Tampilkan postingan dengan label Pulau Panggang. Tampilkan semua postingan



Korban angin puting beliung di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara mengharapkan bantuan dari pemerintah dan instansi terkait. Pasalnya, hingga saat ini puluhan rumah yang rusak dijerjang angin tersebut belum mendapatkan bantuan untuk perbaikan.

Siti (60) salah seorang korban yang rumahnya ikut tersapu angin dahsyat tersebut mengaku, berharap pemerintah memberikan bantuan untuk ikut memperbaiki rumahnya yang rusak akibat angin. Apalagi kondisi perekonomian yang kurang mampu ini membuat dirinya tidak sanggup untuk memperbaiki rumahnya. "Kami harap bisa dapat bantuan dari pemerintah. Soalnya saya juga salah satu korban puting beliung yang tergolong warga tak mampu," harap Siti warga RT 005/001, Kelurahan Pulau Panggang.

Dia mengatakan, 50 lembar asbes yang menjadi atap rumahnya kini rusak parah dan butuh perbaikan. "Rumah saya yang paling parah rusaknya," katanya.

Siti menceritakan, dahsyatnya angin puting beliung yang terjadi pada Kamis (16/1/2014) malam kemarin membuat sejumlah warga harus lebih berhati-hati.
Pasalnya, Angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit itu menjadi kejadian yang menakutkan."Saya jadi takut, ini pertama kalinya kejadian ini menimpa saya," kenangnya.

Sementara, H.Sulaeman (73), warga Rt002/01 mengatakan, dirinya juga salah satu korban musibah angin Puting Beliung. "Saya juga menjadi sok atas kejadian ini, jadi susah tidur. Takut juga angin kencang itu kembali lagi melanda wilayah kami khusunya di Pulau Panggang," tandasnya.
 
 
 

Read More »




Angin Puting beliung menerjang warga Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Berdasarkan informasi yang diterima dari Lurah Pulau Panggang, M. Ali Saleh, sedikitnya 18 rumah warga  rusak diterjang angin tersebut.

"Kejadiannya semalam sekitar pukul 23.00, saat ini sedang pendataan, data sementara 18 rumah yang rusak," ungkap Ali saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jum'at (17/01/2014).

Menurutnya, akibat angin tersebut kerusakan rumah terjadi pada bagian atap, bahkan terdapat rumah yang atapnya terbuat dari asbes nyaris hilang diterjang puting beliung. "Rata-rata rusak berada di RW 001, pantauan sementara ada satu rumah yang hampir habis asbesnya," katanya.

Akibat musibah tersebut, sambung Ali, terdapat satu orang korban luka akibat tertimpah runtuhan atap rumah yang terbuat dari asbes. Sementara untuk bantuan yang dibutuhkan, saat ini warga sangat membutuhkan bantuan berupa material rumah.


Sumber : http://beritapulauseribu.com 

 

Read More »


 

Harapan warga Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Pulau Seribu Utara, memiliki fasilitas olahraga yang nyaman dan layak sebentar lagi akan terwujud. Pasalnya, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahtera Jaya saat ini tengah melakukan renovasi lapangan voli yang selama ini kurang terawat.

Menurut pelaksana renovasi Ayub Chalik, lapangan yang terletak di RT 03/02 Pulau Panggang ini atau di sisi Pelabuhan Kapal Pulau Panggang, dibangun atas hasil Musyawaraha Rencana Pembangunan (Musrenbang) tahun 2012 lalu. Dalam Musrembang tersebut masyarakat meminta agar lapangan agar diprbaiki dan dipagar.

"Selama ini banyak warga yang mengeluhkan rumah mereka sering kejatuhan bola, maka dari itu kita bangun pagar supaya warga tidak dirugikan lagi," ungkapnya, Senin (2/12/2013).

Setelah dibangun, dia berharap warga setempat dapat ikut merawat dan menjaga lapangan yang masih dalam pembenahan. "Harapan saya semoga ini bisa membantu dan lebih bermanfaat lagi, kalau bisa jangan selalu tergantung dari pemerintah " ujarnya.

Bunayah (39), warga setempat mengaku senang dibangunnya lapangan voli yang dilengkapi dengan pagar. Tentunya, dengan dibangunya fasilitas ini bisa membantu mengurangi kecemasan warga yang selama ini merasa terganggu. "Saya sih bersyukur, semoga dengan adanya pagar pencegah rumah saya tidak lagi kejatuhan bola," harapnya.

Sebelumnya, banyak rumah warga disekitar lapangan menjadi korban jatuhnya bola voli, bahkan ada beberapa rumah yang mengalami kebocoran akibat sering kejatuhan bola ke rumah mereka. [Afriyani Aldin]

Sumber : http://beritapulauseribu.com 


Read More »


Pulau Pangang - Sedikitnya 50 nelayan tangkap di Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, mendapat bantuan rumpon ikan dari Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kepulauan Seribu. Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan daya tangkap ikan nelayan.

"Kami senang dan berterima kasih, ini sangat membantu kami," ujar Sahabudin, Perwakilan Nelayan Kelurahan Pulau Panggang usai serah terima 50 paket rumpon untuk nelayan di Tempat Pangkalan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, Selasa (3/12/2013).

Selain menambah tangkapan ikan, dikatakan Budin, adanya rumpon juga dapat mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) saat menangkap ikan. "Kalau ada rumpon kita gak perlu jauh-jauh nangkap ikannya, jadi hemat BBM," katanya.

Rumpon tersebut, kata dia, akan diserahkan langsung ke nelayan. Sehingga nelayan dapat memasang rumpon itu dilokasi yang dikehendakinya. "Memang ada beberapa cara yang disampaikan ke nelayan, seperti cara pemasangan dan lokasi yang tepat," jelasnya.

Kasudin Kelautan dan Pertanian Kepulauan Seribu Wawan Karmawan mengatakan, bantuan rumpon ikan ini merupakan bagian dari kepedulian pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomian nelayan. Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan daya tangkap ikan nelayan.

"Yang pasti bantuan ini adalah bentuk perhatian pemerintah kepada nelayan," tegasnya.

Wawan menyebutkan, bantuan rumpon bagi 50 nelayan Pulau Panggang adalah baru tahap awal. Bila program ini berhasil akan ditindaklanjuti untuk bantuan sejenis kepada nelayan-nelayan di kelurahan lain di Kepulauan Seribu. "Baru tahap awal. Kita lihat dulu efektivitasnya," jelas Wawan.

Disebutkannya, rumpon berbahan plastik berbentuk dadu dengan ukuran 60x60 sentimeter persegi ini adalah hasil dari penelitian akademis dari IPB. "Model ini cenderung lebih cepat mengundang ikan dan bila ingin lebih baik bisa ditambah dengan bahan organik seperti daun pohon kelapa," ungkapnya.

Terkait dengan pola pemasangan diserahkan langsung ke nelayan, Wawan menjelaskan, pihaknya berharap nelayan dapat lebih mandiri dan nelayan tidak selalu bergantung dengan bantuan. "Kalau mereka yang pasang sendiri, kan bisa sesuai dengan kemauan mereka. Tapi tetap kita dampingi," tuntasnya.


Sumber : http://beritapulauseribu.com
 

Read More »

Disebelah utara Jakarta terdapat gugusan kepulauan yang terdiri dari 108 pulau kecil, disebut Kepulauan Seribu. Satu diantaranya adalah Pulau Panggang, sekitar 60 km disebelah utara kota Jakarta. Pulau seluas 0,9 hektare itu bisa dicapai dalam waktu kurang lebih tiga jam dengan perahu motor dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.

Disanalah Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid, yang juga dikenal sebagai Wali keramat Pulang Panggang. Ia adalah ulama dan muballigh asal Hadramaut yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulang Panggang dan sekitarnya. Pada abad ke-18 ia bertandang ke Jawa untuk berda’wah bersama dengan empat kawannya :

1. Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-athas, Kramat Empang Bogor.
2. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Bondowoso, Surabaya.
3. Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Ampel, Surabaya.
4. Al-Habib Salim Al-Athas, Malaysia.

Al-Maghfurlah Habib Ali ke Batavia, sementara keempat kawannya masing-masing menyebar ke kota-kota dan negeri diatas. Al-Maghfurlah berda’wah dari Pulau Seribu sampai dengan Wilayah Pulau Sumatera yaitu Palembang.

Di Batavia , Almaghfurlah Habib Ali bermukim di Kebon Jeruk dan menikah dengan Syarifah setempat, Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi. Dari Perkawinannya itu dikaruniai seorang putera bernama Hasyim bin Ali Aidid.

Suatu hari Almaghfurlah mendengar kabar, disebelah utara Jakarta ada sebuah pulau yang rawan perampokan dan jauh dari da’wah Islam, yaitu Pulau Panggang. Beberapa waktu kemudian ia memutuskan untuk mengunjungi pulau tersebut. Ketika Al-Maghfurlah sampai di Pasar Ikan hendak menyeberang ternyata tidak ada perahu. Maka ia pun bertafakur dan berdo’a kepada Allah SWT, tak lama kemudian muncullah kurang lebih seribu ekor ikan lumba-lumba menghampirinya. Ia lalu menggelar sajadah di atas punggung lumba-lumba tersebut, kemudian ikan lumba-lumba mengiring beliau menuju Pulang Panggang. Demikianlah salah satu karomah Almaghfurlah Habib Ali, menurut cerita dari Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-athas kepada salah satu muridnya Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Alhaddad bahwa setiap Habib Ali hendak berda’wah beliau berdiri ditepi pantai Pasar Ikan dengan mengangkat tangan sambil bermunajat kepada Allah SWT, maka datang ikan lumba-lumba kurang lebih seribu ekor mengiring beliau disamping kanan, kiri, depan, belakang beliau dan mengantar sampai ketempat tujuan untuk berda’wah.

