Mendung mengelayut di langit Kepulauan Seribu, seakan tahu perahu kami sedang menuju pulau yang punya sejarah kelam dalam perjalanan Indonesia. Pulau Onrust yang berarti Pulau'istirahat' nyatanya tak pernah benar-benar beristirahat.

Dalam perjalanannya, Pulau dengan luas sekitar 7 hektar ini banyak dialihfungsikan mulai dari benteng pertahanan dan tempat logistik, pelabuhan, hingga asrama haji di zaman Belanda.

Beralih ke zaman Jepang, pulau yang pernah dihancurkan oleh gunung Karakatau ini, juga digunakan untuk memenjarakan sejumlah kriminal.

Pasca kemerdekaan, Justru Indonesia memanfaatkan pulau ini sebagai tempat karantina bagi penderita penyakit menular di bawah kontrol kementerian kesehatan. Setelah itu, tahun 1965, pengemis dan tuna wisma ditempa pelatihan militer di pulau ini.

Beragamnya sejarah yang mewarnai Pulau Onrust menyebabkan pulau ini punya situs sejarah yang bias. Dalam satu putaran mengelilingi Onrust, Anda seperti masuk ke dalam perjalanan Onrust dari tahun ke tahun.

Yang paling mencolok tentunya puing-puing asrama haji yang amat memprihatinkan. Bukan hanya akibat letusan gunung Krakatau yang menggilasnya tapi juga tangan kotor manusia yang membuat peninggalan sejarah ini semakin memburuk.

Berjalan ke dalam suasana makin tak jelas, tak ada petunjuk yang bisa diandalkan untuk setiap situs sejarah. Memang ada beberapa papan kayu yang memberikan informasi tapi sayang sudah lapuk dimakan usia.

Mendekati bibir pantai, ada beberapa makam keluarga Cornelis Van de Walck yang dulunya merupakan keluarga pengelola pulau ini. Makam ini juga berdekatan dengan makam pribumi yang kematiannya melompat 20 tahun akibat pemberontakan Zeven provicien.

Tak ketinggalan, lagi-lagi makam pemberontak,Kartosoewirjo menjadi primadona, beberapa pengunjung pun masih tampak mempercayai si pendiri NII ini dimakamkan di sana, bukan di Pulau Ubi seperti yang ditunjukan Fadli Zoen.

Tak memerlukan waktu lama untuk berkeliling di pulau ini. Berbeda dari sebelumnya yang selalu dijadikan tempat kegiatan kontroversial. Kini Pulau Onrust dipadati banyak pemancing dan tentunya sampah yang semakin menggunung. Memprihatinkan.
 
Sumber : merdeka.com 
 

Read More »

Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungan yang diperlukan bagi pengamanannya disebut situs. Pengertian tersebut sesuai dengan pasal 1 ayat (2) Undang-undang RI nomor 5 Tahun 1992. Tentang Benda Cagar Budaya. Pulau Onrust adalah suatu situs yang mengandung benda cagar budaya dari masa kolonial yang perlu mendapat perlindungan dengan maksud untuk pelestarian dan pemanfaatannya guna memajukan kebudayaan nasional Indonesia.

Latar Belakang Sejarah
Pulau Onrust berperan pada masa Kolonial Belanda sekitar abad 17. Sebelum Belanda memanfaatkan untuk keperluan penjajahan, pulau-pulau di perairan Teluk Jakarta tersebut telah dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja-raja Banten.

Pulau Onrust pernah menjadi sengketa antara kerajaan Banten dan Jayakarta. Jayakarta merasa memiliki pulau ini karena lokasinya dekat, di depan kota Jayakarta. Sedangkan Banten juga mempunyai hak atas epulauan tersebut karena seluruh kepulauan seribu adalah bagian dari teritorial kekuasaannya.

Setelah VOC gagal menguasai perdagangan Banten pada 1610, atas izin dari Pangeran Jayakarta, Belanda menempati salah satu kepulauan di Teluk Jakarta sebagai tempat untuk perbaikan kapal-kapal yang berlayar ke Asia, khususnya Asia Tenggara. Oleh Pangeran Jayakarta VOC diizinkan menggunakan salah satu pulau di Teluk Jakarta, yaitu Pulau Onrust, seluas 12 hektar dan jaraknya 14 km dari Jakarta. Tahun 1615 VOC mendirikan galangan kapal dan sebuah gudang kecil. J. Pieterzoon Coen mengharapkan Pulau Onrust dapat menjadi koloni dagang selain dijadikan pertahanan atas ancaman Banten dan Inggeris pada 1618. Pada tahun-tahun berikutnya dilakukan pembangunan untuk kepentingan VOC-Belanda di Pulau Onrust di antaranya pada 1656 dibangun benteng kecil bersegi empat dengan dua bastion (bangunan yang menjorok ke luar berfungsi sebagai pos pengintai).