Sosoknya sangat sederhana, cinta kebersamaan, mencintai fakir miskin dan anak yatim. Bisa dimaklumi jika da’wahnya mudah diterima oleh warga Pulau Panggang dan sekitarnya. Ia mengajar dan berda’wah sampai kepelosok pulau. Bahkan sampai ke Palembang, Singapura dan Malaka.

Karomah lainnya, suatu malam, usai berda’wah di Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, ia pulang ke Pulau Panggang. Di tengah laut, perahunya dihadang gerombolan perompak. Tapi, dengan tenang Almaghfurlah Habib Ali melemparkan sepotong kayu kecil ke tengah laut. Ajaib, kayu itu berubah menjadi karang, dan perahu-perahu perompak itu tersangkut di karang. Maka, berkat pertolongan Allah SWT itu, Almaghfurlah Habib Ali dan rombongan selamat sampai di rumahnya di Pulau Panggang.

Suatu hari, warga Pulau Panggang diangkut ke Batavia dengan sebuah kapal Belanda, konon untuk dieksekusi. Beberapa perahu kecil berisi penduduk ditarik dengan rantai besi ke arah kapal Belanda yang membuang sauh jauh dari pantai. Mendengar kabar itu, Almaghfurlah Habib Ali menangis, lantas berdo’a agar seluruh penduduk Pulau Panggang diselamatkan . Do’anya dikabulkan oleh Allah SWT. Rantai besi yang digunakan untuk menarik perahu berisi penduduk itu tiba-tiba putus, sehingga Belanda urung membawa penduduk ke Batavia.

Suatu malam, ia mendapat isyarat sebentar lagi ia akan wafat. Ketika itu sebenarnya ia ingin ke Palembang, namun dibatalkan. Dan kepada santrinya ia menyatakan, “ saya tidak jadi ke Palembang.” Benar apa yang ia katakan, keesokan harinya, 20 Zulkaidah 1312 H./1892 M. ia wafat, dan dimakamkan di sebuah kawasan di ujung timur Pulau Panggang.

Sesungguhnya, Jenazah almarhum akan dibawa ke Batavia untuk diketemukan Istri dan anaknya serta dimakamkan disana. Namun, ketika jenazah sudah berada di atas perahu yang sudah berlayar beberapa saat, tiba-tiba tiang layar perahu patah dan perahu terbawa arus kembali ke Pulau Panggang. Hal ini terjadi berturut-turut sampai tiga kali. Akhirnya, penduduk kampung memaknai peristiwa itu sebagai kehendak almarhum di makamkan di Pulau tersebut. Keesokan harinya setelah Almaghfurlah Habib Ali dimakamkan, beberapa orang dari penduduk Pulau Panggang memberi khabar kepada istrinya Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi, istrinya menjawab “ Yah, saya sudah tahu, Habib Ali tadi telah datang memberi kabar kepada saya tentang meninggalnya dia dan dimakamkan di Pulau Panggang “.

Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid adalah seorang ulama yang langka, yang berani merintis da’wah di kawasan terpencil, dan berhasil. Demikianlah sekilas dari riwayat Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid.

Read More »

Salah satu yang membuat saya betah berlama-lama di Pulau Panggang adalah makanannya yang lezat! saya yang awalnya tidak terlalu suka ikan, selama empat hari saya dipaksa untuk melupakan ayam dan mencicipi aneka masakan yang berbahan dasar ikan maupun hasil tangkapan laut. Tenyata... saya ketagihan!

Di posting-an kali ini saya akan memperlihatkan makanan khas Pulau Panggang yang sempat saya nikmati.
Here they are...

1. Bom Atom dan Kue Talam Ikan

 Bom atom adalah makanan yang di sebelah kiri, berwana merah dan terbuat dari tepung yang dicelup dalam karamel gula yang diberi warna. Makanan yang di sebelah kanan adalah kue talam ikan, terbuat dari tepung beras yang dimasak hingga menjadi seperti agar-agar atau puding dan diberi taburan abon ikan segar!


2. Kue Selingkuh
 Kue yang juga terbuat dari tepung beras ini hampir sama dengan kue talam ikan, bedanya kalau kue talam ikan disantap dengan taburan abon ikan, kue selingkuh (nama yang sangat unik!) ini disantap dengan sirup, dan biasanya orang Pulo menggunakan sirup yang berwarna pink sehingga tampilannya menjadi lebih menarik.


3. Pastel Ikan

 

 The best! Makanan favorit saya selama di Pulau Panggang.Tampilannya memang tidak beda dengan pastel pada umumnya, namun rasanya... beda banget! Ikannya sangat terasa, tidak amis, dan sedikit pedas. Melihat saya begitu antuasias dengan makanan ini, Pak Rusli dan Ibu selalu menyuguhkan pastel ikan sebagai sarapan selama saya tinggal di sana, dan tidak lupa membekali saya pastel ikan sebagai oleh-oleh. Terima kasih Pak, Ibu, saya kangen Pastel Ikannya.

4. Pucue atau Empek-empek

 Ini dia cemilan khas Orang Pulo. Dikenal dengan nama Pucue atau empek-empek (versi kita). Bahan dasarnya sama seperti empek-empek dan proses pembuatannya pun hampir sama. Yang membedakan adalah sausnya. Bila empek-empek yang biasa kita nikmati di sajikan bersama mie, potongan mentimun, dan kuah yang terbuat dari cuka, pucue biasa disajikan dengan saus kacang. Nikmat!

5. Cumi Goreng

 Apa yang spesial dari cumi goreng ini? Bukankah kita sering menyantapnya? Coba lihat ukurannya, sangat berbeda dengan yang biasa di piring kita, bukan? Ukurannya raksasa! dan rasanya pun sangat lezat karena baru ditangkap. Gurih, manis, dan tebal dagingnya. Makanan yang tidak pernah saya konsumsi selama menyandang status sebagai anak kos ;) 


6. Cumi Tumis Bumbu Hitam
Bagi saya, tampilannya sangat tidak menarik, karena kuahnya yang berwarna hitam. Namun rasanya sungguh di luar dugaan. Lezat! menurut pengakuan Pak Rusli, setiap tamu yang berkunjung (mahasiswa, peneliti) asti akan disuguhkan makanan ini dan mereka akan ketagihan. Tidak jarang ada yang kembali hanya untuk menikamti cumi yang masak dengan tintanya ini. Wow!

Sebenarnya, menurut Ibu Rusli masih banyak jenis makanan yang tidak sempat kami cicipi berhubung nelayan  sedang tidak bisa berlayar karena cuaca dan harga solar yang melambung. Namun ini saja sudah cukup membuat saya ketagihan dan kangen dengan makanannya, terutama Pastel Ikan. Tertarik mencoba? Silakan berkunjung ke pulau yang tidak hanya menawarkan makanan yang sangat memikat, namun juga kan mengajarkan kita pelajaran hidup yang tak ternilai harganya.
 
Sumber : niahutajulu 
 

Read More »


Siapa bilang kuliner di Kepulauan Seribu hanya berbahan dasar dari ikan. Satu kudapan yang menjadi favorit warga Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan adalah kue yang bernama unik, yakni Janda Mengandang atau kue Kelabu sebutan bagi warga Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara.

Menurut Mina (41) warga Pulau Tidung, kue yang terbuat dari tepung, santan kelapa, garam alus, pewarna, dan gula  pasir ini berawal dari kekesalannya akibat ditinggal pergi oleh sang suami saat pernikahaannya baru berjalan dua tahun.
 
Karena itu, dia menghilangkan kejenuhannya dengan mencampur aduk adonan tersebut. "Ya begitu aja, lalu saya kukus dan jadi kue yang ga taunya disukai warga," ujarnya.

Soal nama Janda mengandang, Mina mengaku awalnya hanya candaan warga yang melihat nasibnya menjadi wanita yang ditinggal suami tanpa pernyataan cerai dan menunggu lama di rumah. "Jadi janda tapi mengandang, maksudnya hanya diam saja dirumah. Ya dari pada stres saya buat kue," katanya.


Sayangnya, meski diminati karena rasanya yang legit, kue ini mulai tidak kelihatan lagi. Sementara Mina pembuat kue kini telah menikah lagi dan melupakan masa lalunya. "Kan bukan Janda lagi, jadi tidak buat kue itu," candanya.
(bps/puser)
 
Sumber Foto :Ema Arifah/VHRmedia

Read More »

Sate gepuk merupakan makanan khas warga Pulau Panggang. Bahkan sate yang terbuat dari ikan tongkol dan kelapa ini sudah merupakan usaha warga Pulau tersebut. Sebut saja diantaranya Ibu Sukyati (42) yang menggeluti usaha ini sejak tahun 1986. Ibu warga Kepuluan Seribu Utara ini memenuhi kebutuhan seharinya dengan usaha sate gepuk. Tidak heran dengan ketekunannya sate gepuk yang diolahnya sudah sangat terkenal di Kepulauan Seribu.
Sate gepuk rasanya pedas, enak dan gurih. Cita rasa sate ini dapat dimakan dimana saja dan kapan saja. Cetus salah satu warga pulau Panggang. Sate gepuk selain menjadi makan orang pulau, juga banyak di sukai warga kota Jakarta. Harganya pun relatif murah dan tidak sampai menguras kantong berkisar Rp. 15.000 hingga Rp 20.000 per-satu ikan.

Ikan yang tidak mempunyai tulang ini ternyata banyak dilirik oleh ibu-ibu PKK Kepulauan Seribu saat mengikuti perlombaan makan hias. Jadi tidak berlebihan bila Sate Gepuk merupakan makanan kebanggaan warga Pulau Seribu.