Pada 1671 bangunan benteng tersebut diperluas menjadi benteng bersegi lima dengan astion pada tiap-tiap sudutnya, namun bentuknya tidak simetris. Semua bangunan tersebut terbuat dari batu merah dan batu karang. Pada 1674 dibangun gudang-gudang. Kedudukan Belanda di Batavia semakin tak menentu sehubungan dengan perang Eropa 1795. Ketidaktentuan semakin bertambah dengan adanya armada Inggeris di bawah pimpinan H. L. Ball pada 1800. Pulau Onrust dikepung oleh Inggeris dan dihancurkan. Belanda membangun kembali Pulau Onrust dan selesai pada 1806, kemudian dihancurkan lagi oleh Inggeris. Serangan Inggeris yang kedua ini dipimpin oleh Admiral Edward Pellow.

Dengan didudukinya Batavia oleh Inggeris pada 1810 bangunan-bangunan di Pulau Onrust diperbarui sampai Inggeris meninggalkan Indonesia 1816. Pulau Onrust diperhatikan kembali pada 1827 pada masa Gubernur Jenderal G.A. Baron Van Der Capellen. Kegiatan di Pulau Onrust berjalan kembali pada 1848. Tahun 1856 dibangun dok kapal terapung untuk perbaikan kapal di laut. Dengan dibangunnya pelabuhan laut Tanjung Priok tahun 1883 maka peranan Pulau Onrust semakin berkurang.

Pada 1911-1933 Pulau Onrust dijadikan karantina Haji. Sejak 1933 sampai 1940 Pulau Onrust dijadikan tahanan bagi para pemberontak yang terlibat “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien). Tahun 1940 dijadikan tempan tawanan orang-orang Jerman di antaranya Steinfurt mantan Kepala Administrasi Pulau Onrust. Setelah Jepang datang di Indonesia (1942) peranan Pulau Onrust kurang penting dan dijadikan penjara bagi penjahat/kriminal kelas berat.

Pada masa Indonesia merdeka dimanfaatkan sebagai karantina penderita penyakit menular, di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI sampai awal 1960. Rumah sakit ini kemudian dipindahkan ke pos VII Pelabuhan Tanjung Priok.

Letak dan Lingkungan
Pulau Onrust adalah satu pulau di utara Jakarta, termasuk wilayah administratif Kepulauan Seribu, berada di koordinat 106--44 derajat Bujur Timur dan 6 derajat 02.3 Lintang Selatan. Pulau Onrust dapat dicapai lewat jalan air, melalui lima pelabuhan laut, yaitu Pelabuhan Laut Tanjung Priok, Pelabuhan Marina Ancol, Pelabuhan Pasar Ikan, Pelabuhan Angke dan Pelabuhan Muara Kamal. Dari kelima pelabuhan tersebut yang paling dekat adalah Pelabuhan Muara Kapal, bisa dicapai dengan perahu tradisional dalam waktu 20--25 menit.

Pulau Onrust dikelilingi oleh lautan yaitu Laut Jawa dan termasuk salah satu dari Kepulauan Seribu yang lebih dekat dengan Pulau Cipir, Pulau Kelor dan Pulau Sakit (biasa disebut Pulau Bidadari).

Deskripsi
Penduduk Kepulauan Seribu menyebut Pulau Onrust ini sebagai Pulau Kapal karena pada pertengahan abad 17 sampai 18 di pulau tersebut banyak berlabuh kapal-kapal VOC, (kongsi dagang Belanda) yang oleh penduduk waktu itu disebut Kompeni.

Saat ini Pulau Onrust dalam keadaan rusak, hanya beberapa bangunan yang masih dalam keadaan utuh (hasil pemugaran) dan beberapa penambahan bangunan dan monumen dari Pariwisata dan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Adapun sisa bangunan yang masih ada antara lain bekas penjara, bekas rumah dokter, gudang, kantor, reruntuhan bekas rumah sakit, kuburan, bekas dermaga dan pos penjagaan.

Pulau Onrust yang semula memiliki luas 12 hektar, mulai berperan pada masa kolonial Belanda pada 1618 sebagai galangan kapal, namun pulau-pulau di Teluk Jakarta ini sebenarnya telah digunakan sebagai tempat peristirahatan oleh raja-raja Banten. Pulau Onrust pernah pula digunakan sebagai benteng pertahanan atas serangan Banten dan Inggeris pada 1618 dan pada 1800 dihancurkan oleh Inggeris. Kemudian diperbaiki lagi tahun 1816. Pada 1911-1933 digunakan untuk karantina haji, tahun 1940 sebagai tahanan para pemberontak “Peristiwa Kapal Tujuh” dan pada tahun yang sama digunakan untuk tahanan orang Jerman.