Dalam mengembangkan usahanya tersebut, Ibu Ece mulai dari pembuatan sampai pemasaran ia jalani bersama keluarganya. Ia sadar betul untuk memakai jasa orang lain belum bisa dilakukan. Alasannya untung yang di dapat tidak seberapa hanya Rp.10.000 per- satu ikan. jadi tidak mencukupi. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu yang mahal sejak naiknya bahan bakar minyak (BBM) , katanya.

Usanya pun sempat terhenti bulan-bulan ini, karna bahan untuk membuat sate gepuk tidak ada. Lantaran tidak adanya nelayan yang melaut karna faktor cuaca yang sangat buruk.

Sang suami, Bapak Junaidi (56) sebagai tumpuan keluarga juga tidak bisa berbuat apa – apa. Pekerjaan sebagai nelayan yang selama ini dijalani juga terhenti. Alasannya gelombang disertai angin barat nampaknya menjadi penghambat bagi nelayan kepulauan seribu saat ini.

Namun Ibu Sukyati dan keluarganya tidak berkecil hati. Keluarga nelayan di Pulau Panggang itu tetap akan melanjutkan usaha, termasuk dengan berjualan sate gepuk manakala tangkapan ikan tongkol sudah banyak lagi.(Kang Lintas)

Read More »

Masyarakat pulau Panggang sebagian besar adalah nelayan, struktur ekonomi masyarakat adalah Nelayan Tangkap. Berbeda dengan nelayan di Pulau Tidung misalnya, nelayan di Pulau Panggang bukanlah nelayan babang melainkan nelayan harian. Andaikanpun babang, paling lama satu minggu di laut, dan tidak sampai berbulan-bulan.

Ada macam-macam nelayan di Pulau Panggang, dan diantaranya adalah: nelayan ikan hias, nelayan jaring kongsi, nelayan jaring payang, nelayan jaring tegur (ada tegur tengah dan tegur darat), nelayan bubu, nelayan pancing, nelayan ngotrek, dan keramba kerapu.

Pekerjaan dapat dipetakan berdasarkan wilayah (i) Barat lebih banyak nelayan ikan hiasnya, (ii) Timur lebih banyak pegawai, nelayan jaring, dan nelayan pancing.
Orang di wilayah barat sekolahnya lebih rendah dibanding orang di timur. Orang-orang di wilayah Barat semenjak sekolah telah mencari ikan dan banyak yang tidak menamatkan sekolah. Orang di wilayah timur lebih peduli pada pendidikan, sehingga banyak yang menjadi pegawai. Karena di Barat jarang yang menjadi pegawai, maka mempersulit di kemudian hari bagi orang Barat untuk melamar pegawai karena tidak ada orang dalami.

Jaring yang pertama kali dipraktekkan adalah jaring kongsi. Disebut kongsi karena harus dilakukan bersama-sama (hingga 18 orang). Dulunya disebut jaring jepang atau muroami karena yang memperkenalkan adalah orang jepang cuma bukan pada jaman jepang melainkan jaman belandaii. Perkembangan teknologi menyebabkan pemangkasan jumlah orang yang terlibat dalam jaring kongsi, karena pada masa awalnya dulu orang yang dibutuhkan hingga 50- an.

Versi lain menyebutkan yang pertama kali dikenalkan adalah jaring tenara (berasal dari Banten). perbedaan jaring kongsi dengan jaring tenara adalah pada jaring tenara ikan diambil dengan membawa ’giringan’ yang berupa bunyi-buniyan seperti besi yang diadu/ditumbuk satu dengan lainnya atau seperti kerincingan dari atas permukaan laut, sedangkan pada jaring kongsi ikan digiring dari bawah laut, dengan risiko yang lebih besar, karena memanfaatkan tenaga manusia yang menyelam degan kompresor.

Nelayan jaring payang (aktivitasnya disebut manyang) ditekuni mulai pada masa 60-an. Orang yang mengajarkan manyang pertama kali adalah orang Bugis. Manyang disebut sebagai cara yang paling ramah lingkungan karena tidak menginjak-injak karang. Ada belasan juragan payang dan pada saat manyang anak buah mencapai 4-5 orang. Pada tahun 80-an, hasil manyang lebih besar dari ikan hias. Tapi untuk saat ini sudah lima bulan Pak Imka tidak manyang karena tidak ada ikan.

Nelayan ikan hias ada sejak tahun 1970. Menangkap ikan hias adalah pekerjaan yang diturunkani. Pak Hakim menjadi nelayan ikan hias karena orang tuanya juga, dan kini anaknya pun juga. Tidak tahu tahun persisnya, tetapi jaring tegur telah ada sejak lama meskipun kalah dulu dibanding jaring jepang. Jaring tegur ada dua jenis tegur darat untuk perairan dangkal dan tegur tengah untuk perairan dalam. Bekerja jaring tegur butuh berhari-hari di laut (berangkat minggu pulang kamis), jumat dan sabtu tetap bekerja di darat membetulkan jaring. Anak buah jaring tegur jumlahnya sama seperti jaring kongsi, sekitar 18 orang. Ini sebabnya jumlah nelayan tegur lebih banyak dibanding nelayan payang.

Untuk saat ini, tidak ada nelayan Pulau Panggang yang menjadi nelayan bagan padahal dulu paling banyak. Modal yang besar menjadi nelayan bagan adalah satu penyebab hilangnya profesi nelayan bagan. Seorang nelayan ikan hiasiiitidak mempercayai slogan konservasi laut bahwa jika laut tidak dirawat maka ikan akan habis. Argumen yang ia sampaikan sederhana saja: ikan masih ada sampai sekarang.

Masyarakat Pulau Panggang dinilai tidak kompak untuk urusan menjaga lautnya. Nelayan Pulau Panggang dilarang mencari ikan di wilayah lain (dapat diperbolehkan jika mengurus izin). Di Pulau Tonda misalnya, jika ada orang luar masuk maka hingga lima kapal orang lokal akan mengejarnya kecuali jika sudah ada izin. Nelayan Panggang tidak melakukan hal yang sama terhadap orang luar yang memasuki perairannya, bahkan ketika orang luar itu merugikan secara langsung nelayan lokal. Misalnya nelayan jaring payang yang dirugikan oleh kapal kursein yang beroperasi di dekat rumpon mereka sehingga ikan-ikan di rumpon tertarik ke jaring kursein. Tidak ada hal apapun yang mereka lakukan untuk mengusir kapal-kapal kursein tersebut. Misal kedua adalah pencurian balong di keramba. Meskipun sudah beberapa kali terjadi, para pemilik keramba yang notabene berada pada satu hamparan yang sama tidak bekerjasama menjaga keramba. Yang dilakukan adalah menjaga keramba masing-masing.

Dalam praktek sehari-hari nelayan telah mengelompok dengan hubungan bos/juragan-anak buah. Nelayan ikan hias, kongsi, payang, tegur, kesemuanya ada bos/juragan dan anak buah. Anak buah tidak terikat pada bos kecuali si anak buah memiliki hutang. Jika si anak buah tidak memiliki hutang, maka anak buah bisa bebas ikut/jual ke bos manapun yang paling menguntungkan untuknya. Pada kasus Pak Hakim, anak buahnya berpindah ke bos lain karena THR yang ia berikan dirasa kurang.

Pengelompokan alamiah ini tidak digunakan pada saat ada program bantuan dari pemerintah. Masyarakat diminta membentuk kelompok baru dan sesama juragan berkumpul menjadi satu kelompok. Pada saat bantuan jaring payang diberikan, dan itu tidak mungkin dipotong-potong untuk dibagi-bagi pada semua juragan di kelompok tersebut, akhirnya jaring itu teronggok percuma. Kesepakatan kelompok menyatakan bahwa jaring tersebut dijual saja untuk kemudian uangnya dibagi rata, tetapi hingga kini belum terjual. Andaikan pun terjual, hasilnya menjadi tidak lagi berkesinambungan dan memberi nilai tambah.

Hubungan pinjam meminjam uang melahirkan istilah pengentotan, ialah orang yang hutangnya menumpuk dan tidak dibayar-bayar. Orang pulau memiliki tiga opsi untuk meminjam uang (i) kepada juragan, (ii) kepada tetangga, dan (iii) kepada koperasi. Juragan dan tetangga tidak memintakan bunga, tetapi koperasi mengenakan bunga sebagai jasa. Untuk meminjam kepada koperasi butuh menunggu satu tahun, sedangkan dengan juragan dan tetangga bisa setiap saat. Prosedur apapun tidak dibutuhkan pada saat meminjam ke juragan dan tetangga, beda halnya dengan koperasi.

Meskipun tanpa prosedur, tingkat pengentotan tergolong rendah jika tidak bisa dikatakan tidak ada. Ada satu kasus seorang anak buah jaring kongsi yang berpindah juragan padahal ia masih punya hutang dengan juragan yang lama, tindakan yang dilakukan oleh juragan kreditor ini hanyalah mendatangi rumah si mantan anak buah untuk kemudian diajak bicara baik-baik. Dengan cara itupun terselesaikan urusan hutang piutang ini.

Perikanan Budidaya

Menurut beberapa nelayan keadaan sumberdaya ikan yang semakin menyusut secara otomatis membuat mereka berpikir mengenai profesi lain di luar nelayan tangkap. Introduksi budidaya seperti rumput laut telah dikenalkan oleh pemerintah sebagai program alternatif untuk keberlangsungan hidup (sustainable livelihood), namun kendala program ini adalah daya dukung lingkungan (carrying capacity) sekitar pulau.
Menurut Syakur masyarakat pulau lebih banyak meniru dan latah. Sehingga jika program diperkenalkan maka tidak banyak yang mengikuti sampai program itu terbukti sukses. Permasalahan ini kemudian menjadi mengemuka ketika mereka mulai meniru program yang sukses. Dalam proses peniruan seringkali pengelola program yang juga masyarakat pulau Panggang, tidak memperhatikan aspek sosial. aspek sosial yang dimaksud oleh Syakur adalah penyebaran informasi dan penyuluhan terhadap nelayan budidaya di luar kerangka proyek. Asumsi mereka adalah sebagai orang pulau seharusnya para pengelola proyek memperhatika masyakatnya sendiri, apalagi semua pendamping untuk program pemerintah adalah ‘orang pulau’.

Perkembangan masyarakat dari nelayan tangkap ke nelayan budidaya dapat memenuhi asumsi akal sehat masyarakat karena secara ekologis pulau Panggang telah rusak karena banyak faktor, antara lain praktek penangkapan yang tidak ramah lingkungan (sianida, bom), penangkapan yang melebihi ambang batas (over fishing), ledakan penduduk yang mempengaruhi ketersediaan ruang hunian, dan aturan main yang mengurangi akses masyarakat terhadap sumberdaya.

Namun secara kasat mata program budidaya yang berjalan pernah sukses sperti rumput laut, namun berangsur hancur karena daya dunkung lingkungan yang telah rusak dan penyuluhan yag tidak lagi intensif setelah proyek selesai. Program budidaya yang sekarang berlangsung dan ditiru oleh masyarakat adalah budidaya krapu. Budidaya krapu ini berlangsung tanpa penyuluhan dari penyuluh yang ada, karena nelayan-nelayan ini ‘di luar kelompok penerima manfaat’, atau d luar bentukan proyek.

Sumber : Tulisan Bpk. Sudiman,S.Pi, M.Si (Ringkas sejarah kultur budaya pulau panggang)


Sumber / Link : Pulau Seribu Jakarta

Read More »

Rebana merupakan seni tradisi yang bernafaskan Islam. Dengan didukung oleh alat berbentuk kendang kecil berjumlah tiga buah, rebana merupakan kesenian Islami yang sangat menarik untuk dilihat. Menurut Mustafa, salah satu penyebar rebana di Pulau Panggang, seni rebana di Pulau Panggang kini hanya tinggal kenangan. Ketika ditemui di rumahnya, ia bertutur banyak hal, mulai dari sejarah hingga ke cara memainkan alat rebana.

Sejarah rebana di Pulau Panggang mulai ada pada sekitar tahun 1960-an. Pada pertengahan tahun 1950-an, terdapat satu keluarga yang datang dari Jakarta, lalu menyebarkan seni rebana tersebut. Penyebar dan pembina Rebana, yang kemudian dikenal dengan nama Mustafa itulah yang dianggap sebagai sosok yang pertama kali mengajarkan seni rebana bagi sebagian masyarakat Pulau Panggang.
“ Waktu itu, saya dan orangtua memang suka memainkan rebana. Lalu pak kepala desa pada saat itu meminta saya untuk mengajarkan rebana kepada remaja-remaja di sini. Karena saya sendiri masih bujang, jadi saya mau. Dan masyarakat juga sangat mendukung kegiatan ini. Saya saja suka dibantu beras, jadi tidak dibayar. Saya sendiri sih ikhlas karena waktu itu kan saya memang hobi mengajarkan rebana ini.”

Untuk mendapatkan suatu sajian musik rebana yang menarik, maka rebana harus dimainkan oleh 3 orang yang harus menguasai masing-masing alat (kendang) dengan cukup baik. Tiga buah rebana tidak memiliki satu komposisi musikal yang sama sehingga cara memukul dan menggaungkan iramanya sendiri berbeda-beda. Ketiga buah rebana tersebut diberinama kendang empat, kendang lima, dan kendang enam. Istilah tersebut juga untuk membedakan jenis pukulan dan irama musikal yang harus dikuasai oleh pemainnya.

Di samping itu, jenis pukulan yang harus dikuasai oleh pemain rebana terdiri dari sedikitnya 12 pukulan, yaitu: sorong, syiir, gambus, ketoprak, selamba, selamba empat, selamba melayu, selamba sambung, sambung, sorong sambung, sambung ragap, dan asyrakal. Ketika masing-masing jenis pukulan diterapkan pada masing-masing kendang, maka ia akan memunculkan irama musikal yang berbeda-beda karena masing-masing kendang memiliki suatu aturan musikal tersendiri. Masing-masing jenis pukulan masih memiliki variasi yang bermacam-macam sehingga untuk menguasai permainan rebana membutuhkan waktu yang relatif lama.

Tanda lagu atau not yang dimiliki oleh rebana sangat berbeda dengan model tanda lagu yang dimiliki oleh jenis musik modern. Not balok yang ada tidak terdiri dari susunan angka, melainkan hanya berbentuk silang dan bulat ditambah dengan tanda garis bawah untuk menandai apakah pukulan yang dimainkan harus cepat atau tidak. Berikut contoh tanda lagu yang ada pada rebana.
Kendang Empat
Ο Ο X X X O
X O X O
X.O O O
X O X O
X.X X O
Kendang Lima
O O X X X X O
X O X O
X.O O O
X O X O
X O O O
Kendang Enam
O O.X X X X O
X X O X O
X O O O
X X X X O


Tanda bulat (O) menunjukkan suatu jenis pukulan yang harus memunculkan suara gaung (dung), sedangkan tanda silang (X) menunjukkan adanya suara tepak mati (pak). Menurut Mustafa, untuk menguasai satu jenis pukulan saja membutuhkan waktu sekitar satu bulan, sehingga untuk menguasai beragam pukulan dipastikan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Satu hal yang dinilai cukup sulit adalah bahwa memelajari jenis pukulan rebana paling tidak harus ditemani oleh dua orang yang telah menguasai jenis pukulan untuk mengiringi pukulan bagi yang sedang belajar.

Hingga tahun 1970-an, terdapat beberapa orang yang menguasai rebana dengan cukup baik. Mustafa sendiri cukup rajin untuk melatih anak-anak muda semasanya untuk belajar rebana secara terus-menerus. Pada waktu itu pula rebana sering dimainkan pada acara-cara ritual di masyarakat, seperti acara maulud[1] di hajatan masyarakat.

“ Waktu masih rame-ramenya dulu, di setiap acara maulud kita diundang dan diminta untuk memainkan rebana hingga larut malam. Jika di acara maulud, kita bisa memainkan seluruh jenis pukulan. Kecuali pada waktu ngarak pengantin atau menyambut tamu dari pemerintah, paling cuma memainkan tiga pukulan, yaitu syiir ragap, selamba ragap, dan sambung ragap. Dulu, setiap kita bermain rebana yang hadir dan menonton pasti banyak karena rebana ini sangat indah sekali didengar. Lagu-lagu yang dibawakan juga diambilkan dari kitab barzanji yang sudah akrab di sini.”

Tetapi pada akhir 1980-an, rebana mulai ditinggalkan. Hanya sesekali ia dipakai pada hajatan tertentu, khususnya pada waktu ngarak pengantin. Dan kini, rebana sudah benar-benar menjadi kenangan dan telah tergantikan oleh jenis kesenian baru yang lebih diterima oleh generasi masa kini. Mustafa sendiri menjelaskan bahwa “hilangnya” rebana di masa kini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya : pertama, tidak terdapatnya lagi minat generasi muda untuk memelajari rebana yang dinilai cukup sulit dan membutuhkan waktu serta kesabaran yang cukup. Generasi muda masa kini lebih memilih jenis kesenian modern yang sepertinya memberikan image tentang musik yang memberikan makna lebih prestisius.

Kedua,Mustafa sendiri sebagai guru di bidang ini mulai sibuk dengan pekerjaan sehari-hari sebagai nelayan yang harus kelaut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ia mengaku bahwa dirinya tidak lagi memiliki waktu yang cukup luang untuk mengajarkan permainan rebana kepada masyarakat sekitar.

Ketiga, tidak terdapat suatu dukungan dari berbagai pihak untuk “melestarikan” jenis kesenian tradisi Islam yang satu ini. Mustafa masih ingat ketika ia begitu gencar-gencarnya dalam memainkan dan mengajarkan rebana kepada generasi muda di sini. Selain lurah, hampir seluruh penduduk bersedia memberikan bantuan berupa beras atau yang lain sebagai tanda terima kasih sekaligus dukungan pemenuhan ekonominya. Tetapi, hal tersebut tidak ada lagi di masa kini. Dengan tidak adanya dukungan dari masyarakat, maka sangat sulit bagi Mustafa untuk meluangkan waktu mengajarkan rebana, karena pada saat yang sama ia sebagai kepala keluarga dituntut pergi kelaut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Pemerintah daerah sendiri juga tidak memberikan perhatian yang serius bagi keberlangsungan seni tradisi yang satu ini sehingga maklum jika kemudian keberlangsungannya hanya tinggal imajinasi yang melekat pada segelintir orang seperti Mustafa. Dalam ungkapan lain, demi hidup, tradisi harus mati.

b. Q a s i d a h
Seni tradisi yang satu ini juga bisa disebut sebagai seni tradisi islam. Hampir mirip dengan rebana, seni tradisi yang satu ini menggunakan kendang dan juga membawakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Meskipun kini juga kerap terlihat lagu-lagu yang berbahasa Indonesia, tetapi ia tetap kental dengan nuansa Islamnya.

Di Pulau Panggang sendiri, asal mula perkembangan qasidah dimulai pada akhir tahun 1960-an. Selain Mustafa yang ikut serta mengembangkan qasidah, terdapat pelatih lain yang juga giat mengembangkan seni tradisi yang satu ini, yaitu orang yang bernama Yusuf. Bersama dengan Mustafa, Yusuf yang sebelumnya telah belajar qasidah dari darat (Jakarta) membagi kemampuannya dalam memukul kendang kepada generasi perempuan dan laki-laki Pulau Panggang. Maman, ketua grup qasidah Nurhasanah Pulau Panggang mengatakan bahwa ia sendiri belajar qasidah dari Yusuf. Ia mengenang bahwa pada waktu itu, terdapat dua kelompok generasi qasidah yang masing-masing terdiri dari grup laki-laki bernama al-Amin dan grup perempuan bernama an-Ni’mah.