Pada masa pemerintahan Jepang, Pulau Onrust digunakan untuk tahanan para penjahat/kriminal berat. Pada masa Indonesia merdeka digunakan untuk karantina bagi para penderita penyakit menular, di bawah pengawasan Departemen Kesehatan RI pada 1960. Sekarang pulau ini dijadikan situs cagar budaya di bawah pengelolaan Bidang Muskala Kanwil Depdikbud DKI dan pengembangannya oleh Dinas Pariwisata.

Mengingat peranan penting perairan Teluk Jakarta, khususnya Pulau Onrust yang telah dimanfaatkan sebelum maupun sesudah masa kolonial sampai masa Indonesia merdeka, maka Pulau Onrust perlu dilestarikan sebagai cagar budaya.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Read More »

Benteng yang ada di Pulau Onrust Pulau Seribu
courtesy jakarta.go.id
Onrust Tahun 1615
Tahun 1610, Jan Pieterszoon Coen minta restu Pangeran Jayakarta untuk membangun dok kapal disalah satu pulau di teluk Jakarta untuk perbaikan kapal yang akan digunakan untuk berlayar ke Asia terutama ke Asia tenggara, permintaan ini disetujui oleh Pangeran Jayakarta dengan memberikan ijin pemakaian di Pulau Onrust, pulau seluas 12 hektar yang berjarak 14 kilometer dari Jakarta.

Benteng Pertahanan Belanda di Pulau Onrust Pulau Seribu

VOC mulai membangun dok perbaikan kapal dan gudang di pulau Onrust.  Jan Pieterszoon Coen pelan- pelan sudah berencana membangun perdagangan dan militer untuk melawan Banten dan Inggris.
Onrust Tahun 1656

mulai membangun benteng pertahanan kecil yang berbentuk persegi panjang dengan dua menara pengawas, dan tahun 1671 benteng pertahanan ini diperbesar, benteng berbentuk simetris  pentagonal dengan menara pengawas disetiap sudutnya.  Konstruksi benteng dengan dinding tebal yang terbuat dari bata merah dan batu karang.
Onrust Tahun 1674

Tahun 1674 Benteng ini ditambah dengan beberapa bangunan gudang .
Onrust Tahun 1795

Tahun 1795 Posisi Belanda di Batavia kurang kuat akibat perang eropah dan tahun 1800 angkatan laut Inggris yang dipimpin oleh Kapten Henry Lidgbird Balls dengan kapal HMS Daedalus, HMS Sybille, HMS Centurion dan HMS Brave masuk ke Batavia dan benteng pertahanan pulau Onrust dihancurkan.
Onrust Tahun 1848

Pulau Onrust diperhatikan kembali oleh Gubernur Jenderal GA Baron Van Der Capellen di tahun 1827, dan aktivitas di pulau Onrust kembali normal di tahun 1848.
Onrust Tahun 1911-1933

Tahun 1911-1933 pulau Onrust dan pulau Cipir menjadi karantina Haji, barak haji berjumlah 35 unit untuk kapasitas masing – masing 100 orang, jadi total dapat menampung 3500 orang.  Dibangun di tahun 1911. Karantina haji ini adalah bagian dari politik Islam dari kolonial Belanda, karena takut akan kekompakan umat Islam, pemerintah kolonial Belanda mengkarantina penduduk pribumi yang ingin berangkat haji maupun setelah pulang haji di maksud agar melalui karantina haji ini kolonial Belanda mudah mengkontrol, dan merupakan taktik Belanda.  Pulau Cipir tetangga dari pulau Onrust yang dihubungkan dengan jembatan ini masih terlihat sisa-sisa karantina haji walaupun sudah tidak utuh lagi, karantina haji ini mirip dengan penjara atau kamp konsentrasi.  Bangunan karantina seperti rumah sakit dan bark terbagi di pulau Onrust dan pulau Cipir, dengan pusat karantina di pulau Onrust, jemaah diwajibkan ikut karantina selama 5 hari.
Onrust Tahun 1933-1940

Tahun 1933 – 1940  pulau Seribu ini kembali digunakan Belanda untuk tahanan pembrontak yang terlibat insiden Tujuh Kapal “Zeven Provicien“.  Di tahun 1940 pulau ini digunakan Belanda untuk menahan Jerman seperti Steinfurt yang merupakan kepala adminstrativ Pulau Onrust.  Setelah jepang menyerbu Indonesia tahun 1942 peran pulau ini mulai menurun hanya digunakan sebagai penjara bagi penjahat dengan kejahatan serius.