Dari segi alat yang dipergunakan, qasidah lebih bervariasi dibanding rebana. Peralatan qasidah terdiri dari kendang kecil dan kendang besar hingga berjumlah belasan. Hal tersebut terhantung pada jumlah personil yang tergabung pada grup qasidah itu sendiri. Artinya, peralatan qasidah tidak seketat rebana yang hanya terdiri dari tiga kendang kecil dengan jenis pukulan yang khusus pula. Cara memainkan kendang qasidah dinilai lebih mudah dibanding rebana.

Pada masa “kejayaan” qasidah, seni tradisi ini juga kerap ditanggap oleh masyarakat pada acara-acara hajatan masyarakat atau ketika menyambut tamu penting. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan rangkaian perubahan yang terjadi di Pulau Panggang, grup qasidah An-ni’mah dan al-Amin mulai pudar. Baru pada awal tahun 2000-an, qasidah mulai dimunculkan kembali. Salah satu grup yang paling tua saat ini, yaitu Grup qasidah Nurhasanah merupakan salah satu grup yang paling eksis, meskipun personilnya bukanlah sosok-sosok yang muda lagi karena sebagian di antaranya merupakan orang perorang yang dulu pernah bermain di grup An-ni’mah. Meskipun terdapat beberapa grup qasidah lain yang lebih muda, tampaknya belum sepopular grup qasidah Nurhasanah pimpinan Maman ini.

“Sebenarnya saya sendiri suka diminta oleh ibu-ibu di bagian barat untuk melatih mereka. Tapi ibu-ibu dari Nurhasanah binaan saya terkadang kurang menyetujui, takutnya saya tidak lagi fokus ke mereka. Saya juga sempat diminta oleh kepala Sekolah SMP di Pulau Pramuka untuk melatih anak-anak, tetapi ia bilang bahwa tidak ada anggaran untuk itu. Terus-terang saya keberatan karena bukankah guru-guru yang lain aja dibayar, masak saya tidak? Bukankah dalam hal ini kita juga sama-sama guru? Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu berharap ada bayaran yang banyak, cukup untuk transportasi dan uang rokok, tapi karena tidak ada kepastian ya saya sendiri jadi keberatan,” ujar Maman.

Saat ini, qasidah menjadi seni tradisi yang lebih eksis dibanding seni tradisi yang pernah ada di pulau ini. Pada waktu perlombaan qasidah di tingkat kabupaten misalnya, terdapat belasan grup yang berkompetisi untuk memperebutkan gelar juara. Pada berbagai acara hajatan di masyarakat pun masih kerap ditanggap, misalnya untuk mengiringi arak-arakan pengantin keliling pulau. Lagu-lagu yang dibawakan tidak melulu syair-syair arab sebagaimana rebana, tetapi banyak juga lagu-lagu kontemporer seperti pengantin baru, perdamaian, jilbab putih yang sempat dipopularkan oleh grup Nasida Ria asal Semarang Jawa Tengah. Sayangnya, pembinaan terhadap seni tradisi Islam yang satu ini masih mengalami banyak kelemahan. Di antaranya, sulit untuk melakukan latihan rutin secara konsisten. Personil qasidah yang terdiri dari perempuan dinilai menjadi faktor ketidakkonsistenan tersebut. Para personilnya kerap disibukkan oleh pekerjaan rumah tangga, pengajian, arisan, dan sebagainya sehingga turut menjadi kendala untuk menggelar latihan secara rutin.

Di samping itu, pengembangan peralatan juga masih sangat minimal. Maman mengatakan bahwa selama ini untuk memperoleh peralatan seperti kendang saja harus menyisihkan dari uang bayaran yang mereka peroleh dari tanggapan di acara hajatan masyarakat. Grup qasidah Nurhasanah sendiri misalnya, sudah pernah mengajukan permohonan ke pemerintah daerah untuk bantuan peralatan, tetapi tidak pernah direspon. Maka wajar pula jika grup sendirilah yang harus pandai-pandai menyiasati bagaimana mengupayakan adanya peralatan sendiri, mulai dari kendang hingga pakaian.

Berbeda dengan rebana yang kesulitan untuk melakukan regenerasi, qasidah relatif lebih hidup dan masih memunculkan minat dari generasi masa kini. Keberadaan beberapa grup qasidah yang menyebar dari pulau ke pulau merupakan wujud dari tetap kuatnya minat itu. Kini, qasidah yang hidup menghampar di tengah-tengah tantangan modernitas itu tengah berupaya untuk menciptakan formulasi bertahan hidup. Harapan agar ia diperhatikan oleh pihak penguasa merupakan bagian dari upaya untuk mempertahankan hidup itu. Gempuran musik modern seperti pop, dangdut, dan perubahan sosial yang ditandai oleh keberadaan media informasi dan media hiburan yang lain akan memunculkan pertanyaan; apakah qasidah akan bernasib seperti rebana ataukah ia akan tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang sangat tergantung pada keinginan berbagai pihak untuk menjadikan qasidah sebagai ruang artikulasi masyarakat atau sebaliknya, ia hanyalah kesenian dimana tanggungjawabnya diserahkan kepada para pemainnya yang lambat-laun pasti lenyap ditelan usia.

c. L e n o n g

Menyebut jenis seni tradisi yang satu ini maka ia menjadi sangat akrab dengan Betawi. Tampaknya pula lenong yang pernah hidup di Pulau Panggang dan juga pulau yang lain tidak lepas dari wilayah darat. Baharuddin, atau yang lebih dikenal di Pulau Pramuka sebagai Wak Ndut mengatakan bahwa lenong yang pernah ada di pulau tahun 1960-an hingga 1990-an memang diawali oleh pembelajaran yang berasal dari darat (Jakarta), tetapi ketika sudah berada di pulau ia mengalami improvisasi dari para pemainnya.

Dari segi penampilannya, lenong merupakan jenis seni tradisi panggung yang dimainkan (diperankan) oleh beberapa orang menurut cerita-cerita tertentu. Ia seperti drama panggung atau juga tampak seperti teater yang mengisahkan tentang peristiwa keseharian atau juga dongeng-dongeng tentang tokoh-tokoh tertentu. Salah satu lenong di Pulau Panggang yang sempat popular adalah grup lenong Cinta Damai. Grup ini terdiri dari dua puluh lima personil dengan beberapa di antaranya sebagai pemain alat musik gong, gambang, kromong, gihan, genjring, dan ada juga yang berperan sebagai pelantun lagu-lagu.

Dari sekian alat musik tersebut, gambang, kromong, dan gihan dianggap paling sulit. Bahkan untuk belajar ketiganya, beberapa pemain ahli dari Jakarta sempat dihadirkan secara khusus untuk melatih permainan alat musik tersebut. Sedangkan lagu-lagu dan juga pantun yang dilantunkan sangat identik dengan lagu-lagu atau pantun bercorak Betawi.

Wak Dakir, salah seorang mantan pemain lenong yang selalu memainkan peran sebagai perempuan mengatakan bahwa lenong Pulau Panggang tinggallah kenangan. Ia masih mengenang masa-masa indah ketika lenong Pulau Panggang pernah diundang di berbagai acara hingga ke Tangerang dan beberapa pulau yang lain dengan menampilkan cerita-cerita yang membuat penonton merasa larut dalam cerita yang diperankan.

“ Cerita yang biasa diperankan biasanya tentang Ibu tiri, ada juga tentang tokoh-tokoh jagoan, tapi ada juga yang tergantung pada permintaan tuan rumah. Sebelum tampil, kita harus latihan terlebih dahulu. Pada waktu latihan itu, kita semua harus serius seolah-olah cerita itu benar-benar kita yang melakukan. Kalau ceritanya tentang jagoan, kita biasa pukul-memukul dengan sebenarnya sehingga setelah latihan badan jadi sakit semua. Dan ketika sudah tampil, seolah-olah kita semua ini seperi beneran. Bahkan, di antara kita yang suka berperan jadi penjahat, kerap dibenci oleh masyarakat. Padahal itu semua hanya peran di atas panggung. Itulah lenong. Ia bisa membawa emosi masyarakat yang menonton. Sama juga kalau ceritanya tentang ibu tiri, tidak sedikit penonton yang menangis dan membenci pemeran ibu tirinya,” ujar Dakir.

Memasuki tahun 1990-an, lenong mulai ditinggalkan. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa lenong menguap. Di antaranya, pertama, para pemain lenong yang sudah menginjak usia tua memilih untuk beristirahat dan fokus pada penguatan ekonomi rumah tangga. Celakanya, parkirnya para generasi tua pemain lenong tidak melahirkan generasi penerus lenong yang mumpuni. Kedua, masuknya jenis seni modern yang menghinggapi generasi muda dianggap lebih memiliki daya tarik dibanding lenong. Menurut Wak Ndut, anak muda masa kini sepertinya malu dan gengsi untuk belajar lenong karena seni tradisi yang satu ini dianggap sebagai seni kampungan yang tidak bergengsi.

Di samping dua faktor tersebut, terdapat hal lain yang menarik untuk dicermati. Lenong Pulau Panggang sebagai seni tradisi yang hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat muslim tradisional ternyata tidak hidup dengan tenang. Tahun 1990-an ditengarai sebagai masa dimana mulai banyak orang-orang yang semula belajar ilmu agama di darat mulai pulang dengan membawa pengetahuan baru ke pulau. Pengetahuan baru yang meletakkan Islam beroposisi terhadap seni tradisi telah melahirkan suara-suara yang tidak sepihak dengan seni tradisi yang ada. Nawawi, salah satu mantan pemain lenong sendiri kerap mendapat teguran ketika dirinya yang sudah tidak muda lagi tetapi masih getol meminati lenong. Ia dianggap tidak patut lagi bermain lenong karena usia yang beranjak senja seharusnya menuntunnya untuk lebih mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa ketimbang menggandrungi lenong.

Nawawi yang sepertinya tidak ingin berdebat dan mencari masalah dengan beberapa tokoh agama itu akhirnya lebih memilih untuk mundur dari kancah lenong, meskipun didalam dasar hatinya tetap terpaut dengan lenong.

“Gimana ya, saya ini seniman. Saya juga orang yang beragama. Saya cukup tau lah mana yang bilah dan mana yang tidak. Lagian lenong ini kan bukan kesenian yang mengumbar aurat, tidak seperti dangdut atau orkes. Lalu, apanya yang harus dilarang dari lenong ini? Sampai sekarang, kalau saya mendengar lagu-lagu lenong, saya terasa melayang dan semua persoalan hidup saya ini seolah-olah selesai. Itulah jiwa seni saya. Tapi karena saya juga tidak mau ribut dengan orang lain, ya sudahlah, saya mundur saja. Kalaupun nanti saya harus terjun lagi ke dunia lenong, saya lebih memilih untuk menjadi sutradara saja,” ujarnya.

Hal lain yang tidak kalah menarik, menurut pengalaman pribadinya Nawawi, penyebab generasi tua mangkir dari kancah lenong seperti dirinya diperantarai oleh keengganan diri untuk berkonfilk dengan istri dalam kehidupan rumah tangga. Ia mengaku bahwa ketika dirinya memerankan tokoh tertentu di pertunjukan lenong dan harus berlawanan dengan seorang perempuan yang berperan menjadi istrinya, maka setiap perilaku dan gerakan yang memperlihatkan keakraban sebagai suami istri, meskipun hanya sebatas peran di atas panggung- bisa menyeret dan atau menimbulkan persoalan dalam keseharian rumah tangganya.

Adanya berbagai faktor yang memengaruhi lenyapnya seni tradisi pertunjukan lenong itulah yang bisa dilihat dan sekaligus menjadi penjelas mengapa lenong tidak lagi menjadi suatu ruang ekspresi berkesenian masyarakat. Kini, lenong mengalami nasib seperti rebana. Ia mewujud dalam kenangan generasi tua tentang masa lalu. Bahkan, peralatannya pun tinggal benda-benda mati yang tidak tersentuh, hanya sesekali keluar sarang untuk sekedar mengingat-ingat kejayaan masa lalu yang telah pudar.

d. M a r a w i s

Seni tradisi islam yang satu ini merupakan fenomena kesenian yang relatif baru di Pulau Panggang. Meskipun sebelumnya pernah ada kesenian seperti Marawis di Pulau Panggang , tetapi ketika dicermati ternyata kesenian yang sudah ada itu lebih identik dengan hadrah, yaitu suatu seni tradisi mirip rebana tetapi dibawakan dengan memainkan kendang serta diiringi pula oleh tarian. Hadrah sendiri tidak memiliki sejarah yang memadai di Pulau ini karena tidak dikembangkan dengan baik.

Heri, seorang pengajar marawis di pulau ini mengatakan bahwa ketika dirinya tiba di pulau ini lima tahun yang lalu dari darat, ia diminta oleh beberapa orang di Pulau Panggang untuk mengajarkan marawis pada anak-anak yang seusia SD atau SMP. Karena pada dasarnya ia sangat menyukai jenis kesenian yang satu ini, maka ia tidak keberatan sama sekali.

Demikian halnya yang terjadi di sekolah SMA 69 Pulau Pramuka tempat ia mengajar. Ia juga mengajarkan marawis dengan intensif. watak yang dimiliki oleh murid tersebut. Jurus dan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Nek Deli itu ada yang berunsur lembut, keras, berbentuk seni, tenaga dalam, dan banyak lagi. Masing-masing murid akan dilihat dulu oleh Nek Deli Mulai dari cara memainkan kendang, cara menari, hingga melantunkan lagu-lagu bernafaskan Islam. Hingga saat ini, marawis termasuk seni tradisi bernuansa Islam yang masih baru dan terus diupayakan untuk dikembangkan.

“Marawis ini masih dalam tahap rintisan. Saya sendiri bersemangat untuk melatih anak-anak karena mereka juga menyukai seni ini. Saya sudah merasa bersyukur karena anak-anak binaan saya sudah bisa tampil di depan umum untuk membawakan marawis. Seperti ketika mereka tampil di acara peringatan hari besar Islam, ternyata sambutannya cukup baik. Kini beberapa orang dari pulau yang lain juga meminta saya untuk melatih. Tapi saya belum memiliki waktu yang banyak untuk bisa kesana-kemari mengajarkan marawis. Mungkin kalau anak-anak yang saya bina di sini sudah jadi, saya bisa saja untuk mengajarkan marawis di pulau yang lain,” ujar Heri.

e. Pencak Silat

Salah satu yang dikenal banyak orang terkait Pulau Panggang adalah pencak silatnya. Berbagai cerita tentang masa lalu yang penuh oleh tokoh-tokoh lokal seperti Nek Sadeli, Nek Aing, Habib Ali, Darah Putih sangat identik dengan cerita tentang ketokohan individu baik dalam penguasaan ilmu agama maupun ilmu beladiri pencak silat. Tampaknya, pencak silat Pulau Panggang merupakan jenis seni ketangkasan yang tidak pernah pudar hingga saat ini, meskipun harus diakui pula bahwa ia mengalami penurunan kuantitas penerusnya.

Menurut informasi dari beberapa orang, pencak silat Pulau Panggang sangatlah unik karena unsur-unsur gerak dan jurus-jurus yang ada merupakan serapan dari berbagai aliran dan jenis jurus silat yang ada di seluruh pulau Jawa. Hal tersebut disebabkan oleh kesukaan para pendahulu dan tokoh Pulau panggang yang kerap pergi keliling pulau Jawa untuk menimba ilmu beladiri dari berbagai perguruan dan pesantren yang tersebar di Pulau Jawa.

Pak Ilin, salah satu guru pencak silat untuk generasi masa kini mengatakan bahwa pencak silat di Pulau Panggang pertama kali dikembangkan oleh Nek Sadeli atau yang biasa disebut dengan Nek Deli. Tokoh legendaris yang diperkirakan hidup pada abad 18-an itulah yang diyakini oleh penduduk pulau panggang masa kini sebagai tokoh yang mengajarkan pencak silat secara turun-temurun.

“Saya sendiri tidak belajar secara langsung kepada Nek Deli, tetapi melalui murid-muridnya. Menurut cerita, murid Nek Deli itu sangat banyak, tetapi anehnya murid-murid beliau yang banyak itu diajarkan jenis-jenis jurus yang berbeda-beda pula, tergantung pada kira-kira lebih cocok untuk belajar jenis jurus macam apa. Jika orangnya dinilai tepat untuk memelajari jenis jurus yang keras, maka jurus itulah yang diajarkan. Jadi, bisa dibayangkan betapa luasnya ilmu yang dimiliki oleh Nek Deli,” ujar pak Ilin.

Pak Ilin sendiri memelajari jenis jurus gerak kehadiran, suatu varian jurus yang terdiri dari 12 jurus dan diakhiri oleh jurus sikat duabelas. Ia disebut dengan kehadiran karena untuk memelajari jurus ini harus menghadirkan kekuatan gaib yang membantu menggerakkan tubuh sang murid agar lebih mudah memelajari berbagai langkah jurus dengan baik. Di samping mengajarkan gerak jurus fisik yang terdiri dari 12 jurus itu, Pak Ilin juga melambarinya dengan berbagai amalan khusus, seperti puasa dan bacaan-bacaan tertentu.

“ Sebenarnya jurus yang dimiliki oleh Nek Deli itu bernama Jurus Alif, artinya adalah tauhid. Berbagai jenis jurus yang dikuasai oleh Nek Deli itu hanyalah cabang-cabangnya saja, tetapi semuanya itu menuju pada hakikat yang satu yaitu Allah swt. Oleh sebab itulah, belajar ilmu beladiri berarti belajar pula tentang tauhid. Jika bisa diibaratkan, maka jurus Alif itu menunjukkan hakikat Allah, sedangkan variasi jurusnya adalah asmaul-husna, atau cabang-cabang dari hakikat itu sendiri. Begitulah kira-kira jurus yang dimiliki dan diajarkan oleh Nek Deli. Bayangkan saja, jika seseorang sudah sampai menguasai jrus alif dengan benar, siapa sih di antara sekian manusia yang bisa mengalahkan? Dulu ada cerita kalau Nek Deli itu sering ditantang oleh para pendekar dari berbagai tempat, tapi tidak ada satupun yang bisa mengalahkan Nek Deli, maka pencak silat Pulau Panggang ini sangat terkenal dan dihormati oleh banyak orang di berbagai tempat,” cerita pak Ilin.

Selain pencak silat Nek Deli, di Pulau Panggang juga dikenal dengan pencak silat aliran Nek Aing. Jika Nek Deli diyakini sebagian orang berasal dari Mandar, ada juga yang mengatakan ia berasal dari Banten, maka Nek Aing (yang aslinya bernama Mursalin) adalah tokoh yang berasal dari daerah Cemplang, Bogor. Nek Aing sendiri merupakan pengajar ilmu agama Islam dan juga ilmu beladiri yang meninggal pada tahun 1970-an. Generasi tua yang ada di Pulau Panggang ini masih banyak yang sempat bertemu muka dengan Nek Aing.