Pulau Onrust Pulau Seribu setelah Kemerdekaan

Saat setelah kemerdekaan, pulau Onrust dijadikan karantina bagi penderita penyakit lepra dibawah kendali Departemen kesehatan Indonesia, hal ini sampai tahun 1960, kemudian karantina penyakit Lepra dipindah ke Tanjung priuk.
Chris Soumokil pendiri Republik Maluku Selatan ditangkap dan ditahan di pulau Onrust dan di eksekusi pada tanggal 21 April 1966 atas perintah presiden Soeharto.
On this date in 1966, an Indonesian firing squad on the island of Obira (or Obi) shot Chris Soumokil (the link is to his Dutch wikipedia page) for having styled himself the president of the Republic of the South Moluccas.
Soumokil was captured in December 1962 and imprisoned; he was executed* just a month after the Indonesian government was seized by Suharto, on a programme of putting disorder to the sword.
Onrust Tahun 1972

Tahun 1972 gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menyatakan pulau Onrust sebagai situs sejarah yang dilindungi.
Onrust Tahun 2002

Tahun 2002, pemerintah menyatakan pulau Onrust dan 3 pulau lain didekatnya (pulau Cipir, pulau Kelor dan Pulau Bidadari) sebagai Taman Arkeologi untuk melindungi situs – situs reruntuhan yang terdapat dipulau dari jaman VOC Belanda.

Read More »


Sumber : http://id.wikipedia.org/



Read More »


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Onrust



Read More »

Pulau Onrust, Kepulauan Seribu (Foto: indonesia-tourism)
Pulau Onrust, Kepulauan Seribu (Foto: indonesia-tourism)
JAKARTA - Kepulauan Seribu menjadi alternatif bagi warga Jakarta yang ingin berwisata pantai namun tak ingin jauh dari pusat kota. Sayang, pantai-pantai di Kepulauan Seribu masih banyak yang tercemar sampah. Salah satunya adala Pulau Onrust, yang terkenal dengan peninggalan sejarahnya.

Sampah-sampah dari Jakarta tersapu ombak, dan mengotori pantai Pulau Onrust. Akibatnya, pulau yang terkenal dengan peninggalan VOC ini pun tak sedap dipandang.

Hal ini diakui oleh Bupati Kepulauan Seribu Asep Syarifudin. "Seharusnya ada yang mengawasi, tak hanya dari pemerintahan tapi juga pengelola pulau," ujarnya saat ditemui di Bidadari Eco Resort belum lama ini. Apalagi Pulau Onrust adalah pulau yang terdekat dengan Jakarta.

Meski masih terdapat tumpukan sampah di pulau ini, pemerintah Kepulauan seribu berjanji akan segera menyelesaikan permasalahan tersebut. Secepatnya Pulau yang dikenal dengan julukan Pulau Kapal ini akan diperbaiki dari segi fasilitas, maupun sarana agar dapat membuat wisatawan nyaman berkunjung serta mempelajari sejarah yang ada di Pulau ini.

Pulau Onrust, dulunya merupakan pulau di masa kolonial Belanda. Pulau ini merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh kapal kapal Belanda sebelum menuju Batavia. Pulau ini menyimpan sejarah bangsa berupa arkeologi pada masa kolonial Belanda dan sebuah rumah yang masih utuh yang kini dijadikan Museum Pulau Onrust. 


Sumber : http://travel.okezone.com/

Read More »

Masyarakat, terutama peminat sejarah dan sejarawan, barangkali terkejut setelah Fadli Zon Rabu pekan lalu meluncurkan bukunya berjudul Hari Terakhir Kartosoewirjo di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Buku setebal 91 halaman ini bukan sekadar memuat 81 foto merekam jejak terakhir pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia itu. Mulai dari penangkapan hingga eksekusi dan pemakaman. Namun paling mengejutkan, politikus Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) ini menyebutkan eksekusi sekaligus penguburan jenazah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo berlangsung di Pulau Ubi pada 12 September 1962.

Selama ini, banyak pihak, termasuk keluarga meyakini lelaki yang dijemput ajal pada usia 57 tahun itu ditembak mati dan dimakamkan di Pulau Onrust. "Sekarang mana yang benar, di Onrust atau Pulau Ubi? Katanya selama ini di Onrust, saya selalu ke sana," kata Sardjono, putra bungsu Kartosloewirjo dari lima bersaudara kepada merdeka.com di Garut, Sabtu pekan lalu.

Hasil penelusuran merdeka.com menemukan Pulau Ubi yang dimaksud Fadli, sesuai keterangan foto, ternyata ada dua, yakni Ubi Besar dan Ubi Kecil. Dua-duanya sudah tenggelam, bahkan jauh sebelum eksekusi atas Kartosoewirjo. "Pulau Ubi Kecil tenggelam pada 1949 dan Pulau Ubi Besar hilang pada 1956," ujar Lurah Pulau Untung Jawa Agung Maulana Saleh ketika ditemui terpisah Senin lalu dalam acara Lebaran Betawi di kelapa Gading, Jakarta Utara.