Meskipun secara gerak fisik jurus Nek Aing berbeda dengan Nek Deli, tetapi hakikat yang diajarkan sama, yaitu menuju kepada pemahaman akan ketauhidan. Jika jurus Nek Deli mencapai 12 jurus, maka jurus Nek Aing hanya berjumlah 9. Tetapi, perbedaan jumlah jurus keduanya tidak bisa dijadikan ukuran mana yang lebih baik. Bagi sebagian orang Pulau Panggang, semuanya tergantung pada masing-masing murid yang belajar. Baik yang belajar pencak silat dari aliran Nek Deli maupun Nek Aing semuanya harus mengedepankan sikap rendah hati dan ketauhidan itu.

Pak Ilin mengatakan bahwa Nek Deli dulu sempat berucap bahwa siapapun yang memiliki jurus dan menyerang terlebih dahulu, maka ia pasti kalah. Pernyataan ini, menurut pak Ilin adalah anjuran agar tidak menggunakan kepandaian beladiri untuk digunakan secara sewenang-wenang. Ilmu beladiri hanya perlu digunakan pada situasi-siatuasi tertentu, terutama ketika harus mempertahankan diri karena diserang oleh pihak lain.

Kini, pencak silat pulau Panggang mulai kehilangan penerus. Hanya sedikit dari generasi muda masa kini yang mau belajar pencak silat. Tidak seperti dulu dimana hampir semua penduduk pulau panggang, khususnya yang laki-laki belajar pencak silat. Sudut pandang generasi masa kini mulai berubah, di samping konteks jaman juga terus bergerak menuju perubahan. Kini, generasi muda lebih tertarik untuk mendalami ilmu pengetahuan dengan belajar dan sekolah hingga keluar pulau. Perubahan lingkungan sosial sangat memengaruhi keberlanjutan pencak silat Pulau Panggang. Hingga saat ini tidak ada yang berani bertaruh apakah keberadaan pencak silat Pulau Panggang akan tetap bertahan untuk beberapa tahun ke depan.

Silat kebanyakan jurusnya berasal dari Mandar, kemudian dicampur dengan siat Banten dan Betawi. Untuk penggunaan senjata tetap sama, trisula, golok, dan toya yang lebih banyak digunakan. Dalam silat P. Panggang jurus yang digunakan lebih banyak jurus untuk melumpuhkan lawan, bukan jurus untuk bertahan. dengan tiga jurus diharapkan lawan langsung ‘lumpuh’. Jika lawan setelah digebrak tidak lumpuh maka pertahanan yang dianjurkanpun tak lebih menahan tiga jurus lawan, setelah itu kembali melawan. Oleh karena itu silat P. Panggang harus disertifikasi terlebih dahulu untuk menjadi salah satu cabang dari persilatan.

Menurut Habib Zen permasalahan silat ini bukan pada hal-hal yang sifatnya fisik, namun sesuai dengan akar katanya, silat berasal dari silaturahmi, dengan tujuan memperkuat persaudaraan, menyebarkan Islam, dan membentuk karakter dan budi pekerti. Silat sebagai sebuah pertunjukkan (bukan ilmu bela diri) sedikit sekali digunakan di pulau Panggang. Menurut Habib Zen ini disebabkan karena sejarah pulau Panggang yang penuh dengan perjuangan. Diawali dengan berbagai legenda, seperti legenda Darah Putih, Kapitan Saudin, dan Mohammad Sadli bin Kohar yang melegenda sebagai pendekar yang mengajarkan ilmu bela diri dan mempertahankan pulau Panggang dari serbuan bajak laut.

Dalam perjalanannya hanya Mohammad Sadlilah yang paling lengkap ceritanya dan paling disebut-sebut sebagai orang yang mengajarkan silat ke seluruh P. Panggang. Dalam kisahnya Mohammad Sadli pada usia 19 tahun pergi mengembara meninggalkan P. Panggang, beberapa puluh tahun kemudian kembali dan mengajarkan silat.

Tokoh lainnya adalah Budin dan Miang yang tercatat menjadi guru silat di P. Panggang. Sedangkan nama-nama lainnya tidak diingat oleh masyarakat. Menurut Habib Zen, diperkirakan pencak silat ini diperkenalkan tahun 1911 dengan beranggotakan ± 20 orang, kemudian berkembang dan mencapai ratusan orang. Pencak silat pada masa ini bertujuan sebagai [1] olah tubuh dan pikiran, [2] seni beladiri, [3] mempererat tali silaturahmi, [4] menumbuhkan rasa percaya diri, [5] sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sekarang pencak silat di dipersatukan menjadi Ikatan Pencak Silat Pulau Panggang (IPSPP), yang bercirikan jurus ‘anak pukul’ (dikenal dengan istilah ‘gerak’-sekali pukul tidak pulang kembali dan harus tepat sasaran). Jurus ini tidaklah diperuntukkan sebagai ‘seni untuk seni’ (seni pertunjukkan) namun lebih pada kemampuan mempertahankan diri (bela diri), sedangkan untuk seni pertunjukkan orang pulau Panggang lebih mengenal istilah ‘fragmen’ yang digunakan untuk menampilkan keindahan.

Dalam teknik-belajar mengajar silat dikenal juga istilah ‘kehadiran’ dimana sang murid dibuka ‘auranya’ untuk dimasuki oleh ‘ilmu’ sang guru. Menurut Habib hal ini menjadi ‘hapalan’ sehingga mereka dapat bergerak sendiri . Dan seiring dengan meningkatnya kualitas keimanan (dilihat dari ritual ibadah yang dijalankan, termasuk didalamnya ritual untuk sosial atau kesalehan sosial, seperti baik kepada tetangga, sering bersilaturahmi, rendah hati ke orang lain, dan sebagainya). Dengan hapalan yang mampu membuat ‘gerak’ ini maka silat pulau Panggang menurutnya memiliki keunikan, karena setiap orang akan menemukan sendiri ciri khasnya, misalnya ada yang mampu bersalto tinggi, merayap di dinding, dan lain-lain.

Sumber : Tulisan Bpk Sudiman,S.Pi,M.Si (Kasubag Kelautan)

[1] Acara maulud disini adalah suatu acara hajatan masyarakat seperti nikah, khitanan, atau akikah dimana didalamnya membacakan kitab barzanji. Maulud disini bukanlah acara peringatan kelahiran Nabi SAW yang biasanya dilaksanakan pada bulan maulud menurut kalender Islam.

Sumber / Link : Pulau Seribu Jakart

Read More »



Pulau Panggang – Bukti-bukti sejarah di Pulau Panggang yang merupakan salah satu pulau yang masuk Pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (Pemkab Kep Seribu), diyakini masyarakatnya sebagai saksi bisu bahwa Kelurahan Pulau Panggang memiliki sejarah panjang pemerintahan. Peninggalan yang masih tampak kokoh dan terpelihara adalah gedung bertipe jaman kolonial yang kini dijadikan kantor Kelurahan Pulau Panggang. Meskipun sudah mengalami renovasi, keaslian gedung yang diperkirakan dibangun pada tahun 1618 ini tetap dipertahankan hingga kini.

Pulau Panggang sendiri ditetapkan sebagai kelurahan pada Agustus 1986, namun karena meningkatnya status Kep Seribu dari kecamatan menjadi kabupaten administrasi, Kelurahan Pulau Panggang disahkan kembali pada 27 Juli 2000 silam. Menempati area 62,10 hektar, Kelurahan Pulau Panggang kini dihuni sekitar 5.443 jiwa yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Keistimewaan lain dari Kelurahan Pulau Panggang adalah, terpusatnya Pemkab Kep Seribu yang berada di Pulau Pramuka yang menjadi bagian dari Kelurahan Pulau Panggang. Sedangkan di Pulau Karya terdapat Kantor Teknis Suku Dinas dan Seksie, serta Kantor Kepolisian Resort Kep Seribu.

Untuk menuju ke Kelurahan Pulau Panggang tak sulit, karena disediakan transportasi laut dari Marine Jaya Ancol (MJA) dan Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Di MJA, disediakan transportasi berupa speedboat sehingga waktu yang ditempuh lebih cepat sedangkan di Muara Angke terdapat ojek (sebutan kapal tradisional pengangkut penumpang, red) dengan tarif relatif terjangkau yang waktu tempuhnya lumayan panjang untuk jarak ke Pulau Panggang dari daratan Jakarta sejauh 74 kilometer.

Berdasarkan letak geografisnya, Kelurahan Pulau Panggang terdiri dari gugusan 13 pulau yang peruntukannya dibagi menjadi empat, yang terdiri dua pulau pemukiman, dua pulau resort, dan satu pulau pemerintahan. Sedangkan sisanya, digunakan sebagai pulau perlindungan ekosistem seperti di Pulau Semak Daun yang terdapat pula program budidaya ikan Pemkab Keb Seribu yang dikelola oleh PKSPL-IPB. Untuk perairan dangkal di Pulau Karya, difungsikan menjadi tempat budidaya ikan bandeng laut yang dikelola PT Nusa Keramba.

Dalam menunjang pendidikan bagi anak-anak warga Pulau Panggang, terdapat empat Sekolah Dasar (SD), satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), satu Sekolah Menegah Atas (SMA). Istimewanya lagi, SMA 69 Jakarta yang berlokasi di Pulau Pramuka merupakan SMA satu-satunya di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Tradisi yang melekat pada masyarakat Pulau Panggang tak lepas dari budaya Jakarta. Ini bisa dilihat dari keseharian masyarakatnya yang mengenakan sarung, kopiah, dan baju koko sebagai pakaian sehari-harinya jika tidak sedang melaut. Karena 80 persen budaya masyarakatnya menginduk pada budaya Jakarta, tak salah jika seluruh masyarakatnya menganut agama Islam.

Karena keunikan dan sejarahnya yang panjang, tak salah jika belakangan ini Kelurahan Pulau Panggang, khusus Pulau Pramuka menjadi tujuan wisata yang cukup diminati. Apalagi jika sedang hari libur, ratusan wisatawan domestik memadati sejumlah tempat bersejarah yang tetap dijaga keasliannya. (***)
 

Read More »



Pulau Panggang terletak di wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kelurahan Pulau Panggang dengan luas pulau 9 hektar. Akses transportasi laut untuk menuju pulau ini dapat melalui dermaga Muara Angke melalui perahu/kapal ojek.

Berdasarkan jumlah penduduk, pulau Panggang merupakan pulau pemukiman terpadat di Kepulauan Seribu. Jumlahnya mencapai 2.289 jiwa, dimana terdapat rata-rata 400 jiwa/hektar. Kondisi ini sebenarnya sudah tidak sebanding dengan luas wilayahnya. Penyebabnya antara lain kuatnya ikatan kekerabatan dan adanya anggapan perbedaan karakter ekonomi-budaya dengan warga di pulau pemukiman lainnya sehingga mendorong masyarakat Pulau Panggang sulit di relokasi ke pulau pemukiman lainnya.

Walaupun sebagaian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan, namun ada pula yang mencoba peruntungan di bidang lain, seperti di bidang pertukangan, peternakan, pendidikan, perdagangan dan lain-lain.

Dampak yang timbul akibat kepadatan penduduk dan persebaran penduduk yang tidak merata adalah terjadi degradasi kualitas lingkungan relatif besar seperti pencemaran perairan laut, kerusakan habitat terumbu karang, abrasi dan reklamasi sporadis.

Sebagai upaya dalam mengatasi masalah kepadatan penduduk ini, berdasarkan kajian yang ada, pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu berupaya mencari solusi yaitu seperti perencanaan pembangunan rumah panggung yang dilakukan, dimana program ini memanfaatkan Reeflat atau gosong yang ada untuk dijadikan lahan baru untuk pemukiman dengan pengembangan rumah panggung. Sebagai gambaran, apabila musim angin barat/timur terjadi pasang surut air laut, areal reeflat di pulau ini menjadi hamparan daratan yang luasnya mencapai ± 60 Ha.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pengembangan rumah panggung menjadi salah satu altematif yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten saat ini, meskipun dalam pelaksanaan sangat diperlukan pendekatan persuasif kepada masyarakat akan pentingnya sanitasi bagi keturunan selanjutnya. Di masa mendatang Pemerintah diharapkan mampu mengembangkan solusi alternatif yang lebih baik dalam rangka mengatasi permasalahan kepadatan penduduk di Pulau Panggang.

Meskipun demikian, Pulau Panggang memiliki bangunan bersejarah yang sampai saat ini masih digunakan sebagai Kantor Lurah Pulau Panggang, bangunan bersejarah ini harus tetap dilestarikan. Di lain hal pada setiap tahunnya, event Festival Pulau Panggang sudah menjadi kalender tahunan yang sangat atraktif dan perlu dilestarikan dan dikembangkan dalam rangka tatap menjaga budaya asli.  


Kelurahan pulau Panggang ini termasuk dalam kecamatan Kepulauan Seribu Utara, kondisi air laut di kecamatan kepulauan Seribu utara ini relatif lebih bersih sebab lokasi yang jauh dari teluk Jakarta, kondisi air laut yang bersih ini yang menyebabkan keindahan alam bawah laut dengan kehidupan bawah lautnya masih terjaga.

Pulau yang termasuk di dalam kelurahan pulau Panggang

  1. Pulau Air
  2. pulau Karang Balik
  3. pulau Karang beras
  4. Pulau karang lebar
  5. pulau Karya
  6. pulau Kotok Besar
  7. pulau Kotok Kecil
  8. Pulau Pandan atau Gosong pandan
  9. pulau Panggang
  10. pulau Peniki
  11. pulau Pramuka; pulau ini merupakan ibukota dari kepulauan seribu
  12. pulau Sekati
  13. pulau Semak Daun

Read More »

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu menargetkan Kelurahan Pulau Panggang dan Kelurahan Pulau Kelapa akan menjadi lokasi pelaksanaan program rumah deret. Keduanya merupakan pulau pemukiman terpadat dari 11 pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu.

"Pertama akan kita garap di Pulau Panggang, kepadatannya luar biasa dan harus segera dibenahi dengan membangun rumah deret," ujar Bupati Kepulauan Seribu, Asep Syarifudin, Minggu (27/10/2013).

Menurutnya, rumah atau kampung deret yang merupakan salah satu program gubernur dapat menjadi solusi mengurai kepadatan penduduk di pulau-pulau tersebut. "Dalam waktu dekat ini kita akan sosialisasikan ke masyarakat, saya berharap mereka merespon dengan baik," katanya.

Selain membangun rumah deret, kata Asep, di Pulau Panggang juga membutuhkan ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi bermain dan iteraksi warga. "Itu sangat dibutuhkan, kondisi pulau ini sudah sangat menghawatirkan. Degradasi lingkungan yang terjadi karena minimnya ruang terbuka hijau," jelas Asep.

Sementara, menurut bupati, untuk di Pulau Kelapa pembangunan rumah deret dapat menjadi alternatif kebutuhan tempat tinggal warga yang selama ini melakukan kegiatan reklamasi secara brutal. "Pengurukan yang dilakukan berdampak negatif terhadap lingkungan, itu harus dicegah dan alternatifnya adalah pembangunan rumah deret," katanya.

Tokoh pemuda dan aktivis sosial masyarakat Pulau Panggang, Muhammad Fakhri mengatakan, dirinya sangat mendukung pelaksanaan program rumah deret tersebut. Menurut dia, sudah saatnya masyarakat Kepulauan Seribu khususnya di Pulau Panggang dan Pulau Kelapa berpikir kedepan.

"Mau jadi apa pulau ini kalau tidak ada pembenahan. Pulau padat dan lingkungan yang tidak sehat justru akan mengurangi kualitas kehidupan. Saya sangat mendukung program itu," tegasnya. [Afriyani Aldin]

Read More »


Sedikitnya 40 Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik. Kegiatan dilaksanakan oleh  tim Pengabdian Masyarakat FMIPA Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Balai Warga Pulau Pramuka, Senin (28/10/2013).

Dosen Kimia dari UNJ, Suhartono mengatakan, kegiatan bertujuan untuk menambah pengalaman dan meningkatkan keterampilan ibu-ibu, dan yang paling utama adalah mengurangi sebaran sampah di lingkungan masing-masing. "Ya, tentu yang paling diutamakan adalah pengurangan sebaran sampah di wilayahnya masing-masing," katanya.

Dikatakannya, selain untuk mengurangi penyebaran sampah, ibu-ibu diharapkan bisa memanfaatkan sampah-sampah organik salah satunya sampah sayuran yang dijadikan sebagai bahan untuk praktek di rumah. "Saya berharap setelah ini ibu-ibu bisa memanfaatkan ilmunya di rumah, apa lagi masih didominasi dengan import dari daratan Jakarta, ditambah lagi Pulau Pramuka adalah tempat berkunjungnya wisatawan,"  jelasnya.

Salah seorang peserta, Junisaroh mengaku senang karena bisa menambah pengalaman, dia berharap ke depan bisa dikembangkan lagi serta menjadi nilai tambahan untuk saya dan ibu-ibu yang lain. "Saya berharap ini bisa dikembangkan dan dimanfaatkan lagi karna saya fikir ini bisa menambah nilai ekonomi," ujarnya.

Peserta dibagi menjadi empat kelompok dan mereka diminta untuk mempraktekan bagaimana cara membuat pupuk organik cair yang terbuat dari sampah-sampah rumah tangga. Lalu, pupuk yang sudah jadi dapat dimanfaatkan untuk tanaman yang ada di perkarangan rumah masing-masing. [Afriyani Aldin]


Read More »


Tim Penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta melakukan monitoring dan mengevaluasi perkembangan RW 02 Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Tim monitoring disambut hangat warga saat melaksanakan temu kader di Pulau Panggang, Kamis (31/10/2013).

"Sangat besar respon ibu-ibu disini, semangatnya pun luar biasa, saya senang," kata Katua II TP PKK Provinsi DKI Jakarta, Ani Padjar Panjaitan didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Kepulauan Seribu, Susi Asep Syarifudin.

Pada kesempatan itu, Ani mengaku cara  penyambutan yang dilakukan warga Pulau Panggang berbeda dengan cara penyambutan warga di daratan Jakarta. Dia juga mengaku sangat terharu dengan keadaan seperti itu. "Saya sangat terharu dan bangga terhadap ibu-ibu yang semangatnya luar biasa, terus dipertahankan ya bu," ujarnya.

Dalam kunjungannya, dia juga menyempatkan untuk membagikan buku kepada anak-anak sekolah dan tegur sapa kepada warga Pulau Panggang. "Ini titipan dari Ibu Iriana Jokowi (Ketua TP PKK Provinsi DKI Jakarta), dia sangat menyesal tidak bisa datang ke sini," tutur Ani.

Ketua Penggerak PKK RW 02, Syifa Miftadatul Ummah mengaku senang dengan kerjasama yang dilakukan kader. Sehingga kegiatan berjalan lancar dan kondusif. "Jujur saya sendiri senang sekali dengan kerja sama ibu-ibu terutama dukungan ibu lurah yang selalu memberikan arahan kepada kami," ungkapnya.

Selain itu, dia berharap ke depan agar RW 02 selalu menjadi RW binaan dan selalu menjadi contoh yang baik untuk masyarakat dimanapun berada. "Semoga ke depan bisa lebih baik lagi dan terus menjadi contoh yang baik bagi wilayah RW di Kepulauan Seribu," katanya. [Afriyani Aldin]


Read More »