Ternyata tidak hanya Fadli yang memiliki arsip saat-saat terakhir kematian lelaki kelahiran Cepu, Jawa tengah, itu. Kumpulan foto serupa tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Bedanya, 28 foto ini tanpa keterangan dan ditempel di atas kertas berukuran folio.

Selain arsip foto, ada beberapa dokumen terkait Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan eksekusi mati Kartosoewirjo. Salah satunya menyebutkan lokasi eksekusi dan pusara Kartosoerwirjo di Pulau Nyamuk. Seperti Onrust, Ubi Besar, dan Ubi Kecil, pulau ini di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Tulisan di atas kertas sudah berwarna kekuningan itu menggunakan mesin ketik tanpa kop sebuah lembaga. Dokumen ini merupakan putusan majelis hakim Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang untuk Djawa dan Madura diberi judul 'Pelaksanaan Hukuman Mati'

PELAKSANAAN

HUKUMAN

***MATI***

Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo

yang menamakan dirinya Imam Negara Islam Indonesia (D.I)

Penjelasan:

1. Mahkamah Angkatan Darat dalam keadaan perang untuk Djawa dan Madura (MAHADPER) yang khusus dibentuk dan bertugas untuk mengadili pemimpin gerombolan D.I S.N. Kartosoewirjo, telah bersidang sejak tgl 14 Agustus 1962 sampai 16 Agustus 1962 di bangsal (Aula) Departemen Angkatan Darat Merdeka Barat Djakarta. Telah mendjatuhkan HUKUMAN MATI terhadap S.N. Kartosoewirjo.

2. Permohonan GRASI kepada Kepala Negara RI (Presiden Sukarno) telah ditolak pada tgl 12 September 1962.

3. Setelah ditolak, S.N. Kartosoewirjo mendjalankan HUKUMAN MATI SECARA DITEMBAK di Pulau Nyamuk yg termasuk gugusan Kepulauan Sribu Daerah Djakarta-Raya.

Menurut sumber merdeka.com, dokumen itu seperti bentuk ringkasan putusan terhadap sebuah kejadian besar. Untuk keaslian dokumen, kata sumber itu, perlu diuji, karena tanpa kepala surat lembaga atau organisasi yang mengeluarkan putusan itu. "Ini jelas dokumen pribadi, tapi kalau isi perlu diuji lagi," ujar sumber itu.

Dari catatan ANRI, pemilik dokumen bernama Marzuki Arifin, wartawan foto pernah meliput peristiwa 17 Oktober 1952, peristiwa Republik Maluku Selatan (RMS), hijrahnya Divisi Siliwangi, Angkatan Perang Rakyat Semesta (APRA) Westerling, Jawa Barat, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), DI/TI, dan pemakaman Jenderal Soedirman. Marzuki pernah bekerja do Harian Merdeka pada 1968 dan menjadi pemimpin redaksi Majalah Ekspres pada 1969-1974.

Sejarawan Universitas Indonesia, Rushdy Hoesein yang katanya akrab dengan Marzuki Arifin, baru mengetahui informasi itu. "Marzuki Arifin, tidak pernah bicara hal itu kepada saya. Tapi semua yang terkait Kartosoewirjo masih memungkinkan sampai saat ini," katanya kepada merdeka.com saat ditemui di rumahnya, Bintaro, Jakarta selatan.



Sumber : merdeka.com

Read More »

Pulau Onrust, pulau Cipir, pulau Bidadari dan pulau Kelor termasuk situs yang dilindungi dan sebagai Taman Arkeologi.  Ketiga pulau ini begitu kental sebagai saksi bisu perjalanan dari masa ke masa yang dimulai dari tahun 1610, berikut jejak sejarah dari masa ke masa Pulau Onrust di Pulau Seribu.
Benteng yang ada di Pulau Onrust Pulau Seribu
courtesy jakarta.go.id
  1. Tahun 1610, Jan Pieterszoon Coen minta restu Pangeran Jayakarta untuk membangun dok kapal disalah satu pulau di teluk Jakarta untuk perbaikan kapal yang akan digunakan untuk berlayar ke Asia terutama ke Asia tenggara, permintaan ini disetujui oleh Pangeran Jayakarta dengan memberikan ijin pemakaian di Pulau Onrust, pulau seluas 12 hektar yang berjarak 14 kilometer dari Jakarta.
  2. Tahun 1615, VOC mulai membangun dok perbaikan kapal dan gudang di pulau Onrust.  Jan Pieterszoon Coen pelan- pelan sudah berencana membangun perdagangan dan militer untuk melawan Banten dan Inggris.
  3. Tahun 1656 VOC mulai membangun benteng pertahanan kecil yang berbentuk persegi panjang dengan dua menara pengawas, dan tahun 1671 benteng pertahanan ini diperbesar, benteng berbentuk simetris  pentagonal dengan menara pengawas disetiap sudutnya.  Konstruksi benteng dengan dinding tebal yang terbuat dari bata merah dan batu karang.
  4. Tahun 1674 Benteng ini ditambah dengan beberapa bangunan gudang .
  5. Tahun 1795 Posisi Belanda di Batavia kurang kuat akibat perang eropah dan tahun 1800 angkatan laut Inggris yang dipimpin oleh Kapten Henry Lidgbird Balls dengan kapal HMS Daedalus, HMS Sybille, HMS Centurion dan HMS Brave masuk ke Batavia dan benteng pertahanan pulau Onrust dihancurkan.
  6. Tahun 1827 - 1848 : Pulau Onrust diperhatikan kembali oleh Gubernur Jenderal GA Baron Van Der Capellen dan beraktivitas normal kembali di tahun 1848
  7. Tahun 1911-1933 pulau Onrust dan pulau Cipir menjadi karantina Haji, barak haji berjumlah 35 unit untuk kapasitas masing – masing 100 orang, jadi total dapat menampung 3500 orang.  Dibangun di tahun 1911. Karantina haji ini adalah bagian dari politik Islam dari kolonial Belanda, karena takut akan kekompakan umat Islam, pemerintah kolonial Belanda mengkarantina penduduk pribumi yang ingin berangkat haji maupun setelah pulang haji di maksud agar melalui karantina haji ini kolonial Belanda mudah mengkontrol, dan merupakan taktik Belanda.  Pulau Cipir tetangga dari pulau Onrust yang dihubungkan dengan jembatan ini masih terlihat sisa-sisa karantina haji walaupun sudah tidak utuh lagi, karantina haji ini mirip dengan penjara atau kamp konsentrasi.  Bangunan karantina seperti rumah sakit dan bark terbagi di pulau Onrust dan pulau Cipir, dengan pusat karantina di pulau Onrust, jemaah diwajibkan ikut karantina selama 5 hari.
  8. Tahun 1933 – 1940 pulau Seribu ini kembali digunakan Belanda untuk tahanan pembrontak yang terlibat insiden Tujuh Kapal “Zeven Provicien“.  Di tahun 1940 pulau ini digunakan Belanda untuk menahan Jerman seperti Steinfurt yang merupakan kepala adminstrativ Pulau Onrust.  Setelah jepang menyerbu Indonesia tahun 1942 peran pulau Onrust ini mulai menurun hanya digunakan sebagai penjara bagi penjahat dengan kejahatan serius.
  9. Tahun 1972 gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menyatakan pulau Onrust sebagai situs sejarah yang dilindungi.
  10. Tahun 2002, pemerintah menyatakan pulau Onrust dan 3 pulau lain didekatnya (pulau Cipir, pulau Kelor dan Pulau Bidadari) sebagai Taman Arkeologi untuk melindungi situs – situs reruntuhan yang terdapat dipulau dari jaman VOC Belanda.
Sumber : http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/28/jejak-sejarah-pulau-onrust-kepulauan-seribu-488724.html



Read More »


Kinilah saatnya Anda menyusuri jejak kolonial di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Bukan untuk membesarkan masa kejayaan mereka di masa lalu melainkan untuk mengenang bahwa penjajahan nyata terjadi di Nusantara. Mintalah seorang pemandu yang dapat memaparkan tentang tempat mengagumkan penuh nilai sejarah ini. Resapi pengalaman menyusuri setiap sudut yang tersisa tentang bagaimana sejarah tidak hanya untuk dikenang tetapi menjadi pelajaran agar manusia Indonesia tidak bodoh dan terasing dengan apa yang terjadi di masa lalunya.

Begitu mengagumkan dan menggetarkan hati saat Anda menjejak kaki di kawasan Taman Arkeologi Pulau Onrust, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Reruntuhan sisa bangunan bersejarah berupa benteng, meriam, hingga ribuan artefaknya menjadi saksi setia bagi anak negeri untuk mengambil pelajaran sedalam Laut Jawa yang penuh misteri itu.

Selain sebagai kawasan konservasi dan wisata bahari, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu menyimpan wisata sejarah yang menarik sekaligus menggetarkan untuk ditelusuri. Di kepulauan yang sejatinya berjumlah sekira 342 pulau tersebut (termasuk pulau yang sudah tenggelam akibat abrasi laut dan atau pun tidak), tersimpan peninggalan sejarah yang amat berharga dan amat layak untuk disambangi.

Beberapa pulau di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dulunya memang menjadi lokasi pusat aktvitas kapal dagang dan kapal perang VOC. Sebut saja beberapa pulau di kawasan ini, yaitu: Pulau Onrust, Pulau Khayangan, Pulau Kelor, Pulau Bidadari, Pulau Panggang, dan Pulau Damar. Di sinilah berdiam dengan setia sisa-sisa mengetarkan dari kekuasaan VOC yang kemudian dilanjutkan oleh Pemerintahan Hindia Belanda.

Pulau Onrust awalnya merupakan lokasi dari galangan kapal milik VOC yang hilir mudik mengangkut hasil bumi Nusantara sebelum memasuki pelabuhan di Batavia pada abad ke-17 hingga ke-18. Nama Pulau Onrust sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu onrust yang bermakna tanpa istirahat, hal itu dikaitkan dengan  keberadaannya yang sangat sibuk disinggahi kapal-kapal VOC. Pulau ini oleh penduduk sekitar saat itu dinamai Pulau Kapal dimana lagi-lagi disematkan karena banyaknya kapal lalu-lalang di sekitarnya. Pulau Onrust dapat dikatakan pusat pertahanan VOC saat itu. Letak pulaunya strategis terlindungi Pulau Kelor dan Pulau Cipir, luasnya pun memadai untuk sebuah benteng yang kuat dan strategis.
Sejak tahun 1619, ketika VOC mencengkram Pulau Jawa, Pulau Onrust yang kecil itu dijadikan benteng pertahanan sekaligus pangkalan yang tidak pernah sepi dari bongkar muat kapal dagang dan kapal perang. Benteng ini terus digempur armada Laut Kerajaan Inggris sejak tahun 1800 hingga saat ini jejak kerusakannya nampak bersama andil abrasi dari Laut Jawa.
Tahun 1803 hingga 1810 Pulau Onrust sempat 3 kali dihujani bom besi oleh armada Angkatan Laut Inggris pimpinan Admiral Edward Pellow, hasilnya pulau ini pun hancur lebur hingga sebgaian tersisa seperti saat ini. Berikutnya benteng-benteng tersebut sempat dibangun kembali tahun 1840 sebagai pangkalan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Di pulau ini berikutnya Pemerintah Hindia Belanda melakukan aktivitas bongkar muat logistik untuk perang. Saat ini, Anda masih dapat menyaksikan reruntuhan dari bangunannya berupa benteng, pelabuhan kuno, dan makam Belanda (kerkhoff) dimana salah satunya bernisan nama Maria van Der Lende, yaitu anak petinggi galangan kapal yang meninggal muda karena malaria.
Tahun 1930-an, Pulau Onrust sempat menjadi asrama haji sebelum diberangkatkan ke Mekah, Arab Saudi. Nasionalisasi yang dimotori pelajar Islam Nusantara yang berangkat haji saat itu sangat diwaspadai Pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu, calon haji diinapkan di pulau ini dengan alasan karantina untuk beradaptasi dengan laut tetapi nyatanya entah bagaimana nasib mereka. Pulau Onrust juga sempat menjadi lokasi tahanan orang Jerman ketika Belanda berperang dengan Jerman (1933). Selain itu, pulau ini pernah menjadi tempat pembuangan anak jalanan atau gelandangan dari Kota Jakarta pada masa Orde Lama. Sejak masa Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, berikutnya pulau ini ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya.
Negeri Belanda sekarang rutin memperingati Kekuasaan VOC secara nasional. Generasi muda mereka wajib mengetahui tentang apa arti dan perwujudan VOC sebagai bagian dari karya nyata dan kejayaan Kerajaan Belanda di masa lalu. Negeri Kincir Angin itu juga mengajak Pemerintah Afrika Selatan, Sri Lanka dan India agar ikut ambil bagian memperingati saat perayaan 400 tahun VOC pada 20 Maret 2002. Tak lupa juga mengundang Indonesia, negeri yang disadari secara nyata bahwa sebagian besar kegiatan dan keuntungan yang diraup VOC adalah berasal dari tanah yang dibasahi keringat dan darah manusia Indonesia yang mereka sebut sebagai ‘inlander’.

Di Pulau Khayangan masih tersisa bangunan benteng warisan VOC lengkap dengan meriamnya. Pulau Kahyangan atau disebut juga Pulau Cipir memiliki peninggalan sejarah berupa sebuah benteng dari zaman VOC. Pulau Cipir dijadikan pulau tampungan bagi pasien kusta atau lepra dari Pulau Onrust. Penderita penyakit lepra, kusta dan TBC diungsikan ke Pulau Onrust dan Pulau Cipir bukan untuk diteliti dan disembuhkan tetapi untuk diisolasi sehingga tidak menyebar. Dahulu kedua pulau tersebut dihubungkan sebuah jembatan namun kini yang tersisa hanya pondasi sisa pijakannya yang hancur akibat peperangan ataupun abrasi laut.

Pulau Kelor bukanlah pulau yang besar karena luasnya kini tersisa 1,5 hektar dari luas asal sekira 5 hektar akibat tergerus abrasi laut. Akan tetapi, siapapun tidak akan mengira bahwa di pulau inilah dahulu tentara VOC dan Hindia Belanda menjadikannya sebagai pertahanan pertama sebelum berikutnya membangun benteng pertahanan di pulau lain di Nusantara. Dahulu pulau ini juga merupakan kerkhoff atau kuburan tentara Hindia Belanda. Di pulau ini Anda dapat menemukan sebuah benteng pertahanan sekaligus menara pengawas yang di Eropa disebut Menara Martello (artinya lingkaran). Fungsi bangunan tersebut awalnya sebagai menara pengawas tetapi Pemerintah Hindia Belanda berikutnya memanfaatkannya juga sebagai benteng pertahanan. Bentuk bangunan ini berupa lingkatan bergaris tengah sekira 23 meter dan bertdinding setebal 2,50 meter. Awalnya benteng ini berlapis dua tetapi lapisan terluar sudah tenggelam karena abrasi laut. Uniknya di bagian tengah terdapat dinding melingkar untuk menampung air bersih demi keperluan minum dan memasak pasukan penjaga saat itu.

Pulau Bidadari juga menjadi salah satu dari rangkaian pulau bersejarah di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Di pulau ini ada peninggalan berupa benteng dan menara pengawas yang dibangun abad ke-17 dan lebih besar dari yang di Pulau Onrust. Pulau Bidadari juga menjadi penunjang aktivitas Pulau Onrust. Tahun 1679, VOC membangun rumah sakit lepra, kusta dan TBC di pulau ini hasil pemindahan dari Muara Angke. Oleh karena itu, pulau ini sempat dinamakan Pulau Sakit oleh penduduk sekitarnya saat itu.

Di Pulau Damar juga berdiam sebuah mercusuar yang dibangun tahun 1879 oleh Pemerintah Hindia Belanda atas perintah langsung dari Raja Williem III. Pulau ini juga menurut penuturan penduduk setempat sempat menjadi pulau persembunyian dari ratu Banten yang melarikan diri dikejar lawannya karena diketahui bekerja sama dengan Pemerintah Hindia Belanda.
Nusantara, negeri yang menyediakan segalanya apalagi bagi tamu yang tak diundang dan serakah. Mereka bersembunyi di balik benteng tempat rerimbunan pulau di Utara Batavia hingga waktu pun bicara dan mereka pun pergi dengan berat hati.
Bagi Kerajaan Belanda saat ini, VOC adalah sejarah yang membanggakan dengan beberapa noda dosa saja. VOC telah memberi nilai tambah yang luar biasa besarnya bagi rakyat Belanda berupa kemakmuran serta kekayaan kultural, juga cakrawala baru tentang hegemoni untuk merusak tatanan dagang di laut Nusantara yang mapan lalu menguasainya dengan tanpa batas.
Di Kepulauan Seribu juga ditemukan beberapa makam Muslim seperti makam Sultan Mahmud Zakaria (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Panjang, makam Syarif Maulana Syarifudin (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Kelapa, makam legenda Darah Putih di Pulau Panggang. Di Pulau Panggang terdapat sisa Kantor eks Asisten Resident Duizen Eilanden yang dibangun tahun 1880-an. Ada pula beberapa makam di sini juga da makam Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al Aidid yang berangka tahun wafat 15 Mei 1895.

Begitu mengagumkan dan menggetarkan hati saat Anda menjejak kaki di pulau-pulau penuh sejarah kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Sisa bangunan bersejarah tersebut menjadi saksi setia bagi anak negeri untuk mengambil pelajaran sedalam Laut Jawa yang penuh misteri. Saat ini, untuk melestarikannya, pemerintah setempat berupaya menyulap sebuah gedung lama menjadi museum sejarah untuk menyimpan benda cagar budaya dan diorama singkat sejarah Kepulauan Seribu. Selain itu, juga akan dibangun di Pulau Onrust dan di Pulau Cipir berupa gazebo agar wisatawan dapat menikmati panorama alamnya. Harapan dari upaya-upaya tersebut tentunya selain tetap menjaga kelestarian sejarah dan alamnya, juga demi kepentingan pariwisata. (him/Indonesia.travel)



Read More »

.
Foto : republika.co.id

Read More »